Memilih jalan hidup
sebagai seorang perantau memang tak semudah yang dibayangkan. Kesendirian
adalah hal yang paling sering kurasakan. Jauh dari orang tua, sanak saudara,
dan orang-orang yang dicinta merupakan sebuah keputusan hidup yang harus
dijalani dengan gagah berani. Ratusan kilometer jarak yang membentang, mencipta
kerinduan yang semakin hari semakin mendebarkan.
Kala datang waktu
berkumpul keluarga, di situlah kebahagiaan
sejati itu tiba. Aku tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu ketika pulang,
aroma masakan ibu begitu menggoda, memanjakan lidah, tak bisa kutemui dalam
keseharianku di tanah rantau ini. Sungguh, masakan paling istimewa. Aku juga
ingat betul betapa bahagianya ia menyambutku datang dan begitu beratnya
melepasku pergi. Laksana seekor induk merpati yang melepas anaknya terbang,
mengudara bebas ke angkasa nan luas.
Anganku melayang ke
awang-awang. Aku hanya bisa membayangkan, tapi tak berani merasakan. Bagaimana
tidak, lebaran yang selalu identik dengan pulang, terasa amat jauh di angan
setelah tempo hari perusahaan memutuskan bahwa aku tetap tinggal selama musim
lebaran. Aku baru saja ingin merasakan euforia
perjalanan menuju kampung halaman di detik-detik terakhir bulan ramadan. Namun,
seketika semua itu terhempas sekejap mata. Apa daya, aku pun harus takhluk
dibuatnya.
Lusa adalah malam
lebaran. Sudah berhari-hari ini ponselku terus berdering. Suara yang tak asing
lagi bagiku di seberang sambungan. Menanti kabar, kapankah aku kembali? Apa
boleh buat, aku pun dengan berat hati mengatakan. Daripada aku memberi harapan
yang tak pasti ujungnya lagi.
"Huuuhhhh,"
lenguhan panjang nafasku usai aku memberesi beberapa berkas di meja kerjaku.
"Sepertinya mukamu
kusut sekali, kenapa?" tanya seorang teman.
"Ah, tidak. Hanya
lelah saja," jawabku sekenanya.
"Kau bohong
kan?"
"Aku ingin pulang,
tapi apa daya. Ya sudahlah, terima saja." Seuntai senyum kecut tertoreh di
bibirku. Ia menepuk-nepuk pundakku.
Keesokan harinya,
kepala staf divisi memanggilku ke ruangannya. Ia mengecek sejauh mana pekerjaan
yang telah kulakukan, mengingat jelang hari raya banyak perusahaan yang
memberlakukan kinerja ekstra bagi para karyawannya.
Sebuah amplop cokelat
diserahkan pagi itu padaku. Aku membukanya perlahan. Sebuah tiket perjalanan.
"Bersiaplah! Sore
ini, kamu akan berangkat menuju kampung halaman," kata Kepala Staf Divisi
seraya tersenyum padaku.
"Apa, Pak? Saya
tidak salah?"
"Awalnya saya
ingin memberlakukan lembur. Namun, berhubung kinerjamu baik dan memuaskan, saya
rasa tak ada salahnya memberi kesempatan padamu untuk sejenak pulang. Toh itu
kan yang kamu nantikan sedari kemarin?"
"Alhamdulillah!
Terima kasih, Pak."
Aku menyalaminya dan
undur diri. Sungguh tak mampu kulukiskan rasa di hatiku saat ini. Sesuatu yang
kunantikan akan segera tiba. Rasanya tak sabar menyongsong esok hari bersama
orang-orang yang kukasihi.
Jarak dan perjalanan
yang ditempuh memang memberi cerita tersendiri. Tetapi, berbahagialah mereka
yang saat ini berada jauh di tanah rantau. Semakin jauh dari orang tercinta,
justru hati semakin dekat. Malam lebaran pun datang. Aku pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar