Kamis, 28 Mei 2020

Puisi "Pamit"


Di sini, di sudut kota nan sepi ini
kutuliskan secarik kertas padamu
untuk segala perjalanan yang selama ini kulalui.

Aku telah sampai pada satu titik
yang membawaku pada suatu kesadaran
bahwa segala harap tentangmu
harus kuakhiri sampai di sini.

Segala angan akan sosokmu
kerinduanku pada tawa candamu
juga terus membersamaimu di sepanjang hidupku
harus kubunuh perlahan.

Aku pergi
bukan karena aku menyerah atau aku telah kalah
melainkan aku memahami
bahwa memenangkan hatimu tak akan semudah menakhlukkan ego dalam diri.

Kini kau pun terbebas dari segala belenggu
yang selama ini mengungkungmu atas kehadiranku.

Maafkan aku jika selama ini
telah menyita waktu dan perhatianmu.
Maafkan aku untuk segala ketidaknyamanan
yang selama ini aku ciptakan.

Aku menutup lembar kisahku
dengan seutas senyum yang mengembang.

Dengan berakhirnya tulisan ini
aku ingin memberitahukanmu satu hal
bahwa ada sosok aku yang mengagumi seorang kamu
rasa yang selama ini hanya mampu kupendam
tanpa sempat aku ucapkan.

Kuharap suatu hari nanti kau mampu mengerti
bahwa rasa yang hendak kau bunuh perlahan ini
sejatinya tulus tanpa ragu.

Kelak, jangan pernah engkau menyesali
tatkala engkau menyadari bahwa pernah ada seseorang
yang selalu menghadirkanmu dalam doa-doa malamku
juga (pernah) mencintaimu dengan begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar