Achmad, seorang manajer
di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Ia memiliki karier yang cemerlang dan
hidup berkecukupan. Bahkan, dirinya dielu-elukan banyak orang sebagai sosok
yang mujur. Berbekal ijazah sarjana, ia mengadu nasib ke ibu kota sepuluh tahun
yang lalu, meninggalkan kampung halaman dan berjuang di perantauan. Kini, ia
bisa berpuas diri menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Sebuah rumah mewah
di kawasan elite telah menjadi salah satu investasinya meskipun masih harus
dicicil dengan jumlah fantastis tiap bulannya.
Nasib Achmad berubah
180 derajat sejak munculnya virus corona awal Maret lalu. Jakarta sebagai pusat
pemerintahan dan juga pusat perekonomian yang padat penduduk, dalam waktu yang
sangat singkat menjadi daerah zona merah. Bagaimana tidak, virus ini dengan
sangat cepat menyebar, membuat siapa pun kewalahan dibuatnya. Sejak virus ini
muncul, kehidupan bisa dikatakan tidak lagi sama seperti semula. Terlebih usai
diberlakukannya PSBB oleh pemerintah, banyak pelaku usaha yang menutup
usahanya, tak terkecuali perusahaan tempat Achmad bekerja.
Sejak dirumahkan,
Achmad merasa kacau. Dari kantor, ia tak mendapatkan gaji. Padahal, ia masih
punya tanggungan cicilan rumah. Alhasil, bulan berikutnya ia menggunakan
seluruh tabungan yang tersisa. Pikirannya pun semakin kacau mana kala ia masih
harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan nol penghasilan. Bulan berikutnya,
Achmad sudah tidak dapat membayar cicilan rumah. Akhirnya, rumah pun ditarik
karena tunggakan cicilan. Ia pergi dari rumah dengan sedikit uang hasil menjual
beberapa barang.
Achmad semakin
kebingungan karena ia tidak bisa pulang ke kampung halaman. Larangan mudik
untuk orang-orang dari zona merah seperti Jakarta ini nyatanya menyusahkan bagi
dirinya. Mau menyewa rumah, ia tak mampu. Sebab, hingga kini ia tak kunjung mendapatkan
pekerjaan. Oleh karena itu ia hidup dari jalan ke jalan. Dengan langkah gontai
karena kelaparan, ia masuk ke sebuah pasar dengan maksud meminta pekerjaan atau
makanan pada para pedagang. Namun, tak satu pun memberinya pekerjaan atau
makanan. Ia justru diusir oleh para pedagang di pasar itu karena mengganggu kenyamanan.
Gagal mendapatkan uang, ia nekat mencuri kue dari seorang pedagang karena badannya
lemas dan perutnya semakin keroncongan. Alhasil ia pun dihajar massa hingga
babak belur dan tak sadarkan diri.
Hari berikutnya, ketika
membuka mata, Achmad telah berada di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Ia masuk
bukan sebagai pasien yang terpapar virus corona, melainkan luka-luka di sekujur
tubuhnya. Sungguhpun harus menahan perih, ia justru bersyukur karena di sini ia
mendapat ransum makanan gratis pagi, siang, dan malam selama perawatan. Tak terbayang
bagaimana ia harus kembali menderita kelaparan ketika telah sembuh nanti.
Sore ini seorang dokter
kembali memeriksa Achmad. Dengan senyum ramahnya sang dokter berkata,” Besok pagi
Bapak sudah boleh pulang. Untuk biaya rumah sakit, Bapak tidak perlu khawatir
karena sudah ditanggung sepenuhnya oleh orang-orang yang mengeroyok Bapak tempo
hari.”
Mendengar itu hati
Achmad justru sedih. Esoknya, ia segera berkemas meninggalkan rumah sakit. Sesampainya
di halaman rumah sakit, kakinya seolah semakin tertancap. Ia bingung mau ke
mana lagi. Dalam hati ia pun berbisik,” Aku akan kembali mencuri makanan di
pasar. Jadi kalau dihajar dan luka-luka lagi, aku bisa dirawat di sini.”
Sesampainya di pasar,
ia justru terkejut mendapati suasana pasar yang sepi karena ditutup dan tak ada
aktivitas lagi. Ia pun bertanya kepada orang-orang sekitar. Rupanya, pasar ini tutup
karena salah seorang pedagangnya terpapar virus corona dan meninggal dunia. Maka
dari itu, seluruh pedagang dan orang-orang yang pernah datang ke sini
sebelumnya akan melaksanakan rapid test.
Achmad menjadi sangat sedih. Bukan lantaran pasar ditutup dan ia tak bisa mencuri,
melainkan yang terpapar virus corona
tersebut adalah pedagang yang ia curi kuenya kala itu.
Melalui seseorang yang
cukup mengenal pedagang tersebut, Achmad mendapatkan petunjuk alamat rumah dan
di mana sang pedagang dimakamkan. Maka bergegaslah Achmad mendatangi makam
pedagang tersebut. Di hadapan papan kayu bertuliskan nama sang pedagang, Achmad
meminta ampunan. Ia pun bersumpah,” Lebih baik aku mati kelaparan daripada
kenyang dari makanan hasil curian.”
Malam ini, takbir menggema
di masjid-masjid penjuru ibu kota. Purnama bersinar terang seakan tersenyum turut
menyambut hari lebaran. Purnama inilah yang menerangi langkah Achmad. Dengan sedikit
kekuatan, ia bangkit mengais sisa-sisa makanan di sepanjang jalan. Seperti panjangnya
jalanan yang dilaluinya seorang diri malam ini, perjalanan hidupnya pun sama
panjang. Ia terus berjalan. Memandang purnama di sepanjang malam lebaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar