Tampilkan postingan dengan label asa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asa. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2020

Cerpen "Penghujung Senja"

Kilau emas sang surya yang belum bangun dari tidurnya membuat gradasi biru dan jingga yang membias cakrawala. Venus, si bintang fajar, masih terlihat di ufuk timur dengan begitu jelas. Beberapa bintang masih berkedip-kedip mengeluarkan cahaya putih nan memukau. Namun, semua itu lenyap seketika, terhempas oleh sinar mentari yang mulai beranjak menuju singgasana. Maka usailah pemandangan yang memukau tersebut.

Pagi hari, tatkala libur tiba seperti ini, aku dan teman-teman biasanya sudah pergi bermain ke tanah lapang, memainkan permainan tradisional seperti ular naga, engklek, egrang, lompat tali, petak umpet, dan lain-lain. Tapi sepekan terakhir ini aku dan teman-teman sudah tak bisa melakukan hal seperti itu lagi. Semua telah berakhir. Sama halnya dengan pemandangan langit yang hilang diterpa sinar matahari. Tempat bermain kami sudah berubah menjadi susunan batu bata yang keras dan tinggi. Ladang-ladang kami juga sudah hancur diporak-porandakan alat-alat berat. Entah pagi, siang, senja, maupun malam, kampungku terus dibisingkan oleh suara isak tangis warga yang kehilangan lahan perkebunan sekaligus mata pencahariannya.

Sebulan lalu, datanglah seorang pria tegap, pendek, berkemeja putih bersih sembari membawa kertas-kertas berisi dokumen penting yang dijaga ketat oleh dua orang berkacamata hitam, bertubuh kekar, dan tinggi. Mereka datang ke kantor kepala desa. Rupanya, mereka adalah kontraktor yang akan menangani proyek pembangunan perumahan-perumahan elite di kawasan ini. Maka para warga harus rela direlokasi ke tempat yang telah disediakan demi kelancaran pembangunan yang telah ditetapkan. Mereka hanya memberi waktu tiga minggu bagi kami untuk pindah.

Hari semakin siang. Aku masih terbaring di atas ranjang. Sedih rasanya memikirkan nasib kampungku ini yang sebentar akan disulap menjadi bangunan-bangunan mewah dengan fasilitas penunjang yang serba modern. Aku melihat atap-atap rumah kecilku yang telah dipenuhi lumut-lumut kering. Apakah mereka tega merenggut harta kecil yang kupunya ini? Tiba-tiba kudengar suara teman-teman yang menghampiriku. Aku pun keluar meninggalkan kamar. Kubuka pintu rumah. Sinar mentari begitu terik, menyengat kulit.

“Ada apa teman-teman?”

“Ayo ikut kami!” sahut salah seorang temanku.

“Untuk apa?”

“Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri.”

Aku pun berjalan gontai mengikuti mereka. Setapak demi setapak jalan kutelusuri.

“Lihatlah truk-truk itu! Sawah ladang kita sudah dipenuhi bahan bangunan,” teriak salah satu temanku kemudian.

Mataku melirik ke arah yang ditunjuknya. Kulihat pondasi-pondasi bangunan mulai dikerjakan. Di beberapa bagian, batu bata bahkan sudah tersusun dengan rapi di atas pondasi tersebut. Rupanya pembangunan proyek perumahan mewah itu benar-benar dimulai. Tak ada lagi pohon-pohon yang tersisa. Semua dibabat habis oleh pemborong yang membangun lahan itu. Udara terasa gerah dan panas. Air sungai yang mengalir di sekitar sawah ladang kami telah berubah dari yang semula jernih dan bersih menjadi kotor dan tercemar sehingga ikan-ikan kecil penghuninya pun mati. Alat-alat berat ada di mana-mana, membantu proses mereka mengubah desa kami yang semula sejuk menjadi gersang.

Kukira, kami telah salah dalam memilih pemimpin. Mana janji-janji mereka saat berkampanye dulu? Mana bukti dari kata-kata yang akan menyejahterakan rakyat? Semua itu ternyata hanya ilusi semata. Tiada satu pun ucapan mereka yang menjadi nyata. Hasrat negeri ini untuk merdeka seutuhnya tak akan bisa tercapai selama rakyat kecil masih tertindas oleh kepentingan orang-orang yang lebih berkuasa.

Aku dan teman-teman tak bisa menemukan tempat bermain kami lagi. Sepanjang jalan yang kulintasi, aku bahkan terus meneteskan air mata. Memori masa kecil di mana tempat kami bergurau, bermain-main, dan saling berbagi kebersamaan sudah dipendam oleh proyek-proyek raksasa yang telah disetujui pemerintah. Angin menderu, menyapu debu-debu yang beterbangan. Hanya satu kenangan yang masih tersisa, papan ayunan kayu yang terbelah menjadi dua, tertimpa besi-besi besar. Air mata pun kian deras membanjiri pipi. Teman-teman memeluk diriku. Kami menangisi kenangan yang telah mati satu per satu. Kemarin, mimpi kami untuk bersekolah di sekolah-sekolah favorit telah pupus oleh peraturan sistem zonasi yang ditetapkan pemerintah. Lantas, esok apa lagi yang akan kembali pupus di hadapan kami? Andai aku adalah orang yang berkuasa, akan kubuat anak-anak bisa menikmati masa kecilnya dengan bahagia hingga tiada lagi tetesan air mata.

Tiba-tiba, datang sekumpulan warga kampung sembari membawa alat-alat seadanya, tapi berukuran cukup besar. Bapak-bapak, ibu-ibu yang membawa anak-anaknya, bahkan orang-orang yang telah lanjut usia pun bergabung menjadi satu. Mereka datang dengan menuntut keadilan, tak terima jika tanahnya harus digusur demi pembangunan. Spanduk-spanduk besar berisi tulisan “Kembalikan tanah kami” terpampang di mana-mana. Air mata kami terus bercucuran. Walau bagaimanapun, tanah ini telah dihuni kami selama puluhan tahun. Apakah orang-orang yang berkuasa itu tak bisa luluh hatinya melihat dan mendengar tangisan kami?

“Kembalikan tanah kami!” ucap salah satu warga dengan berapi-api.

“Jangan hancurkan rumah kami!” ucap salah seorang nenek pada si pria pendek yang turut menyaksikan aksi kami.

“Kami sudah mengganti seluruh kerugian dengan menyediakan rumah susun bagi kalian!” ujar si pria pendek kemudian.

“Itu tak akan cukup bagi kami. Bagaimana kami bisa bekerja tanpa sawah dan ladang kami?” tanya salah seorang warga yang lain.

“Kalian akan mendapatkan pelatihan yang mumpuni untuk dapat bekerja maupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. Pembangunan rusun juga akan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Kalian mau meninggalkan lahan ini dengan sukarela ataupun terpaksa, kami tetap akan merelokasi dan membangun tempat ini. Sudah menjadi keputusan pemerintah pula hal ini!” ucap si pria berbadan pendek sembari menunjukkan surat keterangan dari pemerintah terkait relokasi warga di daerah ini.

Kami pun tak punya pilihan lain. Apa daya, rakyat kecil selalu saja tersingkirkan oleh kepentingan penguasa. Maka kami menghentikan aksi ini dan kembali ke rumah sembari mengemasi barang-barang kami, meninggalkan kampung kecil ini, dan beranjak ke rumah-rumah susun, meski fasilitas di rusun tak seindah yang dijanjikan.

Senja kembali menguasai cakrawala. Hari akan segera berakhir. Semua harapan kami juga telah mati seiring berakhirnya hari. Para warga termasuk keluargaku pun meninggalkan kampung kami yang sangat berharga. Ini harta kami satu-satunya. Biarlah kami relakan ini semua demi pembangunan dan kepentingan penguasa. Satu pintaku, semoga ke depannya tak ada lagi orang-orang yang mengalami nasib serupa, cukup kami saja.

 

---Selesai---


Puisi "Aku dan Masa Depan"

Kakiku terus melangkah

Walau jalanku tak tentu arah

Jejak-jejak kelam di masa silam

Terus terngiang dan menghantam

 

Ada kerikil dan batu besar

Ada kebimbangan yang harus kutakhlukkan

Namun kuberlari

Mencoba terus melepaskan diri

 

Asaku membawa pada satu titik pencerahan

Menuju jembatan-jembatan kedamaian

Menghadapi retorika kehidupan

Masa depan ada dalam genggaman

 

Hujan tak menghentikan langkahku

Peluh terus mengucurkan semangatku

Doa sebagai pelita di hatiku

Keberhasilan menjadi impianku

 

Takdir sudah dituliskan

Berjuang walau berat dilakukan

Keyakinan dipupuk perlahan

Menggapai masa depan dengan penuh harapan


Rabu, 10 Juni 2020

Cerpen "Aku Ingin Sekolah"

(Cerpen kolaborasi dengan Muhammad Rizki Oktavian, SMPN 1 Sewon, 2018)

Tumpukan berkas menghiasi meja kerjaku. Betapa lelah aku hari ini. Baru saja seorang client keluar dari ruangan. Menjadi pemimpin perusahaan rupanya tak semudah yang kubayangkan. Persiapan rapat dan seminar lusa membuatku kelabakan sepekan terakhir. Aku memang seorang pimpinan, tapi bukan berarti bisa terus menyandarkan diri di kursi putar. Udara yang kehembuskan keluar melalui mulut. Benakku rasanya terombang-ambing. Hanya berkas-berkas yang terus beterbangan dalam pikiran. Jangan sampai penat terus menggelayut. Jika aku saja seperti ini, lantas bagaimana dengan karyawan-karyawanku?

Sofa rasanya bisa menjadi penangkal penat sementara ini. Aku duduk berselonjor sembari mendongakkan kepala. Ternit seputih susu dengan hiasan gipsumnya tampak memukau, menenangkan mata sehingga jenuh pun perlahan sirna.

Sinar senja diam-diam menerobos kaca, merambat lewat udara, menerpa wajah, dan menyilaukan mata. Kudekati jendela gedung nan kokoh berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit lainnya. Kuusap debu-debu yang menghalangi pandangan. Dari atas kejauhan, jalan-jalan masih tampak ramai. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Burung-burung melintasi cakrawala yang bergradasi jingga dan kuning. Mereka hendak kembali ke sarang. Kicauannya pun bersahut-sahutan.

Senja ini begitu teduh. Fatamorgana yang muncul di siang yang haus sudah tak kelihatan lagi. Semilir angin pun begitu terasa menerpa wajah ketika aku sampai di pelataran kantor. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan membungkukkan badannya padaku. Aku pun tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. Tak berapa lama, sebuah mobil pun menghampiriku.

Membelah jalanan kota yang padat di setiap jam pulang kerja seperti ini sudah biasa bagiku. Aku berdiam diri selama berjam-jam di dalam mobil seperti ini sembari menyaksikan pemandangan kanan dan kiri yang penuh dengan kendaraan. Aku juga sering menyaksikan banyak pengamen jalanan yang tengah mengais rezeki di antara kemacetan. Mereka menghampiri mobil demi mobil, berharap mendapatkan receh demi receh rupiah. Tiba-tiba, mataku menangkap pemandangan tiga orang anak kecil yang berlari-larian sembari membawa karung bermuatan barang-barang bekas. Tak ada kesedihan di raut wajah mereka. Tawa kecil sesekali muncul di wajah mereka yang polos. Mereka mengingatkanku akan satu hal, masa kecilku.

Saat itu, bukan gedung pencakar langit yang tinggi tempat tinggalku, melainkan sebuah gunung. Gunung ini bukanlah berasal dari sekumpulan pasir dan bebatuan. Tak pula berisikan lava merah panas enzim-enzim yang ada di perut bumi pada umumnya, tetapi tumpukan sampah yang menjadi satu. Lendir-lendir yang dikeluarkan bakteri saat memakan sampah organik mengering ketika diterpa seberkas sinar terik dari sang surya, menciptakan gundukan sampah kokoh yang menyerupai nasi tumpeng. Tapi aroma gundukan sampah ini tak sesedap aroma nasi tumpeng. Tatkala angin menyapu, bau sampah-sampah itu pun terseret dan menjadi satu dengan udara sehingga terasa menusuk hidung.

Memang, ini adalah gunung sampah biasa. Tapi bukan berarti gunung sampah ini tak mempunyai kemampuan untuk meledakkan diri layaknya gunung yang sebenarnya. Bakteri-bakteri yang ada di dalamnya mampu mengurai dan mengubah zat-zat organik menjadi ribuan bayi metana. Jika metana-metana ini terus menumpuk, maka akan terjadi letusan dahsyat seperti yang pernah terjadi di beberapa TPA.

Truk-truk sampah ada di mana-mana, mengantarkan imigran sampah dari perkotaan besar menuju kawasan ini. Kulihat akhir-akhir tahun belakangan ini semakin banyak sampah yang berdatangan. Truk-truk tersebut juga datang dengan menggotong bau-bau yang memabukkan. Bagaimana tidak menumpuk dan terus menjadi gunung jika sampahnya saja terus berdatangan. Saat hujan turun pun tanah menjadi becek. Para sampah akan berenang ke mana-mana mengikuti genangan air. Ketika hujan reda, tanah pun menjelma menjadi lumpur. Lalat-lalat berpatroli di setiap tempat. Di mana ada sesuatu yang berbau amis dan busuk, di situlah mereka akan mengerumun.

Di sebuah sudut TPA ini terdapat sepetak tanah yang di atasnya berdiri sebuah susunan kardus beratapkan seng besi yang berkarat. Celah-celah kecil yang dibuat oleh karat membuat kami terkadang harus tidur berteman tetes demi tetes air ketika hujan mengguyur. Rumah ini hanya beralaskan kardus. Tapi setidaknya ini lebih baik bagi kami daripada tidur di kolong jembatan. Dan rumah kardus kecil inilah tempat tinggalku bersama ayah dan ibu.

Di keluarga kecil ini, aku merupakan anak tunggal. Ayah dan ibuku bekerja sebagai pengumpul sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. Aku tak malu meski keadaan keluargaku seperti ini adanya. Ayah dan ibu adalah pemberi kehidupanku. Usiaku beranjak sepuluh tahun. Namun aku tetap belum bisa menikmati bangku sekolah. Setiap hari ulang tahunku tiba, aku hanya bisa meminta kepada Tuhan akan hasratku menikmati dunia pendidikan seperti anak-anak yang lain. Dari dulu sampai sekarang, impianku hanya satu. Sekolah. Karena keterbatasan biaya, impian itu hanya sebatas angan-angan yang terus saja kupendam.

Setiap hari, ketika matahari sudah beranjak ke peraduannya, aku memulai aktivitasku. Dengan bekal sebuah karung goni dan tali, aku mendaki gunung-gunung sampah. Terkadang aku juga berjalan dari satu gang ke gang lain untuk mencari sampah-sampah yang lain dan mengurangi rasa penatku. Gang-gang sepi seringkali kutemui. Namun itu tak membuat gentar hatiku. Sembari bersenandung kecil, aku mulai memunguti setiap sampah demi sampah lalu memasukkannya ke karung goni yang telah kupersiapkan. Saat karung yang kugotong sudah mulai membesar perutnya, kucukupkan waktu memunguti sampah pada hari itu. Jika masih tersisa waktu, aku biasanya datang ke sebuah sekolah dasar yang tak jauh dari tempat tinggalku. Ini adalah kesempatanku melihat kegiatan sekolah anak-anak SD.

Di depan dinding gapura SD, aku mengintip apa saja yang dilakukan anak-anak seusiaku saat bersekolah. Kemudian mataku beralih ke salah satu kelas. Di sana tampak seorang guru tengah memberi penjelasan. Beberapa siswa kulihat  tiada yang bisa diam, terutama siswa laki-laki. Bukannya mendengarkan penjelasan guru, mereka malah asyik mengobrol dengan teman sebangku. Geram sekali rasanya tiap kali aku melihatnya. Gigiku sampai terus bergesekan karena kesal melihat perilaku anak-anak itu. Jika aku menjadi mereka, tak akan kusia-siakan kesempatan bisa bersekolah seperti ini.

Tak sengaja, aku memukul gerbang sekolah sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Rupanya, seorang anak dari kelas itu melihatku. Terpaksa aku harus segera pergi dari sekolah ini agar tidak menciptakan keributan. Meski aku hanya bisa melihat kegiatan belajar di sekolah, suara guru yang lantang hingga terdengar ke telingaku mampu membuatku mengerti beberapa materi di pelajaran dasar. Aku beranjak pulang, meninggalkan materi yang belum sempat terselesaikan meski dengan berat hati. Hasratku untuk bisa bersekolah semakin tinggi. Tapi mau bagaimana lagi. Perlahan, kuseret kakiku untuk pergi.

Aku terus termenung di sepanjang jalan, memikirkan cara bagaimana bisa bersekolah sampai-sampai tak melihat ada batu di depanku. Kakiku tersandung batu itu hingga sampah-sampah yang ada dalam karung goniku keluar berhamburan di pinggir jalan. Saat aku tengah memberesi sampah-sampah tersebut, tampak sebuah map berwarna biru di antara sampah-sampah yang lain. Karena penasaran, aku pun membuka isi map tersebut. Ternyata ada berkas-berkas milik sebuah perusahaan. Aku yakin, ini adalah berkas penting perusahaan tersebut. Aku pun bergegas memberesi isi karung goniku dan buru-buru pulang.

“ Assalamualaiku, Bu!” sapaku pada ibu ketika telah sampai di rumah.

“ Waalaikumsalam. Kamu dari mana saja, kok baru pulang?”

“ Seperti biasa, Bu, aku mampir ke sekolah dulu.”

“ Oh... itu apa yang kamu bawa, Nak?”

“ Ini tadi kutemukan di antara tumpukan sampah-sampah yang kudapatkan hari ini, Bu!” ucapku sembari memberikan map tersebut pada ibu.

“ Sepertinya ini berkas yang penting, Nak.”

“ Aku pikir juga begitu, Bu.”

“ Kalau begitu, kamu harus mengembalikan pada pemiliknya!” pinta ibu.

“ Aku harus mengembalikan ke mana, Bu?” tanyaku tak mengerti. Aku dan ibu pun akhirnya mencatat alamat perusahaan yang tertera pada berkas tersebut.

Keesokan harinya, diantar ayah, aku datang ke alamat perusahaan itu, membawa map berisi berkas tersebut, dan akan mengembalikannya. Begitu sampai di halaman depan, kami dicegat oleh seorang satpam berperawakan tinggi besar. Ia menanyai maksud dan tujuan kami datang. Lalu ayah pun menjelaskan semuanya pada satpam tersebut yang kemudian menyuruh kami masuk dan menunggu di sebuah lobi.

Perusahaan ini sangat besar. Lobi perusahaannya pun sangat mewah. Arsitekturnya juga sangat indah. Begitu masuk dari pintu depan tadi, dingin seketika menjalar di seluruh tubuhku. Rupanya, di sudut-sudat ruang terpasang sebuah benda yang entah aku pun tak tahu namanya. Dengan benda tersebut, udara menjadi dingin. Aku begitu terpukau. Belum pernah aku menginjakkan kaki di tempat sebagus ini. Mataku memandang sekeliling. Orang-orang berdasi tampak keluar-masuk di perusahaan ini. Mereka semua berpakaian rapi dari atas ke bawah, tidak seperti aku dan ayah yang hanya berpakaian kumal dan bersandal jepit.

Tak berapa lama, seorang resepsionis perusahaan tersebut mempersilakan kami masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan, tampak seseorang yang berperawakan tinggi dan besar. Meski begitu, ia terlihat sangat berwibawa. Awalnya, aku merasa takut. Namun, orang tersebut mempersilakan kami duduk. Di depan mejanya tertera tulisan nama dan jabatan. Rupanya, ia adalah direktur utama perusahaan ini. Namanya Jamal.

“ Maaf, kami mengganggu waktu Bapak. Kami hanya ingin mengembalikan map ini. Kemarin kami menemukannya. Sepertinya ini berkas penting,” ucap ayah seraya memberikan map tersebut kepada Pak Jamal. Pak Jamal pun membuka map tersebut.

“ Ini kan berkas-berkas penting yang selama ini saya cari. Bagaimana kalian bisa menemukannya?” tanya Pak Jamal kemudian.

“ Saya kemarin menemukannya di antara sampah-sampah yang saya kumpulkan, Pak! Kata ibu, ini harus dikembalikan pada pemiliknya. Lalu kami datang sesuai alamat yang tertera pada tulisan di situ,” aku menjawab pertanyaan Pak Jamal.

“ Saya sudah mencarinya ke mana-mana selama ini. Dan sekarang, kalian datang ke mari mengantarkan apa yang selama ini saya cari. Terima kasih banyak,” ucap Pak Jamal sembari menjabat tangan ayah dan tanganku. Kemudian Pak Jamal mengambil sebuah amplop kecil dan menyerahkannya padaku. “ Ini tidak seberapa, tapi sebagai tanda terima kasih saya. Terimalah!”

“ Tidak, Pak! Terima kasih. Tapi kami ikhlas menolong Bapak,” kata ayah kemudian.

“ Kalian yakin?” tanya Pak Jamal meyakinkan.

“ Iya, Pak!” jawab ayah mantap. Pak Jamal mengangguk dan kami pun berpamitan setelah menjabat tangan Pak Jamal.

“ Tunggu, Nak!” seru Pak Jamal sesaat sebelum kami meninggalkan ruangannya. “ Berapa usiamu?”

“ Sepuluh tahun, Pak!”

“ Kamu sekolah di mana?”

“ Saya tidak sekolah, Pak. Sehari-hari saya membantu ayah dan ibu mencari sampah-sampah yang masih bisa dijual.”

“ Lalu, di mana kamu tinggal?”

“ Di sebuah rumah kecil tidak jauh dari TPA Glagah, Pak!”

“ Hmmm.. jadi sehari-hari kamu ikut bekerja dengan kedua orang tuamu hingga tidak bisa bersekolah ya?”

“ Iya, Pak!” jawabku sedih.

“ Kalau begitu, maukah kamu mulai bersekolah? Masalah biaya tidak usah khawatir, nanti saya yang akan membiayai sekolah kamu. Anggap saja ini bentuk terima kasih saya atas apa yang telah kamu dan ayahmu lakukan pada saya. Namun, kamu ikutlah bersama saya agar masa depanmu lebih terjamin. Bagaimana?” tanya Pak Jamal sembari tersenyum.

Aku terdiam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bertatapan dengan ayah. Pak Jamal memberi kami waktu untuk berpikir sampai esok hari. Di tengah perjalanan, aku terus termenung memikirkan kata-kata Pak Jamal. Aku bingung. Satu sisi, ini adalah impian yang selama ini aku nantikan. Namun di sisi lain, apakah aku rela meninggalkan ayah dan ibu untuk ikut bersama Pak Jamal?

Setibanya di rumah, aku dan ayah menemui ibu. Lalu ayah menceritakan segalanya pada ibu.

“ Pergilah, Nak! Ibu rela melepasmu agar bisa meraih cita-citamu.”

“ Tapi aku tidak bisa jauh dari ayah dan ibu,” ucapku kemudian.

“ Kamu masih bisa mengunjungi ayah dan ibu kalau kamu rindu. Esok, temuilah Pak Jamal dan persiapkan masa depanmu dengan gemilang. Doa ayah dan ibu akan selalu ada untuk kesuksesanmu!” ibu pun memeluk diriku. Aku membalas pelukan ibu dengan sangat erat.

Keesokan harinya, aku kembali menemui Pak Jamal. Aku bersedia pulang bersama ke rumah Pak Jamal. Rumah itu sangat megah, jauh berbeda dengan rumah kecilku. Hari itu, aku memulai lembar-lembar kehidupanku yang baru sebagai anak angkat dari Pak Jamal dan istrinya yang hingga kini belum dikaruniai seorang anak. Aku mulai menggapai mimpi yang segera menjadi nyata. Benar saja, tak lama berselang, aku mulai bersekolah. Untuk mengejar ketertinggalanku selama ini, Pak Jamal pun mendatangkan guru privat setiap harinya untukku.

Hari demi hari pun kulewati dengan belajar. Hal itu pun berbuah manis lewat prestasi demi prestasi yang terus kutorehkan. Melihat hal itu, Pak Jamal semakin bangga padaku. Ketika memasuki bangku kuliah pun, aku mendapat beasiswa pendidikan ke luar negeri. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku berangkat dengan dukungan penuh dari ayah dan ibu angkatku. Mereka sangat menyayangiku. Sekembalinya dari luar negeri, Pak Jamal pun memberi kepercayaan penuh padaku untuk menggantikan posisinya di perusaan miliknya. Dan tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan terus aku emban hingga detik ini.

Hari mulai gelap saat aku mulai menyadari bahwa aku termenung sedari tadi sembari terus menggali masa laluku. Dua puluh tahun yang lalu aku sama dengan anak-anak itu, bekerja mengumpulkan barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Aku pun berharap mereka kelak juga bisa menggenggam erat masa depannya yang gemilang. Dan inilah akhir kisahku. Sebuah kisah masa lalu di mana saat itu aku begitu ingin sekolah.

 

---selesai---



catatan:
Cerpen ini telah dibukukan dan memenangkan lomba cipta cerpen tingkat provinsi sebagai juara pertama yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, 2018.