Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Mei 2020

Cerpen "Purnama di Malam Lebaran"


Achmad, seorang manajer di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Ia memiliki karier yang cemerlang dan hidup berkecukupan. Bahkan, dirinya dielu-elukan banyak orang sebagai sosok yang mujur. Berbekal ijazah sarjana, ia mengadu nasib ke ibu kota sepuluh tahun yang lalu, meninggalkan kampung halaman dan berjuang di perantauan. Kini, ia bisa berpuas diri menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Sebuah rumah mewah di kawasan elite telah menjadi salah satu investasinya meskipun masih harus dicicil dengan jumlah fantastis tiap bulannya.
Nasib Achmad berubah 180 derajat sejak munculnya virus corona awal Maret lalu. Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan juga pusat perekonomian yang padat penduduk, dalam waktu yang sangat singkat menjadi daerah zona merah. Bagaimana tidak, virus ini dengan sangat cepat menyebar, membuat siapa pun kewalahan dibuatnya. Sejak virus ini muncul, kehidupan bisa dikatakan tidak lagi sama seperti semula. Terlebih usai diberlakukannya PSBB oleh pemerintah, banyak pelaku usaha yang menutup usahanya, tak terkecuali perusahaan tempat Achmad bekerja.
Sejak dirumahkan, Achmad merasa kacau. Dari kantor, ia tak mendapatkan gaji. Padahal, ia masih punya tanggungan cicilan rumah. Alhasil, bulan berikutnya ia menggunakan seluruh tabungan yang tersisa. Pikirannya pun semakin kacau mana kala ia masih harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan nol penghasilan. Bulan berikutnya, Achmad sudah tidak dapat membayar cicilan rumah. Akhirnya, rumah pun ditarik karena tunggakan cicilan. Ia pergi dari rumah dengan sedikit uang hasil menjual beberapa barang.  
Achmad semakin kebingungan karena ia tidak bisa pulang ke kampung halaman. Larangan mudik untuk orang-orang dari zona merah seperti Jakarta ini nyatanya menyusahkan bagi dirinya. Mau menyewa rumah, ia tak mampu. Sebab, hingga kini ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu ia hidup dari jalan ke jalan. Dengan langkah gontai karena kelaparan, ia masuk ke sebuah pasar dengan maksud meminta pekerjaan atau makanan pada para pedagang. Namun, tak satu pun memberinya pekerjaan atau makanan. Ia justru diusir oleh para pedagang di pasar itu karena mengganggu kenyamanan. Gagal mendapatkan uang, ia nekat mencuri kue dari seorang pedagang karena badannya lemas dan perutnya semakin keroncongan. Alhasil ia pun dihajar massa hingga babak belur dan tak sadarkan diri.
Hari berikutnya, ketika membuka mata, Achmad telah berada di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Ia masuk bukan sebagai pasien yang terpapar virus corona, melainkan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sungguhpun harus menahan perih, ia justru bersyukur karena di sini ia mendapat ransum makanan gratis pagi, siang, dan malam selama perawatan. Tak terbayang bagaimana ia harus kembali menderita kelaparan ketika telah sembuh nanti.
Sore ini seorang dokter kembali memeriksa Achmad. Dengan senyum ramahnya sang dokter berkata,” Besok pagi Bapak sudah boleh pulang. Untuk biaya rumah sakit, Bapak tidak perlu khawatir karena sudah ditanggung sepenuhnya oleh orang-orang yang mengeroyok Bapak tempo hari.”
Mendengar itu hati Achmad justru sedih. Esoknya, ia segera berkemas meninggalkan rumah sakit. Sesampainya di halaman rumah sakit, kakinya seolah semakin tertancap. Ia bingung mau ke mana lagi. Dalam hati ia pun berbisik,” Aku akan kembali mencuri makanan di pasar. Jadi kalau dihajar dan luka-luka lagi, aku bisa dirawat di sini.”
Sesampainya di pasar, ia justru terkejut mendapati suasana pasar yang sepi karena ditutup dan tak ada aktivitas lagi. Ia pun bertanya kepada orang-orang sekitar. Rupanya, pasar ini tutup karena salah seorang pedagangnya terpapar virus corona dan meninggal dunia. Maka dari itu, seluruh pedagang dan orang-orang yang pernah datang ke sini sebelumnya akan melaksanakan rapid test. Achmad menjadi sangat sedih. Bukan lantaran pasar ditutup dan ia tak bisa mencuri, melainkan yang  terpapar virus corona tersebut adalah pedagang yang ia curi kuenya kala itu.
Melalui seseorang yang cukup mengenal pedagang tersebut, Achmad mendapatkan petunjuk alamat rumah dan di mana sang pedagang dimakamkan. Maka bergegaslah Achmad mendatangi makam pedagang tersebut. Di hadapan papan kayu bertuliskan nama sang pedagang, Achmad meminta ampunan. Ia pun bersumpah,” Lebih baik aku mati kelaparan daripada kenyang dari makanan hasil curian.”
Malam ini, takbir menggema di masjid-masjid penjuru ibu kota. Purnama bersinar terang seakan tersenyum turut menyambut hari lebaran. Purnama inilah yang menerangi langkah Achmad. Dengan sedikit kekuatan, ia bangkit mengais sisa-sisa makanan di sepanjang jalan. Seperti panjangnya jalanan yang dilaluinya seorang diri malam ini, perjalanan hidupnya pun sama panjang. Ia terus berjalan. Memandang purnama di sepanjang malam lebaran.

Minggu, 03 Mei 2020

Cerpen "Lelakiku di Ujung Sembilu"


Senja. Apakah yang tengah engkau cari? Kumpulan kata yang mencipta teduh, kota yang semakin riuh, ataukah kita yang kian rapuh?
Pasir putih itu membentang begitu panjang. Debur ombak yang baku hantam tidak dapat membuatnya berantakan. Bahkan, ketika sabit muncul di permukaan, biasnya tetap memantul dari butiran pasir basah sehabis bermandikan air asin. Dalam gulita malam yang tak sepantasnya membuat seorang wanita terduduk sendirian, ada gurat sendu yang meneriakkan penantian dari bibirnya yang seolah bisu.
Sehelai selendang bermotif bunga-bunga yang mulai lapuk dimakan usia dengan setia memeluk tubuh yang berbetah diri menatap ke ujung lautan tanpa takut ditelan karang. Ia berdiam saja, membiarkan udara malam mengecup mesra permukaan kulitnya meskipun tidak ada yang tahu bahwa pergolakan batin sedang menggerogoti sukmanya.
Kita berdiri di atas tebing curam nan menikam dengan begitu tajam. Ketika azan berkumandang, kita saling memandang. Antara azan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang, antara kiblat yang menentukan arahku pulang dan altar yang membuatmu tenang, kita mengucap doa yang sama dengan Amin yang berbeda. Aku mencintaimu, meski tasbih di jemariku berbeda dengan salib di lehermu.

***

Ingatan adalah satu-satunya harta yang kupunya. Sebab itu, kusampaikan ini kepadamu sebelum manusia-manusia itu merampasnya dariku, seperti dulu keadaan merampasmu dariku.
Tidak akan ada yang mengerti tentang ini. Barangkali cuma jendela dan hujan yang mengerti. Dan Fransisco, tentu saja. Lelakiku satu itu memang teramat tampan. Gadis mana yang tak akan jatuh hati melihat keelokan parasnya?
Aku senang memberitahukannya segala sesuatu yang sederhana. Ya, seperti hujan di pagi ini. Pikirannya sudah amat rumit oleh banyak hal. Makanya, aku mengajaknya melihat hujan, menyentuh angin yang melewati sela-sela jemarinya yang dingin, dan menghirup udara yang kuyakini tak akan berumur panjang.
“Umur panjang untuk hidup yang begini-begini saja pastilah amat membosankan.” Itu kata Frans dulu, saat aku duduk di sampingnya sembari menikmati rinai hujan. Kutengadahkan tangan, lalu kuseka perlahan-lahan wajahnya dengan air nan dingin itu. Wajah flamboyan nan begitu rupawan itulah yang menjadi salah satu hal penting dari dirinya dan akan selalu aku rindukan saat jauh bersamanya.
“Berapa lama aku harus menunggu?”
Dagunya sedikit terangkat saat dia melontarkan pertanyaan untukku. Pertanyaan yang membuatku semakin sayang meski ada sedikit rasa bersalah. Lelaki ini tidak pernah mau membebaniku dengan perasaan bahwa aku yang pergi dan dia adalah orang yang pantas dikasihani karena ditinggalkan.
Dia menempatkan dirinya sebagai laki-laki yang memang sudah semestinya tak memaksakan apa yang dikehendakinya. Hanya menanyakan seberapa lama waktu yang dia perlukan untuk menjalani tugas menunggunya itu. Beginilah dia.
   “Tidak akan lama, Frans.”
   Kutatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkan kekasihku. Meski di balik itu, aku tidak yakin dengan perkataanku sendiri. Seharusnya Frans tahu itu.

***

Hujan hari ini memang tidak ada capai-capainya. Jatuh terus sejak pagi. Tapi ini apa ya, siang atau sore? Atau masih pagi? Langitnya sama saja, hitam dan menakutkan. Bulu-bulu lenganku sampai tidak kelihatan kalau aku tidak mendekatkan diri ke jendela. Saking gelapnya, kalau hujan seperti ini hampir tidak ada orang berkeliaran. Cuma mobil-mobil yang berderet panjang di jalan besar sana. Tidak tahu sepanjang apa. Tapi, sejak tadi aku melihatnya hanya bergerak maju sedikit saja. Bahkan, kau tak akan tahu mobil itu sudah bergerak maju kalau tidak memperhatikannya dengan saksama dan dalam tempo yang lama.
Bumi mungkin sudah terlalu sesak. Orang-orang terlalu cepat melahirkan anak-anak. Apa yang bisa mereka perbuat? Cuma teriak-teriak. Tidak jelas. Bahasanya saja aneh-aneh. Maka jangan salahkan aku kalau sejak tadi ada dua bocah di ruangan ini yang hanya diam karena telah kumarahi. Kerjaannya tertawa dan ngomong keras-keras tanpa faedah. Membuyarkan pikiranku yang tengah serius mengerjakan tugas dari dosen saja.
Kedua bocah laki-laki ini, berbadan gempal. Salah satunya baik, suka tersenyum. Meski kadang aneh. Kalau aku sedang rindu dengan lelakiku, dia akan memperlihatkan benda yang ada orang bergerak di dalamnya.
Aku menyeruput cangkir kopiku untuk ke sekian kali. Lalu kuletakkan di atas meja, di samping laptop kecilku. Cuma ini penghilang penatku di rumah. Duduk menghadap jendela sambil memperhatikan manusia-manusia kecil itu berkejar-kejaran, seolah siap bersaing dengan dunia. Jendela kayu yang menghadap ke gang depan rumah mampu membuat mataku menatap jauh hingga ke jalan besar sana.
Ayah membangun rumah ini semakin besar, padat, dan mengkilap. Tiangnya yang dulu dibangun kokoh oleh kakek, diganti dengan beton. Di sana-sini dindingnya yang tebal, kaku, dan dingin telah diwarnai. Jendela samping inilah yang bersikeras kupertahankan. Tidak boleh diganti dengan besi ataupun ditambahkan kaca. Katanya aneh, jendela ini terlihat kecil untuk rumah yang semakin megah.

***

Hari selanjutnya, usai seharian hujan turun dengan derasnya, matahari bersinar walau masih tampak malu-malu. Namun, setidaknya seharian ini aku dapat menghabiskan waktu bersama Frans untuk mengatasi segala kepenatan usai seminggu belakangan kami dihajar oleh soal-soal ujian semester.
“Mau ke mana kita?” tanyaku pada Frans tatkala kami sampai di parkiran kampus.
“Hmmm...”
Aku menjadi kesal dengan jawabannya. Namun, ia justru tertawa geli dengan kekesalanku. Aku menjadi semakin kesal.
Lima belas menit kemudian kami sampai di sebuah mall tak jauh dari kampus. Frans menggenggam tanganku. Kami berjalan menuju lantai atas, memesan tiket untuk menonton film yang tengah diputar hari ini. Dan, dua buah tiket pun berhasil kami dapatkan. Frans menyuruhku duduk. Lalu ia memesan popcorn dan minuman sebelum kami menuju pintu teater yang telah dibuka.
“Gimana, masih kesal?” tanyanya padaku usai kami duduk di sesuai nomor kursi. Aku tersenyum sembari mencubit lengannya gemas. Dan kami pun larut dengan cerita dalam film itu hingga selesai diputar.

***

Frans adalah salah satu mahasiswa yang cerdas di kampus. Ia juga dikenal sangat aktif dalam berbagai organisasi di lingkungan kampus. Bahkan, ia berhasil menjadi ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Seni. Posisi yang tentunya menjadi incaran tiap orang, dengan kepiawaiannya mudah saja ia dapatkan.
Sejak menjadi ketua HMJ, intensitas pertemuannya denganku pun semakin jarang. Ia menjadi semakin sibuk dengan kegiatannya yang baru. Pesan dan panggilan yang datang dariku pun seringkali dinomorsekiankan. Aku mengerti, bukan porsiku untuk menghalanginya berkegiatan. Selama itu hal yang positif, apapun yang dilakukannya tentulah kudukung sepenuhnya.
Seiring berjalannya waktu, kesetiaan menjadi sebuah ujian. Masih teringat jelas di benakku. Memasuki tahun ketiga, di penghujung bulan Januari, di mana hujan turun sehari-hari. Tatkala dua manusia memadu kasih dengan begitu indahnya, di saat itu pula badai pun mulai menerjang. Bak armada yang mulai terseok-seok di tengah lautan. Menunggu datangnya mukzizat sebelum ia karam.
Suatu sore nan mendung. Mungkin semendung hati yang tak bisa teringkari ketika kekasih yang begitu engkau cintai menggores luka nan menganga dengan membagi hati. Lantas, apakah engkau masih bisa percaya? Masihkah pintu maaf itu terbuka? Namun, bisakah hati kecilmu membiarkan ia melewati luka seorang sendiri tatkala berada di titik terendah dalam hidupnya? Jawabannya tentu tidak. Entah. Berapa pun besarnya luka yang tertoreh di relung hati, nyatanya cinta mampu membuka ruang-ruang maaf yang seolah tertutup rapat tiada bercelah.
Tahun itu menjadi tahun terberat yang mesti kulalui bersama Frans. Aku memutuskan untuk menerima Frans kembali dan mencoba melupakan segenap kesalahan yang telah ia lakukan. Di sisi lain,  aku juga semakin menyadari banyak hal bahwa semakin tinggi jam terbang, semakin banyak pula yang memberinya sanjungan, walau tak sedikit pula yang memberi ujaran mengandung kebencian.
Pencapaian gemilang yang berhasil ditorehkan Frans selama berkarier di organisasi kampus pun dengan berat hati harus ia relakan tatkala beberapa oknum berusaha menjatuhkan. Bahkan, hujatan-hujatan tajam pun bermunculan, menggiring opini miring sehingga orang-orang yang tak tahu-menahu banyak yang termakan omong kosong itu. Wajar, bila pada akhirnya ia merasa berada di titik terendah hidupnya saat itu. Begitulah hidup dan kehidupan.
“Tenang, kita akan melaluinya bersama.” Begitu kataku menguatkan.
“Terima kasih ya, kamu hadir untuk memberi dukungan dan kekuatan!” Demikian kata Frans kala itu. Ia menggenggam tanganku erat, seolah berkata tak ingin melepaskan.

***

Maafkan aku, Frans. Aku tak bisa menepati janjiku untuk terus bersamamu menjaga hati dalam hubungan nan pelik ini. Meski luka di relung hati tak bisa dipungkiri. Namun, tetap bertahan bukanlah sebuah pilihan. Kita adalah dua jiwa yang perih, tak kuasa melawan keadaan. Pada akhirnya, kita pun menyerah. Makanya, kita lebih memilih diam dan membiarkan semua terjadi dengan semestinya.
Ini adalah perjalanan yang berat. Aku akan membiarkannya pergi, melanjutkan kehidupan kami masing-masing. Perpustakaan kampus, di sinilah pertama kali aku bertemu dengan Frans, sosok yang perlahan menjelma menjadi kekasihku. Di sini pulalah terdapat sebuah taman, juga bangku kayu tempat kami sering menikmati hujan. Namun, di tempat ini pulalah yang akan menjadi tempat penuh kenangan.
Frans terus memandang wajahku dan pada akhirnya mengerti. Ia membiarkanku pergi menemui jalanku sendiri. Kita mungkin telah sampai di persimpangan jalan yang menukik dengan begitu tajam. Walau kutahu, jalan yang diambil ini sangat berat.
Aku tersenyum, tapi hatiku pedih, pedih sekali. Air mata pun tak kuasa kutahan. Kuusap jemari tangan Frans yang lembut. Untuk terakhir kali, aku tak sanggup menatap matanya. Aku yakin ia tak akan menangis saat ini. Lelaki flamboyan yang paling kucintai itu tidak pandai memperlihatkan kesedihannya.
“Mungkin aku tidak tahu rasanya ditinggalkan. Tapi, meninggalkanmu adalah sakit yang tak akan bisa kugambarkan dengan apapun di dunia ini.”


***

Aku terjebak di sebuah toko buku dan belum bisa pulang karena hujan belum juga reda. Tak jauh dari situ, ada sebuah kedai kopi yang memang tak asing lagi. Aku sering menghabiskan waktu di sini dulu, bertahun-tahun yang lalu. Jika pergi membuat kehilangan, maka pulang seharusnya menjadi penawar. Seharusnya. Ah, sudahlah, entah apa yang tiba-tiba merasuki pikiranku hingga dihujani bayang-bayang masa silam.
Sebuah meja kosong di ujung kedai pun kupilih untuk sejenak melepas lelah. Sembari menunggu moccacino panas, kubuka lembar demi lembar buku yang telah kubeli. Sungguh, tak ada yang mampu menandingi nikmatnya secangkir kopi ditemani sebuah buku tatkala hujan tiba. Tak berselang lama, sebuah pesan masuk di layar ponsel. Dari seorang kawan yang akan kuberikan undangan. Aku menunggunya di kedai itu sembari larut dengan frasa demi frasa yang membuat mata ini menari ke kanan dan ke kiri untuk menikmatinya.
“Permisi, Mbak, boleh saya duduk di sini?” tanya seseorang padaku.
“Oh, silakan saja, Mas!” jawabku sekenanya tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Yang kutahu, kedai ini semakin ramai. Maka tak ada salahnya berbagi meja dengan yang lainnya. Barangkali dia tak mendapat tempat duduk, begitu pikirku dalam hati. Sunyi, hingga akhirnya lelaki di mejaku itu kembali bersuara. Suara yang tak asing kedengarannya bagiku. Kuhentikan membacaku lalu menoleh ke arahnya. “Frans! Ya Tuhan, dia Frans. Benarkah demikian?”
Frans tersenyum ramah. Tangannya terjulur kepadaku. Aku menyambut uluran tangannya yang dingin di atas meja. Delapan tahun telah berlalu sejak kepergianku waktu itu. Namun, lelaki itu masih sama seperti dulu. Masih gagah dan menawan. Kami berbicara banyak hal selama tak bertemu hingga tiba di detik ini. Meski kami tidak bisa menikah, aku tetap mencintainya. Dia menyuruhku punya anak. Dia ingin melihat anak kecil hadir dalam hidupku. Tapi dengannya, tidak bisa. Mustahil katanya.
Tubuhku bergetar. Aku tak lagi menghiraukan kelanjutan perkataannya. Aku hanya memandang ke arah jendela, menyaksikan gerimis yang masih turun membasahi bumi. Frans ulurkan kembali tangannya untuk menyentuh pipiku yang kini basah oleh air mata yang tak lagi bisa tertahan.
Aku semakin terisak dalam dekapnya. Dan benar, saat matahari hendak terbenam, gerimis semakin deras, berubah menjadi hujan. Dan Frans, duduk menatapku sembari menguatkanku, mengulang kenangan lama, duduk di tepi jendela sembari menikmati hujan.
Frans memang tidak pernah pergi. Dia selalu menungguku. Menemaniku menikmati hujan bertahun-tahun berikutnya hingga tak mampu kuhitung lagi berada di tahun ke berapa kami sekarang ini? Tidak tahu. Tapi manusia-manusia semakin aneh. Aku menarik napas berat menatap jendela yang tertutup sebelum mobil benar-benar melaju.
Ingatanku masih utuh. Tak ada yang kulupakan sedikit pun. Tapi aku diam saja. Bagaimana pun aku tidak akan membiarkan seseorang mengganggu ingatanku yang sempurna ini. Semesta mempertemukan kita hanya untuk saling belajar, bukan saling bersandar.