Sabtu, 02 Mei 2020

Cerpen "Pulang"


Memilih jalan hidup sebagai seorang perantau memang tak semudah yang dibayangkan. Kesendirian adalah hal yang paling sering kurasakan. Jauh dari orang tua, sanak saudara, dan orang-orang yang dicinta merupakan sebuah keputusan hidup yang harus dijalani dengan gagah berani. Ratusan kilometer jarak yang membentang, mencipta kerinduan yang semakin hari semakin mendebarkan.
Kala datang waktu berkumpul  keluarga, di situlah kebahagiaan sejati itu tiba. Aku tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu ketika pulang, aroma masakan ibu begitu menggoda, memanjakan lidah, tak bisa kutemui dalam keseharianku di tanah rantau ini. Sungguh, masakan paling istimewa. Aku juga ingat betul betapa bahagianya ia menyambutku datang dan begitu beratnya melepasku pergi. Laksana seekor induk merpati yang melepas anaknya terbang, mengudara bebas ke angkasa nan luas.
Anganku melayang ke awang-awang. Aku hanya bisa membayangkan, tapi tak berani merasakan. Bagaimana tidak, lebaran yang selalu identik dengan pulang, terasa amat jauh di angan setelah tempo hari perusahaan memutuskan bahwa aku tetap tinggal selama musim lebaran. Aku baru saja ingin merasakan euforia perjalanan menuju kampung halaman di detik-detik terakhir bulan ramadan. Namun, seketika semua itu terhempas sekejap mata. Apa daya, aku pun harus takhluk dibuatnya.
Lusa adalah malam lebaran. Sudah berhari-hari ini ponselku terus berdering. Suara yang tak asing lagi bagiku di seberang sambungan. Menanti kabar, kapankah aku kembali? Apa boleh buat, aku pun dengan berat hati mengatakan. Daripada aku memberi harapan yang tak pasti ujungnya lagi.
"Huuuhhhh," lenguhan panjang nafasku usai aku memberesi beberapa berkas di meja kerjaku.
"Sepertinya mukamu kusut sekali, kenapa?" tanya seorang teman.
"Ah, tidak. Hanya lelah saja," jawabku sekenanya.
"Kau bohong kan?"
"Aku ingin pulang, tapi apa daya. Ya sudahlah, terima saja." Seuntai senyum kecut tertoreh di bibirku. Ia menepuk-nepuk pundakku.
Keesokan harinya, kepala staf divisi memanggilku ke ruangannya. Ia mengecek sejauh mana pekerjaan yang telah kulakukan, mengingat jelang hari raya banyak perusahaan yang memberlakukan kinerja ekstra bagi para karyawannya.
Sebuah amplop cokelat diserahkan pagi itu padaku. Aku membukanya perlahan. Sebuah tiket perjalanan.
"Bersiaplah! Sore ini, kamu akan berangkat menuju kampung halaman," kata Kepala Staf Divisi seraya tersenyum padaku.
"Apa, Pak? Saya tidak salah?"
"Awalnya saya ingin memberlakukan lembur. Namun, berhubung kinerjamu baik dan memuaskan, saya rasa tak ada salahnya memberi kesempatan padamu untuk sejenak pulang. Toh itu kan yang kamu nantikan sedari kemarin?"
"Alhamdulillah! Terima kasih, Pak."
Aku menyalaminya dan undur diri. Sungguh tak mampu kulukiskan rasa di hatiku saat ini. Sesuatu yang kunantikan akan segera tiba. Rasanya tak sabar menyongsong esok hari bersama orang-orang yang kukasihi.
Jarak dan perjalanan yang ditempuh memang memberi cerita tersendiri. Tetapi, berbahagialah mereka yang saat ini berada jauh di tanah rantau. Semakin jauh dari orang tercinta, justru hati semakin dekat. Malam lebaran pun datang. Aku pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar