Malam ini,
di sebuah kedai, berteman rinai
hujan dan secangkir kopi, kutulis sebuah surat
tentang hujan.
Hujan, saksi bisu kisah yang telah terukir antara aku dan Oki, lelaki yang kini berusia 29 tahun dengan sorot mata tajam nan meneduhkan tiap
kali aku memandang. Sungguh aku tak ingat betul kapan pertama kali
bertemu dengannya.
Yang kutahu,
lima belas tahun yang lalu, Oki pindah ke kota ini mengikuti sang ayah yang
dipindahtugaskan dari Bali. Kami saling mengenal beberapa waktu kemudian karena
dia satu kompleks denganku. Dia lima tahun lebih tua dariku, juga termasuk anak yang memiliki
kecerdasan di atas rata-rata. Terbukti dari deretan piala dan piagam yang telah
diterimanya.
Meski
bersahabat dekat, kami memiliki kecintaan masing-masing. Aku adalah salah satu
pecinta hujan, sedangkan Oki adalah salah satu pecinta kopi. Ia kerapkali
berkunjung dari satu kedai ke kedai yang lain untuk mencicipi lezatnya seduhan
kopi.
“Anna...”
“Hmmm...”
“Kamu tahu
nggak, hujan dan kopi bisa menjadi
perpaduan yang istimewa,” katanya kemudian. Aku mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih, kamu begitu menyukai kopi?”
“Karena
kopi memiliki filosofi.”
“Filosofi?”
“Ya. Pahit,
tapi selalu menjadi candu yang nikmat.”
“Nikmat?” tanyaku tak mengerti. Ia hanya tersenyum simpul
sembari memandangi secangkir kopi di hadapannya.
Waktu
begitu cepat berlalu. Kini kami sudah beranjak dewasa dan hubungan ini kian erat
terpilin. Tak ayal, kami menjelma sepasang kekasih yang saling melengkapi satu
sama lain. Tak dapat kupungkiri rasa nyaman tatkala berada di dekatnya. Kurasa,
ia pun demikian. Mungkin ini terjadi karena seringnya kami bersama. Namun entah
mengapa, akhir-akhir ini Oki seakan hilang ditelan bumi. Ia tak dapat
dihubungi. Bahkan, rumahnya selalu sepi, baik pagi, siang, ataupun malam. Hingga suatu ketika, Tante Cindy, ibunda
Oki, memberi kabar bahwa mereka tengah berada di sebuah rumah sakit. Ia pun
menyuruhku segera datang ke rumah sakit itu. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi
tidak karuan. Pikiranku berkecamuk ke mana-mana.
“Tante!”
seruku begitu aku sampai di rumah sakit. Tante Cindy melambai ke arahku.
“Tante, siapa yang sakit?” tanyaku kemudian. Tak ada jawaban dari Tante Cindy.
Ia kemudian menggandeng tanganku memasuki sebuah ruangan. Tampak di situ sosok
yang tak lagi asing bagiku tengah terbaring kaku dengan selang di sekujur
tubuhnya. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Seketika kakiku lemas, seakan tak
kuat lagi untuk menapak. Bagaimana tidak, sosok yang akhir-akhir ini kucari,
ternyata ada di sini. Aku memang ingin bertemu dengannya. Tapi bukan pertemuan
seperti ini yang kuingini.
Saat itu
hujan turun deras
sekali.
Aku hanya bisa menangis. Hatiku hancur berkeping-keping. Kekasih macam apa
aku? Tidak pernah bertanya dia
sakit apa ataupun
apa yang sedang dia rasakan. Aku hanya sibuk membahas hal-hal tentang diriku. Bukankah seharusnya
aku mencoba memahami dirinya juga? Hari itu
dan seterusnya aku hanya bisa
menyalahkan diriku sendiri. Hari-hari pun
kulalui dengan
berat hati. Tak ada lagi
pesan dari Oki
seperti yang selalu kutemui di layar ponselku setiap hari. “Tuhan, sembuhkanlah Oki seperti
sedia kala!” Aku hanya bisa merapalkan doa-doa.
Tepat sore
itu, aku menerima sebuah pesan singkat dari
Tante Cindy bahwa esok Oki akan dimakamkan. Deg. Jantungku seakan berhenti
berdetak. Dunia runtuh seketika. Mimpi-mimpi yang kubangun dengannya
pupus seketika. Aku
menangis sejadi-jadinya, sedih
sesedih-sedihnya. Perasaan-perasaan itu bergejolak menjadi satu dalam hatiku.
Singkat cerita, hujan datang tatkala aku sampai di makam Oki. Tak sekali
pun kuingat bahwa
hujan turun begitu derasnya. Aku berlari
sekencang-kencangnya, tak
peduli terpeleset, jatuh, aku terus bangkit, dan berlari. Hingga akhirnya kutersungkur
di depan pusara dengan sebuah nisan
bertuliskan namanya. Hujan deras saat itu menjadi saksi
betapa hancurnya aku akan kepergiannya.
“Sudah
sejak lahir Oki mengalami kelainan jantung, Anna. Dari ia lahir hingga tumbuh
dewasa, ia terus menjalani terapi. Dokter sudah mendiagnosis bahwa usia Oki tak
akan lama. Bisa bertahan hingga usia 28 tahun itu merupakan salah satu
keajaiban yang Tuhan berikan dalam hidupnya,” Tante Cindy menjelaskan.
“Kenapa
dia tak pernah mengatakan apa-apa, Tante?”
“Ya karena
dia tidak ingin orang lain tahu apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia ingin orang
lain memperlakukannya secara normal, bukan sebagai seseorang yang mengalami
kesakitan,” jelasnya. Aku hanya bisa tersenyum getir mendengar apa yang
disampaikan Tante Cindy.
Tak
terasa, setahun pun berlalu, berganti menjadi rindu. Rindu itu telah mengendap.
Ikhlas walau tak mungkin berbalas. Seperti endapan kopi yang pernah kita teguk
di bawah naungan langit yang temaram. Secangkir kopi lagi malam ini, aku pikir akan cukup untuk melupakan
rinduku padamu. Menggerusnya perlahan dalam paduan rasa pahit yang singgah di
lidahku. Nyatanya tidak. Rindu yang begitu keras kepala ini tetap bercokol di
hatiku. Rasa kecil bernama rindu ini memang sudah terlewatkan olehmu. Seperti
seduhan kopi tanpa gula, pahit. Seakan mengejekku untuk mengabaikannya, tapi
selalu kuulangi. Meneguknya kembali dan lagi. Walau pahit selalu ada di
ujungnya, aku tak peduli.
Masih teringat dalam benakku.
Kala itu, malam tahun baru, kita berteman ribuan kembang api yang menari-nari
di angkasa. Bertaburan. Turut menyemarakkan suasana, seakan tak mau ketinggalan
dengan pasangan muda-mudi yang tengah dilanda api bahagia.
Oki benar. Hujan dan kopi
bisa menjadi perpaduan yang istimewa. Menikmati kopi hangat tatkala hujan turun
rintik-rintik, tandas dalam sekali teguk, namun bisa menjadi candu yang nikmat.
Begitupun rinduku. Bisa hilang dalam sebaris kata, namun selalu kembali untuk mengoyak
hati. Dan bodohnya aku, selalu menikmati setiap goresannya. Kamu yang selalu berada di barisan kedua mungkin
tak paham dengan apa yang kurasakan. Kita saling menyakiti satu sama lain
ketika rasa sudah semakin dalam. Mungkin kamu juga tak mengerti bahwa aku tak
pernah bisa menolak rasa ini walau seringkali kucoba menghindar. Rindu seperti
kopi yang dinikmati tatkala hujan. Pahit, tapi selalu menjadi candu yang
nikmat.
Begitu pula dengan rinduku.
Selalu aku ungkapkan padamu, walau hanya kau balas dengan senyuman abadi yang
tiada akan kembali.
-selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar