Selasa, 09 Juni 2020

Cerpen "Rinai Hujan"

Malam ini, di sebuah kedai, berteman rinai hujan dan secangkir kopi, kutulis sebuah surat tentang hujan. Hujan, saksi bisu kisah yang telah terukir antara aku dan Oki, lelaki yang kini berusia 29 tahun dengan sorot mata tajam nan meneduhkan tiap kali aku memandang. Sungguh aku tak ingat betul kapan pertama kali bertemu dengannya. Yang kutahu, lima belas tahun yang lalu, Oki pindah ke kota ini mengikuti sang ayah yang dipindahtugaskan dari Bali. Kami saling mengenal beberapa waktu kemudian karena dia satu kompleks denganku. Dia lima tahun lebih tua dariku, juga termasuk anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Terbukti dari deretan piala dan piagam yang telah diterimanya.
Meski bersahabat dekat, kami memiliki kecintaan masing-masing. Aku adalah salah satu pecinta hujan, sedangkan Oki adalah salah satu pecinta kopi. Ia kerapkali berkunjung dari satu kedai ke kedai yang lain untuk mencicipi lezatnya seduhan kopi.
“Anna...”
“Hmmm...”
“Kamu tahu nggak, hujan dan kopi bisa menjadi perpaduan yang istimewa,” katanya kemudian. Aku mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih, kamu begitu menyukai kopi?”
“Karena kopi memiliki filosofi.”
“Filosofi?”
“Ya. Pahit, tapi selalu menjadi candu yang nikmat.”
“Nikmat?” tanyaku tak mengerti. Ia hanya tersenyum simpul sembari memandangi secangkir kopi di hadapannya.
Waktu begitu cepat berlalu. Kini kami sudah beranjak dewasa dan hubungan ini kian erat terpilin. Tak ayal, kami menjelma sepasang kekasih yang saling melengkapi satu sama lain. Tak dapat kupungkiri rasa nyaman tatkala berada di dekatnya. Kurasa, ia pun demikian. Mungkin ini terjadi karena seringnya kami bersama. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini Oki seakan hilang ditelan bumi. Ia tak dapat dihubungi. Bahkan, rumahnya selalu sepi, baik pagi, siang, ataupun malam. Hingga suatu ketika, Tante Cindy, ibunda Oki, memberi kabar bahwa mereka tengah berada di sebuah rumah sakit. Ia pun menyuruhku segera datang ke rumah sakit itu. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak karuan. Pikiranku berkecamuk ke mana-mana.
“Tante!” seruku begitu aku sampai di rumah sakit. Tante Cindy melambai ke arahku. “Tante, siapa yang sakit?” tanyaku kemudian. Tak ada jawaban dari Tante Cindy. Ia kemudian menggandeng tanganku memasuki sebuah ruangan. Tampak di situ sosok yang tak lagi asing bagiku tengah terbaring kaku dengan selang di sekujur tubuhnya. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Seketika kakiku lemas, seakan tak kuat lagi untuk menapak. Bagaimana tidak, sosok yang akhir-akhir ini kucari, ternyata ada di sini. Aku memang ingin bertemu dengannya. Tapi bukan pertemuan seperti ini yang kuingini.
Saat itu hujan turun deras sekali. Aku hanya bisa menangis. Hatiku hancur berkeping-keping. Kekasih macam apa aku? Tidak pernah bertanya dia sakit apa ataupun apa yang sedang dia rasakan. Aku hanya sibuk membahas hal-hal tentang diriku. Bukankah seharusnya aku mencoba memahami dirinya juga? Hari itu dan seterusnya aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Hari-hari pun kulalui dengan berat hati. Tak ada lagi pesan dari Oki seperti yang selalu kutemui di layar ponselku setiap hari. “Tuhan, sembuhkanlah Oki seperti sedia kala!” Aku hanya bisa merapalkan doa-doa.
Tepat sore itu, aku menerima sebuah pesan singkat dari  Tante Cindy bahwa esok Oki akan dimakamkan. Deg. Jantungku seakan berhenti berdetak. Dunia runtuh seketika. Mimpi-mimpi yang kubangun dengannya pupus seketika. Aku menangis sejadi-jadinya, sedih sesedih-sedihnya. Perasaan-perasaan itu bergejolak menjadi satu dalam hatiku.
Singkat cerita, hujan datang tatkala aku sampai di makam Oki. Tak sekali pun kuingat bahwa hujan turun begitu derasnya. Aku berlari sekencang-kencangnya, tak peduli terpeleset, jatuh, aku terus bangkit, dan berlari. Hingga akhirnya kutersungkur di depan pusara dengan sebuah nisan bertuliskan namanya. Hujan deras saat itu menjadi saksi betapa hancurnya aku akan kepergiannya.
“Sudah sejak lahir Oki mengalami kelainan jantung, Anna. Dari ia lahir hingga tumbuh dewasa, ia terus menjalani terapi. Dokter sudah mendiagnosis bahwa usia Oki tak akan lama. Bisa bertahan hingga usia 28 tahun itu merupakan salah satu keajaiban yang Tuhan berikan dalam hidupnya,” Tante Cindy menjelaskan.
“Kenapa dia tak pernah mengatakan apa-apa, Tante?”
“Ya karena dia tidak ingin orang lain tahu apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia ingin orang lain memperlakukannya secara normal, bukan sebagai seseorang yang mengalami kesakitan,” jelasnya. Aku hanya bisa tersenyum getir mendengar apa yang disampaikan Tante Cindy.
Tak terasa, setahun pun berlalu, berganti menjadi rindu. Rindu itu telah mengendap. Ikhlas walau tak mungkin berbalas. Seperti endapan kopi yang pernah kita teguk di bawah naungan langit yang temaram. Secangkir kopi lagi malam ini, aku pikir akan cukup untuk melupakan rinduku padamu. Menggerusnya perlahan dalam paduan rasa pahit yang singgah di lidahku. Nyatanya tidak. Rindu yang begitu keras kepala ini tetap bercokol di hatiku. Rasa kecil bernama rindu ini memang sudah terlewatkan olehmu. Seperti seduhan kopi tanpa gula, pahit. Seakan mengejekku untuk mengabaikannya, tapi selalu kuulangi. Meneguknya kembali dan lagi. Walau pahit selalu ada di ujungnya, aku tak peduli.
Masih teringat dalam benakku. Kala itu, malam tahun baru, kita berteman ribuan kembang api yang menari-nari di angkasa. Bertaburan. Turut menyemarakkan suasana, seakan tak mau ketinggalan dengan pasangan muda-mudi yang tengah dilanda api bahagia.
Oki benar. Hujan dan kopi bisa menjadi perpaduan yang istimewa. Menikmati kopi hangat tatkala hujan turun rintik-rintik, tandas dalam sekali teguk, namun bisa menjadi candu yang nikmat. Begitupun rinduku. Bisa hilang dalam sebaris kata, namun selalu kembali untuk mengoyak hati. Dan bodohnya aku, selalu menikmati setiap goresannya. Kamu  yang selalu berada di barisan kedua mungkin tak paham dengan apa yang kurasakan. Kita saling menyakiti satu sama lain ketika rasa sudah semakin dalam. Mungkin kamu juga tak mengerti bahwa aku tak pernah bisa menolak rasa ini walau seringkali kucoba menghindar. Rindu seperti kopi yang dinikmati tatkala hujan. Pahit, tapi selalu menjadi candu yang nikmat.
Begitu pula dengan rinduku. Selalu aku ungkapkan padamu, walau hanya kau balas dengan senyuman abadi yang tiada akan kembali.


-selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar