Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2022

Puisi "Belum Selesai"

Karya Gading Ramadhan Atmojo Nurtriadi


hembusan angin sepi antara kau dan aku

di manakah ia menemukan kesepian

yang ia bawa dalam tariannya

melihat ke atas langit

setelah menyeka ribuan asa

kubisa lihat ribuan biru

yang tak pernah begitu jelas di matamu


kautanya kapan kita kan bertemu

tak biasanya embun kudekap begitu lesu

celotehan sang penyiar pagi itu

apakah kamu melihatku?


tak biasanya kusapa dia mentari pagi

tapi kukatakan sampai jumpa esok hari

adakah rasa yang tersimpan rapi di hati?

ah, kan kusampaikan nanti walau misteri


jutaan bintang bersinar terang di angkasa

membawaku pada lautan noistalgia

di Puncak Klangon kuberkata

"Wahai malaikat penjaga, doakan aku sukses di sana!"


Magelang, 17 September 2022

Jumat, 03 Desember 2021

PUISI "SIMFONI SUDUT RUMAH SAKIT"

Pagi ini…

Di sebuah ruang tunggu pendaftaran

Puluhan bahkan ratusan manusia terduduk beku

Berjibaku dengan segenap rasa

Sembari menunggu antrean tiba

 

Wajah-wajah pucat

Wajah-wajah cemas

Wajah-wajah penuh harap

Membaur di sebuah sudut rumah sakit

 

Di satu sudut lainnya

Orang-orang berlalu lalang

Dengan kursi roda

Dengan brankar dorong

Dengan papahan orang-orang terkasih

 

Dokter, perawat, dan petugas bersiaga

Datang dan pergi silih berganti

 

Hujan deras sedari pagi

Dinginnya udara di ruang ini

Membangkitkan kesedihan di hati

 

Untuk apa orang-orang itu datang?

Mereka tak datang tanpa tujuan

Mengalahkan kepahitan

Dan segenap kelemahan iman

Lalu bangkit bersama Tuhan dalam ketegaran

 

Jalan berliku penuh duri

Apapun yang terjadi harus berjalan

Keberanian tidak akan tunduk

Keinginan tidak akan berhenti

 

Matahari mungkin menyembunyikan malam

Tapi malam terus berlalu

Musim akan berubah

Keberanian akan menunjukkan hasilnya

Akan ada cahaya dan pagi lagi

Maka matahari pun tersenyum kembali



Yogyakarta, Desember 2021

Kamis, 03 Juni 2021

Puisi "Semusim yang Lalu"

 Matahari bersembunyi di balik pekatnya awan

Langit seketika kelabu

Menyulut kebekuan di relung hati nan bisu

 

Angin bertiup perlahan

Menggugurkan daun-daun di pepohonan

Langkah kian resah, gundah, tak berarah

 

Masa singkat nan engkau toreh

Dan sebuah pertemuan yang tersemat

Telah mengukir jalinan kasih

Nan abadi bersama senyummu yang telah pergi

 

Selamanya...

Bersama kenangan yang tak akan terganti

 

Yogyakarta, 4 Juni 2021

Jumat, 12 Maret 2021

Puisi "Senja Hari Ini"

 Senja hari ini

tertutup mendung nan kelabu

perlahan kuyup oleh hujan

yang mulai berjatuhan

                         

Pada saat seperti itu

yang selalu kuingat wajah dan matamu

saat menatapku

teduh dan akan selalu kurindu

 

Saat kau mulai tak di sisiku

ketika jarak kian dekat menyapa

lalu perlahan kau menghilang

bersama laju kereta yang beranjak pergi

 

Jarak adalah ujian nyata

menjauhkan raga

mendekatkan rasa

yang kita ukir bersama

dalam naungan rindu paling diam

Kamis, 04 Februari 2021

Puisi "Kereta Jakarta-Jogja"

 

Seperti langit di penghujung Januari

mendung dan murung

seiring derap-derap kereta

yang bergerak dari Jakarta

menuju Jogja

 

Sudut gerbong dekat jendela

tempat di mana ia mengeja

kata demi kata

pada sebuah buku yang dibaca

meski tak jua kutangkap maknanya

 

Pagi tadi

kau letakkan daun akasia

di tengah buku cerita

tentang kita

di atas kereta yang mulai

meninggalkan kota

 

Kereta tiba di stasiun kota

membawa langkahmu menujuku

dengan seutas senyum mengembang di bibirmu

berjuta syahdu memeluk

merobek rindu

berbincang hari nan panjang

meski jarak sebentar lagi membayang

Sabtu, 01 Agustus 2020

Puisi "Senandung Sepertiga Malam"

Ingin keberlari sekuat tenaga dari masa lalu

Namun aku tak mampu

Ingin kumelupakan segenap bayang yang membelenggu

Namun tubuhku kelu, lidahku kaku

 

Terkungkung pada seutas harapan

Nan tiada pernah menjadi kenyataan

Terkoyak luka berbalut kesedihan

Semata semacam pengkhianatan

 

Dalam sepi hancur hati

Luka terbujur sakitnya panjang terulur

Ingatan berpagu dalam drama hari lalu

Kepala tersandar di pundak nan kaku

 

Pukul tiga lewat tujuh

Embun turun menitik ke ubun-ubun

Membangunkan mata nan terpejam

Membuyarkan mimpi-mimpi nan tertanam

 

Pada seutas sajadah

Aku mendesah

Berkeluh kesah

Dalam resah

 

Mengurai baris demi baris peristiwa

Hingga utuh menjadi kesatuan cerita

Menyisakan sebuah tanya

Mana kala kan kutemui jawabnya

 

Hingga fajar tiba di balik jendela

Jatuhkan pelita terangi semesta

Kudapati keteduhan jiwa

Hadiah terindah dari Sang Pencipta


Minggu, 05 Juli 2020

Puisi Doa Cinta

Ada yang hilang dari pandang

Meski enggan menjadi kenang

Memberi warna berbeda

Menghadirkan indahnya nuansa

 

Tuhanku,

Aku mencintainya karena-Mu

Jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku

Sebab aku telah jatuh di kedalaman hati

seorang hamba-Mu

 

Sentuh hatiku untuk rasakan indahnya cinta

Nan menggelora tanpa harus kemenutup mata

Jadikan kami pasangan yang Engkau ridai

Lantunkan syair surga terangi hati kami

 

Tuhan,

Dalam beratnya masa perjuangan

Kepada-Mu lah muara ini aku labuhkan

Hatiku dan hatinya Engkau satukan

Jalan bagi kami menyempurnakan iman


Senin, 22 Juni 2020

Puisi "Aku dan Masa Depan"

Kakiku terus melangkah

Walau jalanku tak tentu arah

Jejak-jejak kelam di masa silam

Terus terngiang dan menghantam

 

Ada kerikil dan batu besar

Ada kebimbangan yang harus kutakhlukkan

Namun kuberlari

Mencoba terus melepaskan diri

 

Asaku membawa pada satu titik pencerahan

Menuju jembatan-jembatan kedamaian

Menghadapi retorika kehidupan

Masa depan ada dalam genggaman

 

Hujan tak menghentikan langkahku

Peluh terus mengucurkan semangatku

Doa sebagai pelita di hatiku

Keberhasilan menjadi impianku

 

Takdir sudah dituliskan

Berjuang walau berat dilakukan

Keyakinan dipupuk perlahan

Menggapai masa depan dengan penuh harapan


Puisi "Perempuan Tangguh"

Kerutan di pelipis wajah menandakan tak muda lagi usiamu

Keringat yang bercucuran di tubuh menandakan betapa keras perjuangan dalam hidupmu

Langkah gontai yang menyertai menandakan sungguh besar pengorbananmu

 

Tangan lembut itu yang selalu menyentuhku

Menyambutku dengan segenap kasih sayang

Engkau berikan sandaran di tengah ketidakberdayaanku menghadapi kerasnya dunia

 

Waktu terus berlalu

Engkau terus berdiri di belakangku

Membimbingku menjadi wanita tangguh yang tak mudah runtuh

 

Cinta yang kau berikan memberi aku kekuatan

Ketulusan yang kau curahkan menjadi pegangan

Dekapan eratmu menjadi tumpuan tempatku bertahan

 

Tatkala kaki ini lelah dalam melangkah

Engkau bangkitkan kembali kepercayaan diriku

Walau kutahu, kau pun sesungguhnya lebih lelah dariku

 

Namaku yang selalu kau panjatkan di hadapan Sang Pencipta

Menggema hingga ke angkasa raya

Memantik pengharapan baru demi kesuksesan dalam hidupku

 

Dalam doaku kau menjelma menjadi pelita

Yang selalu menyinariku dengan cahaya kasih sayang yang tercurah

Aku akan selalu mencintaimu wahai perempuan tangguh yang kusebut ibu


Kamis, 28 Mei 2020

Puisi "Pamit"


Di sini, di sudut kota nan sepi ini
kutuliskan secarik kertas padamu
untuk segala perjalanan yang selama ini kulalui.

Aku telah sampai pada satu titik
yang membawaku pada suatu kesadaran
bahwa segala harap tentangmu
harus kuakhiri sampai di sini.

Segala angan akan sosokmu
kerinduanku pada tawa candamu
juga terus membersamaimu di sepanjang hidupku
harus kubunuh perlahan.

Aku pergi
bukan karena aku menyerah atau aku telah kalah
melainkan aku memahami
bahwa memenangkan hatimu tak akan semudah menakhlukkan ego dalam diri.

Kini kau pun terbebas dari segala belenggu
yang selama ini mengungkungmu atas kehadiranku.

Maafkan aku jika selama ini
telah menyita waktu dan perhatianmu.
Maafkan aku untuk segala ketidaknyamanan
yang selama ini aku ciptakan.

Aku menutup lembar kisahku
dengan seutas senyum yang mengembang.

Dengan berakhirnya tulisan ini
aku ingin memberitahukanmu satu hal
bahwa ada sosok aku yang mengagumi seorang kamu
rasa yang selama ini hanya mampu kupendam
tanpa sempat aku ucapkan.

Kuharap suatu hari nanti kau mampu mengerti
bahwa rasa yang hendak kau bunuh perlahan ini
sejatinya tulus tanpa ragu.

Kelak, jangan pernah engkau menyesali
tatkala engkau menyadari bahwa pernah ada seseorang
yang selalu menghadirkanmu dalam doa-doa malamku
juga (pernah) mencintaimu dengan begitu.