Selasa, 26 Mei 2020

Cerpen "Lebaran untuk Luna"

(dengan sedikit gubahan)


Aku ingin hidup seperti remaja-remaja lain seusiaku, bermain dengan teman-teman, menikmati hal-hal indah semasa remaja, tapi apalah dayaku. Aku hanya tinggal bersama adikku, Adinda. Waktu itu, saat usiaku sepuluh tahun, ayah telah meninggalkanku untuk selamanya. Dia adalah buruh pabrik tahu di Semarang. Biasanya, setiap lebaran tiba, ayah akan pulang membawa beraneka jajanan untukku dan Adinda. Namun, pagi itu, sebuah minibus menabrak ayah yang tengah menyeberang jalan. Ayah pun tertidur dan tidak bangun-bangun lagi.
Sepeninggal ayah, ibuku adalah tulang punggung keluarga. Setiap hari, ia berkeliling menjajakan jasanya sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah. Hampir setiap hari itu pula aku menyaksikannya mengonsumsi aneka jamu. Entah sakit apa ibuku kala itu. Katanya harga obat sangat mahal. Setahun kemudian, ibu pun menyusul ayah pergi untuk selamanya.
Di usiaku yang ke sebelas, aku telah menjadi yatim piatu sekaligus orang tua untuk adik semata wayangku. Untuk menyambung hidup, aku menjajakan camilan yang kuambil dari tetangga dengan sistem upah harian. Jika seluruh camilan yang kubawa habis, aku akan mendapat upah dua puluh ribu rupiah. Namun jika tidak, aku hanya akan mendapat upah lima ribu rupiah. Berjualan di terminal seperti ini terkadang harus kucing-kucingan dengan para preman. Tak jarang mereka memalak hasil para pedagang kecil sepertiku ini yang mengumpulkan uang dengan susah payah.
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi biasanya. Aku bersiap menjajakan dagangan. Kulihat Adinda masih terlelap. Gadis kecil berusia lima tahun itu mendekap guling kesayangannya yang sudah usang. Bulir air mataku jatuh, tak dapat menahan kesedihan yang begitu membuncah. Demi Adinda, segala pedih perih rela kutahan. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Segera aku bergegas menuju Terminal Giwangan sebelum kesiangan. Kukecup kening Adinda. Ada rasa pilu setiap kali harus meninggalkannya sendirian. Dengan ditemani dua kucing kesayangan kami, Kitty dan Helly, Adinda akan bermain seharian hingga aku pulang.
Di sepanjang perjalanan, aku menyaksikan remaja seusiaku berkumpul bersama ayah dan ibunya. Mereka juga menyiapkan hidangan khas seperti ketupat opor ayam, sambal goreng hati ampela, maupun rendang untuk menyambut lebaran yang akan datang esok hari. Aroma yang hanya bisa kucium, tanpa pernah bisa aku rasakan. Sampai di pasar batas kota, aku kembali menyaksikan orang-orang berjubel membeli keperluan lebaran. Ada lapak pedagang kelontongan ketupat yang tampak ramai diserbu pembeli. Tak jauh dari situ, lapak pedagang pakaian pun tak kalah ramai. Para pembeli beramai-ramai memilih baju lebaran terbaik yang akan mereka kenakan. Pemandangan yang sangat kontras denganku, baju lusuh, alas kaki yang hampir jebol, dan begitu kumal.
Pukul 07.00 aku sudah sampai di Terminal Giwangan, menggelar lapak, dan bersiap menjajakan dagangan pada para pemudik yang masih berdatangan dari luar-luar kota untuk menemui sanak-keluarga.
“Camilan... camilan... mari Bapak, Ibu, Mbak-mbak, Mas-mas, silakan dilarisi. Murah meriah saja, mari dipilih-dipilih.”
Terik matahari mulai memanggang tubuhku yang kurus, memantulkan kerasnya kehidupan terminal pada licin dan lengketnya keringat yang bercucuran di balik baju lusuh ini. Lembaran demi lembaran terus kukumpulkan. Wajah Adinda yang terus membayang menjadi pelecut semangat untukku terus mengais rezeki di siang yang terik ini, tak peduli seberapa kering dan dahaga kerongkongan, maupun cacing-cacing yang terus melilit dan menggerus di dalam perut, aku tetap berjuang.
Matahari telah condong ke ufuk barat. Aku segera merapikan dagangan dan bersiap pulang. Tiba-tiba, ada beberapa sosok tinggi besar yang mendekati lapakku. Kutahu, tidak akan lama lagi mereka akan segera merampas uangku. Dua di antara mereka datang sambil menenteng botol minuman.
“Kemarikan uangmu!” Aku menggeleng sembari memeluk uangku erat.
“Tidak! Ini uang untuk makan adikku!” Aku menolak dan terus memberontak. Maka botol minuman itu melayang di pelipis mataku. Darah segar mengalir dengan segera, semakin deras dan mengenai pakaianku. Tubuhku menggigil dan keringat dingin terus bercucuran. Tak akan kubiarkan mereka mengambil uang yang kukumpulkan. Segera aku lari di antara tenaga yang tersisa dan berteriak sejadi-jadinya. Senyum polos adikku terus menari-nari di pelupuk mataku. Sepanjang kuberlari, aku terus menangis dan tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Tiba-tiba pandangan mataku gelap. Aku jatuh tersungkur.
Aku membuka mata dan melihat ke sampingku, Adinda terus menangis. Aku bangun dan memeluknya erat. Kukatakan bahwa aku tidak apa-apa. Ia berhenti menangis. Tepat saat itu juga azan berkumandang. Adinda membawakan segelas air putih untukku. Kami pun berbuka puasa di hari ke tiga puluh ini dengan segelas air putih dan makanan pemberian tetangga yang tadi turut serta menggendongku ketika pingsan. “Alhamdulillah, uang titipan Tuhan hari ini masih bisa kuselamatkan.”
“Alhamdulillah, hari ini Kakak dapat uang banyak. Yeay,” kata Adinda sembari mengibas-ngibaskan selembar uang dua puluh ribuan.
“Iya, maaf Kakak tadi belum sempat beli beras. Tapi Kakak berjanji, esok kita akan membeli beras hingga dapat makan sepuasnya,” lanjutku, disambut gelak manja Adinda.
“Kak, aku ingin makan daging hitam seperti orang-orang itu,” Adinda melanjutkan.
“Iya sayang, nanti kalau Kakak ada uang kita akan makan daging hitam itu ya,” kataku sembari mengelus lembut rambut Adinda.
“Asyik!” seru Adinda dengan polosnya.
Daging hitam, begitu sebutan Adinda untuk makanan yang biasa disebut orang-orang sebagai rendang. Makanan dari daging sapi yang dimasak dengan aneka rempah-rempah pilihan. Konon, kata ibu, rendang adalah makanan terlezat sedunia. Namun, belum pernah sekali pun aku merasakannya. Bagiku, rendang adalah lambang kemakmuran bagi orang-orang kaya, terlalu mahal untuk bisa dinikmati rakyat jelata.
Aku mencoba mengajak Adinda jalan-jalan agar ia bisa melupakan sejenak keinginannya untuk makan rendang. Suara takbir menggema bersahut-sahutan. Kami melihat kebahagiaan orang-orang akan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Mereka berpesta, makan makanan lezat, menyalakan kembang api, dan tampak sangat bahagia. Sementara di gubuk kami, hanya ada dua insan yang terus terongrong kemelaratan. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan, di manakah letak keadilan?
1 Syawal, bertahun-tahun sudah kami merayakan hari raya di gubuk reot peninggalan ayah dan ibu. Dan setiap kali malam lebaran tiba di setiap tahunnya, hanya akan tampak kesedihan di mataku, juga Adinda. Aku hanya memeluk Adinda sambil menangis, sedangkan Adinda hanya bisa menatap kebahagiaan orang-orang di luar dengan penuh harap. Kadang tatapan itu kosong. Kurasakan tubuhnya semakin kurus. Wajahnya semakin hari semakin pucat pasi.
“Kak, aku ingin ke makam ayah dan ibu,” pinta Adinda padaku. Aku mengangguk mengiyakan. Lalu kami melangkahkan kaki sampai di pemakaman. Kulihat Adinda hanya diam sampai akhirnya dia jatuh tersungkur di atas tanah pekuburan. Aku histeris. Kuguncang-guncangkan tubuhnya tapi Adinda tak bergeming. Ia terus diam. Kubopong tubuh kurus kering itu sampai ke sebuah gubuk kecil milik kami, aku ambruk.
Ketika bangun, yang kulihat pertama kali adalah Budhe Sri. Dia tetangga di samping rumah kami. Sepeninggal ayah dan ibu, Budhe Sri sudah seperti ibu bagiku. Tak jarang, Budhe Sri mengantarkan makanan untukku dan Adinda.
“Luna kenapa pingsan tadi,” tanya Budhe Sri cemas.
“A... Adinda mana, Budhe,” ucapku terbata sembari menyisir sudut demi sudut gubuk dan akhirnya menemukan Adinda terbaring lemah di sudut gubuk. Ia masih memejamkan mata.
Budhe Sri memberi isyarat kepada putra sulungnya untuk menjemput mobil dan mengantar kami ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, aku dan Adinda dibawa ke ruang perawatan dan segera diinfus. Dua hari dirawat, Adinda masih terbaring lemah tak berdaya. Namun, ia sudah bisa berkomunikasi meski masih terbata-bata.
“Kak...” Pelan sekali Adinda memanggilku.
“Maafkan Kakak ya, Dik,” kataku sambil mengusap pelan kepala Adinda.
“Kak, aku sakit, tak tahan lagi. Seluruh tubuhku lemah. Tadi pas aku tidur, aku lihat ayah dan ibu di pintu surga. Mereka mengulurkan tangannya. Saat aku hendak meraihnya, tiba-tiba Kakak memangil-manggilku.”
Aku langsung menangis sejadi-jadinya. Memeluk Adinda dengan sangat erat. Aku tak ingin dia pergi karena ketidakberdayaanku mendapatkan uang. Jangan tinggalkan aku, Adinda. Ia terus saja bercerita tentang mimpinya. Antara menahan sakit dan bahagia bisa berjumpa dengan ayah dan ibu, katanya ia ingin ikut mereka. Aku terus saja menggelengkan kepalaku.
“Kak,” panggilnya dengan wajah sangat tenang. Dia menunjuk ke atas, katanya ayah dan ibu telah menunggu. Lalu ia tertidur pulas sekali dengan sebuah senyum yang mengembang di wajahnya.
“Tidak!” teriakku. Semuanya hening.
Aku kembali ke gubukku, seorang diri. Tiada lagi yang menyambutku di bibir pintu tatkala sore hari dengan rengekan manjanya. Sosok itu kini telah pergi menyusul ayah dan ibu ke surga.
Malam itu kukemasi barang-barang Adinda di dalam lemari. Di sana ada banyak sekali kertas berisikan cerpen dan puisi. Jadi ini yang Adinda lakukan selama aku berjualan. Air mataku pun jatuh. Aku rindu padanya.
Budhe Sri tiba-tiba datang mengantar makanan. Ia melihat kertas-kertas itu. Dibacanya satu per satu kertas itu dan ia pun tersenyum.
“Budhe akan membeli kertas-kertas ini, Luna. Bagaimana, kamu setuju,” tanyanya padaku. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Untuk apa Budhe Sri membeli kertas-kertas itu. “Budhe akan memasukkan tulisan Adinda ke redaksi koran,” katanya kemudian.
Kertas-kertas itu dibawa oleh Budhe Sri. Seminggu kemudian, aku melihat koran di pinggiran Terminal Giwangan. Ada kolom cerpen di sana dengan judul “Hari Raya untuk Kakakku”. Aku baca cerpen itu. Aku pun menangis. Itu adalah kisah hidupku, kisahku bersama Adinda. Cerpen yang jumlahnya ratusan lembar itu pun diterbitkan secara maraton oleh sebuah koran tempat suami Budhe Sri bekerja. Dari hasil penerbitan itu, aku memperoleh honor. Aku merasakan kehadiran Adinda setiap kali membaca karya-karyanya. Aku tahu, dia selalu ada di sisiku. Memelukku dan akan selalu menungguku merayakan lebaran bersama ayah dan ibu di surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar