Tampilkan postingan dengan label berjuang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berjuang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2022

Terima Kasih, Ramadan: Catatan Perjalanan 5

 Terima Kasih, Ramadan: Catatan Perjalanan 5

Tuhan, izinkan aku kali ini menuliskan cerita perjalanan hidupku yang telah terlewati selama satu tahun ke belakang ini. Sebuah perjalanan yang tentunya tidak begitu saja berlalu dengan mudah. Bahkan, terkadang aku merasa lelah dan hampir menyerah. Setahun ini berlalu dengan jalan yang penuh dengan liku-liku. Dimulai dengan kondisi pandemi yang tak kunjung usai, kegiatan belajar mengajar di sekolah yang masih banyak dilakukan secara daring, bahkan puncaknya ketika covid-19 menyerang Bapak beberapa waktu usai lebaran yang lalu, itu adalah saat yang paling berat, terus melekat dalam ingatanku hingga detik ini bagaimana crowded-nya situasi dan kondisi rumah sakit ketika itu. Setiap hari hati ini dipenuhi dengan ketakutan dan hanya bisa terisi dengan air mata yang terus berlinang.

Aku bersyukur kepada-Mu, ternyata Engkau masih memberi kesempatan kepada keluargaku untuk kembali utuh seperti dahulu. Namun, kondisi tak selesai sampai di situ. Beberapa bulan setelahnya aku sering mengeluhkan kondisi tubuhku yang terus saja bergejolak tak menentu. Di antara kescemasanku, aku memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke rumah sakit di mana rumah sakit itulah yang senantiasa mengingatkanku pada hal yang teramat menyedihkan beberapa waktu sebelumnya. Melalui serangkaian tes yang dilakukan, dokter pun mengatakan bahwa aku terkena Cystitis atau Infeksi Saluran Kencing. Hal itu membuatku harus melakukan rawat jalan hingga akhirnya aku dinyatakan sembuh. Sungguh, Tuhan, itu semua menguras segala kesedihan di hatiku.

Aku bersembunyi di balik tawa yang terus saja mengembang. Namun, hatiku terasa perih, Tuhan. Dan masalah-masalah yang terus saja terjadi yang tak dapat kutuliskan di sini. Tuhan, dalam beratnya masa perjuangan, Engkau memberiku ruang melalui sebuah kesempatan terkait perjalanan karier yang selama ini kutekuni. Karena kasih-Mu lah aku berhasil membuktikan bahwa aku mampu berada di titik ini. Aku mampu bersaing dengan yang lain untuk mendapatkan apa yang selama ini banyak diidamkan oleh setiap orang. Jika bukan karena Engkau, aku tak akan pernah berhasil. Dan tentu saja satu hal yang tak akan pernah kulupa, doa ibuku yang tak pernah putus untukku. Tanpanya aku tak akan pernah mendapatkan kekuatan.

Tuhan, di hari baik dan bulan nan baik juga pada bulan Ramadan, Engkau telah memberikan anugerah yang selama ini aku impikan. Sungguh, Tuhan, kali ini aku ingin menangis sekuat hati di hadapan-Mu. Bukan lagi menangisi kelemahanku, melainkan menangis atas rasa syukur tak terkira atas kasih-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berharap Engkau memberikanku hati nan lapang, mengasah segala kekuatannya dalam menghadapi setiap persoalan, diberi keluasan hati agar sabar dalam menjalani setiap inchi kehidupan, mampu tegar dalam menatap masa depan, memiliki keikhlasan dalam setiap hal yang terjadi dalam kehidupan, serta terangkat derajat kehidupanku ke depan.

Aku berjanji pada-Mu, Tuhan, apa yang telah Engkau berikan padaku ini akan kujalani dengan sepenuh hati, hingga tiada lagi tangisan meratapi apa yang telah dan sedang terjadi, berganti dengan tangisan syukur bahwa aku masih bisa berada di titik ini karena Engkau percaya aku mampu melaluinya kini, esok, ataupun nanti.

Terima kasih, Ramadan Kareem, 1443 H tahun 2022 ini. Denganmulah aku kembali bisa menenangkan hati dari segala risau yang selama ini terjadi. Izinkan aku kembali menemuimu di tahun-tahun yang akan datang, Ramadan.

Senin, 22 Juni 2020

YANG LEPAS YANG TERHEMPAS: Catatan Perjalanan


Sebuah Review Catatan Awal Tahun 2020

 

Suatu sore di penghujung hari nan hujan, saya iseng membaca sebuah buku bertajuk “Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012” buah pena salah satu band yang saya favoritkan sejak duduk di bangku kelas dua SMP hingga kini saya sudah beranjak dewasa dan mengajar pula di kelas dua SMP. Satu kebetulan yang tak terkira.

Saya masih ingat betul bagaimana dulu pertama mengidolakan band beranggotakan enam personil yang bernama “Peterpan” ini. Sepanjang perjalanan study tour ke Bandung, sekitar tahun 2004-2005, lagu-lagu grup band ini mengalun dengan indah di telinga saya dan kawan-kawan, menghilangkan segala kepenatan yang melanda. Awalnya, saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu Peterpan. Namun, setelah lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan lancar oleh kawan-kawan, saya baru mulai tertarik dengan Peterpan. Bus pun melaju dari Jogja ke Bandung dengan penuh suka cita. Masih terngiang dengan jelas lagu-lagu dengan judul “Ada Apa Denganmu”, “Mimpi yang Sempurna”, “Kukatakan dengan Indah”, “Sahabat”, “Aku dan Bintang”, “Topeng”, “Semua tentang Kita” serta masih banyak lagi lagu-lagu lainnya. Semua larut menyanyikan lagu-lagu tersebut. Saya sendiri heran bagaimana kawan-kawan saya begitu lancarnya menghafal lirik dalam lagu-lagu tersebut, seolah liriknya begitu familiar di telinga. Karena termasuk orang yang tidak percaya diri dalam bernyanyi, saya memilih diam sembari menikmati lagu-lagu tersebut.

Sepulang dari study tour, saya pergi ke sebuah pasar tradisional. Lalu menelusuri satu per satu toko kaset untuk menemukan apa yang saya cari, lagu-lagu dari band Peterpan. Dan ketemulah apa yang saya cari. Saya pulang dan menyalakannya. Sejak saat itu pun saya menjadi tertarik dengan band yang beranggotakan enam orang pemuda dari Kota Bandung tersebut.

Perjalanan memang tidak selalu seiring dan setujuan. Begitu pula dengan band favorit saya. Lika-liku perjalanan dan pasang-surut performa band bernama Peterpan (sebelum berganti nama menjadi Noah) tersebut cukup menarik dan senantiasa saya ikuti. Hingga suatu ketika, mereka meluncurkan sebuah buku. Buku ini adalah kumpulan catatan perjalanan masing-masing personilnya dari awal band terbentuk hingga masih eksis berdiri hingga kini.

Pada salah satu halaman buku tersebut, saya menemukan sebuah kata-kata motivasi yang menyentuh batin saya. Bunyinya demikian:

Pada saat masalah menghampirimu, janganlah berkecil hati

Itu adalah pasangan hidupmu

Itu adalah takdirmu

Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan

Itu adalah pelengkap hidupmu

Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

 

Penilaian Tuhan tidak dimulai saat kau menerimanya

Karena semua orang akan menerimanya, tanpa terkecuali

Selayaknya seperti orang-orang sebelummu

 

Jangan pernah berusaha menolak kesalahanmu

Terimalah itu sebagai bekalmu, untuk perjalanan panjangmu

Justru kesalahanmu dimulai ketika kau menolak menerima kesalahanmu

Sedangkan kau menyadarinya

 

Lapangkanlah dadamu

 

Ada banyak motivasi yang bisa saya ambil dari buku tersebut, tentang bagaimana kita memaknai berbagai permasalahan yang mendera dalam hidup dan bagaimana kita bersikap untuk kemudian bangkit dari permasalahan tersebut. Sangat menginspirasi.

 Hidup adalah tentang sebuah penerimaan. Karena hakikatnya, tak ada yang benar-benar sempurna. Ketika yang dicari dalam hidup hanyalah sebuah kesempurnaan, maka saat kau merasa bahwa kau telah mendapatkan satu kesempurnaan, kau pun akan terus memburu kesempurnaan-kesempurnaan yang lain. Dan itu tidak akan pernah berhenti. Kau pun tak akan pernah merasa cukup. Lain halnya ketika yang kau cari dalam hidup adalah sebuah penerimaan, entah itu baik atau buruk, kemudian kau belajar dari itu dan memahami hakikat baik dan buruk tersebut, maka sesungguhnya kaulah kesempurnaan itu.

Kita harus menyadari, bahwa tak ada yang baik nyata-nyata adalah baik. Pun begitu dengan buruk, tak ada yang nyata-nyata buruk. Baik dan buruk itu hanya tentang nilai rasa. Sebab, apa yang dipandang baik, belum tentu sesungguhnya adalah baik. Begitu pula sebaliknya, apa yang dipandang buruk, belum tentu sesungguhnya adalah buruk.

Kualitas dalam diri kita ditunjukkan dengan cara belajar dan bekerja keras. Seperti apapun masa lalu, bahkan ketika kau dipandang sebagai sesuatu yang sangat buruk di mata orang lain, tapi kau mau belajar dan ikhlas, kemudian bangkit dan bekerja keras, maka bisa jadi suatu hari nanti kau adalah pribadi yang sangat mengagumkan. Pembalasan diri terbaik adalah ketika kau bisa menunjukkan kepada mereka, bahkan kepada dunia bahwa kau tumbuh dengan hebat karena apa yang telah terjadi dan bagaimana kau melalui lalu bangkit menjadi versi yang berbeda dengan dirimu sebelumnya. Kau telah melampaui apa yang bahkan sebelumnya tak pernah ada dalam bayanganmu, juga bayangan semua orang.

Semua orang pernah diuji, bahkan dengan hal paling pahit sekalipun dalam hidup. Kadang, di luar sana, kau dapat melihat orang-orang yang sangat mengagumkan dan memiliki karya-karya yang luar biasa. Kemudian mereka dipuji banyak orang karena ‘karya emas’ tersebut. Tapi tahukah kau bahwa di balik itu semua, merekalah orang-orang yang pernah sakit sesakit-sakitnya, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya? Lalu, mengapa hari ini mereka tumbuh dengan begitu hebat? Itu karena mereka menjadikan pengalaman di masa lalu sebagai sebuah cambuk untuk bangkit dan melakukan perubahan, hingga yang kau lihat hari ini adalah mereka orang-orang hebat yang tampil dengan begitu menakjubkannya.

Apapun permasalahan yang pernah menderamu, entah itu dulu atau yang kau temui hari ini, percayalah bahwa kau bisa melalui semua ini. Kau hanya butuh untuk menerima dan mengikhlaskannya. Lalu tumbuhlah seperti orang-orang tersebut. Jadikan apapun masalah dalam dirimu sebagai sebuah dorongan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Guru terbaik adalah masa lalu. Dan pengalaman terhebat adalah proses yang bisa kau lalui untuk bangkit dan berdiri hingga saat ini. Lalu kau pun akan menemui versi terbaik dari dirimu suatu hari nanti.


Rabu, 10 Juni 2020

Cerpen "Aku Ingin Sekolah"

(Cerpen kolaborasi dengan Muhammad Rizki Oktavian, SMPN 1 Sewon, 2018)

Tumpukan berkas menghiasi meja kerjaku. Betapa lelah aku hari ini. Baru saja seorang client keluar dari ruangan. Menjadi pemimpin perusahaan rupanya tak semudah yang kubayangkan. Persiapan rapat dan seminar lusa membuatku kelabakan sepekan terakhir. Aku memang seorang pimpinan, tapi bukan berarti bisa terus menyandarkan diri di kursi putar. Udara yang kehembuskan keluar melalui mulut. Benakku rasanya terombang-ambing. Hanya berkas-berkas yang terus beterbangan dalam pikiran. Jangan sampai penat terus menggelayut. Jika aku saja seperti ini, lantas bagaimana dengan karyawan-karyawanku?

Sofa rasanya bisa menjadi penangkal penat sementara ini. Aku duduk berselonjor sembari mendongakkan kepala. Ternit seputih susu dengan hiasan gipsumnya tampak memukau, menenangkan mata sehingga jenuh pun perlahan sirna.

Sinar senja diam-diam menerobos kaca, merambat lewat udara, menerpa wajah, dan menyilaukan mata. Kudekati jendela gedung nan kokoh berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit lainnya. Kuusap debu-debu yang menghalangi pandangan. Dari atas kejauhan, jalan-jalan masih tampak ramai. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Burung-burung melintasi cakrawala yang bergradasi jingga dan kuning. Mereka hendak kembali ke sarang. Kicauannya pun bersahut-sahutan.

Senja ini begitu teduh. Fatamorgana yang muncul di siang yang haus sudah tak kelihatan lagi. Semilir angin pun begitu terasa menerpa wajah ketika aku sampai di pelataran kantor. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan membungkukkan badannya padaku. Aku pun tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. Tak berapa lama, sebuah mobil pun menghampiriku.

Membelah jalanan kota yang padat di setiap jam pulang kerja seperti ini sudah biasa bagiku. Aku berdiam diri selama berjam-jam di dalam mobil seperti ini sembari menyaksikan pemandangan kanan dan kiri yang penuh dengan kendaraan. Aku juga sering menyaksikan banyak pengamen jalanan yang tengah mengais rezeki di antara kemacetan. Mereka menghampiri mobil demi mobil, berharap mendapatkan receh demi receh rupiah. Tiba-tiba, mataku menangkap pemandangan tiga orang anak kecil yang berlari-larian sembari membawa karung bermuatan barang-barang bekas. Tak ada kesedihan di raut wajah mereka. Tawa kecil sesekali muncul di wajah mereka yang polos. Mereka mengingatkanku akan satu hal, masa kecilku.

Saat itu, bukan gedung pencakar langit yang tinggi tempat tinggalku, melainkan sebuah gunung. Gunung ini bukanlah berasal dari sekumpulan pasir dan bebatuan. Tak pula berisikan lava merah panas enzim-enzim yang ada di perut bumi pada umumnya, tetapi tumpukan sampah yang menjadi satu. Lendir-lendir yang dikeluarkan bakteri saat memakan sampah organik mengering ketika diterpa seberkas sinar terik dari sang surya, menciptakan gundukan sampah kokoh yang menyerupai nasi tumpeng. Tapi aroma gundukan sampah ini tak sesedap aroma nasi tumpeng. Tatkala angin menyapu, bau sampah-sampah itu pun terseret dan menjadi satu dengan udara sehingga terasa menusuk hidung.

Memang, ini adalah gunung sampah biasa. Tapi bukan berarti gunung sampah ini tak mempunyai kemampuan untuk meledakkan diri layaknya gunung yang sebenarnya. Bakteri-bakteri yang ada di dalamnya mampu mengurai dan mengubah zat-zat organik menjadi ribuan bayi metana. Jika metana-metana ini terus menumpuk, maka akan terjadi letusan dahsyat seperti yang pernah terjadi di beberapa TPA.

Truk-truk sampah ada di mana-mana, mengantarkan imigran sampah dari perkotaan besar menuju kawasan ini. Kulihat akhir-akhir tahun belakangan ini semakin banyak sampah yang berdatangan. Truk-truk tersebut juga datang dengan menggotong bau-bau yang memabukkan. Bagaimana tidak menumpuk dan terus menjadi gunung jika sampahnya saja terus berdatangan. Saat hujan turun pun tanah menjadi becek. Para sampah akan berenang ke mana-mana mengikuti genangan air. Ketika hujan reda, tanah pun menjelma menjadi lumpur. Lalat-lalat berpatroli di setiap tempat. Di mana ada sesuatu yang berbau amis dan busuk, di situlah mereka akan mengerumun.

Di sebuah sudut TPA ini terdapat sepetak tanah yang di atasnya berdiri sebuah susunan kardus beratapkan seng besi yang berkarat. Celah-celah kecil yang dibuat oleh karat membuat kami terkadang harus tidur berteman tetes demi tetes air ketika hujan mengguyur. Rumah ini hanya beralaskan kardus. Tapi setidaknya ini lebih baik bagi kami daripada tidur di kolong jembatan. Dan rumah kardus kecil inilah tempat tinggalku bersama ayah dan ibu.

Di keluarga kecil ini, aku merupakan anak tunggal. Ayah dan ibuku bekerja sebagai pengumpul sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. Aku tak malu meski keadaan keluargaku seperti ini adanya. Ayah dan ibu adalah pemberi kehidupanku. Usiaku beranjak sepuluh tahun. Namun aku tetap belum bisa menikmati bangku sekolah. Setiap hari ulang tahunku tiba, aku hanya bisa meminta kepada Tuhan akan hasratku menikmati dunia pendidikan seperti anak-anak yang lain. Dari dulu sampai sekarang, impianku hanya satu. Sekolah. Karena keterbatasan biaya, impian itu hanya sebatas angan-angan yang terus saja kupendam.

Setiap hari, ketika matahari sudah beranjak ke peraduannya, aku memulai aktivitasku. Dengan bekal sebuah karung goni dan tali, aku mendaki gunung-gunung sampah. Terkadang aku juga berjalan dari satu gang ke gang lain untuk mencari sampah-sampah yang lain dan mengurangi rasa penatku. Gang-gang sepi seringkali kutemui. Namun itu tak membuat gentar hatiku. Sembari bersenandung kecil, aku mulai memunguti setiap sampah demi sampah lalu memasukkannya ke karung goni yang telah kupersiapkan. Saat karung yang kugotong sudah mulai membesar perutnya, kucukupkan waktu memunguti sampah pada hari itu. Jika masih tersisa waktu, aku biasanya datang ke sebuah sekolah dasar yang tak jauh dari tempat tinggalku. Ini adalah kesempatanku melihat kegiatan sekolah anak-anak SD.

Di depan dinding gapura SD, aku mengintip apa saja yang dilakukan anak-anak seusiaku saat bersekolah. Kemudian mataku beralih ke salah satu kelas. Di sana tampak seorang guru tengah memberi penjelasan. Beberapa siswa kulihat  tiada yang bisa diam, terutama siswa laki-laki. Bukannya mendengarkan penjelasan guru, mereka malah asyik mengobrol dengan teman sebangku. Geram sekali rasanya tiap kali aku melihatnya. Gigiku sampai terus bergesekan karena kesal melihat perilaku anak-anak itu. Jika aku menjadi mereka, tak akan kusia-siakan kesempatan bisa bersekolah seperti ini.

Tak sengaja, aku memukul gerbang sekolah sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Rupanya, seorang anak dari kelas itu melihatku. Terpaksa aku harus segera pergi dari sekolah ini agar tidak menciptakan keributan. Meski aku hanya bisa melihat kegiatan belajar di sekolah, suara guru yang lantang hingga terdengar ke telingaku mampu membuatku mengerti beberapa materi di pelajaran dasar. Aku beranjak pulang, meninggalkan materi yang belum sempat terselesaikan meski dengan berat hati. Hasratku untuk bisa bersekolah semakin tinggi. Tapi mau bagaimana lagi. Perlahan, kuseret kakiku untuk pergi.

Aku terus termenung di sepanjang jalan, memikirkan cara bagaimana bisa bersekolah sampai-sampai tak melihat ada batu di depanku. Kakiku tersandung batu itu hingga sampah-sampah yang ada dalam karung goniku keluar berhamburan di pinggir jalan. Saat aku tengah memberesi sampah-sampah tersebut, tampak sebuah map berwarna biru di antara sampah-sampah yang lain. Karena penasaran, aku pun membuka isi map tersebut. Ternyata ada berkas-berkas milik sebuah perusahaan. Aku yakin, ini adalah berkas penting perusahaan tersebut. Aku pun bergegas memberesi isi karung goniku dan buru-buru pulang.

“ Assalamualaiku, Bu!” sapaku pada ibu ketika telah sampai di rumah.

“ Waalaikumsalam. Kamu dari mana saja, kok baru pulang?”

“ Seperti biasa, Bu, aku mampir ke sekolah dulu.”

“ Oh... itu apa yang kamu bawa, Nak?”

“ Ini tadi kutemukan di antara tumpukan sampah-sampah yang kudapatkan hari ini, Bu!” ucapku sembari memberikan map tersebut pada ibu.

“ Sepertinya ini berkas yang penting, Nak.”

“ Aku pikir juga begitu, Bu.”

“ Kalau begitu, kamu harus mengembalikan pada pemiliknya!” pinta ibu.

“ Aku harus mengembalikan ke mana, Bu?” tanyaku tak mengerti. Aku dan ibu pun akhirnya mencatat alamat perusahaan yang tertera pada berkas tersebut.

Keesokan harinya, diantar ayah, aku datang ke alamat perusahaan itu, membawa map berisi berkas tersebut, dan akan mengembalikannya. Begitu sampai di halaman depan, kami dicegat oleh seorang satpam berperawakan tinggi besar. Ia menanyai maksud dan tujuan kami datang. Lalu ayah pun menjelaskan semuanya pada satpam tersebut yang kemudian menyuruh kami masuk dan menunggu di sebuah lobi.

Perusahaan ini sangat besar. Lobi perusahaannya pun sangat mewah. Arsitekturnya juga sangat indah. Begitu masuk dari pintu depan tadi, dingin seketika menjalar di seluruh tubuhku. Rupanya, di sudut-sudat ruang terpasang sebuah benda yang entah aku pun tak tahu namanya. Dengan benda tersebut, udara menjadi dingin. Aku begitu terpukau. Belum pernah aku menginjakkan kaki di tempat sebagus ini. Mataku memandang sekeliling. Orang-orang berdasi tampak keluar-masuk di perusahaan ini. Mereka semua berpakaian rapi dari atas ke bawah, tidak seperti aku dan ayah yang hanya berpakaian kumal dan bersandal jepit.

Tak berapa lama, seorang resepsionis perusahaan tersebut mempersilakan kami masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan, tampak seseorang yang berperawakan tinggi dan besar. Meski begitu, ia terlihat sangat berwibawa. Awalnya, aku merasa takut. Namun, orang tersebut mempersilakan kami duduk. Di depan mejanya tertera tulisan nama dan jabatan. Rupanya, ia adalah direktur utama perusahaan ini. Namanya Jamal.

“ Maaf, kami mengganggu waktu Bapak. Kami hanya ingin mengembalikan map ini. Kemarin kami menemukannya. Sepertinya ini berkas penting,” ucap ayah seraya memberikan map tersebut kepada Pak Jamal. Pak Jamal pun membuka map tersebut.

“ Ini kan berkas-berkas penting yang selama ini saya cari. Bagaimana kalian bisa menemukannya?” tanya Pak Jamal kemudian.

“ Saya kemarin menemukannya di antara sampah-sampah yang saya kumpulkan, Pak! Kata ibu, ini harus dikembalikan pada pemiliknya. Lalu kami datang sesuai alamat yang tertera pada tulisan di situ,” aku menjawab pertanyaan Pak Jamal.

“ Saya sudah mencarinya ke mana-mana selama ini. Dan sekarang, kalian datang ke mari mengantarkan apa yang selama ini saya cari. Terima kasih banyak,” ucap Pak Jamal sembari menjabat tangan ayah dan tanganku. Kemudian Pak Jamal mengambil sebuah amplop kecil dan menyerahkannya padaku. “ Ini tidak seberapa, tapi sebagai tanda terima kasih saya. Terimalah!”

“ Tidak, Pak! Terima kasih. Tapi kami ikhlas menolong Bapak,” kata ayah kemudian.

“ Kalian yakin?” tanya Pak Jamal meyakinkan.

“ Iya, Pak!” jawab ayah mantap. Pak Jamal mengangguk dan kami pun berpamitan setelah menjabat tangan Pak Jamal.

