Aku ingin hidup seperti
remaja-remaja lain seusiaku, bermain dengan teman-teman, menikmati hal-hal
indah semasa remaja, tapi apalah dayaku. Aku hanya tinggal bersama adikku,
Adinda. Waktu itu, saat usiaku sepuluh tahun, ayah telah meninggalkanku untuk
selamanya. Dia adalah buruh pabrik tahu di Semarang. Biasanya, setiap lebaran
tiba, ayah akan pulang membawa beraneka jajanan untukku dan Adinda. Namun, pagi
itu, sebuah minibus menabrak ayah yang tengah menyeberang jalan. Ayah pun
tertidur dan tidak bangun-bangun lagi.
Sepeninggal ayah, ibuku
adalah tulang punggung keluarga. Setiap hari, ia berkeliling menjajakan jasanya
sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah. Hampir setiap hari itu pula aku
menyaksikannya mengonsumsi aneka jamu. Entah sakit apa ibuku kala itu. Katanya harga
obat sangat mahal. Setahun kemudian, ibu pun menyusul ayah pergi untuk
selamanya.
Di usiaku yang ke
sebelas, aku telah menjadi yatim piatu sekaligus orang tua untuk adik semata
wayangku. Untuk menyambung hidup, aku menjajakan camilan yang kuambil dari
tetangga dengan sistem upah harian. Jika seluruh camilan yang kubawa habis, aku
akan mendapat upah dua puluh ribu rupiah. Namun jika tidak, aku hanya akan
mendapat upah lima ribu rupiah. Berjualan di terminal seperti ini terkadang
harus kucing-kucingan dengan para preman. Tak jarang mereka memalak hasil para
pedagang kecil sepertiku ini yang mengumpulkan uang dengan susah payah.
Pagi ini, sama seperti
pagi-pagi biasanya. Aku bersiap menjajakan dagangan. Kulihat Adinda masih
terlelap. Gadis kecil berusia lima tahun itu mendekap guling kesayangannya yang
sudah usang. Bulir air mataku jatuh, tak dapat menahan kesedihan yang begitu
membuncah. Demi Adinda, segala pedih perih rela kutahan. Kulihat jarum jam sudah
menunjukkan pukul 06.00. Segera aku bergegas menuju Terminal Giwangan sebelum
kesiangan. Kukecup kening Adinda. Ada rasa pilu setiap kali harus
meninggalkannya sendirian. Dengan ditemani dua kucing kesayangan kami, Kitty
dan Helly, Adinda akan bermain seharian hingga aku pulang.
Di sepanjang
perjalanan, aku menyaksikan remaja seusiaku berkumpul bersama ayah dan ibunya. Mereka
juga menyiapkan hidangan khas seperti ketupat opor ayam, sambal goreng hati ampela,
maupun rendang untuk menyambut lebaran yang akan datang esok hari. Aroma yang
hanya bisa kucium, tanpa pernah bisa aku rasakan. Sampai di pasar batas kota,
aku kembali menyaksikan orang-orang berjubel membeli keperluan lebaran. Ada lapak
pedagang kelontongan ketupat yang tampak ramai diserbu pembeli. Tak jauh dari
situ, lapak pedagang pakaian pun tak kalah ramai. Para pembeli beramai-ramai
memilih baju lebaran terbaik yang akan mereka kenakan. Pemandangan yang sangat
kontras denganku, baju lusuh, alas kaki yang hampir jebol, dan begitu kumal.
Pukul 07.00 aku sudah
sampai di Terminal Giwangan, menggelar lapak, dan bersiap menjajakan dagangan
pada para pemudik yang masih berdatangan dari luar-luar kota untuk menemui
sanak-keluarga.
“Camilan... camilan... mari
Bapak, Ibu, Mbak-mbak, Mas-mas, silakan dilarisi. Murah meriah saja, mari
dipilih-dipilih.”
Terik matahari mulai
memanggang tubuhku yang kurus, memantulkan kerasnya kehidupan terminal pada licin
dan lengketnya keringat yang bercucuran di balik baju lusuh ini. Lembaran demi
lembaran terus kukumpulkan. Wajah Adinda yang terus membayang menjadi pelecut
semangat untukku terus mengais rezeki di siang yang terik ini, tak peduli
seberapa kering dan dahaga kerongkongan, maupun cacing-cacing yang terus
melilit dan menggerus di dalam perut, aku tetap berjuang.
Matahari telah condong
ke ufuk barat. Aku segera merapikan dagangan dan bersiap pulang. Tiba-tiba, ada
beberapa sosok tinggi besar yang mendekati lapakku. Kutahu, tidak akan lama
lagi mereka akan segera merampas uangku. Dua di antara mereka datang sambil
menenteng botol minuman.
“Kemarikan uangmu!” Aku
menggeleng sembari memeluk uangku erat.
“Tidak! Ini uang untuk
makan adikku!” Aku menolak dan terus memberontak. Maka botol minuman itu
melayang di pelipis mataku. Darah segar mengalir dengan segera, semakin deras
dan mengenai pakaianku. Tubuhku menggigil dan keringat dingin terus bercucuran.
Tak akan kubiarkan mereka mengambil uang yang kukumpulkan. Segera aku lari di
antara tenaga yang tersisa dan berteriak sejadi-jadinya. Senyum polos adikku
terus menari-nari di pelupuk mataku. Sepanjang kuberlari, aku terus menangis dan
tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Tiba-tiba pandangan mataku gelap. Aku jatuh
tersungkur.
Aku membuka mata dan melihat
ke sampingku, Adinda terus menangis. Aku bangun dan memeluknya erat. Kukatakan bahwa
aku tidak apa-apa. Ia berhenti menangis. Tepat saat itu juga azan berkumandang.
Adinda membawakan segelas air putih untukku. Kami pun berbuka puasa di hari ke
tiga puluh ini dengan segelas air putih dan makanan pemberian tetangga yang
tadi turut serta menggendongku ketika pingsan. “Alhamdulillah, uang titipan Tuhan hari ini masih bisa kuselamatkan.”
“Alhamdulillah, hari
ini Kakak dapat uang banyak. Yeay,” kata Adinda sembari mengibas-ngibaskan
selembar uang dua puluh ribuan.
“Iya, maaf Kakak tadi
belum sempat beli beras. Tapi Kakak berjanji, esok kita akan membeli beras
hingga dapat makan sepuasnya,” lanjutku, disambut gelak manja Adinda.
“Kak, aku ingin makan
daging hitam seperti orang-orang itu,” Adinda melanjutkan.
“Iya sayang, nanti
kalau Kakak ada uang kita akan makan daging hitam itu ya,” kataku sembari
mengelus lembut rambut Adinda.
“Asyik!” seru Adinda
dengan polosnya.
Daging hitam, begitu
sebutan Adinda untuk makanan yang biasa disebut orang-orang sebagai rendang. Makanan
dari daging sapi yang dimasak dengan aneka rempah-rempah pilihan. Konon, kata
ibu, rendang adalah makanan terlezat sedunia. Namun, belum pernah sekali pun
aku merasakannya. Bagiku, rendang adalah lambang kemakmuran bagi orang-orang
kaya, terlalu mahal untuk bisa dinikmati rakyat jelata.
Aku mencoba mengajak
Adinda jalan-jalan agar ia bisa melupakan sejenak keinginannya untuk makan
rendang. Suara takbir menggema bersahut-sahutan. Kami melihat kebahagiaan
orang-orang akan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Mereka berpesta, makan makanan
lezat, menyalakan kembang api, dan tampak sangat bahagia. Sementara di gubuk
kami, hanya ada dua insan yang terus terongrong kemelaratan. Terkadang aku
bertanya kepada Tuhan, di manakah letak keadilan?
1 Syawal,
bertahun-tahun sudah kami merayakan hari raya di gubuk reot peninggalan ayah
dan ibu. Dan setiap kali malam lebaran tiba di setiap tahunnya, hanya akan
tampak kesedihan di mataku, juga Adinda. Aku hanya memeluk Adinda sambil
menangis, sedangkan Adinda hanya bisa menatap kebahagiaan orang-orang di luar
dengan penuh harap. Kadang tatapan itu kosong. Kurasakan tubuhnya semakin
kurus. Wajahnya semakin hari semakin pucat pasi.
“Kak, aku ingin ke
makam ayah dan ibu,” pinta Adinda padaku. Aku mengangguk mengiyakan. Lalu kami
melangkahkan kaki sampai di pemakaman. Kulihat Adinda hanya diam sampai
akhirnya dia jatuh tersungkur di atas tanah pekuburan. Aku histeris. Kuguncang-guncangkan
tubuhnya tapi Adinda tak bergeming. Ia terus diam. Kubopong tubuh kurus kering itu
sampai ke sebuah gubuk kecil milik kami, aku ambruk.
Ketika bangun, yang
kulihat pertama kali adalah Budhe Sri. Dia tetangga di samping rumah kami. Sepeninggal
ayah dan ibu, Budhe Sri sudah seperti ibu bagiku. Tak jarang, Budhe Sri
mengantarkan makanan untukku dan Adinda.
“Luna kenapa pingsan
tadi,” tanya Budhe Sri cemas.
“A... Adinda mana,
Budhe,” ucapku terbata sembari menyisir sudut demi sudut gubuk dan akhirnya
menemukan Adinda terbaring lemah di sudut gubuk. Ia masih memejamkan mata.
Budhe Sri memberi
isyarat kepada putra sulungnya untuk menjemput mobil dan mengantar kami ke
rumah sakit. Sampai di rumah sakit, aku dan Adinda dibawa ke ruang perawatan
dan segera diinfus. Dua hari dirawat, Adinda masih terbaring lemah tak berdaya.
Namun, ia sudah bisa berkomunikasi meski masih terbata-bata.
“Kak...” Pelan sekali
Adinda memanggilku.
“Maafkan Kakak ya, Dik,”
kataku sambil mengusap pelan kepala Adinda.
“Kak, aku sakit, tak
tahan lagi. Seluruh tubuhku lemah. Tadi pas aku tidur, aku lihat ayah dan ibu
di pintu surga. Mereka mengulurkan tangannya. Saat aku hendak meraihnya, tiba-tiba
Kakak memangil-manggilku.”
Aku langsung menangis
sejadi-jadinya. Memeluk Adinda dengan sangat erat. Aku tak ingin dia pergi
karena ketidakberdayaanku mendapatkan uang. Jangan tinggalkan aku, Adinda. Ia terus
saja bercerita tentang mimpinya. Antara menahan sakit dan bahagia bisa berjumpa
dengan ayah dan ibu, katanya ia ingin ikut mereka. Aku terus saja menggelengkan
kepalaku.
“Kak,” panggilnya dengan
wajah sangat tenang. Dia menunjuk ke atas, katanya ayah dan ibu telah menunggu.
Lalu ia tertidur pulas sekali dengan sebuah senyum yang mengembang di wajahnya.
“Tidak!” teriakku. Semuanya
hening.
Aku kembali ke gubukku,
seorang diri. Tiada lagi yang menyambutku di bibir pintu tatkala sore hari
dengan rengekan manjanya. Sosok itu kini telah pergi menyusul ayah dan ibu ke
surga.
Malam itu kukemasi
barang-barang Adinda di dalam lemari. Di sana ada banyak sekali kertas
berisikan cerpen dan puisi. Jadi ini yang Adinda lakukan selama aku berjualan. Air
mataku pun jatuh. Aku rindu padanya.
Budhe Sri tiba-tiba
datang mengantar makanan. Ia melihat kertas-kertas itu. Dibacanya satu per satu
kertas itu dan ia pun tersenyum.
“Budhe akan membeli
kertas-kertas ini, Luna. Bagaimana, kamu setuju,” tanyanya padaku. Aku
mengernyitkan dahi tak mengerti. Untuk apa Budhe Sri membeli kertas-kertas itu.
“Budhe akan memasukkan tulisan Adinda ke redaksi koran,” katanya kemudian.
Kertas-kertas itu
dibawa oleh Budhe Sri. Seminggu kemudian, aku melihat koran di pinggiran
Terminal Giwangan. Ada kolom cerpen di sana dengan judul “Hari Raya untuk
Kakakku”. Aku baca cerpen itu. Aku pun menangis. Itu adalah kisah hidupku,
kisahku bersama Adinda. Cerpen yang jumlahnya ratusan lembar itu pun
diterbitkan secara maraton oleh sebuah koran tempat suami Budhe Sri bekerja. Dari
hasil penerbitan itu, aku memperoleh honor. Aku merasakan kehadiran Adinda
setiap kali membaca karya-karyanya. Aku tahu, dia selalu ada di sisiku. Memelukku
dan akan selalu menungguku merayakan lebaran bersama ayah dan ibu di surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar