Rabu, 10 Juni 2020

Cerpen "Anak-anak Jalanan yang Ingin Sekolah"

 (sebuah cerpen kolaborasi dengan Muhammad Rizki Oktavian SMPN 1 Sewon, Bantul 2018)


Matahari bersinar terik hari ini. Aku menaiki tangga menuju ruang kelas yang ada di lantai paling atas. Sebenarnya ada lift untuk menuju ke lantai atas. Namun, aku lebih suka menapaki ratusan anak tangga setiap hari. Di tangga, ada keistimewaan tersendiri. Sering kulihat panorama Kota Surabaya dari atas ketinggian. Tak jarang, kulihat anak-anak jalanan yang berlarian ke sana ke mari entah untuk apa. Mungkin untuk mengais rezeki atau sekadar bercengkrama.
Aku sempat merasa bingung, mengapa pendidikan di Indonesia belum merata. Ke manakah janji-janji para pemimpin saat berkampanye? Apakah mereka hanya menggunakan kata-kata manis untuk meminang hati rakyat? Semua itu tak berbuah bukti sedikit pun. Mereka yang menjanjikan kenikmatan pendidikan kepada rakyat jelata hanya berdusta. Aku tak bisa menutup mata dari kenyataan yang ada.
Langkah kakiku pun terhenti di tangga terakhir. Aku bergegas masuk kelas karena guru sejarah tepat berada di belakangku. Kuletakkan tas di bangku sebelah jendela seperti biasa. Entah mengapa, aku selalu ingin di situ, serasa ada magnet yang terus menarikku.
Guru sejarah mulai menerangkan materi tentang manusia purba. Ah, aku sungguh tak suka dengan materi itu. Pandanganku justru terpusat pada jendela guna menghadapi kebosanan ini. Aku sering mendengar sayup-sayup teriakan. Konon, kata tukang kebun di sini, itu adalah teriakan arwah Letnan militer Belanda yang terbunuh saat peperangan dengan Bung Tomo dulu. Tetapi pernyataan itu aku sangkal. Setelah melihat lebih tajam lagi, ada beberapa tangan yang berpegangan pada pagar balkon yang ditumbuhi lumut di samping kelasku. Tangan-tangan itu hitam legam. Banyak bekas luka yang menggoresi punggung tangan maupun jarinya.
Pandanganku semakin kutujukan ke arah tangan-tangan itu. Semakin lama, kepala pun mulai terlihat. Ternyata, itu adalah anak-anak jalanan yang tadi kulihat di tangga. Pantas saja ada teriakan. Mereka terus saja memandang ke arahku. Apakah mereka ingin melihatku? Saat kuarahkan diriku ke arah lain, mereka tetap saja pada pandangan yang sama. Begitu kulihat di depan, Ibu Guru tengah menerangkan materi dengan serius. Ternyata, anak-anak tersebut sedang melihat dan mendengarkan penjelasan dari Ibu Guru, bukan memandangku. Kini, aku tahu bahwa mereka juga ingin menikmati masa kecil sepertiku. Anak-anak itu rela memanjat tembok nan tinggi  demi mendapatkan ilmu dan merasakan indahnya pendidikan, meski harus kucing-kucingan agar tak ada orang yang tahu.
“Hai...”
Kulambaikan tangan dan kusapa mereka dengan nada mendesis agar tak ketahuan oleh guru. Namun mereka begitu takut dan seketika bersembunyi saat tahu aku memperhatikan dan melambaikan tangan. Ya Tuhan, aku sangat iba  pada mereka. Di zaman modernisasi seperti ini ternyata masih ada orang-orang yang tak tersentuh bangku pendidikan karena kemiskinan. Mereka bahkan harus bekerja di usia yang masih sangat belia. Lantas, apakah negeri yang melimpah akan sumber daya ini tak dapat menjamin pemerataan pendidikan?
“ Apa yang sedang kamu lihat, Dito?” suara guru sejarah yang datang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“ Itu, Bu!” ucapku sembari menunjuk ke arah anak-anak jalanan yang kini lari berhamburan.
“ Oh... Mereka memang sering datang dan belajar ke mari,” sahut Ibu Guru.
“ Jadi, Ibu sudah mengetahuinya?” tanyaku penasaran.
“ Ya, Ibu juga sering memperhatikan mereka. Ibu salut pada mereka yang walaupun di tengah keterbatasan tetap gigih dalam belajar.”
“ Sekolah tidak akan melarang mereka datang lagi kan, Bu?” tanyaku seakan memohon.
“ Tidak. Tak lama lagi mereka akan menjadi bagian dari kita,” jawab Bu Guru sembari tersenyum.
“ Maksud Ibu?” aku tak mengerti.
“ Mereka akan bersekolah di sini karena peran serta para donatur yang bersedia menanggung biaya pendidikan mereka kelak. Ya sudah, sekarang kembali fokus ke materi ya!” ucap Bu Guru sembari kembali ke depan.
“ Oh... baik, Bu!”
Hatiku berbunga-bunga. Entah mengapa, aku turut senang mendengar kabar gembira ini. Kukira mereka tak akan bisa belajar sepertiku. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Ambisi dan hasrat mereka untuk bersekolah akan segera terwujud. Aku menjadi semakin percaya bahwa bila ada keyakinan, di situ pasti ada jalan. Man jadda wa jadda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar