Senin, 22 Juni 2020

YANG LEPAS YANG TERHEMPAS: Catatan Perjalanan


Sebuah Review Catatan Awal Tahun 2020

 

Suatu sore di penghujung hari nan hujan, saya iseng membaca sebuah buku bertajuk “Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012” buah pena salah satu band yang saya favoritkan sejak duduk di bangku kelas dua SMP hingga kini saya sudah beranjak dewasa dan mengajar pula di kelas dua SMP. Satu kebetulan yang tak terkira.

Saya masih ingat betul bagaimana dulu pertama mengidolakan band beranggotakan enam personil yang bernama “Peterpan” ini. Sepanjang perjalanan study tour ke Bandung, sekitar tahun 2004-2005, lagu-lagu grup band ini mengalun dengan indah di telinga saya dan kawan-kawan, menghilangkan segala kepenatan yang melanda. Awalnya, saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu Peterpan. Namun, setelah lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan lancar oleh kawan-kawan, saya baru mulai tertarik dengan Peterpan. Bus pun melaju dari Jogja ke Bandung dengan penuh suka cita. Masih terngiang dengan jelas lagu-lagu dengan judul “Ada Apa Denganmu”, “Mimpi yang Sempurna”, “Kukatakan dengan Indah”, “Sahabat”, “Aku dan Bintang”, “Topeng”, “Semua tentang Kita” serta masih banyak lagi lagu-lagu lainnya. Semua larut menyanyikan lagu-lagu tersebut. Saya sendiri heran bagaimana kawan-kawan saya begitu lancarnya menghafal lirik dalam lagu-lagu tersebut, seolah liriknya begitu familiar di telinga. Karena termasuk orang yang tidak percaya diri dalam bernyanyi, saya memilih diam sembari menikmati lagu-lagu tersebut.

Sepulang dari study tour, saya pergi ke sebuah pasar tradisional. Lalu menelusuri satu per satu toko kaset untuk menemukan apa yang saya cari, lagu-lagu dari band Peterpan. Dan ketemulah apa yang saya cari. Saya pulang dan menyalakannya. Sejak saat itu pun saya menjadi tertarik dengan band yang beranggotakan enam orang pemuda dari Kota Bandung tersebut.

Perjalanan memang tidak selalu seiring dan setujuan. Begitu pula dengan band favorit saya. Lika-liku perjalanan dan pasang-surut performa band bernama Peterpan (sebelum berganti nama menjadi Noah) tersebut cukup menarik dan senantiasa saya ikuti. Hingga suatu ketika, mereka meluncurkan sebuah buku. Buku ini adalah kumpulan catatan perjalanan masing-masing personilnya dari awal band terbentuk hingga masih eksis berdiri hingga kini.

Pada salah satu halaman buku tersebut, saya menemukan sebuah kata-kata motivasi yang menyentuh batin saya. Bunyinya demikian:

Pada saat masalah menghampirimu, janganlah berkecil hati

Itu adalah pasangan hidupmu

Itu adalah takdirmu

Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan

Itu adalah pelengkap hidupmu

Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

 

Penilaian Tuhan tidak dimulai saat kau menerimanya

Karena semua orang akan menerimanya, tanpa terkecuali

Selayaknya seperti orang-orang sebelummu

 

Jangan pernah berusaha menolak kesalahanmu

Terimalah itu sebagai bekalmu, untuk perjalanan panjangmu

Justru kesalahanmu dimulai ketika kau menolak menerima kesalahanmu

Sedangkan kau menyadarinya

 

Lapangkanlah dadamu

 

Ada banyak motivasi yang bisa saya ambil dari buku tersebut, tentang bagaimana kita memaknai berbagai permasalahan yang mendera dalam hidup dan bagaimana kita bersikap untuk kemudian bangkit dari permasalahan tersebut. Sangat menginspirasi.

 Hidup adalah tentang sebuah penerimaan. Karena hakikatnya, tak ada yang benar-benar sempurna. Ketika yang dicari dalam hidup hanyalah sebuah kesempurnaan, maka saat kau merasa bahwa kau telah mendapatkan satu kesempurnaan, kau pun akan terus memburu kesempurnaan-kesempurnaan yang lain. Dan itu tidak akan pernah berhenti. Kau pun tak akan pernah merasa cukup. Lain halnya ketika yang kau cari dalam hidup adalah sebuah penerimaan, entah itu baik atau buruk, kemudian kau belajar dari itu dan memahami hakikat baik dan buruk tersebut, maka sesungguhnya kaulah kesempurnaan itu.

Kita harus menyadari, bahwa tak ada yang baik nyata-nyata adalah baik. Pun begitu dengan buruk, tak ada yang nyata-nyata buruk. Baik dan buruk itu hanya tentang nilai rasa. Sebab, apa yang dipandang baik, belum tentu sesungguhnya adalah baik. Begitu pula sebaliknya, apa yang dipandang buruk, belum tentu sesungguhnya adalah buruk.

Kualitas dalam diri kita ditunjukkan dengan cara belajar dan bekerja keras. Seperti apapun masa lalu, bahkan ketika kau dipandang sebagai sesuatu yang sangat buruk di mata orang lain, tapi kau mau belajar dan ikhlas, kemudian bangkit dan bekerja keras, maka bisa jadi suatu hari nanti kau adalah pribadi yang sangat mengagumkan. Pembalasan diri terbaik adalah ketika kau bisa menunjukkan kepada mereka, bahkan kepada dunia bahwa kau tumbuh dengan hebat karena apa yang telah terjadi dan bagaimana kau melalui lalu bangkit menjadi versi yang berbeda dengan dirimu sebelumnya. Kau telah melampaui apa yang bahkan sebelumnya tak pernah ada dalam bayanganmu, juga bayangan semua orang.

Semua orang pernah diuji, bahkan dengan hal paling pahit sekalipun dalam hidup. Kadang, di luar sana, kau dapat melihat orang-orang yang sangat mengagumkan dan memiliki karya-karya yang luar biasa. Kemudian mereka dipuji banyak orang karena ‘karya emas’ tersebut. Tapi tahukah kau bahwa di balik itu semua, merekalah orang-orang yang pernah sakit sesakit-sakitnya, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya? Lalu, mengapa hari ini mereka tumbuh dengan begitu hebat? Itu karena mereka menjadikan pengalaman di masa lalu sebagai sebuah cambuk untuk bangkit dan melakukan perubahan, hingga yang kau lihat hari ini adalah mereka orang-orang hebat yang tampil dengan begitu menakjubkannya.

Apapun permasalahan yang pernah menderamu, entah itu dulu atau yang kau temui hari ini, percayalah bahwa kau bisa melalui semua ini. Kau hanya butuh untuk menerima dan mengikhlaskannya. Lalu tumbuhlah seperti orang-orang tersebut. Jadikan apapun masalah dalam dirimu sebagai sebuah dorongan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Guru terbaik adalah masa lalu. Dan pengalaman terhebat adalah proses yang bisa kau lalui untuk bangkit dan berdiri hingga saat ini. Lalu kau pun akan menemui versi terbaik dari dirimu suatu hari nanti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar