Jumat, 26 Juni 2020

Belajar Sabar dan Syukur: Sebuah Proses Panjang yang tidak Mudah


Dulu, ketika masih awal kuliah, sekitar tahun 2009, dalam sebuah kelas diskusi, seorang dosen pernah bertanya,” Nak, apa yang hendak kamu cari dengan menuntut ilmu?” Lalu saya pun menjawab,” Tentu saja prestise, Bu.” Kemudian ibu dosen itu berkata lagi,” Nak, kalau kamu menuntut ilmu hanya demi prestise, tiadalah guna ilmu yang kau dapatkan itu. Tuntutlah ilmu dengan mulai menghargai setiap proses menuntut ilmu itu sendiri. Perkuat juga niat dan keyakinanmu, meskipun jalan itu terjal dan berliku. Niscaya engkau pun akan tahu hakikat sesungguhnya ilmu itu.” Saya pun merenungkan betul apa yang dosen saya katakan tersebut.

Suatu hari, saya membaca sebuah buku yang saya pinjam di perpustakaan untuk dipergunakan dalam salah satu mata kuliah sastra. Saya menemukan sebuah tulisan menarik yang intinya demikian: “Ketika masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itu pun kupersempit. Lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya hasrat itu pun tiada hasilnya. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangat yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Celakanya, mereka tak mau diubah. Sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari, andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu aku bisa mengubah dunia.”

Tulisan yang saya baca tersebut rupanya masih cukup relevan dengan apa yang dikatakan dosen saya sebelumnya. Kembali, saya pun merenung. Waktu itu saya masih seorang mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Pengalaman yang saya dapatkan pun masih minim. Yang saya tahu dari kuliah itu sendiri adalah datang, melakukan presensi, kemudian menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Seiring berjalannya waktu, seiring pula dengan pergaulan saya dengan teman-teman yang semakin meluas, cara pandang saya pun perlahan mulai berubah. Saya mengambil waktu di mana saya melakukan refleksi diri terhadap apa yang sesungguhnya saya cari.

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah program studi yang telah saya pilih dengan kemantapan hati, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Mengapa demikian? Sastra adalah bidang yang memang saya minati, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Keinginan saya mendalami sastra semakin besar manakala saya duduk di bangku kelas 2 SMP. Kebetulan saya diajar oleh seorang guru Bahasa Indonesia yang begitu menarik perhatian saya. Masih saya ingat, beliau tidak hanya fasih dalam mengajar, tetapi juga menulis. Bersama sang suami, sudah banyak tulisan bergenre sastra yang dihasilkan oleh beliau. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan menjadi buku. Lalu terbersitlah dalam pikiran saya, suatu hari nanti, saya juga harus bisa menulis. Tidak sekadar menikmati sastra dengan membaca, tapi saya juga harus bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa dinikmati pula oleh orang lain. Siapa tahu, satu di antara tulisan-tulisan saya itu dapat pula menjadi inspirasi untuk orang lain. Itulah mimpi saya waktu itu.

Kembali ke masa perkuliahan saya tadi. Setelah berhasil masuk prodi bahasa dan sastra, saya pun bertekad meraih mimpi, meskipun ada harga mahal yang harus saya bayar: pengorbanan dan kerja keras. Saya menyadari bahwa saya tidak seperti teman-teman saya yang lain. Keterbatasan kedua orang tua saya yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik, tak menyurutkan langkah saya, meski harus tertatih-tatih, saya tidak boleh berhenti di tengah jalan.

Masuk semester tiga, saya mengambil keputusan untuk bekerja paruh waktu demi meringankan biaya yang harus dikeluarkan orang tua saya. Maka, pagi hari pun saya kuliah, sore hingga malam hari saya bekerja. Semua saya lakukan, walau kadang ingin sekali rasanya saya menangis dalam hati. Namun ketika ingat wajah kedua orang tua saya, semangat ini pun kembali membara. Ketika liburan semester tiba, saatnya saya bekerja full time, menyasar pertokoan-pertokoan di sepanjang Malioboro, bersama seorang teman yang kini sudah menjadi dosen pula di kampus yang sama, kami bekerja mengisi liburan semester yang cukup panjang. Hal itu tak berhenti saya lakukan hingga suatu hari jalan Tuhan menuntun saya mendapatkan beasiswa. Sejak itulah saya bisa sedikit bernapas lega karena terbantu dengan beasiswa tersebut hingga lulus kuliah dan meraih gelar sarjana.

Menunggu wisuda kala itu, sekitar tahun 2013, saya banyak mengisi waktu dengan menulis, mulai dari cerpen dan puisi. Terkadang, tulisan-tulisan itu saya ikutkan ke dalam lomba-lomba yang saya temukan. Terkadang pula coba saya masukkan ke redaksi surat-surat kabar. Saya juga mulai membuka platform tulisan di Hipwee dan menjadi kontributor di dalamnya. Pada tahun 2015, saya aktif menulis di Hipwee. Saya pun tidak pernah menyangka bahwa hasil tulisan saya di Hipwee bisa di-review oleh puluhan ribu orang kala itu. Terima kasih, Hipwee, telah mengajari saya bagaimana menjadi seorang penulis yang sesungguhnya, meskipun kini platform tersebut sudah jarang saya buka dan beralih ke platform blog pribadi saya.

Kini saya telah mengajar di salah satu SMP negeri yang ada di Yogyakarta. Sembari mengajar, saya masih tetap aktif menulis. Bagi saya, menulis ibarat seorang teman yang bersedia diajak mencurahkan segala keluh kesah yang saya rasakan. Bagaimana menjadi seorang penulis yang hebat? Saya tidak pernah mempunyai mimpi sebagai seorang penulis yang hebat, cukup menulis apapun yang sedang dipikirkan, kemudian membagikannya kepada para pembaca. Tak perlu menjadi seorang yang hebat dalam hal apapun, tapi lakukan apapun yang bisa dilakukan dengan cara konsisten, cukup itu.

Dari sekian proses yang terjadi dan saya alami sampai detik ini, saya belajar banyak hal, yaitu tentang bagaimana kita bersabar menghadapi keadaan yang tidak mudah dan selalu bersyukur terhadap apapun yang masih bisa kita nikmati. Maka, tiada satu pun nikmat Tuhan yang bisa kita ingkari.

Seringkali kita merasa bahwa sudah berdoa sedemikian rupa, tapi mengapa Tuhan belum juga menjawab-jawab doa-doa tersebut? Tunggu dulu, jangan lantas menyalahkan Tuhan, bisa jadi kita yang kurang bersabar. Tapi, bisa jadi pula Tuhan tidak mengabulkan doa yang kita pinta lalu menggantinya dengan sesuatu yang lain, yang tentunya jauh lebih baik. Tugas kita sebagai seorang hamba hanya berusaha dan percaya bahwa suatu hari nanti, Tuhan akan menjawab apa yang kita pinta.

Semakin dewasa usia, kini saya belajar menerima dengan penerimaan yang terkadang juga tidak mudah untuk saya lakukan. Bahkan ketika apa yang saya minta tak kunjung tiba, saya percaya bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang baik untuk saya, mungkin di saat saya tidak mengiranya. Seperti rencana baik Tuhan di pertengahan tahun ini untuk saya, setelah serentetan peristiwa kurang mengenakkan yang saya alami sepanjang tahun, Tuhan menghadiahi saya beasiswa untuk melanjutkan pendidikan profesi saya. Hal ini datang tanpa saya menduganya. Masyaallah, maha besar kuasa Tuhan. Saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik perencana. Dari sini saya belajar apa hakikat ilmu itu yang sesungguhnya, ialah ketika kita mau terus belajar dalam penerimaan terbaik yang Tuhan gariskan dan menjalani prosesnya dengan sabar dan bersyukur setelahnya. Saya baru memahami apa yang dimaksud oleh dosen saya di awal tadi. Bahwa ilmu bukanlah untuk sebuah prestise seperti yang saya kemukakan dulu, melainkan sebuah proses panjang yang tidak mudah, tapi dijalani dengan penuh rasa sabar. Maka kita pun akan bersyukur terhadap apapun yang Tuhan berikan hari kemarin, hari ini, maupun hari-hari yang akan datang. Kita masih punya pengharapan besar yang sudah Tuhan sediakan asalkan tetap bersabar dan terus bertekun dalam doa, serta bersyukur untuk kemuliaan dan penyertaan Tuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar