Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2022

Cerpen Jenggala

 Cerpen Jenggala

Secarik kertas dibalik. Ketika mata ini melirik, memori lampau kembali menyapa. Lantas kubuka buku kenangan lama. Teringat beberapa kisah awal ketika diri belum ada sama sekali bekal.

Semburat senja telah tampak di barisan cakrawala. Melesapkan panasnya hawa dengan sekejap mata. Waktu memanglah gesit. Jikalau tak mampu menangkap walau hanya sedikit, niscaya penyesalan memerangkap. Ruginya bukan main. Bahkan, sampai ada tekanan batin.

Kalau kembali kuingat, perjalanan selama tiga tahun terakhir ini terasa begitu cepat. Aku bersiap pergi menjejakkan kaki ke jenjang yang lebih tinggi. Di sanalah aku akan menempa diri, menjalani kerasnya perjalanan nan hakiki, hingga kelak menjadi manusia sejati. Namun, sebelum meninggalkan kota ini, izinkanlah aku menumpahkan sepenggal rasa dalam baris-baris frasa yang telah kurangkai sedemikian rupa.

Hujan mengguyur, licin membuatku tercebur. Aku ada di antara sekian banyak siswa baru yang datang pada pagi itu. Gerbang telah dibuka. Di sana, Bapak dan Ibu Guru telah bersiap menyambut para siswa yang mulai berdatangan. Seutas senyuman tersungging di bibirku. Ya, inilah tempatku menimba ilmu dalam tiga tahun yang akan datang.

Denting waktu terus berjalan. Aku menikmati tiap detik momen yang terjadi di sekolah baru ini. Di sini aku mulai memperoleh kawan. Merekalah yang pada akhirnya nanti menggoreskan tawa yang mewarnai hari-hariku dengan penuh arti.

Semua berjalan sebagaimana mestinya, hingga pada suatu ketika datanglah pandemi yang tiada disangka-sangka. Segala sesuatu yang tadinya berjalan dengan normal menjadi penuh liku dan tantangan. Ternyata, menyesuaikan diri dengan keadaan seperti ini tidaklah mudah, terutama dampak yang terasa adalah dalam menyerap sari-sari ilmu. Tak ada lagi tawa dan canda di ruang-ruang kelas yang kurasakan tiap-tiap pagi. Kelas-kelas pun seolah merintih sepi tak berpenghuni.

Suatu hari di tahun ajaran baru, aku telah beranjak ke jenjang kelas berikutnya. Namun, pandemi belum juga usai. Aku ibarat sebuah kapal nan runtuh hingga tak mampu berlabuh. Sampai pada suatu ketika, aku bertemu dengan Bu Melda, wali kelasku yang baru. Darinya aku mulai menempa kembali serpihan-serpihan harapan untuk menyongsong masa depan.

Bu Melda. Ibu telah memperhatikan diri ini yang tak bisa apa-apa. Datang dari jauh, menyulap yang rapuh menjadi utuh. Tatkala kegelapan lautan menghampiri hingga membuatku gemetar, Bu Melda menjadi mentari nan membimbing diri agar tak mudah gentar walau petir menyambar. Jarum kompas rancu berulang. Namun, Bu Melda menjadi rasi bintang agar kapal ini tetap bisa berlayar.

Hari-hari penuh persiapan jelang ujian pun terus berpacu dalam waktu. Ada kalanya aku kembali dirubung ketakutan. Namun, kucoba meyakinkan diri, berpedoman pada doa dan keyakinan akan ada cahaya setelah kegelapan. Bak pelangi selepas hujan.

Ingatan itu melesat kembali pada hari ini, hari di mana esok aku akan mulai menjalani langkah baru. Sudah terlampau banyak yang terkenang hingga bingung bagaimana lagi yang harus kuungkapkan. Secuil cerita dari perjalanan hidupku nan panjang. Kelak akan menjadi suatu bab yang tertuang dalam buku catatan. Kutahu kata-kata ini berbelit-belit karena ini cukup rumit.

Masih kuingat nasihat dari Bu Melda, “Sukses adalah sebuah perjalanan. Nikmati, jalani, dan syukuri setiap tahapan dari perjalanan itu sendiri hingga kamu akan menjadi manusia baru yang lebih tangguh dan unggul dari sebelumnya.” Inilah yang akan menjadi bekalku untuk menguatkan hati, melangkah esok hari.

Aku mungkin belum bisa memberi apa-apa untuk semesta yang sudah memberiku banyak hal nan berharga. Aku hanya bisa menggumam seuntai doa agar selalu bahagia, diberi sehat sentosa, dan selalu dijaga Yang Maha Esa. Kelak, aku bisa menjadi jenggala yang memberi kesejukan, juga lentera yang akan selalu bersinar dalam kegelapan.

 

~selesai~

Kamis, 29 Juli 2021

Cerpen "Kota Mati"

Kota Mati

Notebook abu-abu nan berdiam, kupandangi dalam-dalam sebelum aku lebur dan tenggelam dalam tumpukan pekerjaan yang telah kuagendakan. Kubuka sebuah file berisi lagu-lagu kenangan lama yang telah kusimpan di sudut ruang penyimpanan.

 

Ciuman manis itu

Masih terasa

Membekas di bibirku

Belum terhapus

 

Dia hilang dari pelukku

Dia hilang bagai mimpi

Dia hilang dari sadarku

Dan dia hilang

 

Masih kurasakan

Masih kurindukan

Masih kuinginkan

Bercinta denganmu

 

Masih kurasakan

Masih kurindukan

Masih kuinginkan

 

Tubuh yang wangi itu

Masih tercium

Gelas anggur untukmu

Belum tersentuh

 

Cinta cinta cintamu

 

Masih kuinginkan

(Ciuman manis itu)

 

Masih kurindukan

(Tubuh yang wangi itu)

 

Lantunan lagu milik Java Jive berjudul Hilang ini terus menggema di telingaku. Mengingatkanku pada seseorang nan jauh di sana. Seseorang yang entah kenapa selalu kunanti kedatangannya, sejak hari itu, di mana kembali aku dipertemukan dengannya setelah sekian lamanya waktu perpisahan.

Masih kuingat dengan jelas detik demi detik yang terlewati pada hari itu. Yang telah membuat kita melupakan sekat tebal yang membumbung di antara aku dengannya. Semua seakan hilang. Yang tersisa hanyalah keintiman tatkala dua bibir ini mulai berpagut dalam satu.

Aku mengenalnya sudah lama, jauh ketika masih awal kuliah di salah satu universitas di Jogja, sekitar tahun 2011. Namun, tak lama kami pun berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing setahun kemudian, tepatnya tahun 2012. Dia masih dengan kehidupannya di Jakarta. Sampai pada suatu ketika, kami dipertemukan kembali sekitar tahun 2016 ketika ia kembali beberapa waktu lamanya di kota yang selalu penuh cinta, Jogja.

Malam semakin larut ketika aku menapaki jalan menuju terminal. Entah langkah apa yang membawaku berada di tempat ini, hampir dini hari. Dari kejauhan, samar-samar ada sosok yang semakin mendekat. Sosok yang secara kasat mata terlihat asing tapi dengan hati ini aku tak lagi merasa asing. Hingga tatkala dirinya semakin dekat, kemudian melayangkan sebuah pelukan, aku pun hanya berdiri kaku, namun seutas senyuman mengembang di bibirku. “Dia masih seperti yang dulu,” kataku.

Kami menyusuri jalanan di Kota Jogja nan lengang, sekitar pukul 01.00 dini hari. Memutari jalan-jalan kenangan bagi kami, dulu, bertahun-tahun yang lalu. Pertemuan itu seolah kembali membangkitkan lagi gairah rasa yang dulu pernah ada, namun kini semakin berbeda, setelah kehidupan masing-masing yang kami jalani. Dan benar saja, setelah hari itu, hati kembali tertaut menjadi satu, hingga saat-saat ketika ia kembali dari Jakarta menjadi saat yang kutunggu dengan penuh harapan untuk setiap pertemuan yang dirindukan, menghempaskan segenap rasa tatkala jarak terpampang di depan mata.

Jakarta dan Jogja adalah dua kota nan istimewa, kota yang selalu menghidupkan cinta di antara kita. Seperti sore ini di mana hujan mengguyur sepanjang hari, bentuk cinta dari hujan pada padatnya Kota Jakarta. Kota yang tak pernah tidur sepanjang hari. Derai-derai hujan nan membasahi pun semakin menyejukkan hati, terlebih menuju siang di kawasan Kota Tua ini.

Museum Fatahillah di kompleks Kota Tua masih berdiri dengan gagahnya. Banyak orang berlalu lalang untuk sekadar berfoto hingga memberi makan burung merpati, ada pula yang memilih menyewa sepeda beserta perlengkapannya, bahkan menikmati aneka kuliner yang disajikan. Semua dipenuhi dengan keceriaan. Aku lebih memilih menikmati kuliner sembari menyewa sebuah sepeda untuk berputar-putar di kawasan ini. Kupikir beginilah caraku memanfaatkan waktu hingga sore tiba, sebelum kita berjumpa.

Sore ini, di antara Monas nan gagah menjulang, aku menunggu hadirmu. Masih dengan suasana sehabis hujan dan sejuk semilir angin nan berembus, menambah kerinduan di relung hatiku. “Oh Tuhan, betapa damainya suasana ini,” begitu pikirku dalam hati.

Setelah sekian lamanya, akhirnya kita bisa menikmati senja bersama, walau senja kala itu tertutup pekatnya mendung nan menggelayut di langit Jakarta. Bukan rona merah nan menggantung di cakrawala, tapi tak apa, rasa hati begitu lega tatkala kita berjumpa walau hanya sekejab mata setelah sekian lama. Aku menghabiskan liburan akhir tahunku di sini, Kota Jakarta. Mungkin untuk sebagian orang, Jakarta bukanlah kota tujuan untuk berlibur. Kota yang selalu padat, terlebih pada jam-jam pulang kantor tiba seperti sore hari.

Aku meninggalkan Monas, berjalan menyusuri koridor Trans Jakarta ketika malam tiba. Hingga kita berpisah tatkala salah satu bus yang akan membawaku sampai. Kau melepas genggaman tanganmu dan melambaikannya saat perlahan-lahan mulai menjauh bersama laju bus yang membawaku ke kawasan Cipayung, Jakarta Timur.

Usai berlibur, saatnya kembali ke kota tercinta, Yogyakarta. Sebelumnya, kau terlebih dahulu kembali karena sebuah urusan yang tak bisa ditunda. Aku telah sampai di Stasiun Pasar Senen siang hari meskipun jadwal keretaku hari ini malam hari. Kupikir, lebih baik aku menghindari macet dengan berangkat lebih awal seperti ini.

Aku mengantarkanmu ke Stasiun Tugu Yogyakarta di hari ketiga tahun nan baru. Kau pun harus kembali menunaikan tugasmu di sana. Saat itu hujan turun dengan derasnya, seolah mengerti perasaan hati nan gundah gulana, kembali bergelut dengan jarak yang membentang nyata. Bukankah ini sudah terbiasa terjadi dalam relasi yang tak biasa ini? Lantas, apa yang mesti aku takutkan? Bergelut dalam sepi tanpa ada kau yang menemani?

Aku suka melewati stasiun ataupun bandara. Setiap kali memandang kereta atau pesawat, aku selalu teringat akan dirimu, akan senyum dan kehangatan yang kau berikan padaku setiap kali kita bertemu. Rasanya tak ingin berlama-lama berpisah denganmu, bahkan selalu berharap ada di sampingmu setiap waktu.

Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan. Terkadang aku berpikir dalam sunyi, kenapa kita dipertemukan oleh Tuhan? Apakah suatu saat nanti kita akan satu tujuan, ataukah hanya tinggal dalam kenangan? Aku tak tahu. Yang kutahu adalah aku mencintaimu dalam hatiku, setulus aku selalu berharap untuk hadirnya kebahagiaan dalam hidupmu, entah kau akan mengetahuinya hari ini, esok, maupun nanti. Ketika diriku jauh terbentang jarak denganmu, bukan berarti aku tak bersamamu, tapi kau selalu ada dan menempati ruang istimewa di dalam hatiku. Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tapi karena aku bisa menjadi apa adanya diriku saat bersamamu.

Aku ingin mengatakan padamu bahwa di manapun aku berada, apapun yang terjadi, aku akan selalu memikirkanmu. Dan waktu yang telah kita habiskan bersama adalah waktu yang menyenangkan dalam hidupku. Terima kasih karena telah menjadi bagian itu. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu. Dan hari-hari panjang yang kulalui tanpamu laksana sebuah kota nan mati. Ia kehilangan harapan di tempat menggantungkan seluruh angan.

 

 

 

Senin, 22 Juni 2020

Cerpen "Penghujung Senja"

Kilau emas sang surya yang belum bangun dari tidurnya membuat gradasi biru dan jingga yang membias cakrawala. Venus, si bintang fajar, masih terlihat di ufuk timur dengan begitu jelas. Beberapa bintang masih berkedip-kedip mengeluarkan cahaya putih nan memukau. Namun, semua itu lenyap seketika, terhempas oleh sinar mentari yang mulai beranjak menuju singgasana. Maka usailah pemandangan yang memukau tersebut.

Pagi hari, tatkala libur tiba seperti ini, aku dan teman-teman biasanya sudah pergi bermain ke tanah lapang, memainkan permainan tradisional seperti ular naga, engklek, egrang, lompat tali, petak umpet, dan lain-lain. Tapi sepekan terakhir ini aku dan teman-teman sudah tak bisa melakukan hal seperti itu lagi. Semua telah berakhir. Sama halnya dengan pemandangan langit yang hilang diterpa sinar matahari. Tempat bermain kami sudah berubah menjadi susunan batu bata yang keras dan tinggi. Ladang-ladang kami juga sudah hancur diporak-porandakan alat-alat berat. Entah pagi, siang, senja, maupun malam, kampungku terus dibisingkan oleh suara isak tangis warga yang kehilangan lahan perkebunan sekaligus mata pencahariannya.

Sebulan lalu, datanglah seorang pria tegap, pendek, berkemeja putih bersih sembari membawa kertas-kertas berisi dokumen penting yang dijaga ketat oleh dua orang berkacamata hitam, bertubuh kekar, dan tinggi. Mereka datang ke kantor kepala desa. Rupanya, mereka adalah kontraktor yang akan menangani proyek pembangunan perumahan-perumahan elite di kawasan ini. Maka para warga harus rela direlokasi ke tempat yang telah disediakan demi kelancaran pembangunan yang telah ditetapkan. Mereka hanya memberi waktu tiga minggu bagi kami untuk pindah.

Hari semakin siang. Aku masih terbaring di atas ranjang. Sedih rasanya memikirkan nasib kampungku ini yang sebentar akan disulap menjadi bangunan-bangunan mewah dengan fasilitas penunjang yang serba modern. Aku melihat atap-atap rumah kecilku yang telah dipenuhi lumut-lumut kering. Apakah mereka tega merenggut harta kecil yang kupunya ini? Tiba-tiba kudengar suara teman-teman yang menghampiriku. Aku pun keluar meninggalkan kamar. Kubuka pintu rumah. Sinar mentari begitu terik, menyengat kulit.

“Ada apa teman-teman?”

“Ayo ikut kami!” sahut salah seorang temanku.

“Untuk apa?”

“Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri.”

Aku pun berjalan gontai mengikuti mereka. Setapak demi setapak jalan kutelusuri.

“Lihatlah truk-truk itu! Sawah ladang kita sudah dipenuhi bahan bangunan,” teriak salah satu temanku kemudian.

Mataku melirik ke arah yang ditunjuknya. Kulihat pondasi-pondasi bangunan mulai dikerjakan. Di beberapa bagian, batu bata bahkan sudah tersusun dengan rapi di atas pondasi tersebut. Rupanya pembangunan proyek perumahan mewah itu benar-benar dimulai. Tak ada lagi pohon-pohon yang tersisa. Semua dibabat habis oleh pemborong yang membangun lahan itu. Udara terasa gerah dan panas. Air sungai yang mengalir di sekitar sawah ladang kami telah berubah dari yang semula jernih dan bersih menjadi kotor dan tercemar sehingga ikan-ikan kecil penghuninya pun mati. Alat-alat berat ada di mana-mana, membantu proses mereka mengubah desa kami yang semula sejuk menjadi gersang.

Kukira, kami telah salah dalam memilih pemimpin. Mana janji-janji mereka saat berkampanye dulu? Mana bukti dari kata-kata yang akan menyejahterakan rakyat? Semua itu ternyata hanya ilusi semata. Tiada satu pun ucapan mereka yang menjadi nyata. Hasrat negeri ini untuk merdeka seutuhnya tak akan bisa tercapai selama rakyat kecil masih tertindas oleh kepentingan orang-orang yang lebih berkuasa.

Aku dan teman-teman tak bisa menemukan tempat bermain kami lagi. Sepanjang jalan yang kulintasi, aku bahkan terus meneteskan air mata. Memori masa kecil di mana tempat kami bergurau, bermain-main, dan saling berbagi kebersamaan sudah dipendam oleh proyek-proyek raksasa yang telah disetujui pemerintah. Angin menderu, menyapu debu-debu yang beterbangan. Hanya satu kenangan yang masih tersisa, papan ayunan kayu yang terbelah menjadi dua, tertimpa besi-besi besar. Air mata pun kian deras membanjiri pipi. Teman-teman memeluk diriku. Kami menangisi kenangan yang telah mati satu per satu. Kemarin, mimpi kami untuk bersekolah di sekolah-sekolah favorit telah pupus oleh peraturan sistem zonasi yang ditetapkan pemerintah. Lantas, esok apa lagi yang akan kembali pupus di hadapan kami? Andai aku adalah orang yang berkuasa, akan kubuat anak-anak bisa menikmati masa kecilnya dengan bahagia hingga tiada lagi tetesan air mata.

Tiba-tiba, datang sekumpulan warga kampung sembari membawa alat-alat seadanya, tapi berukuran cukup besar. Bapak-bapak, ibu-ibu yang membawa anak-anaknya, bahkan orang-orang yang telah lanjut usia pun bergabung menjadi satu. Mereka datang dengan menuntut keadilan, tak terima jika tanahnya harus digusur demi pembangunan. Spanduk-spanduk besar berisi tulisan “Kembalikan tanah kami” terpampang di mana-mana. Air mata kami terus bercucuran. Walau bagaimanapun, tanah ini telah dihuni kami selama puluhan tahun. Apakah orang-orang yang berkuasa itu tak bisa luluh hatinya melihat dan mendengar tangisan kami?

“Kembalikan tanah kami!” ucap salah satu warga dengan berapi-api.

“Jangan hancurkan rumah kami!” ucap salah seorang nenek pada si pria pendek yang turut menyaksikan aksi kami.

“Kami sudah mengganti seluruh kerugian dengan menyediakan rumah susun bagi kalian!” ujar si pria pendek kemudian.

“Itu tak akan cukup bagi kami. Bagaimana kami bisa bekerja tanpa sawah dan ladang kami?” tanya salah seorang warga yang lain.

“Kalian akan mendapatkan pelatihan yang mumpuni untuk dapat bekerja maupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. Pembangunan rusun juga akan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Kalian mau meninggalkan lahan ini dengan sukarela ataupun terpaksa, kami tetap akan merelokasi dan membangun tempat ini. Sudah menjadi keputusan pemerintah pula hal ini!” ucap si pria berbadan pendek sembari menunjukkan surat keterangan dari pemerintah terkait relokasi warga di daerah ini.

Kami pun tak punya pilihan lain. Apa daya, rakyat kecil selalu saja tersingkirkan oleh kepentingan penguasa. Maka kami menghentikan aksi ini dan kembali ke rumah sembari mengemasi barang-barang kami, meninggalkan kampung kecil ini, dan beranjak ke rumah-rumah susun, meski fasilitas di rusun tak seindah yang dijanjikan.

Senja kembali menguasai cakrawala. Hari akan segera berakhir. Semua harapan kami juga telah mati seiring berakhirnya hari. Para warga termasuk keluargaku pun meninggalkan kampung kami yang sangat berharga. Ini harta kami satu-satunya. Biarlah kami relakan ini semua demi pembangunan dan kepentingan penguasa. Satu pintaku, semoga ke depannya tak ada lagi orang-orang yang mengalami nasib serupa, cukup kami saja.

 

---Selesai---


Rabu, 10 Juni 2020

Cerpen "Aku Ingin Sekolah"

(Cerpen kolaborasi dengan Muhammad Rizki Oktavian, SMPN 1 Sewon, 2018)

Tumpukan berkas menghiasi meja kerjaku. Betapa lelah aku hari ini. Baru saja seorang client keluar dari ruangan. Menjadi pemimpin perusahaan rupanya tak semudah yang kubayangkan. Persiapan rapat dan seminar lusa membuatku kelabakan sepekan terakhir. Aku memang seorang pimpinan, tapi bukan berarti bisa terus menyandarkan diri di kursi putar. Udara yang kehembuskan keluar melalui mulut. Benakku rasanya terombang-ambing. Hanya berkas-berkas yang terus beterbangan dalam pikiran. Jangan sampai penat terus menggelayut. Jika aku saja seperti ini, lantas bagaimana dengan karyawan-karyawanku?

Sofa rasanya bisa menjadi penangkal penat sementara ini. Aku duduk berselonjor sembari mendongakkan kepala. Ternit seputih susu dengan hiasan gipsumnya tampak memukau, menenangkan mata sehingga jenuh pun perlahan sirna.

Sinar senja diam-diam menerobos kaca, merambat lewat udara, menerpa wajah, dan menyilaukan mata. Kudekati jendela gedung nan kokoh berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit lainnya. Kuusap debu-debu yang menghalangi pandangan. Dari atas kejauhan, jalan-jalan masih tampak ramai. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Burung-burung melintasi cakrawala yang bergradasi jingga dan kuning. Mereka hendak kembali ke sarang. Kicauannya pun bersahut-sahutan.

Senja ini begitu teduh. Fatamorgana yang muncul di siang yang haus sudah tak kelihatan lagi. Semilir angin pun begitu terasa menerpa wajah ketika aku sampai di pelataran kantor. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan membungkukkan badannya padaku. Aku pun tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. Tak berapa lama, sebuah mobil pun menghampiriku.

Membelah jalanan kota yang padat di setiap jam pulang kerja seperti ini sudah biasa bagiku. Aku berdiam diri selama berjam-jam di dalam mobil seperti ini sembari menyaksikan pemandangan kanan dan kiri yang penuh dengan kendaraan. Aku juga sering menyaksikan banyak pengamen jalanan yang tengah mengais rezeki di antara kemacetan. Mereka menghampiri mobil demi mobil, berharap mendapatkan receh demi receh rupiah. Tiba-tiba, mataku menangkap pemandangan tiga orang anak kecil yang berlari-larian sembari membawa karung bermuatan barang-barang bekas. Tak ada kesedihan di raut wajah mereka. Tawa kecil sesekali muncul di wajah mereka yang polos. Mereka mengingatkanku akan satu hal, masa kecilku.

Saat itu, bukan gedung pencakar langit yang tinggi tempat tinggalku, melainkan sebuah gunung. Gunung ini bukanlah berasal dari sekumpulan pasir dan bebatuan. Tak pula berisikan lava merah panas enzim-enzim yang ada di perut bumi pada umumnya, tetapi tumpukan sampah yang menjadi satu. Lendir-lendir yang dikeluarkan bakteri saat memakan sampah organik mengering ketika diterpa seberkas sinar terik dari sang surya, menciptakan gundukan sampah kokoh yang menyerupai nasi tumpeng. Tapi aroma gundukan sampah ini tak sesedap aroma nasi tumpeng. Tatkala angin menyapu, bau sampah-sampah itu pun terseret dan menjadi satu dengan udara sehingga terasa menusuk hidung.

Memang, ini adalah gunung sampah biasa. Tapi bukan berarti gunung sampah ini tak mempunyai kemampuan untuk meledakkan diri layaknya gunung yang sebenarnya. Bakteri-bakteri yang ada di dalamnya mampu mengurai dan mengubah zat-zat organik menjadi ribuan bayi metana. Jika metana-metana ini terus menumpuk, maka akan terjadi letusan dahsyat seperti yang pernah terjadi di beberapa TPA.

Truk-truk sampah ada di mana-mana, mengantarkan imigran sampah dari perkotaan besar menuju kawasan ini. Kulihat akhir-akhir tahun belakangan ini semakin banyak sampah yang berdatangan. Truk-truk tersebut juga datang dengan menggotong bau-bau yang memabukkan. Bagaimana tidak menumpuk dan terus menjadi gunung jika sampahnya saja terus berdatangan. Saat hujan turun pun tanah menjadi becek. Para sampah akan berenang ke mana-mana mengikuti genangan air. Ketika hujan reda, tanah pun menjelma menjadi lumpur. Lalat-lalat berpatroli di setiap tempat. Di mana ada sesuatu yang berbau amis dan busuk, di situlah mereka akan mengerumun.

Di sebuah sudut TPA ini terdapat sepetak tanah yang di atasnya berdiri sebuah susunan kardus beratapkan seng besi yang berkarat. Celah-celah kecil yang dibuat oleh karat membuat kami terkadang harus tidur berteman tetes demi tetes air ketika hujan mengguyur. Rumah ini hanya beralaskan kardus. Tapi setidaknya ini lebih baik bagi kami daripada tidur di kolong jembatan. Dan rumah kardus kecil inilah tempat tinggalku bersama ayah dan ibu.

Di keluarga kecil ini, aku merupakan anak tunggal. Ayah dan ibuku bekerja sebagai pengumpul sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. Aku tak malu meski keadaan keluargaku seperti ini adanya. Ayah dan ibu adalah pemberi kehidupanku. Usiaku beranjak sepuluh tahun. Namun aku tetap belum bisa menikmati bangku sekolah. Setiap hari ulang tahunku tiba, aku hanya bisa meminta kepada Tuhan akan hasratku menikmati dunia pendidikan seperti anak-anak yang lain. Dari dulu sampai sekarang, impianku hanya satu. Sekolah. Karena keterbatasan biaya, impian itu hanya sebatas angan-angan yang terus saja kupendam.

Setiap hari, ketika matahari sudah beranjak ke peraduannya, aku memulai aktivitasku. Dengan bekal sebuah karung goni dan tali, aku mendaki gunung-gunung sampah. Terkadang aku juga berjalan dari satu gang ke gang lain untuk mencari sampah-sampah yang lain dan mengurangi rasa penatku. Gang-gang sepi seringkali kutemui. Namun itu tak membuat gentar hatiku. Sembari bersenandung kecil, aku mulai memunguti setiap sampah demi sampah lalu memasukkannya ke karung goni yang telah kupersiapkan. Saat karung yang kugotong sudah mulai membesar perutnya, kucukupkan waktu memunguti sampah pada hari itu. Jika masih tersisa waktu, aku biasanya datang ke sebuah sekolah dasar yang tak jauh dari tempat tinggalku. Ini adalah kesempatanku melihat kegiatan sekolah anak-anak SD.

Di depan dinding gapura SD, aku mengintip apa saja yang dilakukan anak-anak seusiaku saat bersekolah. Kemudian mataku beralih ke salah satu kelas. Di sana tampak seorang guru tengah memberi penjelasan. Beberapa siswa kulihat  tiada yang bisa diam, terutama siswa laki-laki. Bukannya mendengarkan penjelasan guru, mereka malah asyik mengobrol dengan teman sebangku. Geram sekali rasanya tiap kali aku melihatnya. Gigiku sampai terus bergesekan karena kesal melihat perilaku anak-anak itu. Jika aku menjadi mereka, tak akan kusia-siakan kesempatan bisa bersekolah seperti ini.

Tak sengaja, aku memukul gerbang sekolah sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Rupanya, seorang anak dari kelas itu melihatku. Terpaksa aku harus segera pergi dari sekolah ini agar tidak menciptakan keributan. Meski aku hanya bisa melihat kegiatan belajar di sekolah, suara guru yang lantang hingga terdengar ke telingaku mampu membuatku mengerti beberapa materi di pelajaran dasar. Aku beranjak pulang, meninggalkan materi yang belum sempat terselesaikan meski dengan berat hati. Hasratku untuk bisa bersekolah semakin tinggi. Tapi mau bagaimana lagi. Perlahan, kuseret kakiku untuk pergi.

Aku terus termenung di sepanjang jalan, memikirkan cara bagaimana bisa bersekolah sampai-sampai tak melihat ada batu di depanku. Kakiku tersandung batu itu hingga sampah-sampah yang ada dalam karung goniku keluar berhamburan di pinggir jalan. Saat aku tengah memberesi sampah-sampah tersebut, tampak sebuah map berwarna biru di antara sampah-sampah yang lain. Karena penasaran, aku pun membuka isi map tersebut. Ternyata ada berkas-berkas milik sebuah perusahaan. Aku yakin, ini adalah berkas penting perusahaan tersebut. Aku pun bergegas memberesi isi karung goniku dan buru-buru pulang.

“ Assalamualaiku, Bu!” sapaku pada ibu ketika telah sampai di rumah.

“ Waalaikumsalam. Kamu dari mana saja, kok baru pulang?”

“ Seperti biasa, Bu, aku mampir ke sekolah dulu.”

“ Oh... itu apa yang kamu bawa, Nak?”

“ Ini tadi kutemukan di antara tumpukan sampah-sampah yang kudapatkan hari ini, Bu!” ucapku sembari memberikan map tersebut pada ibu.

“ Sepertinya ini berkas yang penting, Nak.”

“ Aku pikir juga begitu, Bu.”

“ Kalau begitu, kamu harus mengembalikan pada pemiliknya!” pinta ibu.

“ Aku harus mengembalikan ke mana, Bu?” tanyaku tak mengerti. Aku dan ibu pun akhirnya mencatat alamat perusahaan yang tertera pada berkas tersebut.

Keesokan harinya, diantar ayah, aku datang ke alamat perusahaan itu, membawa map berisi berkas tersebut, dan akan mengembalikannya. Begitu sampai di halaman depan, kami dicegat oleh seorang satpam berperawakan tinggi besar. Ia menanyai maksud dan tujuan kami datang. Lalu ayah pun menjelaskan semuanya pada satpam tersebut yang kemudian menyuruh kami masuk dan menunggu di sebuah lobi.

Perusahaan ini sangat besar. Lobi perusahaannya pun sangat mewah. Arsitekturnya juga sangat indah. Begitu masuk dari pintu depan tadi, dingin seketika menjalar di seluruh tubuhku. Rupanya, di sudut-sudat ruang terpasang sebuah benda yang entah aku pun tak tahu namanya. Dengan benda tersebut, udara menjadi dingin. Aku begitu terpukau. Belum pernah aku menginjakkan kaki di tempat sebagus ini. Mataku memandang sekeliling. Orang-orang berdasi tampak keluar-masuk di perusahaan ini. Mereka semua berpakaian rapi dari atas ke bawah, tidak seperti aku dan ayah yang hanya berpakaian kumal dan bersandal jepit.

Tak berapa lama, seorang resepsionis perusahaan tersebut mempersilakan kami masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan, tampak seseorang yang berperawakan tinggi dan besar. Meski begitu, ia terlihat sangat berwibawa. Awalnya, aku merasa takut. Namun, orang tersebut mempersilakan kami duduk. Di depan mejanya tertera tulisan nama dan jabatan. Rupanya, ia adalah direktur utama perusahaan ini. Namanya Jamal.

“ Maaf, kami mengganggu waktu Bapak. Kami hanya ingin mengembalikan map ini. Kemarin kami menemukannya. Sepertinya ini berkas penting,” ucap ayah seraya memberikan map tersebut kepada Pak Jamal. Pak Jamal pun membuka map tersebut.

“ Ini kan berkas-berkas penting yang selama ini saya cari. Bagaimana kalian bisa menemukannya?” tanya Pak Jamal kemudian.

“ Saya kemarin menemukannya di antara sampah-sampah yang saya kumpulkan, Pak! Kata ibu, ini harus dikembalikan pada pemiliknya. Lalu kami datang sesuai alamat yang tertera pada tulisan di situ,” aku menjawab pertanyaan Pak Jamal.

“ Saya sudah mencarinya ke mana-mana selama ini. Dan sekarang, kalian datang ke mari mengantarkan apa yang selama ini saya cari. Terima kasih banyak,” ucap Pak Jamal sembari menjabat tangan ayah dan tanganku. Kemudian Pak Jamal mengambil sebuah amplop kecil dan menyerahkannya padaku. “ Ini tidak seberapa, tapi sebagai tanda terima kasih saya. Terimalah!”

“ Tidak, Pak! Terima kasih. Tapi kami ikhlas menolong Bapak,” kata ayah kemudian.

“ Kalian yakin?” tanya Pak Jamal meyakinkan.

“ Iya, Pak!” jawab ayah mantap. Pak Jamal mengangguk dan kami pun berpamitan setelah menjabat tangan Pak Jamal.

“ Tunggu, Nak!” seru Pak Jamal sesaat sebelum kami meninggalkan ruangannya. “ Berapa usiamu?”

“ Sepuluh tahun, Pak!”

“ Kamu sekolah di mana?”

“ Saya tidak sekolah, Pak. Sehari-hari saya membantu ayah dan ibu mencari sampah-sampah yang masih bisa dijual.”

“ Lalu, di mana kamu tinggal?”

“ Di sebuah rumah kecil tidak jauh dari TPA Glagah, Pak!”

“ Hmmm.. jadi sehari-hari kamu ikut bekerja dengan kedua orang tuamu hingga tidak bisa bersekolah ya?”

“ Iya, Pak!” jawabku sedih.

“ Kalau begitu, maukah kamu mulai bersekolah? Masalah biaya tidak usah khawatir, nanti saya yang akan membiayai sekolah kamu. Anggap saja ini bentuk terima kasih saya atas apa yang telah kamu dan ayahmu lakukan pada saya. Namun, kamu ikutlah bersama saya agar masa depanmu lebih terjamin. Bagaimana?” tanya Pak Jamal sembari tersenyum.

Aku terdiam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bertatapan dengan ayah. Pak Jamal memberi kami waktu untuk berpikir sampai esok hari. Di tengah perjalanan, aku terus termenung memikirkan kata-kata Pak Jamal. Aku bingung. Satu sisi, ini adalah impian yang selama ini aku nantikan. Namun di sisi lain, apakah aku rela meninggalkan ayah dan ibu untuk ikut bersama Pak Jamal?

Setibanya di rumah, aku dan ayah menemui ibu. Lalu ayah menceritakan segalanya pada ibu.

“ Pergilah, Nak! Ibu rela melepasmu agar bisa meraih cita-citamu.”

“ Tapi aku tidak bisa jauh dari ayah dan ibu,” ucapku kemudian.

“ Kamu masih bisa mengunjungi ayah dan ibu kalau kamu rindu. Esok, temuilah Pak Jamal dan persiapkan masa depanmu dengan gemilang. Doa ayah dan ibu akan selalu ada untuk kesuksesanmu!” ibu pun memeluk diriku. Aku membalas pelukan ibu dengan sangat erat.

Keesokan harinya, aku kembali menemui Pak Jamal. Aku bersedia pulang bersama ke rumah Pak Jamal. Rumah itu sangat megah, jauh berbeda dengan rumah kecilku. Hari itu, aku memulai lembar-lembar kehidupanku yang baru sebagai anak angkat dari Pak Jamal dan istrinya yang hingga kini belum dikaruniai seorang anak. Aku mulai menggapai mimpi yang segera menjadi nyata. Benar saja, tak lama berselang, aku mulai bersekolah. Untuk mengejar ketertinggalanku selama ini, Pak Jamal pun mendatangkan guru privat setiap harinya untukku.

Hari demi hari pun kulewati dengan belajar. Hal itu pun berbuah manis lewat prestasi demi prestasi yang terus kutorehkan. Melihat hal itu, Pak Jamal semakin bangga padaku. Ketika memasuki bangku kuliah pun, aku mendapat beasiswa pendidikan ke luar negeri. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku berangkat dengan dukungan penuh dari ayah dan ibu angkatku. Mereka sangat menyayangiku. Sekembalinya dari luar negeri, Pak Jamal pun memberi kepercayaan penuh padaku untuk menggantikan posisinya di perusaan miliknya. Dan tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan terus aku emban hingga detik ini.

Hari mulai gelap saat aku mulai menyadari bahwa aku termenung sedari tadi sembari terus menggali masa laluku. Dua puluh tahun yang lalu aku sama dengan anak-anak itu, bekerja mengumpulkan barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Aku pun berharap mereka kelak juga bisa menggenggam erat masa depannya yang gemilang. Dan inilah akhir kisahku. Sebuah kisah masa lalu di mana saat itu aku begitu ingin sekolah.

 

---selesai---



catatan:
Cerpen ini telah dibukukan dan memenangkan lomba cipta cerpen tingkat provinsi sebagai juara pertama yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, 2018.

Selasa, 26 Mei 2020

Cerpen "Lebaran untuk Luna"

(dengan sedikit gubahan)


Aku ingin hidup seperti remaja-remaja lain seusiaku, bermain dengan teman-teman, menikmati hal-hal indah semasa remaja, tapi apalah dayaku. Aku hanya tinggal bersama adikku, Adinda. Waktu itu, saat usiaku sepuluh tahun, ayah telah meninggalkanku untuk selamanya. Dia adalah buruh pabrik tahu di Semarang. Biasanya, setiap lebaran tiba, ayah akan pulang membawa beraneka jajanan untukku dan Adinda. Namun, pagi itu, sebuah minibus menabrak ayah yang tengah menyeberang jalan. Ayah pun tertidur dan tidak bangun-bangun lagi.
Sepeninggal ayah, ibuku adalah tulang punggung keluarga. Setiap hari, ia berkeliling menjajakan jasanya sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah. Hampir setiap hari itu pula aku menyaksikannya mengonsumsi aneka jamu. Entah sakit apa ibuku kala itu. Katanya harga obat sangat mahal. Setahun kemudian, ibu pun menyusul ayah pergi untuk selamanya.
Di usiaku yang ke sebelas, aku telah menjadi yatim piatu sekaligus orang tua untuk adik semata wayangku. Untuk menyambung hidup, aku menjajakan camilan yang kuambil dari tetangga dengan sistem upah harian. Jika seluruh camilan yang kubawa habis, aku akan mendapat upah dua puluh ribu rupiah. Namun jika tidak, aku hanya akan mendapat upah lima ribu rupiah. Berjualan di terminal seperti ini terkadang harus kucing-kucingan dengan para preman. Tak jarang mereka memalak hasil para pedagang kecil sepertiku ini yang mengumpulkan uang dengan susah payah.
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi biasanya. Aku bersiap menjajakan dagangan. Kulihat Adinda masih terlelap. Gadis kecil berusia lima tahun itu mendekap guling kesayangannya yang sudah usang. Bulir air mataku jatuh, tak dapat menahan kesedihan yang begitu membuncah. Demi Adinda, segala pedih perih rela kutahan. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Segera aku bergegas menuju Terminal Giwangan sebelum kesiangan. Kukecup kening Adinda. Ada rasa pilu setiap kali harus meninggalkannya sendirian. Dengan ditemani dua kucing kesayangan kami, Kitty dan Helly, Adinda akan bermain seharian hingga aku pulang.
Di sepanjang perjalanan, aku menyaksikan remaja seusiaku berkumpul bersama ayah dan ibunya. Mereka juga menyiapkan hidangan khas seperti ketupat opor ayam, sambal goreng hati ampela, maupun rendang untuk menyambut lebaran yang akan datang esok hari. Aroma yang hanya bisa kucium, tanpa pernah bisa aku rasakan. Sampai di pasar batas kota, aku kembali menyaksikan orang-orang berjubel membeli keperluan lebaran. Ada lapak pedagang kelontongan ketupat yang tampak ramai diserbu pembeli. Tak jauh dari situ, lapak pedagang pakaian pun tak kalah ramai. Para pembeli beramai-ramai memilih baju lebaran terbaik yang akan mereka kenakan. Pemandangan yang sangat kontras denganku, baju lusuh, alas kaki yang hampir jebol, dan begitu kumal.
Pukul 07.00 aku sudah sampai di Terminal Giwangan, menggelar lapak, dan bersiap menjajakan dagangan pada para pemudik yang masih berdatangan dari luar-luar kota untuk menemui sanak-keluarga.
“Camilan... camilan... mari Bapak, Ibu, Mbak-mbak, Mas-mas, silakan dilarisi. Murah meriah saja, mari dipilih-dipilih.”
Terik matahari mulai memanggang tubuhku yang kurus, memantulkan kerasnya kehidupan terminal pada licin dan lengketnya keringat yang bercucuran di balik baju lusuh ini. Lembaran demi lembaran terus kukumpulkan. Wajah Adinda yang terus membayang menjadi pelecut semangat untukku terus mengais rezeki di siang yang terik ini, tak peduli seberapa kering dan dahaga kerongkongan, maupun cacing-cacing yang terus melilit dan menggerus di dalam perut, aku tetap berjuang.
Matahari telah condong ke ufuk barat. Aku segera merapikan dagangan dan bersiap pulang. Tiba-tiba, ada beberapa sosok tinggi besar yang mendekati lapakku. Kutahu, tidak akan lama lagi mereka akan segera merampas uangku. Dua di antara mereka datang sambil menenteng botol minuman.
“Kemarikan uangmu!” Aku menggeleng sembari memeluk uangku erat.
“Tidak! Ini uang untuk makan adikku!” Aku menolak dan terus memberontak. Maka botol minuman itu melayang di pelipis mataku. Darah segar mengalir dengan segera, semakin deras dan mengenai pakaianku. Tubuhku menggigil dan keringat dingin terus bercucuran. Tak akan kubiarkan mereka mengambil uang yang kukumpulkan. Segera aku lari di antara tenaga yang tersisa dan berteriak sejadi-jadinya. Senyum polos adikku terus menari-nari di pelupuk mataku. Sepanjang kuberlari, aku terus menangis dan tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Tiba-tiba pandangan mataku gelap. Aku jatuh tersungkur.
Aku membuka mata dan melihat ke sampingku, Adinda terus menangis. Aku bangun dan memeluknya erat. Kukatakan bahwa aku tidak apa-apa. Ia berhenti menangis. Tepat saat itu juga azan berkumandang. Adinda membawakan segelas air putih untukku. Kami pun berbuka puasa di hari ke tiga puluh ini dengan segelas air putih dan makanan pemberian tetangga yang tadi turut serta menggendongku ketika pingsan. “Alhamdulillah, uang titipan Tuhan hari ini masih bisa kuselamatkan.”
“Alhamdulillah, hari ini Kakak dapat uang banyak. Yeay,” kata Adinda sembari mengibas-ngibaskan selembar uang dua puluh ribuan.
“Iya, maaf Kakak tadi belum sempat beli beras. Tapi Kakak berjanji, esok kita akan membeli beras hingga dapat makan sepuasnya,” lanjutku, disambut gelak manja Adinda.
“Kak, aku ingin makan daging hitam seperti orang-orang itu,” Adinda melanjutkan.
“Iya sayang, nanti kalau Kakak ada uang kita akan makan daging hitam itu ya,” kataku sembari mengelus lembut rambut Adinda.
“Asyik!” seru Adinda dengan polosnya.
Daging hitam, begitu sebutan Adinda untuk makanan yang biasa disebut orang-orang sebagai rendang. Makanan dari daging sapi yang dimasak dengan aneka rempah-rempah pilihan. Konon, kata ibu, rendang adalah makanan terlezat sedunia. Namun, belum pernah sekali pun aku merasakannya. Bagiku, rendang adalah lambang kemakmuran bagi orang-orang kaya, terlalu mahal untuk bisa dinikmati rakyat jelata.
Aku mencoba mengajak Adinda jalan-jalan agar ia bisa melupakan sejenak keinginannya untuk makan rendang. Suara takbir menggema bersahut-sahutan. Kami melihat kebahagiaan orang-orang akan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Mereka berpesta, makan makanan lezat, menyalakan kembang api, dan tampak sangat bahagia. Sementara di gubuk kami, hanya ada dua insan yang terus terongrong kemelaratan. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan, di manakah letak keadilan?
1 Syawal, bertahun-tahun sudah kami merayakan hari raya di gubuk reot peninggalan ayah dan ibu. Dan setiap kali malam lebaran tiba di setiap tahunnya, hanya akan tampak kesedihan di mataku, juga Adinda. Aku hanya memeluk Adinda sambil menangis, sedangkan Adinda hanya bisa menatap kebahagiaan orang-orang di luar dengan penuh harap. Kadang tatapan itu kosong. Kurasakan tubuhnya semakin kurus. Wajahnya semakin hari semakin pucat pasi.
“Kak, aku ingin ke makam ayah dan ibu,” pinta Adinda padaku. Aku mengangguk mengiyakan. Lalu kami melangkahkan kaki sampai di pemakaman. Kulihat Adinda hanya diam sampai akhirnya dia jatuh tersungkur di atas tanah pekuburan. Aku histeris. Kuguncang-guncangkan tubuhnya tapi Adinda tak bergeming. Ia terus diam. Kubopong tubuh kurus kering itu sampai ke sebuah gubuk kecil milik kami, aku ambruk.
Ketika bangun, yang kulihat pertama kali adalah Budhe Sri. Dia tetangga di samping rumah kami. Sepeninggal ayah dan ibu, Budhe Sri sudah seperti ibu bagiku. Tak jarang, Budhe Sri mengantarkan makanan untukku dan Adinda.
“Luna kenapa pingsan tadi,” tanya Budhe Sri cemas.
“A... Adinda mana, Budhe,” ucapku terbata sembari menyisir sudut demi sudut gubuk dan akhirnya menemukan Adinda terbaring lemah di sudut gubuk. Ia masih memejamkan mata.
Budhe Sri memberi isyarat kepada putra sulungnya untuk menjemput mobil dan mengantar kami ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, aku dan Adinda dibawa ke ruang perawatan dan segera diinfus. Dua hari dirawat, Adinda masih terbaring lemah tak berdaya. Namun, ia sudah bisa berkomunikasi meski masih terbata-bata.
“Kak...” Pelan sekali Adinda memanggilku.
“Maafkan Kakak ya, Dik,” kataku sambil mengusap pelan kepala Adinda.
“Kak, aku sakit, tak tahan lagi. Seluruh tubuhku lemah. Tadi pas aku tidur, aku lihat ayah dan ibu di pintu surga. Mereka mengulurkan tangannya. Saat aku hendak meraihnya, tiba-tiba Kakak memangil-manggilku.”
Aku langsung menangis sejadi-jadinya. Memeluk Adinda dengan sangat erat. Aku tak ingin dia pergi karena ketidakberdayaanku mendapatkan uang. Jangan tinggalkan aku, Adinda. Ia terus saja bercerita tentang mimpinya. Antara menahan sakit dan bahagia bisa berjumpa dengan ayah dan ibu, katanya ia ingin ikut mereka. Aku terus saja menggelengkan kepalaku.
“Kak,” panggilnya dengan wajah sangat tenang. Dia menunjuk ke atas, katanya ayah dan ibu telah menunggu. Lalu ia tertidur pulas sekali dengan sebuah senyum yang mengembang di wajahnya.
“Tidak!” teriakku. Semuanya hening.
Aku kembali ke gubukku, seorang diri. Tiada lagi yang menyambutku di bibir pintu tatkala sore hari dengan rengekan manjanya. Sosok itu kini telah pergi menyusul ayah dan ibu ke surga.
Malam itu kukemasi barang-barang Adinda di dalam lemari. Di sana ada banyak sekali kertas berisikan cerpen dan puisi. Jadi ini yang Adinda lakukan selama aku berjualan. Air mataku pun jatuh. Aku rindu padanya.
Budhe Sri tiba-tiba datang mengantar makanan. Ia melihat kertas-kertas itu. Dibacanya satu per satu kertas itu dan ia pun tersenyum.
“Budhe akan membeli kertas-kertas ini, Luna. Bagaimana, kamu setuju,” tanyanya padaku. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Untuk apa Budhe Sri membeli kertas-kertas itu. “Budhe akan memasukkan tulisan Adinda ke redaksi koran,” katanya kemudian.
Kertas-kertas itu dibawa oleh Budhe Sri. Seminggu kemudian, aku melihat koran di pinggiran Terminal Giwangan. Ada kolom cerpen di sana dengan judul “Hari Raya untuk Kakakku”. Aku baca cerpen itu. Aku pun menangis. Itu adalah kisah hidupku, kisahku bersama Adinda. Cerpen yang jumlahnya ratusan lembar itu pun diterbitkan secara maraton oleh sebuah koran tempat suami Budhe Sri bekerja. Dari hasil penerbitan itu, aku memperoleh honor. Aku merasakan kehadiran Adinda setiap kali membaca karya-karyanya. Aku tahu, dia selalu ada di sisiku. Memelukku dan akan selalu menungguku merayakan lebaran bersama ayah dan ibu di surga.

Sabtu, 23 Mei 2020

Cerpen "Purnama di Malam Lebaran"


Achmad, seorang manajer di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Ia memiliki karier yang cemerlang dan hidup berkecukupan. Bahkan, dirinya dielu-elukan banyak orang sebagai sosok yang mujur. Berbekal ijazah sarjana, ia mengadu nasib ke ibu kota sepuluh tahun yang lalu, meninggalkan kampung halaman dan berjuang di perantauan. Kini, ia bisa berpuas diri menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Sebuah rumah mewah di kawasan elite telah menjadi salah satu investasinya meskipun masih harus dicicil dengan jumlah fantastis tiap bulannya.
Nasib Achmad berubah 180 derajat sejak munculnya virus corona awal Maret lalu. Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan juga pusat perekonomian yang padat penduduk, dalam waktu yang sangat singkat menjadi daerah zona merah. Bagaimana tidak, virus ini dengan sangat cepat menyebar, membuat siapa pun kewalahan dibuatnya. Sejak virus ini muncul, kehidupan bisa dikatakan tidak lagi sama seperti semula. Terlebih usai diberlakukannya PSBB oleh pemerintah, banyak pelaku usaha yang menutup usahanya, tak terkecuali perusahaan tempat Achmad bekerja.
Sejak dirumahkan, Achmad merasa kacau. Dari kantor, ia tak mendapatkan gaji. Padahal, ia masih punya tanggungan cicilan rumah. Alhasil, bulan berikutnya ia menggunakan seluruh tabungan yang tersisa. Pikirannya pun semakin kacau mana kala ia masih harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan nol penghasilan. Bulan berikutnya, Achmad sudah tidak dapat membayar cicilan rumah. Akhirnya, rumah pun ditarik karena tunggakan cicilan. Ia pergi dari rumah dengan sedikit uang hasil menjual beberapa barang.  
Achmad semakin kebingungan karena ia tidak bisa pulang ke kampung halaman. Larangan mudik untuk orang-orang dari zona merah seperti Jakarta ini nyatanya menyusahkan bagi dirinya. Mau menyewa rumah, ia tak mampu. Sebab, hingga kini ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu ia hidup dari jalan ke jalan. Dengan langkah gontai karena kelaparan, ia masuk ke sebuah pasar dengan maksud meminta pekerjaan atau makanan pada para pedagang. Namun, tak satu pun memberinya pekerjaan atau makanan. Ia justru diusir oleh para pedagang di pasar itu karena mengganggu kenyamanan. Gagal mendapatkan uang, ia nekat mencuri kue dari seorang pedagang karena badannya lemas dan perutnya semakin keroncongan. Alhasil ia pun dihajar massa hingga babak belur dan tak sadarkan diri.
Hari berikutnya, ketika membuka mata, Achmad telah berada di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Ia masuk bukan sebagai pasien yang terpapar virus corona, melainkan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sungguhpun harus menahan perih, ia justru bersyukur karena di sini ia mendapat ransum makanan gratis pagi, siang, dan malam selama perawatan. Tak terbayang bagaimana ia harus kembali menderita kelaparan ketika telah sembuh nanti.
Sore ini seorang dokter kembali memeriksa Achmad. Dengan senyum ramahnya sang dokter berkata,” Besok pagi Bapak sudah boleh pulang. Untuk biaya rumah sakit, Bapak tidak perlu khawatir karena sudah ditanggung sepenuhnya oleh orang-orang yang mengeroyok Bapak tempo hari.”
Mendengar itu hati Achmad justru sedih. Esoknya, ia segera berkemas meninggalkan rumah sakit. Sesampainya di halaman rumah sakit, kakinya seolah semakin tertancap. Ia bingung mau ke mana lagi. Dalam hati ia pun berbisik,” Aku akan kembali mencuri makanan di pasar. Jadi kalau dihajar dan luka-luka lagi, aku bisa dirawat di sini.”
Sesampainya di pasar, ia justru terkejut mendapati suasana pasar yang sepi karena ditutup dan tak ada aktivitas lagi. Ia pun bertanya kepada orang-orang sekitar. Rupanya, pasar ini tutup karena salah seorang pedagangnya terpapar virus corona dan meninggal dunia. Maka dari itu, seluruh pedagang dan orang-orang yang pernah datang ke sini sebelumnya akan melaksanakan rapid test. Achmad menjadi sangat sedih. Bukan lantaran pasar ditutup dan ia tak bisa mencuri, melainkan yang  terpapar virus corona tersebut adalah pedagang yang ia curi kuenya kala itu.
Melalui seseorang yang cukup mengenal pedagang tersebut, Achmad mendapatkan petunjuk alamat rumah dan di mana sang pedagang dimakamkan. Maka bergegaslah Achmad mendatangi makam pedagang tersebut. Di hadapan papan kayu bertuliskan nama sang pedagang, Achmad meminta ampunan. Ia pun bersumpah,” Lebih baik aku mati kelaparan daripada kenyang dari makanan hasil curian.”
Malam ini, takbir menggema di masjid-masjid penjuru ibu kota. Purnama bersinar terang seakan tersenyum turut menyambut hari lebaran. Purnama inilah yang menerangi langkah Achmad. Dengan sedikit kekuatan, ia bangkit mengais sisa-sisa makanan di sepanjang jalan. Seperti panjangnya jalanan yang dilaluinya seorang diri malam ini, perjalanan hidupnya pun sama panjang. Ia terus berjalan. Memandang purnama di sepanjang malam lebaran.

Kamis, 16 Januari 2020

Cerpen "Pertemuan yang Dirindukan"


Pertemuan yang Dirindukan

Rinai hujan perlahan turun membasahi bumi. Gemericik air telah menggantikan warna jingga yang selalu muncul kala sore tiba. Saat di mana selalu kunanti, berdiri memandang senja hingga malam tiba dan berganti langit bertabur bintang-bintang nan bercahaya. Namun, sedari tadi langit tampak murung. Puncaknya sore ini, ia seolah tak kuasa lagi membendung kesedihannya. Lalu tumpahlah segala kegundahan yang dirasakannya. Hujan memang selalu membawa keberkahan di setiap tetesannya, terlebih bagi para penikmatnya.
Musim penghujan telah tiba. Tampaknya akan cukup sulit dijumpai, bercengkrama dengan bebasnya di bawah naungan langit senja. Bagiku, senja adalah saat yang paling istimewa. Semburat warna kuning keemasan yang bergradasi di baris cakrawala menciptakan pemandangan nan memesona. Cahayanya selalu membuatku tertunduk tenang. Kadang juga terasa menyejukkan. Entah, seketika cahaya itu bagaikan tempat nan syahdu tuk melepas jubah penuh dengan hiruk pikuk kehidupan. Di lain waktu, cahaya itu pun semakin mekar, sesaat setelah aku berada tepat di depannya. Menyambutku dengan ketulusan tiada tara.
Namaku Raga Pratama. Orang-orang memanggilku Raga, sebuah nama yang melekat begitu saja tanpa kutahu bagaimana sejarahnya. Seringkali aku menghabiskan waktu pada sore hari untuk sekadar menimati senja. Sebab, senja senantiasa memberi cerita yang tak akan pernah bisa kulupakan, tentang jalan di hidupku yang berliku, memberi kabut pekat yang tiada pernah surut dimakan waktu, kemudian membenamkanku.
                         
***
    
Sore itu, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, digenggam erat oleh seorang wanita yang kira-kira berusia 25 tahun menuju sebuah bangunan. Bangunan itu kecil dan sederhana. Namun, kehangatan begitu nyata terasa tatkala masuk ke dalamnya. Di dalam bangunan itu tampak wanita tadi tengah berbincang serius dengan seorang wanita lainnya. Sedangkan anak kecil dalam genggamannya tampak diam, tak mengerti apa yang sedang mereka perbincangkan.
“Kamu di sini dulu. Nanti aku kembali lagi,” kata wanita  tersebut.
“Aku tidak mau di sini,” rengek si anak laki-laki tadi dengan wajah mulai sembab.
“Baik-baik di sini dan jangan nakal!”
Lalu wanita itu pun melepas genggamannya dan beranjak meninggalkan bangunan kecil itu tanpa memedulikan isak tangis dan jeritan dari anak laki-laki yang sedari tadi memanggilnya. Ia terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang, hingga menghilang di balik senja.
Panti Asuhan “Kasih Ibu” kini kembali diramaikan dengan hadirnya seorang anak laki-laki pada senja ini. Bunda Erika, begitu biasa ia disapa, merupakan pengurus panti asuhan yang kini memiliki sekitar lima belas anak asuh ini. Paras elok dan tutur nan lembut melengkapi keanggunan wanita yang kini berusia 32 tahun itu. Wajahnya selalu bercahaya karena berhias senyum nan menawan. Tak heran, ia begitu disayangi oleh anak-anak di sini. Dan anak kecil yang baru datang senja tadi terus saja menangis dalam pelukannya.

***

“Dokter, seorang pasien kecelakaan baru saja tiba,” seorang suster memberi kabar lewat sambungan telepon.
“Baik, Sus, saya segera ke sana.”
Aku melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit nan sepi. Sebagai dokter bedah yang bertugas di kota besar seperti ini, hampir tiada hari yang terlewati tanpa kuberkutat di meja operasi. Aku sadar akan tugas dan tanggung jawabku secara penuh, bukan semata-mata karena sumpah yang telah kuemban dari pertama aku dinobatkan.
Pasien terakhirku hari ini, seorang  perempuan paruh baya. Entah kenapa, saat pertama aku menjumpainya ada perasaan yang bergejolak dalam dada. Siapa dia? Mengapa dia tampak berbeda dari pasien-pasienku lainnya? Ah, entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja.
Kulepas jas putih yang melingkupi tubuhku. Sejenak kurebahkan diri di sebuah sofa biru dalam ruang kerjaku nan sepi. Lelah menggelayuti tubuh ini. Terlebih usai operasi yang cukup menguras tenaga dan pikiranku. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang seolah membawaku ke dimensi waktu dua puluh lima tahun yang lalu di mana aku menghabiskan hari-hariku di sebuah rumah kecil nan sederhana di pinggiran kota bernama “Kasih Ibu”.
Hari-hari menjadi sangat berat untuk dilalui. Anak laki-laki dalam usia sekecil itu harus memikul beban berat. Ia menjadi pemurung dan selalu menghabiskan waktu pada sore hari untuk menyaksikan matahari terbenam di sebuah bangku kecil di depan bangunan sederhana itu, berharap wanita yang membawanya ke sini tempo hari akan datang dan menjemputnya pulang. Namun, kenyataannya tak pernah sekali pun ia kembali seperti apa yang dijanjikannya tatkala pergi. Ribuan perasaan pun berkecamuk di relung hati. Perasaan yang semula menyayangi, perlahan tapi pasti berubah jadi membenci, benci oleh sebuah janji yang terucapkan namun tak jua terwujudkan.
Waktu terus berjalan. Tak terasa, sudah hampir setahun anak laki-laki itu menjadi penghuni di sini. Ia masihlah sama. Cahaya di wajahnya begitu redup. Ia hanya suka bercengkrama dengan senja. Hingga suatu ketika, datanglah sepasang suami-istri yang baik hati. Mereka membawa anak laki-laki itu pergi. Dari sanalah seberkas cahaya di wajah itu mulai berpendar. Sebab, sepasang suami-istri itu nyata-nyata rela memberikan segala yang terbaik baginya. Dimulai dari situlah, kehidupan anak laki-laki kecil itu berubah seutuhnya.
Tik... Tok...Tik...Tok....
Sebuah pesan masuk yang tertera di layar ponsel membuyarkan ingatanku. Kulirik arloji yang melingkar di tanganku. Pukul 17.30. Rupanya sudah cukup lama aku berdiam diri di sofa ini. Aku pun bergegas meninggalkan rumah sakit. Kupacu mobilku membelah jalanan kota nan padat merayap. Matahari telah pulang ke peraduan. Burung-burung terbang kembali ke sarang. Lampu-lampu jalanan mulai menghias kota, menciptakan panorama nan indah memanjakan mata.

***
    
“Pagi, Bu! Bagaimana, sudah enakan?” tanyaku ramah. Ia mengangguk dan tersenyum padaku.
“Dokter Raga?” Ia tampak sedikit terkejut melihat nama yang tertera pada jas putih yang kukenakan.
“Ya?” tanyaku tak mengerti.
“Ah, tidak. Aku hanya teringat sesuatu setelah melihat nama itu.”
“Pasti dia adalah orang yang istimewa.” Aku menimpali sembari memeriksa keadaannya. Ia hanya tersenyum. Sudah lima hari ia dirawat si sini. Jika tak ada kendala, lusa ia sudah boleh pulang. “Di mana dia? Dari pertama Ibu datang, saya tidak menjumpai siapa-siapa.” Kulihat mendung seketika menyelimuti wajahnya. Aku mengerti dan tak berani bertanya lebih jauh lagi, takut melukai perasaannya. “Oh, iya, ini saatnya minum obat. Diminum teratur ya, supaya Ibu lekas pulih seperti sedia kala. Biar nanti suster membawakannya ke sini. Saya harus memeriksa pasien yang lain dulu. Saya tinggal dulu ya, Bu!” pamitku diikuti anggukan darinya.
“Dokter......” ucapnya sesaat setelah aku mulai melangkahkan kaki. “Jika saja dia masih ada, pasti dia sudah seusia Dokter. Begitulah kiranya. Kebetulan namanya juga sama, Raga.”
“Oh, ya?” Aku mengernyitkan dahi, memikirkan sesuatu. Tak lama, seorang suster datang. Aku pun berlalu dari ruang rawat-inap itu.

***

Aku kembali menjumpai pasien-pasienku, tak terkecuali wanita paruh baya itu. Hari ini ia sudah diperbolehkan pulang. Kulihat guratan wajahnya begitu kusut. Ada apa gerangan? Sejauh mataku memandang, tak tampak satu pun keluarga yang datang menjemputnya pulang.
“Ibu baik-baik saja kan?” Ia hanya mengangguk. “Siapa yang menjemput Ibu pulang?” tanyaku sekali lagi.
“Aku tinggal sendirian. Jadi, tak ada seorang pun yang akan datang.”
“Keluarga Ibu? Putra mungkin.”
“Mungkin dia ada di sini.” Ia hanya memandangiku.
“Ke mana Ibu akan pulang?”
“Aku tak tahu,” jawabnya.
Aku terdiam, tak mampu memahami. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan. Namun, justru tercekat di tenggorokan. Entah, seketika hati ini bergejolak, seakan turut merasakan apa yang dia rasakan. 
“Ibu tunggu di sini hingga selesai saya bertugas sore nanti!” Aku pun bergegas melanjutkan tugasku dan meninggalkannya seorang diri.
Sore ini, aku melajukan mobilku di sebuah tempat cukup jauh dari pusat kota. Aku menyusuri kembali jejak-jejak masa lalu. Kulangkahkan kaki menuju gerbang sebuah bangunan di mana bertahun-tahun yang lalu aku menghabiskan hidupku di tempat itu. Bangunan ini sudah banyak direnovasi sana dan sini. Mataku berkelana ke sana ke mari dan menangkap sebuah sudut di mana dulu aku sering berkeluh kesah tatkala senja tiba. Tak jauh dari sudut itu tampak sekumpulan anak tengah bermain dengan riang. Seakan tak peduli latar belakang kehidupan semula, mereka membaur dalam satu nuansa, beratapkan langit yang perlahan bersinar keemasan di ufuk barat.
“Masih mau berdiri saja di sini?” Sebuah suara yang tak asing membuyarkanku. Bunda Erika. Sudah lama tak kujumpainya. Ia masih saja mengenaliku sekalipun masa demi masa telah menumbuhkan banyak uban di kepalanya. Aku mencium tangannya, kemudian ia membawaku ke beranda bangunan itu.
“Bagaimana kabar Bunda?”
“Kau lihat sendiri kan, bagaimana Bundamu ini masih sama kuatnya dengan yang dulu?” Aku terkekeh. “Mama Papamu sehat kan?” Aku mengangguk. “Pasti Pak Dokter satu ini sangatlah sibuk sehingga lama tak bersua.”
“Untuk satu hal itu, sungguh maafkan aku, Bunda. Percayalah, sesibuk apapun, aku tak akan pernah melupakan Bunda!” Bunda Erika tersenyum.
Kami bertukar cerita dan bercengkrama selayaknya ibu dan anak yang tengah melepas rindu. Jauh daripada itu, sejujurnya aku harus berperang hebat melawan hatiku yang terus saja meronta-ronta tiap kali muncul sosok wanita itu. Jantungku berdebar kuat. Kuingin melupakan. Namun tetap saja ia muncul dalam pikiranku dan terus menghantui sepanjang hidupku. Hidup ini sungguh lucu. Aku terombang-ambing di sebuah pusaran kuat masa lalu yang tak mudah untukku keluar dan melepaskan. Ibu. Seorang wanita telah melahirkanku ke dunia. Namun, tak pernah sekalipun aku bisa memeluknya, berkeluh kesah padanya. Di satu sisi ada Mama, sosok wanita yang selalu menyayangiku dengan segenap kasihnya. Menghujaniku dengan cinta nan tiada tara, meski aku tak pernah terlahir dari rahimnya. Ia memberiku segalanya. Bagaimana bisa takdir mempermainkanku dengan begitu hebat? Ah, sudahlah, aku tak ingin semakin berdebat dengan hati dan pikiranku sendiri.
“Oh, ya, hari ini aku datang dengan seorang teman.”
“Teman?” tanya Bunda Erika keheranan.
“Ayo, Bun, dia ada di depan!” ajakku pada Bunda Erika. Lalu aku bangkit dan berjalan ke arah mobil yang sedari tadi terparkir di depan. Kubuka kaca jendela. Bersamaan dengan itu tampaklah seorang wanita paruh baya berusia lima puluh tahunan. Aku ingin memperkenalkannya kepada Bunda Erika. Namun, apa yang terjadi, keduanya justru bersitatap dengan tegang.
“Tidak..... ini tidak mungkin terjadi,” kata wanita itu.
“Ibu...........” Bunda Erika pun tak dapat melanjutkan kata-katanya. Aku heran. Apa yang terjadi dengan mereka?
“Bunda kenal dengan Ibu ini?” tanyaku penasaran.
“Jadi kamu sudah bertemu dengan ibumu, Nak?”
“Ibuku? Maksud Bunda apa?” Aku tak mengerti. Kulihat wanita yang datang bersamaku itu juga tampak kaget.
“Raga, anak laki-laki berusia tiga tahun saat pertama dibawa ke tempat ini, inilah anak laki-laki itu,” terang Bunda Erika.
“Raga? Diakah anak laki-laki itu? Dokter yang merawatku selama ini adalah putraku sendiri? Ya Tuhan, kau sudah sebesar dan segagah ini, Nak!” Ia hendak meraih tubuhku. Aku menepisnya. Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa seorang pasien yang kurawat dengan tanganku sendiri ternyata adalah ibuku? Seorang wanita yang selama ini selalu aku nanti dalam hidupku tapi juga seorang wanita yang telah tega menghempaskanku. Aku berencana memberi kejutan untuk Bunda Erika. Tapi mengapa justru diriku sendirilah yang terkejut? Aku terdiam, tak mampu mencerna sebuah peristiwa besar yang sedang terjadi saat apa yang kurasa kemudian membuatku nyaris terkapar tak berdaya. Panah sembilu menghujan jantungku. Aku tak kuasa menopang raga di atas kakiku. Jantungku berguncang hebat hingga getarannya pun mampu menghunus langit. Awan pun bergolak dan tangisnya pecah berhamburan ke bumi. Bumi menengadah setiap kenangan pahit yang terurai kembali. Hati yang utuh itu hancur perlahan menjadi butiran debu ketika panah itu menancap di kalbu

***

“Saat tak punya segala sesuatu untuk bersandar, kita masih punya sajadah untuk bersujud.” Sebuah suara sayup-sayup terdengar di ujung telingaku. Kubuka perlahan kedua mata ini. Suara azan mulai terdengar, diiringi kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan. Hari telah pagi.
Semua yang kulewati telah membawaku sampai ke sini, sebuah pesantren kecil ratusan kilometer dari kotaku. Entah apa yang menyebabkan aku lari sejauh ini. Lari? Ya, mungkin begitulah. Lebih tepatnya, aku ingin menenangkan diriku dari hingar bingar kehidupan yang merantai erat diriku.
“Nak, serahkan segala kau rasakan pada dia yang memberimu hidup dan kehidupan!” seru seorang ustaz padaku. Aku diam, tak bergeming. Ia menyerahkan sebuah sajadah kepadaku.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Ambillah air wudu, lalu tenangkan hati dalam sujudmu!”
Dadaku bergetar di atas sajadah. Pada bait-bait doa yang kurapalkan, ada luka yang terus mengoyak perih. Aku tak ingin seseorang pun tahu. Aku takut, mereka akan terbunuh bila melihatku. Bagiku, kepedihan dan luka bukan dihadirkan untuk membuat kekacauan, tetapi untuk merasakan ketenteraman dan kebahagiaan. Walau kutahu, bukan usaha yang mudah untuk melewati dan menakhlukkan luka itu sendiri.
Aku ingin menyembunyikan segala perihku agar orang-orang tak perlu mengucapkan kata-kata yang tak mereka pahami. Meskipun aku sudah melakukan upaya-upaya kebaikan di jalan peribadatan, belum tentu yang aku temui adalah orang-orang yang baik yang mengimani nilai yang sama denganku. Aku kembali terdiam.
Hari-hari kulalui di sini, mendekatkan diri pada sang Ilahi. Benar saja, perlahan luka itu berangsur-angsur luruh. Kutemukan kesejukan hati tiap kali kurapalkan ayat-ayat suci. Ada kedamaian yang menyemai di sanubari. Seorang ustaz kembali menghampiriku pagi ini.
“Bagaimana keadaanmu, Nak?”
“Alhamdulillah, sudah lebih baik, Ustaz. Terima kasih ya, sudah membimbing saya selama ini.”
“Berterima kasihlah pada yang Kuasa. Sebab tanpa pertolongan-Nya kau tak akan pernah sampai di detik ini!” Aku tersenyum dan mengangguk.
Pagi ini, aku sudah memutuskan untuk kembali. Aku menyadari bahwa setiap takdir yang terjadi harus kita lalui. Dan segala permasalahan yang terjadi memberikan pendewasaan yang hakiki. Aku berpamitan kepada seluruh penghuni pesantren di sini yang telah menerimaku selama beberapa hari terakhir ini. Saatnya aku pergi dan kembali.

***

Sebuah kereta melaju cepat. Aku duduk di pinggir jendela sembari memandang ke luar. Sawah ladang menghijau, bukit-bukit menjulang tinggi, sungai-sungai membentang dan menghampar sejauh mata memandang. Sungguh kuasa Tuhan yang tak terelakkan. Aku semakin merasa kecil dan tak berdaya di hadap-Nya. Sebuah perjalanan yang tak akan pernah kulupakan.
Kereta terus melaju hingga tibalah ia di sebuah stasiun. Aku turun dan mencari sebuah taksi. Taksi pun melaju, membelah jalannya kota nan padat. Pemandangan yang lumrah terjadi di kota besar seperti ini. Taksi pun berhenti di sebuah rumah. Tampak di situ mama berlari-larian menyambutku datang. Ia tampak cemas setelah tak mendapati kabar putra kesayangannya berhari-hari. Aku menjelaskan apa yang terjadi dan mama pun mengerti. Lalu ia mengajakku ke sebuah tempat. Rumah sakit.
“Aku sedang tidak bertugas, Ma!”
“Menemui seseorang,” katanya.
Aku terpaku, duduk terdiam meratapi sosok yang tak berdaya kaku. Kulihat sorot wajah nan pucat dengan guratan wajah yang tak bergeming. Sesaat, kesentuh jemari tangannya yang dingin, kukecup wajahnya yang putih pucat. Lidahku terasa kelu meski ada seuntai rasa yang ingin aku ungkapkan padanya.
“Beberapa waktu yang lalu, saat kau pergi, ia berusaha mencarimu. Kami berusaha mencari ke mana-mana dengan cara yang berbeda. Namun naas, pada siang itu, sebuah kendaraan menghantamnya. Ia pun dilarikan ke rumah sakit ini,” terang Mama.
 Aku berdiri, menjauh, dan terus melangkahkan kaki. Kupejamkan mata untuk meraih ketegaran, mencapai kesabaran hati, dan menerimanya tanpa sepatah kata. Aku kembali. Ingin rasanya kumemeluk tubuhnya, berharap dia kembali, tapi dia diam saja dan membiarkan dirinya pergi.
 “Kembalilah, ajari aku untuk menjadi sosok yang kuat, yang tangguh bak karang yang terus dihajar ombak di lautan nan curam yang akan menghiasi hidupmu untuk selamanya,” kataku dengan deraian air mata. Mama menenangkanku. Lalu kupeluk Mama dan menumpahkan segala rasa.
Kubuka sebuah surat kecil yang ditulis olehnya. Sebuah tulisan yang dititipkannya pada mama beberapa waktu yang lalu.
Hargai orang lain seperti mereka menghargaimu. Berusahalah yang terbaik dan jangan pernah menyerah. Buatlah orang lain bangga padamu. Jangan kau menyakiti orang lain karena pasti suatu saat nanti engkau akan tersakiti. Jangan berusaha untuk menjadi yang terbaik, tetapi berusahalah semampumu untuk melakukan yang terbaik.
Maafkanlah aku. Mungkin aku memang tak pantas memelukmu, apalagi kau sebut sebagai ibumu. Tapi aku sangat menyayangimu, sampai kapan pun tetap menyayangimu. Sayangi Mamamu, seseorang yang telah membesarkanmu dengan ketulusan.
Demikian pesan terakhir darinya yang pernah aku ingat. Kerongkonganku tercekat. Aku tak sanggup lagi mengungkapkan segala yang kurasakan. Inilah aku, menjadi remuk tak berdaya, dan sosok yang terus memeluk luka dambaan hati yang lara.

<> selesai <>