“ Tunggu, Nak!” seru Pak Jamal sesaat sebelum kami meninggalkan ruangannya. “ Berapa usiamu?”

“ Sepuluh tahun, Pak!”

“ Kamu sekolah di mana?”

“ Saya tidak sekolah, Pak. Sehari-hari saya membantu ayah dan ibu mencari sampah-sampah yang masih bisa dijual.”

“ Lalu, di mana kamu tinggal?”

“ Di sebuah rumah kecil tidak jauh dari TPA Glagah, Pak!”

“ Hmmm.. jadi sehari-hari kamu ikut bekerja dengan kedua orang tuamu hingga tidak bisa bersekolah ya?”

“ Iya, Pak!” jawabku sedih.

“ Kalau begitu, maukah kamu mulai bersekolah? Masalah biaya tidak usah khawatir, nanti saya yang akan membiayai sekolah kamu. Anggap saja ini bentuk terima kasih saya atas apa yang telah kamu dan ayahmu lakukan pada saya. Namun, kamu ikutlah bersama saya agar masa depanmu lebih terjamin. Bagaimana?” tanya Pak Jamal sembari tersenyum.

Aku terdiam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bertatapan dengan ayah. Pak Jamal memberi kami waktu untuk berpikir sampai esok hari. Di tengah perjalanan, aku terus termenung memikirkan kata-kata Pak Jamal. Aku bingung. Satu sisi, ini adalah impian yang selama ini aku nantikan. Namun di sisi lain, apakah aku rela meninggalkan ayah dan ibu untuk ikut bersama Pak Jamal?

Setibanya di rumah, aku dan ayah menemui ibu. Lalu ayah menceritakan segalanya pada ibu.

“ Pergilah, Nak! Ibu rela melepasmu agar bisa meraih cita-citamu.”

“ Tapi aku tidak bisa jauh dari ayah dan ibu,” ucapku kemudian.

“ Kamu masih bisa mengunjungi ayah dan ibu kalau kamu rindu. Esok, temuilah Pak Jamal dan persiapkan masa depanmu dengan gemilang. Doa ayah dan ibu akan selalu ada untuk kesuksesanmu!” ibu pun memeluk diriku. Aku membalas pelukan ibu dengan sangat erat.

Keesokan harinya, aku kembali menemui Pak Jamal. Aku bersedia pulang bersama ke rumah Pak Jamal. Rumah itu sangat megah, jauh berbeda dengan rumah kecilku. Hari itu, aku memulai lembar-lembar kehidupanku yang baru sebagai anak angkat dari Pak Jamal dan istrinya yang hingga kini belum dikaruniai seorang anak. Aku mulai menggapai mimpi yang segera menjadi nyata. Benar saja, tak lama berselang, aku mulai bersekolah. Untuk mengejar ketertinggalanku selama ini, Pak Jamal pun mendatangkan guru privat setiap harinya untukku.

Hari demi hari pun kulewati dengan belajar. Hal itu pun berbuah manis lewat prestasi demi prestasi yang terus kutorehkan. Melihat hal itu, Pak Jamal semakin bangga padaku. Ketika memasuki bangku kuliah pun, aku mendapat beasiswa pendidikan ke luar negeri. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku berangkat dengan dukungan penuh dari ayah dan ibu angkatku. Mereka sangat menyayangiku. Sekembalinya dari luar negeri, Pak Jamal pun memberi kepercayaan penuh padaku untuk menggantikan posisinya di perusaan miliknya. Dan tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan terus aku emban hingga detik ini.

Hari mulai gelap saat aku mulai menyadari bahwa aku termenung sedari tadi sembari terus menggali masa laluku. Dua puluh tahun yang lalu aku sama dengan anak-anak itu, bekerja mengumpulkan barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Aku pun berharap mereka kelak juga bisa menggenggam erat masa depannya yang gemilang. Dan inilah akhir kisahku. Sebuah kisah masa lalu di mana saat itu aku begitu ingin sekolah.

 

---selesai---



catatan:
Cerpen ini telah dibukukan dan memenangkan lomba cipta cerpen tingkat provinsi sebagai juara pertama yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, 2018.