Kamis, 16 Januari 2020

Cerpen "Pertemuan yang Dirindukan"


Pertemuan yang Dirindukan

Rinai hujan perlahan turun membasahi bumi. Gemericik air telah menggantikan warna jingga yang selalu muncul kala sore tiba. Saat di mana selalu kunanti, berdiri memandang senja hingga malam tiba dan berganti langit bertabur bintang-bintang nan bercahaya. Namun, sedari tadi langit tampak murung. Puncaknya sore ini, ia seolah tak kuasa lagi membendung kesedihannya. Lalu tumpahlah segala kegundahan yang dirasakannya. Hujan memang selalu membawa keberkahan di setiap tetesannya, terlebih bagi para penikmatnya.
Musim penghujan telah tiba. Tampaknya akan cukup sulit dijumpai, bercengkrama dengan bebasnya di bawah naungan langit senja. Bagiku, senja adalah saat yang paling istimewa. Semburat warna kuning keemasan yang bergradasi di baris cakrawala menciptakan pemandangan nan memesona. Cahayanya selalu membuatku tertunduk tenang. Kadang juga terasa menyejukkan. Entah, seketika cahaya itu bagaikan tempat nan syahdu tuk melepas jubah penuh dengan hiruk pikuk kehidupan. Di lain waktu, cahaya itu pun semakin mekar, sesaat setelah aku berada tepat di depannya. Menyambutku dengan ketulusan tiada tara.
Namaku Raga Pratama. Orang-orang memanggilku Raga, sebuah nama yang melekat begitu saja tanpa kutahu bagaimana sejarahnya. Seringkali aku menghabiskan waktu pada sore hari untuk sekadar menimati senja. Sebab, senja senantiasa memberi cerita yang tak akan pernah bisa kulupakan, tentang jalan di hidupku yang berliku, memberi kabut pekat yang tiada pernah surut dimakan waktu, kemudian membenamkanku.
                         
***
    
Sore itu, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, digenggam erat oleh seorang wanita yang kira-kira berusia 25 tahun menuju sebuah bangunan. Bangunan itu kecil dan sederhana. Namun, kehangatan begitu nyata terasa tatkala masuk ke dalamnya. Di dalam bangunan itu tampak wanita tadi tengah berbincang serius dengan seorang wanita lainnya. Sedangkan anak kecil dalam genggamannya tampak diam, tak mengerti apa yang sedang mereka perbincangkan.
“Kamu di sini dulu. Nanti aku kembali lagi,” kata wanita  tersebut.
“Aku tidak mau di sini,” rengek si anak laki-laki tadi dengan wajah mulai sembab.
“Baik-baik di sini dan jangan nakal!”
Lalu wanita itu pun melepas genggamannya dan beranjak meninggalkan bangunan kecil itu tanpa memedulikan isak tangis dan jeritan dari anak laki-laki yang sedari tadi memanggilnya. Ia terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang, hingga menghilang di balik senja.
Panti Asuhan “Kasih Ibu” kini kembali diramaikan dengan hadirnya seorang anak laki-laki pada senja ini. Bunda Erika, begitu biasa ia disapa, merupakan pengurus panti asuhan yang kini memiliki sekitar lima belas anak asuh ini. Paras elok dan tutur nan lembut melengkapi keanggunan wanita yang kini berusia 32 tahun itu. Wajahnya selalu bercahaya karena berhias senyum nan menawan. Tak heran, ia begitu disayangi oleh anak-anak di sini. Dan anak kecil yang baru datang senja tadi terus saja menangis dalam pelukannya.

***

“Dokter, seorang pasien kecelakaan baru saja tiba,” seorang suster memberi kabar lewat sambungan telepon.
“Baik, Sus, saya segera ke sana.”
Aku melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit nan sepi. Sebagai dokter bedah yang bertugas di kota besar seperti ini, hampir tiada hari yang terlewati tanpa kuberkutat di meja operasi. Aku sadar akan tugas dan tanggung jawabku secara penuh, bukan semata-mata karena sumpah yang telah kuemban dari pertama aku dinobatkan.
Pasien terakhirku hari ini, seorang  perempuan paruh baya. Entah kenapa, saat pertama aku menjumpainya ada perasaan yang bergejolak dalam dada. Siapa dia? Mengapa dia tampak berbeda dari pasien-pasienku lainnya? Ah, entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja.
Kulepas jas putih yang melingkupi tubuhku. Sejenak kurebahkan diri di sebuah sofa biru dalam ruang kerjaku nan sepi. Lelah menggelayuti tubuh ini. Terlebih usai operasi yang cukup menguras tenaga dan pikiranku. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang seolah membawaku ke dimensi waktu dua puluh lima tahun yang lalu di mana aku menghabiskan hari-hariku di sebuah rumah kecil nan sederhana di pinggiran kota bernama “Kasih Ibu”.
Hari-hari menjadi sangat berat untuk dilalui. Anak laki-laki dalam usia sekecil itu harus memikul beban berat. Ia menjadi pemurung dan selalu menghabiskan waktu pada sore hari untuk menyaksikan matahari terbenam di sebuah bangku kecil di depan bangunan sederhana itu, berharap wanita yang membawanya ke sini tempo hari akan datang dan menjemputnya pulang. Namun, kenyataannya tak pernah sekali pun ia kembali seperti apa yang dijanjikannya tatkala pergi. Ribuan perasaan pun berkecamuk di relung hati. Perasaan yang semula menyayangi, perlahan tapi pasti berubah jadi membenci, benci oleh sebuah janji yang terucapkan namun tak jua terwujudkan.
Waktu terus berjalan. Tak terasa, sudah hampir setahun anak laki-laki itu menjadi penghuni di sini. Ia masihlah sama. Cahaya di wajahnya begitu redup. Ia hanya suka bercengkrama dengan senja. Hingga suatu ketika, datanglah sepasang suami-istri yang baik hati. Mereka membawa anak laki-laki itu pergi. Dari sanalah seberkas cahaya di wajah itu mulai berpendar. Sebab, sepasang suami-istri itu nyata-nyata rela memberikan segala yang terbaik baginya. Dimulai dari situlah, kehidupan anak laki-laki kecil itu berubah seutuhnya.
Tik... Tok...Tik...Tok....
Sebuah pesan masuk yang tertera di layar ponsel membuyarkan ingatanku. Kulirik arloji yang melingkar di tanganku. Pukul 17.30. Rupanya sudah cukup lama aku berdiam diri di sofa ini. Aku pun bergegas meninggalkan rumah sakit. Kupacu mobilku membelah jalanan kota nan padat merayap. Matahari telah pulang ke peraduan. Burung-burung terbang kembali ke sarang. Lampu-lampu jalanan mulai menghias kota, menciptakan panorama nan indah memanjakan mata.

***
    
“Pagi, Bu! Bagaimana, sudah enakan?” tanyaku ramah. Ia mengangguk dan tersenyum padaku.
“Dokter Raga?” Ia tampak sedikit terkejut melihat nama yang tertera pada jas putih yang kukenakan.
“Ya?” tanyaku tak mengerti.
“Ah, tidak. Aku hanya teringat sesuatu setelah melihat nama itu.”
“Pasti dia adalah orang yang istimewa.” Aku menimpali sembari memeriksa keadaannya. Ia hanya tersenyum. Sudah lima hari ia dirawat si sini. Jika tak ada kendala, lusa ia sudah boleh pulang. “Di mana dia? Dari pertama Ibu datang, saya tidak menjumpai siapa-siapa.” Kulihat mendung seketika menyelimuti wajahnya. Aku mengerti dan tak berani bertanya lebih jauh lagi, takut melukai perasaannya. “Oh, iya, ini saatnya minum obat. Diminum teratur ya, supaya Ibu lekas pulih seperti sedia kala. Biar nanti suster membawakannya ke sini. Saya harus memeriksa pasien yang lain dulu. Saya tinggal dulu ya, Bu!” pamitku diikuti anggukan darinya.
“Dokter......” ucapnya sesaat setelah aku mulai melangkahkan kaki. “Jika saja dia masih ada, pasti dia sudah seusia Dokter. Begitulah kiranya. Kebetulan namanya juga sama, Raga.”
“Oh, ya?” Aku mengernyitkan dahi, memikirkan sesuatu. Tak lama, seorang suster datang. Aku pun berlalu dari ruang rawat-inap itu.

***

Aku kembali menjumpai pasien-pasienku, tak terkecuali wanita paruh baya itu. Hari ini ia sudah diperbolehkan pulang. Kulihat guratan wajahnya begitu kusut. Ada apa gerangan? Sejauh mataku memandang, tak tampak satu pun keluarga yang datang menjemputnya pulang.
“Ibu baik-baik saja kan?” Ia hanya mengangguk. “Siapa yang menjemput Ibu pulang?” tanyaku sekali lagi.
“Aku tinggal sendirian. Jadi, tak ada seorang pun yang akan datang.”
Keluarga Ibu? Putra mungkin.
“Mungkin dia ada di sini.” Ia hanya memandangiku.
“Ke mana Ibu akan pulang?”
“Aku tak tahu,” jawabnya.
Aku terdiam, tak mampu memahami. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan. Namun, justru tercekat di tenggorokan. Entah, seketika hati ini bergejolak, seakan turut merasakan apa yang dia rasakan. 
“Ibu tunggu di sini hingga selesai saya bertugas sore nanti!” Aku pun bergegas melanjutkan tugasku dan meninggalkannya seorang diri.
Sore ini, aku melajukan mobilku di sebuah tempat cukup jauh dari pusat kota. Aku menyusuri kembali jejak-jejak masa lalu. Kulangkahkan kaki menuju gerbang sebuah bangunan di mana bertahun-tahun yang lalu aku menghabiskan hidupku di tempat itu. Bangunan ini sudah banyak direnovasi sana dan sini. Mataku berkelana ke sana ke mari dan menangkap sebuah sudut di mana dulu aku sering berkeluh kesah tatkala senja tiba. Tak jauh dari sudut itu tampak sekumpulan anak tengah bermain dengan riang. Seakan tak peduli latar belakang kehidupan semula, mereka membaur dalam satu nuansa, beratapkan langit yang perlahan bersinar keemasan di ufuk barat.
“Masih mau berdiri saja di sini?” Sebuah suara yang tak asing membuyarkanku. Bunda Erika. Sudah lama tak kujumpainya. Ia masih saja mengenaliku sekalipun masa demi masa telah menumbuhkan banyak uban di kepalanya. Aku mencium tangannya, kemudian ia membawaku ke beranda bangunan itu.
“Bagaimana kabar Bunda?”
“Kau lihat sendiri kan, bagaimana Bundamu ini masih sama kuatnya dengan yang dulu?” Aku terkekeh. “Mama Papamu sehat kan?” Aku mengangguk. “Pasti Pak Dokter satu ini sangatlah sibuk sehingga lama tak bersua.”
“Untuk satu hal itu, sungguh maafkan aku, Bunda. Percayalah, sesibuk apapun, aku tak akan pernah melupakan Bunda!” Bunda Erika tersenyum.
Kami bertukar cerita dan bercengkrama selayaknya ibu dan anak yang tengah melepas rindu. Jauh daripada itu, sejujurnya aku harus berperang hebat melawan hatiku yang terus saja meronta-ronta tiap kali muncul sosok wanita itu. Jantungku berdebar kuat. Kuingin melupakan. Namun tetap saja ia muncul dalam pikiranku dan terus menghantui sepanjang hidupku. Hidup ini sungguh lucu. Aku terombang-ambing di sebuah pusaran kuat masa lalu yang tak mudah untukku keluar dan melepaskan. Ibu. Seorang wanita telah melahirkanku ke dunia. Namun, tak pernah sekalipun aku bisa memeluknya, berkeluh kesah padanya. Di satu sisi ada Mama, sosok wanita yang selalu menyayangiku dengan segenap kasihnya. Menghujaniku dengan cinta nan tiada tara, meski aku tak pernah terlahir dari rahimnya. Ia memberiku segalanya. Bagaimana bisa takdir mempermainkanku dengan begitu hebat? Ah, sudahlah, aku tak ingin semakin berdebat dengan hati dan pikiranku sendiri.
“Oh, ya, hari ini aku datang dengan seorang teman.”
“Teman?” tanya Bunda Erika keheranan.
“Ayo, Bun, dia ada di depan!” ajakku pada Bunda Erika. Lalu aku bangkit dan berjalan ke arah mobil yang sedari tadi terparkir di depan. Kubuka kaca jendela. Bersamaan dengan itu tampaklah seorang wanita paruh baya berusia lima puluh tahunan. Aku ingin memperkenalkannya kepada Bunda Erika. Namun, apa yang terjadi, keduanya justru bersitatap dengan tegang.
“Tidak..... ini tidak mungkin terjadi,” kata wanita itu.
“Ibu...........” Bunda Erika pun tak dapat melanjutkan kata-katanya. Aku heran. Apa yang terjadi dengan mereka?
“Bunda kenal dengan Ibu ini?” tanyaku penasaran.
“Jadi kamu sudah bertemu dengan ibumu, Nak?”
“Ibuku? Maksud Bunda apa?” Aku tak mengerti. Kulihat wanita yang datang bersamaku itu juga tampak kaget.
“Raga, anak laki-laki berusia tiga tahun saat pertama dibawa ke tempat ini, inilah anak laki-laki itu,” terang Bunda Erika.
“Raga? Diakah anak laki-laki itu? Dokter yang merawatku selama ini adalah putraku sendiri? Ya Tuhan, kau sudah sebesar dan segagah ini, Nak!” Ia hendak meraih tubuhku. Aku menepisnya. Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa seorang pasien yang kurawat dengan tanganku sendiri ternyata adalah ibuku? Seorang wanita yang selama ini selalu aku nanti dalam hidupku tapi juga seorang wanita yang telah tega menghempaskanku. Aku berencana memberi kejutan untuk Bunda Erika. Tapi mengapa justru diriku sendirilah yang terkejut? Aku terdiam, tak mampu mencerna sebuah peristiwa besar yang sedang terjadi saat apa yang kurasa kemudian membuatku nyaris terkapar tak berdaya. Panah sembilu menghujan jantungku. Aku tak kuasa menopang raga di atas kakiku. Jantungku berguncang hebat hingga getarannya pun mampu menghunus langit. Awan pun bergolak dan tangisnya pecah berhamburan ke bumi. Bumi menengadah setiap kenangan pahit yang terurai kembali. Hati yang utuh itu hancur perlahan menjadi butiran debu ketika panah itu menancap di kalbu

***

“Saat tak punya segala sesuatu untuk bersandar, kita masih punya sajadah untuk bersujud.” Sebuah suara sayup-sayup terdengar di ujung telingaku. Kubuka perlahan kedua mata ini. Suara azan mulai terdengar, diiringi kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan. Hari telah pagi.
Semua yang kulewati telah membawaku sampai ke sini, sebuah pesantren kecil ratusan kilometer dari kotaku. Entah apa yang menyebabkan aku lari sejauh ini. Lari? Ya, mungkin begitulah. Lebih tepatnya, aku ingin menenangkan diriku dari hingar bingar kehidupan yang merantai erat diriku.
“Nak, serahkan segala kau rasakan pada dia yang memberimu hidup dan kehidupan!” seru seorang ustaz padaku. Aku diam, tak bergeming. Ia menyerahkan sebuah sajadah kepadaku.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Ambillah air wudu, lalu tenangkan hati dalam sujudmu!”
Dadaku bergetar di atas sajadah. Pada bait-bait doa yang kurapalkan, ada luka yang terus mengoyak perih. Aku tak ingin seseorang pun tahu. Aku takut, mereka akan terbunuh bila melihatku. Bagiku, kepedihan dan luka bukan dihadirkan untuk membuat kekacauan, tetapi untuk merasakan ketenteraman dan kebahagiaan. Walau kutahu, bukan usaha yang mudah untuk melewati dan menakhlukkan luka itu sendiri.
Aku ingin menyembunyikan segala perihku agar orang-orang tak perlu mengucapkan kata-kata yang tak mereka pahami. Meskipun aku sudah melakukan upaya-upaya kebaikan di jalan peribadatan, belum tentu yang aku temui adalah orang-orang yang baik yang mengimani nilai yang sama denganku. Aku kembali terdiam.
Hari-hari kulalui di sini, mendekatkan diri pada sang Ilahi. Benar saja, perlahan luka itu berangsur-angsur luruh. Kutemukan kesejukan hati tiap kali kurapalkan ayat-ayat suci. Ada kedamaian yang menyemai di sanubari. Seorang ustaz kembali menghampiriku pagi ini.
“Bagaimana keadaanmu, Nak?”
“Alhamdulillah, sudah lebih baik, Ustaz. Terima kasih ya, sudah membimbing saya selama ini.”
“Berterima kasihlah pada yang Kuasa. Sebab tanpa pertolongan-Nya kau tak akan pernah sampai di detik ini!” Aku tersenyum dan mengangguk.
Pagi ini, aku sudah memutuskan untuk kembali. Aku menyadari bahwa setiap takdir yang terjadi harus kita lalui. Dan segala permasalahan yang terjadi memberikan pendewasaan yang hakiki. Aku berpamitan kepada seluruh penghuni pesantren di sini yang telah menerimaku selama beberapa hari terakhir ini. Saatnya aku pergi dan kembali.

***

Sebuah kereta melaju cepat. Aku duduk di pinggir jendela sembari memandang ke luar. Sawah ladang menghijau, bukit-bukit menjulang tinggi, sungai-sungai membentang dan menghampar sejauh mata memandang. Sungguh kuasa Tuhan yang tak terelakkan. Aku semakin merasa kecil dan tak berdaya di hadap-Nya. Sebuah perjalanan yang tak akan pernah kulupakan.
Kereta terus melaju hingga tibalah ia di sebuah stasiun. Aku turun dan mencari sebuah taksi. Taksi pun melaju, membelah jalannya kota nan padat. Pemandangan yang lumrah terjadi di kota besar seperti ini. Taksi pun berhenti di sebuah rumah. Tampak di situ mama berlari-larian menyambutku datang. Ia tampak cemas setelah tak mendapati kabar putra kesayangannya berhari-hari. Aku menjelaskan apa yang terjadi dan mama pun mengerti. Lalu ia mengajakku ke sebuah tempat. Rumah sakit.
“Aku sedang tidak bertugas, Ma!”
“Menemui seseorang,” katanya.
Aku terpaku, duduk terdiam meratapi sosok yang tak berdaya kaku. Kulihat sorot wajah nan pucat dengan guratan wajah yang tak bergeming. Sesaat, kesentuh jemari tangannya yang dingin, kukecup wajahnya yang putih pucat. Lidahku terasa kelu meski ada seuntai rasa yang ingin aku ungkapkan padanya.
“Beberapa waktu yang lalu, saat kau pergi, ia berusaha mencarimu. Kami berusaha mencari ke mana-mana dengan cara yang berbeda. Namun naas, pada siang itu, sebuah kendaraan menghantamnya. Ia pun dilarikan ke rumah sakit ini,” terang Mama.
 Aku berdiri, menjauh, dan terus melangkahkan kaki. Kupejamkan mata untuk meraih ketegaran, mencapai kesabaran hati, dan menerimanya tanpa sepatah kata. Aku kembali. Ingin rasanya kumemeluk tubuhnya, berharap dia kembali, tapi dia diam saja dan membiarkan dirinya pergi.
 “Kembalilah, ajari aku untuk menjadi sosok yang kuat, yang tangguh bak karang yang terus dihajar ombak di lautan nan curam yang akan menghiasi hidupmu untuk selamanya,” kataku dengan deraian air mata. Mama menenangkanku. Lalu kupeluk Mama dan menumpahkan segala rasa.
Kubuka sebuah surat kecil yang ditulis olehnya. Sebuah tulisan yang dititipkannya pada mama beberapa waktu yang lalu.
Hargai orang lain seperti mereka menghargaimu. Berusahalah yang terbaik dan jangan pernah menyerah. Buatlah orang lain bangga padamu. Jangan kau menyakiti orang lain karena pasti suatu saat nanti engkau akan tersakiti. Jangan berusaha untuk menjadi yang terbaik, tetapi berusahalah semampumu untuk melakukan yang terbaik.
Maafkanlah aku. Mungkin aku memang tak pantas memelukmu, apalagi kau sebut sebagai ibumu. Tapi aku sangat menyayangimu, sampai kapan pun tetap menyayangimu. Sayangi Mamamu, seseorang yang telah membesarkanmu dengan ketulusan.
Demikian pesan terakhir darinya yang pernah aku ingat. Kerongkonganku tercekat. Aku tak sanggup lagi mengungkapkan segala yang kurasakan. Inilah aku, menjadi remuk tak berdaya, dan sosok yang terus memeluk luka dambaan hati yang lara.

<> selesai <> 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar