Senja
di Batas Kota
Suasana kantor mulai
sepi, menyisakan Alea seorang diri. Ia masih berkutat dengan tumpukan berkas di
meja kerjanya. Beberapa di antaranya masih perlu ia perbaiki. Tak mau
menunda-nunda hingga esok hari, malam ini pun diputuskannya untuk lembur.
Bahkan jika perlu sampai dini hari.
Jarum jam sudah
menunjukkan pukul 21.00. Namun, kesibukan justru serasa baru dimulai. Suasana
kantor cukup mendukung baginya untuk terus merevisi bagian demi bagian tulisan
yang dirasanya masih kurang. Sebagai salah satu penulis novel ternama, kualitas
dari tulisan menjadi poin penting yang tak pernah luput dari perhatian. Itulah
sebabnya, novel-novel yang dihasilkannya selalu menjadi best seller dan banyak diburu orang. Ia pun telah meraih berbagai
penghargaan dan mendapat tempat tersendiri di sebuah kantor penerbitan ternama
di kotanya yang banyak menerbitkan buku-buku populer dengan pengarang-pengarang
yang tentunya tak kalah populer.
Hari ini, usai menerima
naskah dari editornya, Alea pun bergegas memperbaiki agar tak butuh waktu lama
novel terbarunya bisa kembali diterbitkan. Ia menargetkan akhir tahun ini
novelnya sudah bisa dinikmati para pembaca di toko-toko buku yang tersebar di penjuru
kota.
“Jangan terlalu serius,
Al!” Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar pun cukup membuat Alea tersentak.
“Abi, sejak kapan kamu
ada di sini?” tanya Alea keheranan.
“Perlu secangkir kopi?”
“Ah, ya, terima kasih, Bi!”
Alea pun tersenyum seraya menyeruput kopi yang diam-diam telah dipersiapkan Abi.
“Masih banyak yang
perlu direvisi?” Abi pun duduk di samping Alea. Ia mengamati sejenak layar
laptop pujaan hatinya tersebut.
“Hmm, lumayanlah!”
“Senja di Batas Kota. Sebuah judul yang menarik.”
Alea menghentikan
aktivitasnya. Judul dalam tulisannya itu membuat matanya memejam sejenak,
teringat akan sesuatu. Sebuah memori usang kembali terngiang. Ada sosok yang amat
ia rindukan meski kini tiada lagi hadirnya di sisi. Hatinya seolah meronta
memanggil namanya. Seutas senyuman membayang, menghadirkan keteduhan tiap kali mata
memandang. Setiap waktu dalam hidupnya yang telah berlalu, ia berjuang keras tanpa
mengenal lelah. Satu-satunya harta berharga yang Alea miliki di dunia usai
kepergian kedua orang tuanya. Dialah sang kakak, sosok yang selalu ada di
sampingnya, menjaga laksana malaikat yang telah dipersiapkan Tuhan untuknya.
***
Matahari mulai beranjak
menuju peraduan. Burung-burung gereja pun berarak pulang ke sarang. Cahaya
meredup, berganti pias lampu kota yang tak pernah sunyi. Yogyakarta memang
selalu menjadi magnet yang mampu menarik hati siapa pun untuk menakhlukkannya.
Kota budaya dengan segala kompleksitasnya bagaikan dua mata pisau yang siap
sedia melukai ataupun melindungi.
Senja itu, sama dengan
senja-senja biasanya. Tak ada yang istimewa bagi dua orang kakak-beradik yang
tengah mengais rezeki di sepanjang Jalan Malioboro. Recehan demi recehan mereka
kumpulkan dari hasil menyemir sepatu selama seharian penuh. Bekerja mulai dari
matahari terbit hingga terbenam lagi nyatanya tak menjadi jaminan pundi-pundi
yang mereka kumpulkan menumpuk. Hujan, panas, debu, dan peluh pun terurai
menjadi satu. Semua menjadi makanan sehari-hari yang harus dinikmati. Tak
jarang, kakak-beradik itu pulang dengan tangan hampa, sebab tak sepeser pun uang
mereka dapatkan. Sebuah ironi hidup yang mau tak mau harus dijalani.
Masih dalam suasana
senja, kakak-beradik yang bernama Ditra dan Naya itu pun segera mengakhiri
kegiatan mereka, kembali ke rumah petak yang walaupun hanya beralaskan kardus
seadanya tetap terasa istimewa.
“Alhamdulillah, akhirnya
kita bisa kembali ke rumah. Aku capai sekali, Kak, rasanya,” ucap Naya seraya
mengusap peluh di dahinya.
“Ya sudah, kamu
langsung istirahat saja,” sahut sang kakak, Ditra.
“Kak, hasil yang aku dapatkan
hari ini sedikit sekali!” Ia pun tampak sedih.
“Tidak apa-apa, Nay,
berapa pun hasil yang kita dapatkan harus tetap disyukuri. Hari ini kita makan
nasi dan ikan asin pemberian ibu-ibu tadi pagi ya!”
“Yah, tiap hari makan
nasi dan ikan asin terus. Aku bosan, Kak! Sekali-sekali tak bisakah kita makan
nasi dan ayam goreng?”
“Naya, nanti ya kalau
uang yang terkumpul sudah mencukupi. Kamu tahu sendiri kan kita tak punya
banyak uang.”
“Ya sudah, Kak, mau
bagaimana lagi.”
Ditra hanya bisa
tersenyum getir. Betapa pun perih dan nestapa yang harus dirasakan, ia tak
ingin menyerah. Secercah asa terus ia genggam, berharap suatu ketika ia kan
menemukan jalan. Nuraninya terus bergejolak menyaksikan adik semata wayangnya hidup
dalam kesusahan. Ia tak ingin adiknya menderita. Namun apa daya, jalan hidup
menakdirkannya demikian. Kalau tak bekerja, bagaimana bisa makan? Bekerja
seharian penuh saja terkadang hanya bisa untuk makan sekali.
Malam nan temaram. Seberkas
sinar rembulan menjadi penerang sebuah gubuk reot yang terletak di bawah
jembatan. Gubuk itu hanya dihuni Ditra dan adiknya. Di dalam, Naya sudah
tertidur lelap, menyisakan Ditra yang masih terjaga dan meratap. Ia duduk di
luar, memandang jauh ke arah bintang-bintang nan menghiasi angkasa. Bintang itu
seolah menjadi pelengkap langit yang gelap. Pikirannya pun mengawang jauh,
membayangkan seandainya ayah dan ibunya masih ada, ia dan adiknya tak akan
hidup terlunta-lunta.
Tepat setahun yang
lalu, menjadi hari yang tak akan pernah terlupa dalam hidup Ditra. Pagi itu
berjalan seperti biasa. Ayah dan ibunya yang merupakan penjual nasi uduk di
emperan kaki lima dekat Stasiun Tugu, Jogja, bersiap menjemput rezeki. Sang
adik yang masih terlelap tidur pun mulai menggeliat dari peraduannya. Bocah
berusia tujuh tahun itu segera bangkit dan bersiap ke sekolah bersama sang
kakak. Keduanya pun akhirnya berjalan dengan penuh semangat menuju sekolah.
Pintu gerbang menyambut kehadiran mereka. Lalu mereka menuju kelas
masing-masing untuk mengikuti pelajaran setelah bel masuk dibunyikan. Tak lama
berselang, kabar tak mengenakkan pun datang. Seorang guru memberi kabar kepada
Ditra bahwa ayah dan ibunya mengalami kecelakaan. Sebuah bus kota yang melaju
dengan kencangnya menghantam gerobak dagangan ayah dan ibunya hingga gerobak
itu pun hancur tak beraturan. Tak sampai di situ, ayah dan ibu Ditra juga harus
dilarikan ke rumah sakit karena kondisi mereka kritis. Laksana terhunus pedang
nan tajam, sakit di relung kalbu pun menghujam.
Air mata dan peluh
bercucuran. Tubuh Ditra kelu menyaksikan dua orang yang amat dicintainya
terbaring tak berdaya. Dingin. Kedua tubuh itu pada akhirnya dingin, membiru,
dan kaku. Pergi. Mereka akhirnya pergi untuk selamanya, meninggalkan Ditra dan Naya
yang kala itu tak tahu apa yang tengah terjadi. Ditra hanya bisa menangis
sembari mendekap adiknya erat.
Perih adalah kenyataan
yang harus ia telan. Bersama Naya, ia pun mulai berjuang untuk melanjutkan
kehidupan. Jalan di depan menukik dengan begitu tajam. Rumah yang selama ini
dihuni, nyatanya terhempas begitu saja tatkala sang pemilik rumah lebih memilih
mengontrakkannya kepada penghuni yang baru. Alhasil, ia pun terusir dari rumah kenangan
itu.
Sudah beberapa bulan
terakhir ini Ditra dan Naya bekerja menjadi penyemir sepatu. Mereka berkeliling
menjajakan jasanya di kompleks Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, berharap
para karyawan yang berlalu lalang di situ berkenan menggunakan jasa yang
ditawarkan. Kejamnya kehidupan
membuatnya memutar otak dengan begitu keras. Naya. Ya, sang adiklah
satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan dan terus berjalan menapaki
lika-liku kehidupan.
“Oh Tuhan, sampai kapankah semua ini mampu kutanggung sendirian? Berilah
aku kekuatan, Ya Tuhan. Aku hanya ingin bangkit, menghancurkan segala
rintangan, meraih ketegaran agar kelak mampu menggapai impian dan mengukir
seutas senyuman untuk ayah serta ibu di surga karena melihatku di sini telah
bahagia. Izinkan aku, oh Tuhan!”
Ditra mengeluarkan
sebuah catatan kecil. Lalu ia pun menggores baris demi baris buku tersebut
dengan pena kecil dalam genggaman. Ia mencurahkan segenap yang dirasakannya melalui
sebuah puisi.
Purnama
Malam teduh
Dinaungi sinar rembulan nan utuh
Dua jiwa kian rapuh
Matamu menatap cakrawala
Mengukir segenap cinta
Berteman purnama
Berdua...
Kita membayangkan suatu masa
Di mana tawa diukir semesta
Namun sirna sekejap mata
Mata indah itu pun memejam
Beristirahat dalam damai
Meninggalkan dunia nan ramai
Kita berpelukan
Segala debar tak beraturan
Segenap luka tak terperikan
Ada banyak hal yang
ingin sekali Ditra ungkapkan. Namun, ia hanya dapat mencurahkan pada malam yang
kian temaram, berteman cahaya rembulan nan menyusup di antara tumpukan kardus
bekas tempatnya bernaung kini. Ia kembali tersenyum. Perih. Tak terasa
bulir-bulir air mata pun jatuh membasahi pipi. Ia membiarkannya begitu saja
hingga angin malam terasa kian menusuk kulit. Ditra pun beranjak menuju tempat
di mana adiknya telah terlelap tidur, mengamati sejenak wajah nan lugu dan tak
berdaya itu, menyeka sisa-sisa air mata, lalu terbaring di sampingnya.
“Andai aku bisa menulis sepucuk surat, kan kutulis sepenggal rinduku
pada ayah dan ibu. Mungkin mereka sudah bahagia di sana.”
Begitulah yang ada
dalam pikirannya. Bersama doa yang terus terlantun dari bibirnya, Ditra pun memejamkan mata.
***
Pagi menjelang. Ayam
jantan berkokok bersahut-sahutan. Sayup-sayup suara azan pun menggema di
telinga. Suhu udara cukup dingin, membuat siapa pun enggan beranjak ke
mana-mana. Namun, tidak bagi Ditra. Segera ia bergegas mengambil air wudu dan
menunaikan kewajiban utamanya sebagai seorang muslim.
“Nay, ayo lekas ambil
air wudu!” seru Ditra seraya membelai lembut rambut Naya.
“Kak...”
“Ayo, Nay, jangan
bermalas-malasan, nanti kita kehilangan waktu!”
Naya pun bangkit dan mengambil
air wudu. Lalu mereka salat berjamaah. Dalam hening mereka berserah,
melangitkan doa-doa, dan berharap semesta pun turut mengaminkannya.
Sebelum berangkat
menyemir sepatu, Ditra menuju sebuah warung makan tak jauh dari gubuknya. Ada
sedikit pekerjaan yang bisa ia lakukan, mencuci piring-piring kotor, lalu ia
akan mendapatkan dua bungkus nasi plus lauk sebagai upah. Lumayan, ia dan
adiknya bisa mengisi perut sebelum memulai aktivitasnya hingga senja tiba.
Kota mulai menggeliat.
Di sana-sini orang-orang berlalu lalang menuju kesibukannya masing-masing.
Keadaan ini cukup menguntungkan bagi Ditra karena satu atau dua orang akan
mampir dan menyemirkan sepatunya. Mereka yang tak punya cukup waktu walau
sekadar menyemir sepatu tentunya akan merasa terbantu. Ditra tak mematok harga khusus
untuk jasanya ini. Berapa pun uang yang pelanggan berikan, akan ia terima
dengan lapang dada.
Keberuntungan rupanya sedang
memihak Ditra dan Naya. Selembar lima puluh ribuan diterimanya dari tangan
seorang wanita cantik berusia sekitar 28 tahun yang menyemirkan sepatunya. Jarang-jarang
Ditra mendapatkan uang sebanyak ini. Beberapa orang yang menyemirkan sepatunya
pun terkadang tak sampai dua puluh ribu jika dihitung-hitung. Wanita itu juga
memberikan bungkusan berisi makanan yang tadi dibelinya sebelum masuk kantor.
Katanya, ia sering melihat Ditra dan Naya di sekitar kantor tempatnya bekerja.
Matahari semakin memecut kulit. Kakak-beradik itu
pun beristirahat sejenak, mencari tempat untuk berteduh. Cacing-cacing mulai
menari-nari, pertanda mereka harus segera mengisi perut. Dibukalah bungkusan yang
sedari tadi dalam genggaman. Nasi dengan ayam goreng lengkap dengan
sayur-mayurnya pun siap menggoyang lidah. Aromanya semakin membangkitkan
selera. Seutas senyum tampak mengembang di bibir Ditra menyaksikan Naya begitu
riang karena apa yang selama ini diinginkannya terpenuhi, ayam goreng. Maka,
segeralah disantap makanan itu dengan begitu lahapnya.
Ditra dan Naya
berlari-lari kecil, kemudian duduk di pinggiran rel kereta dekat Stasiun Tugu Jogja
sembari menghitung jumlah uang yang mereka dapatkan.
“Alhamdulillah, Nay,
hari ini kita dapat enam puluh ribu rupiah,” ucap Ditra dengan penuh syukur.
Jumlah yang cukup banyak dibandingkan hari biasa. Sebagian uang itu
disimpannya. Lalu ia merapikan peralatan menyemirnya dan menggandeng tangan
Naya menuju sebuah surau kecil tak jauh dari pinggiran rel kereta. Ia
memasukkan selembar uang sepuluh ribuan ke sebuah kotak kecil di surau itu.
“Lho, Kak, kenapa Kakak
malah memasukkannya ke situ?” tanya Naya keheranan. Ditra tersenyum.
“Naya, kita ada uang
lebih. Ada sebagian yang masih bisa kita simpan. Jadi, tak ada salahnya kan
kita memasukkannya ke kotak amal walau tak seberapa?”
Naya pun mengangguk.
Lalu keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Pulang. Tak terasa, senja pun
menjelang. Senja kali ini terasa lebih istimewa. Entah. Namun yang pasti, ada
kedamaian yang menelusup relung hati dua bocah yang tengah berjalan di batas
kota, menuju sebuah gubuk kecil di mana mereka bernaung.
***
Sudah beberapa hari
Naya menyemir sepatu seorang diri. Kakaknya, Ditra, sedang tidak enak badan. Ia
batuk-batuk sebulan belakangan ini, bahkan disertai bercak-bercak darah.
Tubuhnya pun semakin hari semakin kurus dan lemah. Tak tega melihat kakaknya
dalam kondisi seperti itu, ia tentu tak membiarkan Ditra bekerja seperti biasa.
Maka, kini giliran Naya yang menopang
kebutuhan hidup mereka berdua.
Musim penghujan telah
tiba. Tak ada lagi senja seperti yang sering menyambut mereka di penghujung
hari usai lelah seharian bekerja. Gubuk kecil dari kardus bekas itu pun tak
kuasa lagi menopang air yang terus mengguyur. Mau tak mau, mereka pun harus
mencari tempat berteduh yang baru. Namun, tak ada pilihan lain kecuali hanya
emperan pertokoan yang telah ditutup oleh pemiliknya ketika malam telah tiba.
Tinggal di bawah jembatan pun tak memungkinkan karena hujan yang terus
mengguyur mengakibatkan debit air terus meningkat sehingga terjadi banjir.
Malam nan dingin, di
bawah guyuran hujan mereka berpegangan tangan saling menguatkan. Hanya dengan
beginilah mereka dapat bertahan. Hingga batuk Ditra semakin parah. Wajahnya terlihat
amat pucat dan tubuhnya menggigil.
“Kak, Kakak bertahan
ya! Aku akan mencari obat untuk Kakak. Tunggu sebentar, Kak!” ucap Naya dengan
penuh kekhawatiran. Belum sempat beranjak, Ditra telah menggapai tangan Naya.
Ia menggeleng, mencegah Naya pergi.
“Kak, tapi kondisi
Kakak semakin memburuk. Aku takut, Kak!”
Air mata di pelupuk pun
tak kuasa ia tahan melihat kondisi sang kakak yang kian melemah. Namun, Ditra
hanya tersenyum. Ia menggenggam tangan mungil adik yang amat dicintainya itu
erat. Perlahan, mata Ditra memejam. Tangannya semakin dingin dan genggaman itu
pada akhirnya terlepas dari tangan Naya.
Hujan turun kian deras
membasahi bumi, sederas air mata Naya yang turun membasahi pipi. Hujan di akhir
bulan Desember itu pun seolah mengerti derita batin yang Naya alami. Ia menjadi
saksi bagaimana sembilu telah mengoyak perihnya relung hati. Malam itu pula,
rinai hujan menjadi saksi kepergian Ditra nan abadi.
***
Sejak kepergian sang
kakak, kehidupan Naya pun jauh berbeda. Tak ada lagi tempat bersandar di mana
ia selalu mencurahkan apapun yang dirasakan. Kehilangan orang-orang tercinta
satu per satu membuat jiwanya goyah. Di saat anak-anak seusianya dihujani cinta
dari sebuah keluarga, Naya justru harus menerima takdir hidup bahwa kini ia
sebatang kara di usia yang masih belia. Ia yang dulunya periang berubah menjadi
pemurung.
Hari demi hari, awan
mendung masih menghiasi wajah ayu yang kini semakin sayu. Bagaikan bunga yang
layu sebelum berkembang, senyum manis yang terukir dulu pun menghilang. Sampai
pada suatu ketika, ia menemukan sebuah buku kecil milik Ditra. Dibacalah goresan-goresan
pena dari sang kakak selama ini. Dari situlah ia menyadari salah satu keahlian yang
dimiliki kakaknya. Sayang sekali, Tuhan belum mengizinkan Ditra untuk melangkah
lebih jauh lagi. Hal itulah yang pada akhirnya menyadarkan Naya untuk bangkit
dari keterpurukan. Ia bertekad untuk melanjutkan apapun yang bisa ia torehkan
melalui goresan pena seperti halnya sang kakak.
Tahun demi tahun
berganti, ketekunannya pun mulai membuahkan hasil yang pasti. Berawal dari ia
sering mengirimkan surat ke redaksi sebuah koran lokal yang terkenal di kota
Jogja ini, tulisannya pun berhasil dimuat. Semangatnya pun kian membuncah
karena selain bisa menyalurkan kemampuan, ia juga bisa mendapatkan honor dari
tulisan yang berhasil dimuat pada koran tersebut. Tulisannya pun mulai
menghiasi surat-surat kabar. Di mana ada kesempatan, di situlah tak ia
sia-siakan.
Lima belas tahun
berlalu dari peristiwa itu, Naya telah tumbuh menjadi seorang gadis berparas
ayu dan berhasil menjadi salah seorang novelis hebat yang dikenal dengan nama
pena “Alea”. Tulisan-tulisannya pun sedikit banyaknya bersumber dari pahit
getirnya kehidupan yang selama ini ia jalani seorang diri. Melalui novel-novel
itu, ia ingin membagi apapun yang ia rasakan kepada pembaca setianya. Ia
berharap, cerita-cerita yang ia bagikan mampu menginspirasi banyak orang,
utamanya memberi pelajaran bahwa akan ada pelangi selepas hujan.
***
Desember di penghujung
tahun 2019 menjadi hari yang paling ditunggu bagi Alea. Bulan ini, novel
terbarunya akan segera launching ke
pasaran. Sebuah novel berjudul “Senja di Batas Kota” menjadi salah satu cerita
inspiratif dari Alea yang mengisahkan di sebuah pinggiran kota terdapat
kehidupan dua anak manusia yang tengah memperjuangkan asa.
“Selamat ya, Al!
Akhirnya tulisan terbarumu berhasil rilis juga!”
“Terima kasih ya, Bi,
untuk semuanya. Kamu selalu hadir memberi dukungan dan menguatkan. Bahkan di
masa-masa sulit sekalipun,” balas Alea dengan tatapan penuh haru. Abi
mengangguk. Direngkuhnya wanita yang amat dicintainya itu ke dalam pelukan.
“Sudah, tak perlu
sungkan. Memang sudah seharusnya kan kita saling melengkapi? Mungkin aku tidak
akan bisa menjadi tempat sandaran ternyaman yang kamu inginkan. Namun, selama
Tuhan mengizinkan, aku akan selalu menjadi rumah tempatmu singgah.”
Alea tersenyum. Ia
eratkan genggaman yang melingkupi tubuh lelakinya tersebut. Lalu ia menggandeng
tangannya, mengajaknya ke sebuah tempat paling istimewa baginya.
Sore itu, Abi dan Alea
menyusuri jalanan kota yang padat merayap, terlebih memasuki musim liburan
akhir tahun seperti ini. Yogyakarta yang merupakan salah satu destinasi wisata
menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk
mengunjunginya. Keelokan budaya, ramah-tamah penduduk, serta berbagai spot
wisata terbaik akan ditemukan di kota ini. Maka tak heran jika kota ini tak
pernah sepi.
Tak lama berselang,
mobil yang dikemudikan Abi pun memasuki sebuah kawasan pemakaman. Kawasan ini
sudah banyak pemugaran sehingga lebih tertata dibandingkan bertahun-tahun
sebelumnya. Lalu mereka melangkahkan kaki hingga terhenti di sebuah pusara
bertuliskan “Aditra Elvan Narendra”.
Kakak,
bagaimanakah kabarmu di sana? Apakah kau merindukanku seperti aku yang selalu
merindukanmu?
Kakak,
banyak hal yang ingin kuceritakan. Banyak kesedihan yang ingin kubagikan. Andai
kau masih di sisi, pastilah kau serahkan bahumu sebagai tempat bersandar
ternyaman bagiku. Jika kakak tahu keadaanku, apakah kau sedih melihatku seperti
ini?
Masih
teringat di benakku saat kau pergi meninggalkanku. Kupanggil namamu, tapi kau
terus diam membisu. Aku terus mencium dan memeluk tubuhmu yang kaku, berharap
keajaiban akan datang. Namun, semua sirna tatkala kau dimasukkan ke
pembaringanmu nan abadi.
Aku
ingin menjadi kuat seperti yang selalu engkau pinta. Namun apalah daya,
tersenyum pun aku tak kuasa.
Tuhan,
aku tak pintar berkata-kata. Aku hanya bisa mendoa untuk kakak yang tercinta. Tersenyumlah
di sana, bersama ayah dan ibu di surga. Kan kulanjutkan hidup dengan secercah
asa hingga aku menjadi perempuan tangguh laksana baja.
Air mata Alea pun jatuh
tak tertahankan memandang pusara bertuliskan nama sang kakak. Sekuat apapun
meraih ketegaran, masih membayang jelas di benaknya bagaimana cinta dan kasih
sayang yang telah Ditra curahkan pada dirinya. Cinta itu tak pernah padam
dicurahkan, sekalipun ia tengah dalam keadaan kesakitan, demi janjinya pada
ayah dan ibu untuk terus mengukir senyuman di bibir mungil adik semata
wayangnya itu.
Senja terakhir di
penghujung bulan Desember pun tiba. Langit senja nan merona menciptakan
pemandangan yang luar biasa indah di baris cakrawala. Sungguh, anugerah Tuhan
yang tiada tara. Sama halnya dengan senja, Tuhan pun telah menciptakan seorang
malaikat yang telah menghiasi masa kecilnya dengan amat berharga. Malaikat yang
akan tetap hidup dalam hatinya meski kini ia telah terbaring untuk
selama-lamanya.
~selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar