Laut
yang Terdalam
Di
antara sekian banyak kalimat yang pernah kubaca, ada satu yang melekat paling
lama dalam ingatan dan perlahan mengubah cara pandangku terhadap kehidupan. Isinya
seperti ini, “Pergilah berkelana ke mana pun kamu mau sebab semesta ini jauh
lebih luas daripada orang-orang yang selalu membuatmu merasa kecil.”
Sejak
saat itu akupun mulai memahami, barangkali yang perlu meninggalkan suatu tempat
bukanlah kakiku, melainkan cara pandangku. Maka aku memilih berkelana;
membiarkan musim demi musim mengajariku bahwa luasnya semesta tak pernah
berakhir pada batas yang selama ini kusangka sebagai ujung perjalanan. Setiap jalan
yang kutempuh seolah menjadi jendela baru, tempat hidup memperlihatkan wajahnya
yang lebih lapang, sementara jiwaku perlahan belajar bernapas tanpa lagi
meminta izin kepada penilaian siapapun. Di sepanjang perjalanan itu, aku
menyaksikan bagaimana banyak orang memilih menjadi dinding bagi kehidupan orang
lain, membatasi, mengukur, lalu merasa telah selesai mengenal hanya dari apa
yang sempat mereka lihat.
Barangkali bergitulah tabiat prasangka; ia selalu tergesa untuk menuliskan kesimpulan, sementara pengertian memilih berjalan perlahan. Padahal manusia tak pernah sesederhana permukaan laut yang tenang; setiap hati menyimpan Samudra yang tak selesai dijelajahi, dan tak satupun kedalaman dapat dipahami hanya dari riak yang menanti di permukaan. Maka perlahan kulepaskan keinginan untuk terus menerjemahkan diriku kepada mereka yang telah merasa cukup mengenal sebelum benar-benar menyelami. Sebab bunga tak pernah menghabiskan musim-musim untuk meyakinkan setiap orang akan keharumannya; ia hanya terus mekar, dan angin akan membawa wanginya kepada mereka yang memang ditakdirkan untuk menemukannya.
Kini aku tak lagi sibuk mencari tempat yang bersedia menerimaku, melainkan terus melangkah menuju ruang-ruang yang membuat jiwaku pun bertumbuh. Sebab langit tak pernah meminta maaf karena terlalu luas, lautan tak pernah mengecil agar ia muat di telapak tangan, dan matahari tak pernah meredup hanya agar cahayanya tidak menyilaukan. Begitu pula hidupku. Ia tak pernah memintaku menjadi lebih kecil hanya demi menyenangkan manusia lain. Yang ia minta hanyalah keberanian untuk terus berjalan, hingga suatu hari aku menyadari bahwa semesta selalu menyimpan kemungkinan yang jauh lebih luas daripada penilaian manusia, dan hati yang mengenal nilainya sendiri tak akan pernah lagi merasa sempit oleh ukuran siapapun.