Senin, 22 Juni 2020

Cerpen "Penghujung Senja"

Kilau emas sang surya yang belum bangun dari tidurnya membuat gradasi biru dan jingga yang membias cakrawala. Venus, si bintang fajar, masih terlihat di ufuk timur dengan begitu jelas. Beberapa bintang masih berkedip-kedip mengeluarkan cahaya putih nan memukau. Namun, semua itu lenyap seketika, terhempas oleh sinar mentari yang mulai beranjak menuju singgasana. Maka usailah pemandangan yang memukau tersebut.

Pagi hari, tatkala libur tiba seperti ini, aku dan teman-teman biasanya sudah pergi bermain ke tanah lapang, memainkan permainan tradisional seperti ular naga, engklek, egrang, lompat tali, petak umpet, dan lain-lain. Tapi sepekan terakhir ini aku dan teman-teman sudah tak bisa melakukan hal seperti itu lagi. Semua telah berakhir. Sama halnya dengan pemandangan langit yang hilang diterpa sinar matahari. Tempat bermain kami sudah berubah menjadi susunan batu bata yang keras dan tinggi. Ladang-ladang kami juga sudah hancur diporak-porandakan alat-alat berat. Entah pagi, siang, senja, maupun malam, kampungku terus dibisingkan oleh suara isak tangis warga yang kehilangan lahan perkebunan sekaligus mata pencahariannya.

Sebulan lalu, datanglah seorang pria tegap, pendek, berkemeja putih bersih sembari membawa kertas-kertas berisi dokumen penting yang dijaga ketat oleh dua orang berkacamata hitam, bertubuh kekar, dan tinggi. Mereka datang ke kantor kepala desa. Rupanya, mereka adalah kontraktor yang akan menangani proyek pembangunan perumahan-perumahan elite di kawasan ini. Maka para warga harus rela direlokasi ke tempat yang telah disediakan demi kelancaran pembangunan yang telah ditetapkan. Mereka hanya memberi waktu tiga minggu bagi kami untuk pindah.

Hari semakin siang. Aku masih terbaring di atas ranjang. Sedih rasanya memikirkan nasib kampungku ini yang sebentar akan disulap menjadi bangunan-bangunan mewah dengan fasilitas penunjang yang serba modern. Aku melihat atap-atap rumah kecilku yang telah dipenuhi lumut-lumut kering. Apakah mereka tega merenggut harta kecil yang kupunya ini? Tiba-tiba kudengar suara teman-teman yang menghampiriku. Aku pun keluar meninggalkan kamar. Kubuka pintu rumah. Sinar mentari begitu terik, menyengat kulit.

“Ada apa teman-teman?”

“Ayo ikut kami!” sahut salah seorang temanku.

“Untuk apa?”

“Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri.”

Aku pun berjalan gontai mengikuti mereka. Setapak demi setapak jalan kutelusuri.

“Lihatlah truk-truk itu! Sawah ladang kita sudah dipenuhi bahan bangunan,” teriak salah satu temanku kemudian.

Mataku melirik ke arah yang ditunjuknya. Kulihat pondasi-pondasi bangunan mulai dikerjakan. Di beberapa bagian, batu bata bahkan sudah tersusun dengan rapi di atas pondasi tersebut. Rupanya pembangunan proyek perumahan mewah itu benar-benar dimulai. Tak ada lagi pohon-pohon yang tersisa. Semua dibabat habis oleh pemborong yang membangun lahan itu. Udara terasa gerah dan panas. Air sungai yang mengalir di sekitar sawah ladang kami telah berubah dari yang semula jernih dan bersih menjadi kotor dan tercemar sehingga ikan-ikan kecil penghuninya pun mati. Alat-alat berat ada di mana-mana, membantu proses mereka mengubah desa kami yang semula sejuk menjadi gersang.

Kukira, kami telah salah dalam memilih pemimpin. Mana janji-janji mereka saat berkampanye dulu? Mana bukti dari kata-kata yang akan menyejahterakan rakyat? Semua itu ternyata hanya ilusi semata. Tiada satu pun ucapan mereka yang menjadi nyata. Hasrat negeri ini untuk merdeka seutuhnya tak akan bisa tercapai selama rakyat kecil masih tertindas oleh kepentingan orang-orang yang lebih berkuasa.

Aku dan teman-teman tak bisa menemukan tempat bermain kami lagi. Sepanjang jalan yang kulintasi, aku bahkan terus meneteskan air mata. Memori masa kecil di mana tempat kami bergurau, bermain-main, dan saling berbagi kebersamaan sudah dipendam oleh proyek-proyek raksasa yang telah disetujui pemerintah. Angin menderu, menyapu debu-debu yang beterbangan. Hanya satu kenangan yang masih tersisa, papan ayunan kayu yang terbelah menjadi dua, tertimpa besi-besi besar. Air mata pun kian deras membanjiri pipi. Teman-teman memeluk diriku. Kami menangisi kenangan yang telah mati satu per satu. Kemarin, mimpi kami untuk bersekolah di sekolah-sekolah favorit telah pupus oleh peraturan sistem zonasi yang ditetapkan pemerintah. Lantas, esok apa lagi yang akan kembali pupus di hadapan kami? Andai aku adalah orang yang berkuasa, akan kubuat anak-anak bisa menikmati masa kecilnya dengan bahagia hingga tiada lagi tetesan air mata.

Tiba-tiba, datang sekumpulan warga kampung sembari membawa alat-alat seadanya, tapi berukuran cukup besar. Bapak-bapak, ibu-ibu yang membawa anak-anaknya, bahkan orang-orang yang telah lanjut usia pun bergabung menjadi satu. Mereka datang dengan menuntut keadilan, tak terima jika tanahnya harus digusur demi pembangunan. Spanduk-spanduk besar berisi tulisan “Kembalikan tanah kami” terpampang di mana-mana. Air mata kami terus bercucuran. Walau bagaimanapun, tanah ini telah dihuni kami selama puluhan tahun. Apakah orang-orang yang berkuasa itu tak bisa luluh hatinya melihat dan mendengar tangisan kami?

“Kembalikan tanah kami!” ucap salah satu warga dengan berapi-api.

“Jangan hancurkan rumah kami!” ucap salah seorang nenek pada si pria pendek yang turut menyaksikan aksi kami.

“Kami sudah mengganti seluruh kerugian dengan menyediakan rumah susun bagi kalian!” ujar si pria pendek kemudian.

“Itu tak akan cukup bagi kami. Bagaimana kami bisa bekerja tanpa sawah dan ladang kami?” tanya salah seorang warga yang lain.

“Kalian akan mendapatkan pelatihan yang mumpuni untuk dapat bekerja maupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. Pembangunan rusun juga akan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Kalian mau meninggalkan lahan ini dengan sukarela ataupun terpaksa, kami tetap akan merelokasi dan membangun tempat ini. Sudah menjadi keputusan pemerintah pula hal ini!” ucap si pria berbadan pendek sembari menunjukkan surat keterangan dari pemerintah terkait relokasi warga di daerah ini.

Kami pun tak punya pilihan lain. Apa daya, rakyat kecil selalu saja tersingkirkan oleh kepentingan penguasa. Maka kami menghentikan aksi ini dan kembali ke rumah sembari mengemasi barang-barang kami, meninggalkan kampung kecil ini, dan beranjak ke rumah-rumah susun, meski fasilitas di rusun tak seindah yang dijanjikan.

Senja kembali menguasai cakrawala. Hari akan segera berakhir. Semua harapan kami juga telah mati seiring berakhirnya hari. Para warga termasuk keluargaku pun meninggalkan kampung kami yang sangat berharga. Ini harta kami satu-satunya. Biarlah kami relakan ini semua demi pembangunan dan kepentingan penguasa. Satu pintaku, semoga ke depannya tak ada lagi orang-orang yang mengalami nasib serupa, cukup kami saja.

 

---Selesai---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar