Rabu, 10 Juni 2020

Cerpen "Aku Ingin Sekolah"

(Cerpen kolaborasi dengan Muhammad Rizki Oktavian, SMPN 1 Sewon, 2018)

Tumpukan berkas menghiasi meja kerjaku. Betapa lelah aku hari ini. Baru saja seorang client keluar dari ruangan. Menjadi pemimpin perusahaan rupanya tak semudah yang kubayangkan. Persiapan rapat dan seminar lusa membuatku kelabakan sepekan terakhir. Aku memang seorang pimpinan, tapi bukan berarti bisa terus menyandarkan diri di kursi putar. Udara yang kehembuskan keluar melalui mulut. Benakku rasanya terombang-ambing. Hanya berkas-berkas yang terus beterbangan dalam pikiran. Jangan sampai penat terus menggelayut. Jika aku saja seperti ini, lantas bagaimana dengan karyawan-karyawanku?

Sofa rasanya bisa menjadi penangkal penat sementara ini. Aku duduk berselonjor sembari mendongakkan kepala. Ternit seputih susu dengan hiasan gipsumnya tampak memukau, menenangkan mata sehingga jenuh pun perlahan sirna.

Sinar senja diam-diam menerobos kaca, merambat lewat udara, menerpa wajah, dan menyilaukan mata. Kudekati jendela gedung nan kokoh berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit lainnya. Kuusap debu-debu yang menghalangi pandangan. Dari atas kejauhan, jalan-jalan masih tampak ramai. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Burung-burung melintasi cakrawala yang bergradasi jingga dan kuning. Mereka hendak kembali ke sarang. Kicauannya pun bersahut-sahutan.

Senja ini begitu teduh. Fatamorgana yang muncul di siang yang haus sudah tak kelihatan lagi. Semilir angin pun begitu terasa menerpa wajah ketika aku sampai di pelataran kantor. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan membungkukkan badannya padaku. Aku pun tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. Tak berapa lama, sebuah mobil pun menghampiriku.

Membelah jalanan kota yang padat di setiap jam pulang kerja seperti ini sudah biasa bagiku. Aku berdiam diri selama berjam-jam di dalam mobil seperti ini sembari menyaksikan pemandangan kanan dan kiri yang penuh dengan kendaraan. Aku juga sering menyaksikan banyak pengamen jalanan yang tengah mengais rezeki di antara kemacetan. Mereka menghampiri mobil demi mobil, berharap mendapatkan receh demi receh rupiah. Tiba-tiba, mataku menangkap pemandangan tiga orang anak kecil yang berlari-larian sembari membawa karung bermuatan barang-barang bekas. Tak ada kesedihan di raut wajah mereka. Tawa kecil sesekali muncul di wajah mereka yang polos. Mereka mengingatkanku akan satu hal, masa kecilku.

Saat itu, bukan gedung pencakar langit yang tinggi tempat tinggalku, melainkan sebuah gunung. Gunung ini bukanlah berasal dari sekumpulan pasir dan bebatuan. Tak pula berisikan lava merah panas enzim-enzim yang ada di perut bumi pada umumnya, tetapi tumpukan sampah yang menjadi satu. Lendir-lendir yang dikeluarkan bakteri saat memakan sampah organik mengering ketika diterpa seberkas sinar terik dari sang surya, menciptakan gundukan sampah kokoh yang menyerupai nasi tumpeng. Tapi aroma gundukan sampah ini tak sesedap aroma nasi tumpeng. Tatkala angin menyapu, bau sampah-sampah itu pun terseret dan menjadi satu dengan udara sehingga terasa menusuk hidung.

Memang, ini adalah gunung sampah biasa. Tapi bukan berarti gunung sampah ini tak mempunyai kemampuan untuk meledakkan diri layaknya gunung yang sebenarnya. Bakteri-bakteri yang ada di dalamnya mampu mengurai dan mengubah zat-zat organik menjadi ribuan bayi metana. Jika metana-metana ini terus menumpuk, maka akan terjadi letusan dahsyat seperti yang pernah terjadi di beberapa TPA.

Truk-truk sampah ada di mana-mana, mengantarkan imigran sampah dari perkotaan besar menuju kawasan ini. Kulihat akhir-akhir tahun belakangan ini semakin banyak sampah yang berdatangan. Truk-truk tersebut juga datang dengan menggotong bau-bau yang memabukkan. Bagaimana tidak menumpuk dan terus menjadi gunung jika sampahnya saja terus berdatangan. Saat hujan turun pun tanah menjadi becek. Para sampah akan berenang ke mana-mana mengikuti genangan air. Ketika hujan reda, tanah pun menjelma menjadi lumpur. Lalat-lalat berpatroli di setiap tempat. Di mana ada sesuatu yang berbau amis dan busuk, di situlah mereka akan mengerumun.

Di sebuah sudut TPA ini terdapat sepetak tanah yang di atasnya berdiri sebuah susunan kardus beratapkan seng besi yang berkarat. Celah-celah kecil yang dibuat oleh karat membuat kami terkadang harus tidur berteman tetes demi tetes air ketika hujan mengguyur. Rumah ini hanya beralaskan kardus. Tapi setidaknya ini lebih baik bagi kami daripada tidur di kolong jembatan. Dan rumah kardus kecil inilah tempat tinggalku bersama ayah dan ibu.

Di keluarga kecil ini, aku merupakan anak tunggal. Ayah dan ibuku bekerja sebagai pengumpul sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. Aku tak malu meski keadaan keluargaku seperti ini adanya. Ayah dan ibu adalah pemberi kehidupanku. Usiaku beranjak sepuluh tahun. Namun aku tetap belum bisa menikmati bangku sekolah. Setiap hari ulang tahunku tiba, aku hanya bisa meminta kepada Tuhan akan hasratku menikmati dunia pendidikan seperti anak-anak yang lain. Dari dulu sampai sekarang, impianku hanya satu. Sekolah. Karena keterbatasan biaya, impian itu hanya sebatas angan-angan yang terus saja kupendam.

Setiap hari, ketika matahari sudah beranjak ke peraduannya, aku memulai aktivitasku. Dengan bekal sebuah karung goni dan tali, aku mendaki gunung-gunung sampah. Terkadang aku juga berjalan dari satu gang ke gang lain untuk mencari sampah-sampah yang lain dan mengurangi rasa penatku. Gang-gang sepi seringkali kutemui. Namun itu tak membuat gentar hatiku. Sembari bersenandung kecil, aku mulai memunguti setiap sampah demi sampah lalu memasukkannya ke karung goni yang telah kupersiapkan. Saat karung yang kugotong sudah mulai membesar perutnya, kucukupkan waktu memunguti sampah pada hari itu. Jika masih tersisa waktu, aku biasanya datang ke sebuah sekolah dasar yang tak jauh dari tempat tinggalku. Ini adalah kesempatanku melihat kegiatan sekolah anak-anak SD.

Di depan dinding gapura SD, aku mengintip apa saja yang dilakukan anak-anak seusiaku saat bersekolah. Kemudian mataku beralih ke salah satu kelas. Di sana tampak seorang guru tengah memberi penjelasan. Beberapa siswa kulihat  tiada yang bisa diam, terutama siswa laki-laki. Bukannya mendengarkan penjelasan guru, mereka malah asyik mengobrol dengan teman sebangku. Geram sekali rasanya tiap kali aku melihatnya. Gigiku sampai terus bergesekan karena kesal melihat perilaku anak-anak itu. Jika aku menjadi mereka, tak akan kusia-siakan kesempatan bisa bersekolah seperti ini.

Tak sengaja, aku memukul gerbang sekolah sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Rupanya, seorang anak dari kelas itu melihatku. Terpaksa aku harus segera pergi dari sekolah ini agar tidak menciptakan keributan. Meski aku hanya bisa melihat kegiatan belajar di sekolah, suara guru yang lantang hingga terdengar ke telingaku mampu membuatku mengerti beberapa materi di pelajaran dasar. Aku beranjak pulang, meninggalkan materi yang belum sempat terselesaikan meski dengan berat hati. Hasratku untuk bisa bersekolah semakin tinggi. Tapi mau bagaimana lagi. Perlahan, kuseret kakiku untuk pergi.

Aku terus termenung di sepanjang jalan, memikirkan cara bagaimana bisa bersekolah sampai-sampai tak melihat ada batu di depanku. Kakiku tersandung batu itu hingga sampah-sampah yang ada dalam karung goniku keluar berhamburan di pinggir jalan. Saat aku tengah memberesi sampah-sampah tersebut, tampak sebuah map berwarna biru di antara sampah-sampah yang lain. Karena penasaran, aku pun membuka isi map tersebut. Ternyata ada berkas-berkas milik sebuah perusahaan. Aku yakin, ini adalah berkas penting perusahaan tersebut. Aku pun bergegas memberesi isi karung goniku dan buru-buru pulang.

“ Assalamualaiku, Bu!” sapaku pada ibu ketika telah sampai di rumah.

“ Waalaikumsalam. Kamu dari mana saja, kok baru pulang?”

“ Seperti biasa, Bu, aku mampir ke sekolah dulu.”

“ Oh... itu apa yang kamu bawa, Nak?”

“ Ini tadi kutemukan di antara tumpukan sampah-sampah yang kudapatkan hari ini, Bu!” ucapku sembari memberikan map tersebut pada ibu.

“ Sepertinya ini berkas yang penting, Nak.”

“ Aku pikir juga begitu, Bu.”

“ Kalau begitu, kamu harus mengembalikan pada pemiliknya!” pinta ibu.

“ Aku harus mengembalikan ke mana, Bu?” tanyaku tak mengerti. Aku dan ibu pun akhirnya mencatat alamat perusahaan yang tertera pada berkas tersebut.

Keesokan harinya, diantar ayah, aku datang ke alamat perusahaan itu, membawa map berisi berkas tersebut, dan akan mengembalikannya. Begitu sampai di halaman depan, kami dicegat oleh seorang satpam berperawakan tinggi besar. Ia menanyai maksud dan tujuan kami datang. Lalu ayah pun menjelaskan semuanya pada satpam tersebut yang kemudian menyuruh kami masuk dan menunggu di sebuah lobi.

Perusahaan ini sangat besar. Lobi perusahaannya pun sangat mewah. Arsitekturnya juga sangat indah. Begitu masuk dari pintu depan tadi, dingin seketika menjalar di seluruh tubuhku. Rupanya, di sudut-sudat ruang terpasang sebuah benda yang entah aku pun tak tahu namanya. Dengan benda tersebut, udara menjadi dingin. Aku begitu terpukau. Belum pernah aku menginjakkan kaki di tempat sebagus ini. Mataku memandang sekeliling. Orang-orang berdasi tampak keluar-masuk di perusahaan ini. Mereka semua berpakaian rapi dari atas ke bawah, tidak seperti aku dan ayah yang hanya berpakaian kumal dan bersandal jepit.

Tak berapa lama, seorang resepsionis perusahaan tersebut mempersilakan kami masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan, tampak seseorang yang berperawakan tinggi dan besar. Meski begitu, ia terlihat sangat berwibawa. Awalnya, aku merasa takut. Namun, orang tersebut mempersilakan kami duduk. Di depan mejanya tertera tulisan nama dan jabatan. Rupanya, ia adalah direktur utama perusahaan ini. Namanya Jamal.

“ Maaf, kami mengganggu waktu Bapak. Kami hanya ingin mengembalikan map ini. Kemarin kami menemukannya. Sepertinya ini berkas penting,” ucap ayah seraya memberikan map tersebut kepada Pak Jamal. Pak Jamal pun membuka map tersebut.

“ Ini kan berkas-berkas penting yang selama ini saya cari. Bagaimana kalian bisa menemukannya?” tanya Pak Jamal kemudian.

“ Saya kemarin menemukannya di antara sampah-sampah yang saya kumpulkan, Pak! Kata ibu, ini harus dikembalikan pada pemiliknya. Lalu kami datang sesuai alamat yang tertera pada tulisan di situ,” aku menjawab pertanyaan Pak Jamal.

“ Saya sudah mencarinya ke mana-mana selama ini. Dan sekarang, kalian datang ke mari mengantarkan apa yang selama ini saya cari. Terima kasih banyak,” ucap Pak Jamal sembari menjabat tangan ayah dan tanganku. Kemudian Pak Jamal mengambil sebuah amplop kecil dan menyerahkannya padaku. “ Ini tidak seberapa, tapi sebagai tanda terima kasih saya. Terimalah!”

“ Tidak, Pak! Terima kasih. Tapi kami ikhlas menolong Bapak,” kata ayah kemudian.

“ Kalian yakin?” tanya Pak Jamal meyakinkan.

“ Iya, Pak!” jawab ayah mantap. Pak Jamal mengangguk dan kami pun berpamitan setelah menjabat tangan Pak Jamal.

“ Tunggu, Nak!” seru Pak Jamal sesaat sebelum kami meninggalkan ruangannya. “ Berapa usiamu?”

“ Sepuluh tahun, Pak!”

“ Kamu sekolah di mana?”

“ Saya tidak sekolah, Pak. Sehari-hari saya membantu ayah dan ibu mencari sampah-sampah yang masih bisa dijual.”

“ Lalu, di mana kamu tinggal?”

“ Di sebuah rumah kecil tidak jauh dari TPA Glagah, Pak!”

“ Hmmm.. jadi sehari-hari kamu ikut bekerja dengan kedua orang tuamu hingga tidak bisa bersekolah ya?”

“ Iya, Pak!” jawabku sedih.

“ Kalau begitu, maukah kamu mulai bersekolah? Masalah biaya tidak usah khawatir, nanti saya yang akan membiayai sekolah kamu. Anggap saja ini bentuk terima kasih saya atas apa yang telah kamu dan ayahmu lakukan pada saya. Namun, kamu ikutlah bersama saya agar masa depanmu lebih terjamin. Bagaimana?” tanya Pak Jamal sembari tersenyum.

Aku terdiam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bertatapan dengan ayah. Pak Jamal memberi kami waktu untuk berpikir sampai esok hari. Di tengah perjalanan, aku terus termenung memikirkan kata-kata Pak Jamal. Aku bingung. Satu sisi, ini adalah impian yang selama ini aku nantikan. Namun di sisi lain, apakah aku rela meninggalkan ayah dan ibu untuk ikut bersama Pak Jamal?

Setibanya di rumah, aku dan ayah menemui ibu. Lalu ayah menceritakan segalanya pada ibu.

“ Pergilah, Nak! Ibu rela melepasmu agar bisa meraih cita-citamu.”

“ Tapi aku tidak bisa jauh dari ayah dan ibu,” ucapku kemudian.

“ Kamu masih bisa mengunjungi ayah dan ibu kalau kamu rindu. Esok, temuilah Pak Jamal dan persiapkan masa depanmu dengan gemilang. Doa ayah dan ibu akan selalu ada untuk kesuksesanmu!” ibu pun memeluk diriku. Aku membalas pelukan ibu dengan sangat erat.

Keesokan harinya, aku kembali menemui Pak Jamal. Aku bersedia pulang bersama ke rumah Pak Jamal. Rumah itu sangat megah, jauh berbeda dengan rumah kecilku. Hari itu, aku memulai lembar-lembar kehidupanku yang baru sebagai anak angkat dari Pak Jamal dan istrinya yang hingga kini belum dikaruniai seorang anak. Aku mulai menggapai mimpi yang segera menjadi nyata. Benar saja, tak lama berselang, aku mulai bersekolah. Untuk mengejar ketertinggalanku selama ini, Pak Jamal pun mendatangkan guru privat setiap harinya untukku.

Hari demi hari pun kulewati dengan belajar. Hal itu pun berbuah manis lewat prestasi demi prestasi yang terus kutorehkan. Melihat hal itu, Pak Jamal semakin bangga padaku. Ketika memasuki bangku kuliah pun, aku mendapat beasiswa pendidikan ke luar negeri. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku berangkat dengan dukungan penuh dari ayah dan ibu angkatku. Mereka sangat menyayangiku. Sekembalinya dari luar negeri, Pak Jamal pun memberi kepercayaan penuh padaku untuk menggantikan posisinya di perusaan miliknya. Dan tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan terus aku emban hingga detik ini.

Hari mulai gelap saat aku mulai menyadari bahwa aku termenung sedari tadi sembari terus menggali masa laluku. Dua puluh tahun yang lalu aku sama dengan anak-anak itu, bekerja mengumpulkan barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Aku pun berharap mereka kelak juga bisa menggenggam erat masa depannya yang gemilang. Dan inilah akhir kisahku. Sebuah kisah masa lalu di mana saat itu aku begitu ingin sekolah.

 

---selesai---



catatan:
Cerpen ini telah dibukukan dan memenangkan lomba cipta cerpen tingkat provinsi sebagai juara pertama yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, 2018.

Cerpen "Anak-anak Jalanan yang Ingin Sekolah"

 (sebuah cerpen kolaborasi dengan Muhammad Rizki Oktavian SMPN 1 Sewon, Bantul 2018)


Matahari bersinar terik hari ini. Aku menaiki tangga menuju ruang kelas yang ada di lantai paling atas. Sebenarnya ada lift untuk menuju ke lantai atas. Namun, aku lebih suka menapaki ratusan anak tangga setiap hari. Di tangga, ada keistimewaan tersendiri. Sering kulihat panorama Kota Surabaya dari atas ketinggian. Tak jarang, kulihat anak-anak jalanan yang berlarian ke sana ke mari entah untuk apa. Mungkin untuk mengais rezeki atau sekadar bercengkrama.
Aku sempat merasa bingung, mengapa pendidikan di Indonesia belum merata. Ke manakah janji-janji para pemimpin saat berkampanye? Apakah mereka hanya menggunakan kata-kata manis untuk meminang hati rakyat? Semua itu tak berbuah bukti sedikit pun. Mereka yang menjanjikan kenikmatan pendidikan kepada rakyat jelata hanya berdusta. Aku tak bisa menutup mata dari kenyataan yang ada.
Langkah kakiku pun terhenti di tangga terakhir. Aku bergegas masuk kelas karena guru sejarah tepat berada di belakangku. Kuletakkan tas di bangku sebelah jendela seperti biasa. Entah mengapa, aku selalu ingin di situ, serasa ada magnet yang terus menarikku.
Guru sejarah mulai menerangkan materi tentang manusia purba. Ah, aku sungguh tak suka dengan materi itu. Pandanganku justru terpusat pada jendela guna menghadapi kebosanan ini. Aku sering mendengar sayup-sayup teriakan. Konon, kata tukang kebun di sini, itu adalah teriakan arwah Letnan militer Belanda yang terbunuh saat peperangan dengan Bung Tomo dulu. Tetapi pernyataan itu aku sangkal. Setelah melihat lebih tajam lagi, ada beberapa tangan yang berpegangan pada pagar balkon yang ditumbuhi lumut di samping kelasku. Tangan-tangan itu hitam legam. Banyak bekas luka yang menggoresi punggung tangan maupun jarinya.
Pandanganku semakin kutujukan ke arah tangan-tangan itu. Semakin lama, kepala pun mulai terlihat. Ternyata, itu adalah anak-anak jalanan yang tadi kulihat di tangga. Pantas saja ada teriakan. Mereka terus saja memandang ke arahku. Apakah mereka ingin melihatku? Saat kuarahkan diriku ke arah lain, mereka tetap saja pada pandangan yang sama. Begitu kulihat di depan, Ibu Guru tengah menerangkan materi dengan serius. Ternyata, anak-anak tersebut sedang melihat dan mendengarkan penjelasan dari Ibu Guru, bukan memandangku. Kini, aku tahu bahwa mereka juga ingin menikmati masa kecil sepertiku. Anak-anak itu rela memanjat tembok nan tinggi  demi mendapatkan ilmu dan merasakan indahnya pendidikan, meski harus kucing-kucingan agar tak ada orang yang tahu.
“Hai...”
Kulambaikan tangan dan kusapa mereka dengan nada mendesis agar tak ketahuan oleh guru. Namun mereka begitu takut dan seketika bersembunyi saat tahu aku memperhatikan dan melambaikan tangan. Ya Tuhan, aku sangat iba  pada mereka. Di zaman modernisasi seperti ini ternyata masih ada orang-orang yang tak tersentuh bangku pendidikan karena kemiskinan. Mereka bahkan harus bekerja di usia yang masih sangat belia. Lantas, apakah negeri yang melimpah akan sumber daya ini tak dapat menjamin pemerataan pendidikan?
“ Apa yang sedang kamu lihat, Dito?” suara guru sejarah yang datang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“ Itu, Bu!” ucapku sembari menunjuk ke arah anak-anak jalanan yang kini lari berhamburan.
“ Oh... Mereka memang sering datang dan belajar ke mari,” sahut Ibu Guru.
“ Jadi, Ibu sudah mengetahuinya?” tanyaku penasaran.
“ Ya, Ibu juga sering memperhatikan mereka. Ibu salut pada mereka yang walaupun di tengah keterbatasan tetap gigih dalam belajar.”
“ Sekolah tidak akan melarang mereka datang lagi kan, Bu?” tanyaku seakan memohon.
“ Tidak. Tak lama lagi mereka akan menjadi bagian dari kita,” jawab Bu Guru sembari tersenyum.
“ Maksud Ibu?” aku tak mengerti.
“ Mereka akan bersekolah di sini karena peran serta para donatur yang bersedia menanggung biaya pendidikan mereka kelak. Ya sudah, sekarang kembali fokus ke materi ya!” ucap Bu Guru sembari kembali ke depan.
“ Oh... baik, Bu!”
Hatiku berbunga-bunga. Entah mengapa, aku turut senang mendengar kabar gembira ini. Kukira mereka tak akan bisa belajar sepertiku. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Ambisi dan hasrat mereka untuk bersekolah akan segera terwujud. Aku menjadi semakin percaya bahwa bila ada keyakinan, di situ pasti ada jalan. Man jadda wa jadda.

Selasa, 09 Juni 2020

Cerpen "Rinai Hujan"

Malam ini, di sebuah kedai, berteman rinai hujan dan secangkir kopi, kutulis sebuah surat tentang hujan. Hujan, saksi bisu kisah yang telah terukir antara aku dan Oki, lelaki yang kini berusia 29 tahun dengan sorot mata tajam nan meneduhkan tiap kali aku memandang. Sungguh aku tak ingat betul kapan pertama kali bertemu dengannya. Yang kutahu, lima belas tahun yang lalu, Oki pindah ke kota ini mengikuti sang ayah yang dipindahtugaskan dari Bali. Kami saling mengenal beberapa waktu kemudian karena dia satu kompleks denganku. Dia lima tahun lebih tua dariku, juga termasuk anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Terbukti dari deretan piala dan piagam yang telah diterimanya.
Meski bersahabat dekat, kami memiliki kecintaan masing-masing. Aku adalah salah satu pecinta hujan, sedangkan Oki adalah salah satu pecinta kopi. Ia kerapkali berkunjung dari satu kedai ke kedai yang lain untuk mencicipi lezatnya seduhan kopi.
“Anna...”
“Hmmm...”
“Kamu tahu nggak, hujan dan kopi bisa menjadi perpaduan yang istimewa,” katanya kemudian. Aku mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih, kamu begitu menyukai kopi?”
“Karena kopi memiliki filosofi.”
“Filosofi?”
“Ya. Pahit, tapi selalu menjadi candu yang nikmat.”
“Nikmat?” tanyaku tak mengerti. Ia hanya tersenyum simpul sembari memandangi secangkir kopi di hadapannya.
Waktu begitu cepat berlalu. Kini kami sudah beranjak dewasa dan hubungan ini kian erat terpilin. Tak ayal, kami menjelma sepasang kekasih yang saling melengkapi satu sama lain. Tak dapat kupungkiri rasa nyaman tatkala berada di dekatnya. Kurasa, ia pun demikian. Mungkin ini terjadi karena seringnya kami bersama. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini Oki seakan hilang ditelan bumi. Ia tak dapat dihubungi. Bahkan, rumahnya selalu sepi, baik pagi, siang, ataupun malam. Hingga suatu ketika, Tante Cindy, ibunda Oki, memberi kabar bahwa mereka tengah berada di sebuah rumah sakit. Ia pun menyuruhku segera datang ke rumah sakit itu. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak karuan. Pikiranku berkecamuk ke mana-mana.
“Tante!” seruku begitu aku sampai di rumah sakit. Tante Cindy melambai ke arahku. “Tante, siapa yang sakit?” tanyaku kemudian. Tak ada jawaban dari Tante Cindy. Ia kemudian menggandeng tanganku memasuki sebuah ruangan. Tampak di situ sosok yang tak lagi asing bagiku tengah terbaring kaku dengan selang di sekujur tubuhnya. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Seketika kakiku lemas, seakan tak kuat lagi untuk menapak. Bagaimana tidak, sosok yang akhir-akhir ini kucari, ternyata ada di sini. Aku memang ingin bertemu dengannya. Tapi bukan pertemuan seperti ini yang kuingini.
Saat itu hujan turun deras sekali. Aku hanya bisa menangis. Hatiku hancur berkeping-keping. Kekasih macam apa aku? Tidak pernah bertanya dia sakit apa ataupun apa yang sedang dia rasakan. Aku hanya sibuk membahas hal-hal tentang diriku. Bukankah seharusnya aku mencoba memahami dirinya juga? Hari itu dan seterusnya aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Hari-hari pun kulalui dengan berat hati. Tak ada lagi pesan dari Oki seperti yang selalu kutemui di layar ponselku setiap hari. “Tuhan, sembuhkanlah Oki seperti sedia kala!” Aku hanya bisa merapalkan doa-doa.
Tepat sore itu, aku menerima sebuah pesan singkat dari  Tante Cindy bahwa esok Oki akan dimakamkan. Deg. Jantungku seakan berhenti berdetak. Dunia runtuh seketika. Mimpi-mimpi yang kubangun dengannya pupus seketika. Aku menangis sejadi-jadinya, sedih sesedih-sedihnya. Perasaan-perasaan itu bergejolak menjadi satu dalam hatiku.
Singkat cerita, hujan datang tatkala aku sampai di makam Oki. Tak sekali pun kuingat bahwa hujan turun begitu derasnya. Aku berlari sekencang-kencangnya, tak peduli terpeleset, jatuh, aku terus bangkit, dan berlari. Hingga akhirnya kutersungkur di depan pusara dengan sebuah nisan bertuliskan namanya. Hujan deras saat itu menjadi saksi betapa hancurnya aku akan kepergiannya.
“Sudah sejak lahir Oki mengalami kelainan jantung, Anna. Dari ia lahir hingga tumbuh dewasa, ia terus menjalani terapi. Dokter sudah mendiagnosis bahwa usia Oki tak akan lama. Bisa bertahan hingga usia 28 tahun itu merupakan salah satu keajaiban yang Tuhan berikan dalam hidupnya,” Tante Cindy menjelaskan.
“Kenapa dia tak pernah mengatakan apa-apa, Tante?”
“Ya karena dia tidak ingin orang lain tahu apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia ingin orang lain memperlakukannya secara normal, bukan sebagai seseorang yang mengalami kesakitan,” jelasnya. Aku hanya bisa tersenyum getir mendengar apa yang disampaikan Tante Cindy.
Tak terasa, setahun pun berlalu, berganti menjadi rindu. Rindu itu telah mengendap. Ikhlas walau tak mungkin berbalas. Seperti endapan kopi yang pernah kita teguk di bawah naungan langit yang temaram. Secangkir kopi lagi malam ini, aku pikir akan cukup untuk melupakan rinduku padamu. Menggerusnya perlahan dalam paduan rasa pahit yang singgah di lidahku. Nyatanya tidak. Rindu yang begitu keras kepala ini tetap bercokol di hatiku. Rasa kecil bernama rindu ini memang sudah terlewatkan olehmu. Seperti seduhan kopi tanpa gula, pahit. Seakan mengejekku untuk mengabaikannya, tapi selalu kuulangi. Meneguknya kembali dan lagi. Walau pahit selalu ada di ujungnya, aku tak peduli.
Masih teringat dalam benakku. Kala itu, malam tahun baru, kita berteman ribuan kembang api yang menari-nari di angkasa. Bertaburan. Turut menyemarakkan suasana, seakan tak mau ketinggalan dengan pasangan muda-mudi yang tengah dilanda api bahagia.
Oki benar. Hujan dan kopi bisa menjadi perpaduan yang istimewa. Menikmati kopi hangat tatkala hujan turun rintik-rintik, tandas dalam sekali teguk, namun bisa menjadi candu yang nikmat. Begitupun rinduku. Bisa hilang dalam sebaris kata, namun selalu kembali untuk mengoyak hati. Dan bodohnya aku, selalu menikmati setiap goresannya. Kamu  yang selalu berada di barisan kedua mungkin tak paham dengan apa yang kurasakan. Kita saling menyakiti satu sama lain ketika rasa sudah semakin dalam. Mungkin kamu juga tak mengerti bahwa aku tak pernah bisa menolak rasa ini walau seringkali kucoba menghindar. Rindu seperti kopi yang dinikmati tatkala hujan. Pahit, tapi selalu menjadi candu yang nikmat.
Begitu pula dengan rinduku. Selalu aku ungkapkan padamu, walau hanya kau balas dengan senyuman abadi yang tiada akan kembali.


-selesai-

Kamis, 28 Mei 2020

Puisi "Pamit"


Di sini, di sudut kota nan sepi ini
kutuliskan secarik kertas padamu
untuk segala perjalanan yang selama ini kulalui.

Aku telah sampai pada satu titik
yang membawaku pada suatu kesadaran
bahwa segala harap tentangmu
harus kuakhiri sampai di sini.

Segala angan akan sosokmu
kerinduanku pada tawa candamu
juga terus membersamaimu di sepanjang hidupku
harus kubunuh perlahan.

Aku pergi
bukan karena aku menyerah atau aku telah kalah
melainkan aku memahami
bahwa memenangkan hatimu tak akan semudah menakhlukkan ego dalam diri.

Kini kau pun terbebas dari segala belenggu
yang selama ini mengungkungmu atas kehadiranku.

Maafkan aku jika selama ini
telah menyita waktu dan perhatianmu.
Maafkan aku untuk segala ketidaknyamanan
yang selama ini aku ciptakan.

Aku menutup lembar kisahku
dengan seutas senyum yang mengembang.

Dengan berakhirnya tulisan ini
aku ingin memberitahukanmu satu hal
bahwa ada sosok aku yang mengagumi seorang kamu
rasa yang selama ini hanya mampu kupendam
tanpa sempat aku ucapkan.

Kuharap suatu hari nanti kau mampu mengerti
bahwa rasa yang hendak kau bunuh perlahan ini
sejatinya tulus tanpa ragu.

Kelak, jangan pernah engkau menyesali
tatkala engkau menyadari bahwa pernah ada seseorang
yang selalu menghadirkanmu dalam doa-doa malamku
juga (pernah) mencintaimu dengan begitu.

Selasa, 26 Mei 2020

Cerpen "Lebaran untuk Luna"

(dengan sedikit gubahan)


Aku ingin hidup seperti remaja-remaja lain seusiaku, bermain dengan teman-teman, menikmati hal-hal indah semasa remaja, tapi apalah dayaku. Aku hanya tinggal bersama adikku, Adinda. Waktu itu, saat usiaku sepuluh tahun, ayah telah meninggalkanku untuk selamanya. Dia adalah buruh pabrik tahu di Semarang. Biasanya, setiap lebaran tiba, ayah akan pulang membawa beraneka jajanan untukku dan Adinda. Namun, pagi itu, sebuah minibus menabrak ayah yang tengah menyeberang jalan. Ayah pun tertidur dan tidak bangun-bangun lagi.
Sepeninggal ayah, ibuku adalah tulang punggung keluarga. Setiap hari, ia berkeliling menjajakan jasanya sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah. Hampir setiap hari itu pula aku menyaksikannya mengonsumsi aneka jamu. Entah sakit apa ibuku kala itu. Katanya harga obat sangat mahal. Setahun kemudian, ibu pun menyusul ayah pergi untuk selamanya.
Di usiaku yang ke sebelas, aku telah menjadi yatim piatu sekaligus orang tua untuk adik semata wayangku. Untuk menyambung hidup, aku menjajakan camilan yang kuambil dari tetangga dengan sistem upah harian. Jika seluruh camilan yang kubawa habis, aku akan mendapat upah dua puluh ribu rupiah. Namun jika tidak, aku hanya akan mendapat upah lima ribu rupiah. Berjualan di terminal seperti ini terkadang harus kucing-kucingan dengan para preman. Tak jarang mereka memalak hasil para pedagang kecil sepertiku ini yang mengumpulkan uang dengan susah payah.
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi biasanya. Aku bersiap menjajakan dagangan. Kulihat Adinda masih terlelap. Gadis kecil berusia lima tahun itu mendekap guling kesayangannya yang sudah usang. Bulir air mataku jatuh, tak dapat menahan kesedihan yang begitu membuncah. Demi Adinda, segala pedih perih rela kutahan. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Segera aku bergegas menuju Terminal Giwangan sebelum kesiangan. Kukecup kening Adinda. Ada rasa pilu setiap kali harus meninggalkannya sendirian. Dengan ditemani dua kucing kesayangan kami, Kitty dan Helly, Adinda akan bermain seharian hingga aku pulang.
Di sepanjang perjalanan, aku menyaksikan remaja seusiaku berkumpul bersama ayah dan ibunya. Mereka juga menyiapkan hidangan khas seperti ketupat opor ayam, sambal goreng hati ampela, maupun rendang untuk menyambut lebaran yang akan datang esok hari. Aroma yang hanya bisa kucium, tanpa pernah bisa aku rasakan. Sampai di pasar batas kota, aku kembali menyaksikan orang-orang berjubel membeli keperluan lebaran. Ada lapak pedagang kelontongan ketupat yang tampak ramai diserbu pembeli. Tak jauh dari situ, lapak pedagang pakaian pun tak kalah ramai. Para pembeli beramai-ramai memilih baju lebaran terbaik yang akan mereka kenakan. Pemandangan yang sangat kontras denganku, baju lusuh, alas kaki yang hampir jebol, dan begitu kumal.
Pukul 07.00 aku sudah sampai di Terminal Giwangan, menggelar lapak, dan bersiap menjajakan dagangan pada para pemudik yang masih berdatangan dari luar-luar kota untuk menemui sanak-keluarga.
“Camilan... camilan... mari Bapak, Ibu, Mbak-mbak, Mas-mas, silakan dilarisi. Murah meriah saja, mari dipilih-dipilih.”
Terik matahari mulai memanggang tubuhku yang kurus, memantulkan kerasnya kehidupan terminal pada licin dan lengketnya keringat yang bercucuran di balik baju lusuh ini. Lembaran demi lembaran terus kukumpulkan. Wajah Adinda yang terus membayang menjadi pelecut semangat untukku terus mengais rezeki di siang yang terik ini, tak peduli seberapa kering dan dahaga kerongkongan, maupun cacing-cacing yang terus melilit dan menggerus di dalam perut, aku tetap berjuang.
Matahari telah condong ke ufuk barat. Aku segera merapikan dagangan dan bersiap pulang. Tiba-tiba, ada beberapa sosok tinggi besar yang mendekati lapakku. Kutahu, tidak akan lama lagi mereka akan segera merampas uangku. Dua di antara mereka datang sambil menenteng botol minuman.
“Kemarikan uangmu!” Aku menggeleng sembari memeluk uangku erat.
“Tidak! Ini uang untuk makan adikku!” Aku menolak dan terus memberontak. Maka botol minuman itu melayang di pelipis mataku. Darah segar mengalir dengan segera, semakin deras dan mengenai pakaianku. Tubuhku menggigil dan keringat dingin terus bercucuran. Tak akan kubiarkan mereka mengambil uang yang kukumpulkan. Segera aku lari di antara tenaga yang tersisa dan berteriak sejadi-jadinya. Senyum polos adikku terus menari-nari di pelupuk mataku. Sepanjang kuberlari, aku terus menangis dan tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Tiba-tiba pandangan mataku gelap. Aku jatuh tersungkur.
Aku membuka mata dan melihat ke sampingku, Adinda terus menangis. Aku bangun dan memeluknya erat. Kukatakan bahwa aku tidak apa-apa. Ia berhenti menangis. Tepat saat itu juga azan berkumandang. Adinda membawakan segelas air putih untukku. Kami pun berbuka puasa di hari ke tiga puluh ini dengan segelas air putih dan makanan pemberian tetangga yang tadi turut serta menggendongku ketika pingsan. “Alhamdulillah, uang titipan Tuhan hari ini masih bisa kuselamatkan.”
“Alhamdulillah, hari ini Kakak dapat uang banyak. Yeay,” kata Adinda sembari mengibas-ngibaskan selembar uang dua puluh ribuan.
“Iya, maaf Kakak tadi belum sempat beli beras. Tapi Kakak berjanji, esok kita akan membeli beras hingga dapat makan sepuasnya,” lanjutku, disambut gelak manja Adinda.
“Kak, aku ingin makan daging hitam seperti orang-orang itu,” Adinda melanjutkan.
“Iya sayang, nanti kalau Kakak ada uang kita akan makan daging hitam itu ya,” kataku sembari mengelus lembut rambut Adinda.
“Asyik!” seru Adinda dengan polosnya.
Daging hitam, begitu sebutan Adinda untuk makanan yang biasa disebut orang-orang sebagai rendang. Makanan dari daging sapi yang dimasak dengan aneka rempah-rempah pilihan. Konon, kata ibu, rendang adalah makanan terlezat sedunia. Namun, belum pernah sekali pun aku merasakannya. Bagiku, rendang adalah lambang kemakmuran bagi orang-orang kaya, terlalu mahal untuk bisa dinikmati rakyat jelata.
Aku mencoba mengajak Adinda jalan-jalan agar ia bisa melupakan sejenak keinginannya untuk makan rendang. Suara takbir menggema bersahut-sahutan. Kami melihat kebahagiaan orang-orang akan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Mereka berpesta, makan makanan lezat, menyalakan kembang api, dan tampak sangat bahagia. Sementara di gubuk kami, hanya ada dua insan yang terus terongrong kemelaratan. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan, di manakah letak keadilan?
1 Syawal, bertahun-tahun sudah kami merayakan hari raya di gubuk reot peninggalan ayah dan ibu. Dan setiap kali malam lebaran tiba di setiap tahunnya, hanya akan tampak kesedihan di mataku, juga Adinda. Aku hanya memeluk Adinda sambil menangis, sedangkan Adinda hanya bisa menatap kebahagiaan orang-orang di luar dengan penuh harap. Kadang tatapan itu kosong. Kurasakan tubuhnya semakin kurus. Wajahnya semakin hari semakin pucat pasi.
“Kak, aku ingin ke makam ayah dan ibu,” pinta Adinda padaku. Aku mengangguk mengiyakan. Lalu kami melangkahkan kaki sampai di pemakaman. Kulihat Adinda hanya diam sampai akhirnya dia jatuh tersungkur di atas tanah pekuburan. Aku histeris. Kuguncang-guncangkan tubuhnya tapi Adinda tak bergeming. Ia terus diam. Kubopong tubuh kurus kering itu sampai ke sebuah gubuk kecil milik kami, aku ambruk.
Ketika bangun, yang kulihat pertama kali adalah Budhe Sri. Dia tetangga di samping rumah kami. Sepeninggal ayah dan ibu, Budhe Sri sudah seperti ibu bagiku. Tak jarang, Budhe Sri mengantarkan makanan untukku dan Adinda.
“Luna kenapa pingsan tadi,” tanya Budhe Sri cemas.
“A... Adinda mana, Budhe,” ucapku terbata sembari menyisir sudut demi sudut gubuk dan akhirnya menemukan Adinda terbaring lemah di sudut gubuk. Ia masih memejamkan mata.
Budhe Sri memberi isyarat kepada putra sulungnya untuk menjemput mobil dan mengantar kami ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, aku dan Adinda dibawa ke ruang perawatan dan segera diinfus. Dua hari dirawat, Adinda masih terbaring lemah tak berdaya. Namun, ia sudah bisa berkomunikasi meski masih terbata-bata.
“Kak...” Pelan sekali Adinda memanggilku.
“Maafkan Kakak ya, Dik,” kataku sambil mengusap pelan kepala Adinda.
“Kak, aku sakit, tak tahan lagi. Seluruh tubuhku lemah. Tadi pas aku tidur, aku lihat ayah dan ibu di pintu surga. Mereka mengulurkan tangannya. Saat aku hendak meraihnya, tiba-tiba Kakak memangil-manggilku.”
Aku langsung menangis sejadi-jadinya. Memeluk Adinda dengan sangat erat. Aku tak ingin dia pergi karena ketidakberdayaanku mendapatkan uang. Jangan tinggalkan aku, Adinda. Ia terus saja bercerita tentang mimpinya. Antara menahan sakit dan bahagia bisa berjumpa dengan ayah dan ibu, katanya ia ingin ikut mereka. Aku terus saja menggelengkan kepalaku.
“Kak,” panggilnya dengan wajah sangat tenang. Dia menunjuk ke atas, katanya ayah dan ibu telah menunggu. Lalu ia tertidur pulas sekali dengan sebuah senyum yang mengembang di wajahnya.
“Tidak!” teriakku. Semuanya hening.
Aku kembali ke gubukku, seorang diri. Tiada lagi yang menyambutku di bibir pintu tatkala sore hari dengan rengekan manjanya. Sosok itu kini telah pergi menyusul ayah dan ibu ke surga.
Malam itu kukemasi barang-barang Adinda di dalam lemari. Di sana ada banyak sekali kertas berisikan cerpen dan puisi. Jadi ini yang Adinda lakukan selama aku berjualan. Air mataku pun jatuh. Aku rindu padanya.
Budhe Sri tiba-tiba datang mengantar makanan. Ia melihat kertas-kertas itu. Dibacanya satu per satu kertas itu dan ia pun tersenyum.
“Budhe akan membeli kertas-kertas ini, Luna. Bagaimana, kamu setuju,” tanyanya padaku. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Untuk apa Budhe Sri membeli kertas-kertas itu. “Budhe akan memasukkan tulisan Adinda ke redaksi koran,” katanya kemudian.
Kertas-kertas itu dibawa oleh Budhe Sri. Seminggu kemudian, aku melihat koran di pinggiran Terminal Giwangan. Ada kolom cerpen di sana dengan judul “Hari Raya untuk Kakakku”. Aku baca cerpen itu. Aku pun menangis. Itu adalah kisah hidupku, kisahku bersama Adinda. Cerpen yang jumlahnya ratusan lembar itu pun diterbitkan secara maraton oleh sebuah koran tempat suami Budhe Sri bekerja. Dari hasil penerbitan itu, aku memperoleh honor. Aku merasakan kehadiran Adinda setiap kali membaca karya-karyanya. Aku tahu, dia selalu ada di sisiku. Memelukku dan akan selalu menungguku merayakan lebaran bersama ayah dan ibu di surga.

Sabtu, 23 Mei 2020

Cerpen "Purnama di Malam Lebaran"


Achmad, seorang manajer di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Ia memiliki karier yang cemerlang dan hidup berkecukupan. Bahkan, dirinya dielu-elukan banyak orang sebagai sosok yang mujur. Berbekal ijazah sarjana, ia mengadu nasib ke ibu kota sepuluh tahun yang lalu, meninggalkan kampung halaman dan berjuang di perantauan. Kini, ia bisa berpuas diri menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Sebuah rumah mewah di kawasan elite telah menjadi salah satu investasinya meskipun masih harus dicicil dengan jumlah fantastis tiap bulannya.
Nasib Achmad berubah 180 derajat sejak munculnya virus corona awal Maret lalu. Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan juga pusat perekonomian yang padat penduduk, dalam waktu yang sangat singkat menjadi daerah zona merah. Bagaimana tidak, virus ini dengan sangat cepat menyebar, membuat siapa pun kewalahan dibuatnya. Sejak virus ini muncul, kehidupan bisa dikatakan tidak lagi sama seperti semula. Terlebih usai diberlakukannya PSBB oleh pemerintah, banyak pelaku usaha yang menutup usahanya, tak terkecuali perusahaan tempat Achmad bekerja.
Sejak dirumahkan, Achmad merasa kacau. Dari kantor, ia tak mendapatkan gaji. Padahal, ia masih punya tanggungan cicilan rumah. Alhasil, bulan berikutnya ia menggunakan seluruh tabungan yang tersisa. Pikirannya pun semakin kacau mana kala ia masih harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan nol penghasilan. Bulan berikutnya, Achmad sudah tidak dapat membayar cicilan rumah. Akhirnya, rumah pun ditarik karena tunggakan cicilan. Ia pergi dari rumah dengan sedikit uang hasil menjual beberapa barang.  
Achmad semakin kebingungan karena ia tidak bisa pulang ke kampung halaman. Larangan mudik untuk orang-orang dari zona merah seperti Jakarta ini nyatanya menyusahkan bagi dirinya. Mau menyewa rumah, ia tak mampu. Sebab, hingga kini ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu ia hidup dari jalan ke jalan. Dengan langkah gontai karena kelaparan, ia masuk ke sebuah pasar dengan maksud meminta pekerjaan atau makanan pada para pedagang. Namun, tak satu pun memberinya pekerjaan atau makanan. Ia justru diusir oleh para pedagang di pasar itu karena mengganggu kenyamanan. Gagal mendapatkan uang, ia nekat mencuri kue dari seorang pedagang karena badannya lemas dan perutnya semakin keroncongan. Alhasil ia pun dihajar massa hingga babak belur dan tak sadarkan diri.
Hari berikutnya, ketika membuka mata, Achmad telah berada di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Ia masuk bukan sebagai pasien yang terpapar virus corona, melainkan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sungguhpun harus menahan perih, ia justru bersyukur karena di sini ia mendapat ransum makanan gratis pagi, siang, dan malam selama perawatan. Tak terbayang bagaimana ia harus kembali menderita kelaparan ketika telah sembuh nanti.
Sore ini seorang dokter kembali memeriksa Achmad. Dengan senyum ramahnya sang dokter berkata,” Besok pagi Bapak sudah boleh pulang. Untuk biaya rumah sakit, Bapak tidak perlu khawatir karena sudah ditanggung sepenuhnya oleh orang-orang yang mengeroyok Bapak tempo hari.”
Mendengar itu hati Achmad justru sedih. Esoknya, ia segera berkemas meninggalkan rumah sakit. Sesampainya di halaman rumah sakit, kakinya seolah semakin tertancap. Ia bingung mau ke mana lagi. Dalam hati ia pun berbisik,” Aku akan kembali mencuri makanan di pasar. Jadi kalau dihajar dan luka-luka lagi, aku bisa dirawat di sini.”
Sesampainya di pasar, ia justru terkejut mendapati suasana pasar yang sepi karena ditutup dan tak ada aktivitas lagi. Ia pun bertanya kepada orang-orang sekitar. Rupanya, pasar ini tutup karena salah seorang pedagangnya terpapar virus corona dan meninggal dunia. Maka dari itu, seluruh pedagang dan orang-orang yang pernah datang ke sini sebelumnya akan melaksanakan rapid test. Achmad menjadi sangat sedih. Bukan lantaran pasar ditutup dan ia tak bisa mencuri, melainkan yang  terpapar virus corona tersebut adalah pedagang yang ia curi kuenya kala itu.
Melalui seseorang yang cukup mengenal pedagang tersebut, Achmad mendapatkan petunjuk alamat rumah dan di mana sang pedagang dimakamkan. Maka bergegaslah Achmad mendatangi makam pedagang tersebut. Di hadapan papan kayu bertuliskan nama sang pedagang, Achmad meminta ampunan. Ia pun bersumpah,” Lebih baik aku mati kelaparan daripada kenyang dari makanan hasil curian.”
Malam ini, takbir menggema di masjid-masjid penjuru ibu kota. Purnama bersinar terang seakan tersenyum turut menyambut hari lebaran. Purnama inilah yang menerangi langkah Achmad. Dengan sedikit kekuatan, ia bangkit mengais sisa-sisa makanan di sepanjang jalan. Seperti panjangnya jalanan yang dilaluinya seorang diri malam ini, perjalanan hidupnya pun sama panjang. Ia terus berjalan. Memandang purnama di sepanjang malam lebaran.