Sebuah
Review Catatan Awal Tahun 2020
Suatu sore di
penghujung hari nan hujan, saya iseng membaca sebuah buku bertajuk “Kisah
Lainnya: Catatan 2010-2012” buah pena salah satu band yang saya favoritkan
sejak duduk di bangku kelas dua SMP hingga kini saya sudah beranjak dewasa dan
mengajar pula di kelas dua SMP. Satu kebetulan yang tak terkira.
Saya masih ingat betul
bagaimana dulu pertama mengidolakan band beranggotakan enam personil yang
bernama “Peterpan” ini. Sepanjang perjalanan study tour ke Bandung, sekitar tahun 2004-2005, lagu-lagu grup band
ini mengalun dengan indah di telinga saya dan kawan-kawan, menghilangkan segala
kepenatan yang melanda. Awalnya, saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu
Peterpan. Namun, setelah lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan lancar oleh
kawan-kawan, saya baru mulai tertarik dengan Peterpan. Bus pun melaju dari
Jogja ke Bandung dengan penuh suka cita. Masih terngiang dengan jelas lagu-lagu
dengan judul “Ada Apa Denganmu”, “Mimpi yang Sempurna”, “Kukatakan dengan
Indah”, “Sahabat”, “Aku dan Bintang”, “Topeng”, “Semua tentang Kita” serta
masih banyak lagi lagu-lagu lainnya. Semua larut menyanyikan lagu-lagu
tersebut. Saya sendiri heran bagaimana kawan-kawan saya begitu lancarnya
menghafal lirik dalam lagu-lagu tersebut, seolah liriknya begitu familiar di telinga. Karena termasuk
orang yang tidak percaya diri dalam bernyanyi, saya memilih diam sembari
menikmati lagu-lagu tersebut.
Sepulang dari study tour, saya pergi ke sebuah pasar
tradisional. Lalu menelusuri satu per satu toko kaset untuk menemukan apa yang
saya cari, lagu-lagu dari band Peterpan. Dan ketemulah apa yang saya cari. Saya
pulang dan menyalakannya. Sejak saat itu pun saya menjadi tertarik dengan band
yang beranggotakan enam orang pemuda dari Kota Bandung tersebut.
Perjalanan memang tidak
selalu seiring dan setujuan. Begitu pula dengan band favorit saya. Lika-liku
perjalanan dan pasang-surut performa band bernama Peterpan (sebelum berganti
nama menjadi Noah) tersebut cukup menarik dan senantiasa saya ikuti. Hingga suatu
ketika, mereka meluncurkan sebuah buku. Buku ini adalah kumpulan catatan
perjalanan masing-masing personilnya dari awal band terbentuk hingga masih
eksis berdiri hingga kini.
Pada salah satu halaman
buku tersebut, saya menemukan sebuah kata-kata motivasi yang menyentuh batin
saya. Bunyinya demikian:
Pada
saat masalah menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu
adalah pasangan hidupmu
Itu
adalah takdirmu
Sesuatu
yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu
adalah pelengkap hidupmu
Itu
adalah gurumu, maka cintailah dia
Penilaian
Tuhan tidak dimulai saat kau menerimanya
Karena
semua orang akan menerimanya, tanpa terkecuali
Selayaknya
seperti orang-orang sebelummu
Jangan
pernah berusaha menolak kesalahanmu
Terimalah
itu sebagai bekalmu, untuk perjalanan panjangmu
Justru
kesalahanmu dimulai ketika kau menolak menerima kesalahanmu
Sedangkan
kau menyadarinya
Lapangkanlah
dadamu
Ada banyak motivasi
yang bisa saya ambil dari buku tersebut, tentang bagaimana kita memaknai
berbagai permasalahan yang mendera dalam hidup dan bagaimana kita bersikap
untuk kemudian bangkit dari permasalahan tersebut. Sangat menginspirasi.
Hidup adalah tentang sebuah penerimaan. Karena
hakikatnya, tak ada yang benar-benar sempurna. Ketika yang dicari dalam hidup
hanyalah sebuah kesempurnaan, maka saat kau merasa bahwa kau telah mendapatkan
satu kesempurnaan, kau pun akan terus memburu kesempurnaan-kesempurnaan yang
lain. Dan itu tidak akan pernah berhenti. Kau pun tak akan pernah merasa cukup.
Lain halnya ketika yang kau cari dalam hidup adalah sebuah penerimaan, entah
itu baik atau buruk, kemudian kau belajar dari itu dan memahami hakikat baik
dan buruk tersebut, maka sesungguhnya kaulah kesempurnaan itu.
Kita harus menyadari,
bahwa tak ada yang baik nyata-nyata adalah baik. Pun begitu dengan buruk, tak
ada yang nyata-nyata buruk. Baik dan buruk itu hanya tentang nilai rasa. Sebab,
apa yang dipandang baik, belum tentu sesungguhnya adalah baik. Begitu pula
sebaliknya, apa yang dipandang buruk, belum tentu sesungguhnya adalah buruk.
Kualitas dalam diri
kita ditunjukkan dengan cara belajar dan bekerja keras. Seperti apapun masa
lalu, bahkan ketika kau dipandang sebagai sesuatu yang sangat buruk di mata
orang lain, tapi kau mau belajar dan ikhlas, kemudian bangkit dan bekerja
keras, maka bisa jadi suatu hari nanti kau adalah pribadi yang sangat
mengagumkan. Pembalasan diri terbaik adalah ketika kau bisa menunjukkan kepada
mereka, bahkan kepada dunia bahwa kau tumbuh dengan hebat karena apa yang telah
terjadi dan bagaimana kau melalui lalu bangkit menjadi versi yang berbeda
dengan dirimu sebelumnya. Kau telah melampaui apa yang bahkan sebelumnya tak
pernah ada dalam bayanganmu, juga bayangan semua orang.
Semua orang pernah
diuji, bahkan dengan hal paling pahit sekalipun dalam hidup. Kadang, di luar
sana, kau dapat melihat orang-orang yang sangat mengagumkan dan memiliki
karya-karya yang luar biasa. Kemudian mereka dipuji banyak orang karena ‘karya
emas’ tersebut. Tapi tahukah kau bahwa di balik itu semua, merekalah
orang-orang yang pernah sakit sesakit-sakitnya, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya? Lalu,
mengapa hari ini mereka tumbuh dengan begitu hebat? Itu karena mereka
menjadikan pengalaman di masa lalu sebagai sebuah cambuk untuk bangkit dan
melakukan perubahan, hingga yang kau lihat hari ini adalah mereka orang-orang
hebat yang tampil dengan begitu menakjubkannya.
Apapun permasalahan
yang pernah menderamu, entah itu dulu atau yang kau temui hari ini, percayalah
bahwa kau bisa melalui semua ini. Kau hanya butuh untuk menerima dan mengikhlaskannya.
Lalu tumbuhlah seperti orang-orang tersebut. Jadikan apapun masalah dalam
dirimu sebagai sebuah dorongan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih
baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar