Kilau emas sang surya
yang belum bangun dari tidurnya membuat gradasi biru dan jingga yang membias
cakrawala. Venus, si bintang fajar, masih terlihat di ufuk timur dengan begitu
jelas. Beberapa bintang masih berkedip-kedip mengeluarkan cahaya putih nan
memukau. Namun, semua itu lenyap seketika, terhempas oleh sinar mentari yang
mulai beranjak menuju singgasana. Maka usailah pemandangan yang memukau
tersebut.
Pagi hari, tatkala
libur tiba seperti ini, aku dan teman-teman biasanya sudah pergi bermain ke
tanah lapang, memainkan permainan tradisional seperti ular naga, engklek,
egrang, lompat tali, petak umpet, dan lain-lain. Tapi sepekan terakhir ini aku
dan teman-teman sudah tak bisa melakukan hal seperti itu lagi. Semua telah
berakhir. Sama halnya dengan pemandangan langit yang hilang diterpa sinar
matahari. Tempat bermain kami sudah berubah menjadi susunan batu bata yang
keras dan tinggi. Ladang-ladang kami juga sudah hancur diporak-porandakan
alat-alat berat. Entah pagi, siang, senja, maupun malam, kampungku terus
dibisingkan oleh suara isak tangis warga yang kehilangan lahan perkebunan sekaligus
mata pencahariannya.
Sebulan lalu, datanglah
seorang pria tegap, pendek, berkemeja putih bersih sembari membawa
kertas-kertas berisi dokumen penting yang dijaga ketat oleh dua orang
berkacamata hitam, bertubuh kekar, dan tinggi. Mereka datang ke kantor kepala
desa. Rupanya, mereka adalah kontraktor yang akan menangani proyek pembangunan
perumahan-perumahan elite di kawasan
ini. Maka para warga harus rela direlokasi ke tempat yang telah disediakan demi
kelancaran pembangunan yang telah ditetapkan. Mereka hanya memberi waktu tiga
minggu bagi kami untuk pindah.
Hari semakin siang. Aku
masih terbaring di atas ranjang. Sedih rasanya memikirkan nasib kampungku ini
yang sebentar akan disulap menjadi bangunan-bangunan mewah dengan fasilitas
penunjang yang serba modern. Aku melihat atap-atap rumah kecilku yang telah
dipenuhi lumut-lumut kering. Apakah mereka tega merenggut harta kecil yang
kupunya ini? Tiba-tiba kudengar suara teman-teman yang menghampiriku. Aku pun
keluar meninggalkan kamar. Kubuka pintu rumah. Sinar mentari begitu terik,
menyengat kulit.
“Ada apa teman-teman?”
“Ayo ikut kami!” sahut
salah seorang temanku.
“Untuk apa?”
“Sudahlah, jangan
banyak bertanya. Ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri.”
Aku pun berjalan gontai
mengikuti mereka. Setapak demi setapak jalan kutelusuri.
“Lihatlah truk-truk itu!
Sawah ladang kita sudah dipenuhi bahan bangunan,” teriak salah satu temanku
kemudian.
Mataku melirik ke arah
yang ditunjuknya. Kulihat pondasi-pondasi bangunan mulai dikerjakan. Di
beberapa bagian, batu bata bahkan sudah tersusun dengan rapi di atas pondasi
tersebut. Rupanya pembangunan proyek perumahan mewah itu benar-benar dimulai.
Tak ada lagi pohon-pohon yang tersisa. Semua dibabat habis oleh pemborong yang
membangun lahan itu. Udara terasa gerah dan panas. Air sungai yang mengalir di
sekitar sawah ladang kami telah berubah dari yang semula jernih dan bersih
menjadi kotor dan tercemar sehingga ikan-ikan kecil penghuninya pun mati.
Alat-alat berat ada di mana-mana, membantu proses mereka mengubah desa kami
yang semula sejuk menjadi gersang.
Kukira, kami telah
salah dalam memilih pemimpin. Mana janji-janji mereka saat berkampanye dulu?
Mana bukti dari kata-kata yang akan menyejahterakan rakyat? Semua itu ternyata
hanya ilusi semata. Tiada satu pun ucapan mereka yang menjadi nyata. Hasrat
negeri ini untuk merdeka seutuhnya tak akan bisa tercapai selama rakyat kecil
masih tertindas oleh kepentingan orang-orang yang lebih berkuasa.
Aku dan teman-teman tak
bisa menemukan tempat bermain kami lagi. Sepanjang jalan yang kulintasi, aku
bahkan terus meneteskan air mata. Memori masa kecil di mana tempat kami
bergurau, bermain-main, dan saling berbagi kebersamaan sudah dipendam oleh
proyek-proyek raksasa yang telah disetujui pemerintah. Angin menderu, menyapu
debu-debu yang beterbangan. Hanya satu kenangan yang masih tersisa, papan
ayunan kayu yang terbelah menjadi dua, tertimpa besi-besi besar. Air mata pun
kian deras membanjiri pipi. Teman-teman memeluk diriku. Kami menangisi kenangan
yang telah mati satu per satu. Kemarin, mimpi kami untuk bersekolah di
sekolah-sekolah favorit telah pupus oleh peraturan sistem zonasi yang
ditetapkan pemerintah. Lantas, esok apa lagi yang akan kembali pupus di hadapan
kami? Andai aku adalah orang yang berkuasa, akan kubuat anak-anak bisa menikmati
masa kecilnya dengan bahagia hingga tiada lagi tetesan air mata.
Tiba-tiba, datang
sekumpulan warga kampung sembari membawa alat-alat seadanya, tapi berukuran
cukup besar. Bapak-bapak, ibu-ibu yang membawa anak-anaknya, bahkan orang-orang
yang telah lanjut usia pun bergabung menjadi satu. Mereka datang dengan
menuntut keadilan, tak terima jika tanahnya harus digusur demi pembangunan.
Spanduk-spanduk besar berisi tulisan “Kembalikan tanah kami” terpampang di
mana-mana. Air mata kami terus bercucuran. Walau bagaimanapun, tanah ini telah
dihuni kami selama puluhan tahun. Apakah orang-orang yang berkuasa itu tak bisa
luluh hatinya melihat dan mendengar tangisan kami?
“Kembalikan tanah
kami!” ucap salah satu warga dengan berapi-api.
“Jangan hancurkan rumah
kami!” ucap salah seorang nenek pada si pria pendek yang turut menyaksikan aksi
kami.
“Kami sudah mengganti
seluruh kerugian dengan menyediakan rumah susun bagi kalian!” ujar si pria
pendek kemudian.
“Itu tak akan cukup
bagi kami. Bagaimana kami bisa bekerja tanpa sawah dan ladang kami?” tanya
salah seorang warga yang lain.
“Kalian akan
mendapatkan pelatihan yang mumpuni untuk dapat bekerja maupun membuka lapangan
pekerjaan sendiri. Pembangunan rusun juga akan dilengkapi dengan fasilitas yang
memadai. Kalian mau meninggalkan lahan ini dengan sukarela ataupun terpaksa,
kami tetap akan merelokasi dan membangun tempat ini. Sudah menjadi keputusan
pemerintah pula hal ini!” ucap si pria berbadan pendek sembari menunjukkan
surat keterangan dari pemerintah terkait relokasi warga di daerah ini.
Kami pun tak punya
pilihan lain. Apa daya, rakyat kecil selalu saja tersingkirkan oleh kepentingan
penguasa. Maka kami menghentikan aksi ini dan kembali ke rumah sembari
mengemasi barang-barang kami, meninggalkan kampung kecil ini, dan beranjak ke
rumah-rumah susun, meski fasilitas di rusun tak seindah yang dijanjikan.
Senja kembali menguasai
cakrawala. Hari akan segera berakhir. Semua harapan kami juga telah mati
seiring berakhirnya hari. Para warga termasuk keluargaku pun meninggalkan
kampung kami yang sangat berharga. Ini harta kami satu-satunya. Biarlah kami
relakan ini semua demi pembangunan dan kepentingan penguasa. Satu pintaku,
semoga ke depannya tak ada lagi orang-orang yang mengalami nasib serupa, cukup
kami saja.
---Selesai---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar