Kamis, 16 Januari 2020

Cerpen "Senja di Batas Kota"


Senja di Batas Kota

Suasana kantor mulai sepi, menyisakan Alea seorang diri. Ia masih berkutat dengan tumpukan berkas di meja kerjanya. Beberapa di antaranya masih perlu ia perbaiki. Tak mau menunda-nunda hingga esok hari, malam ini pun diputuskannya untuk lembur. Bahkan jika perlu sampai dini hari.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Namun, kesibukan justru serasa baru dimulai. Suasana kantor cukup mendukung baginya untuk terus merevisi bagian demi bagian tulisan yang dirasanya masih kurang. Sebagai salah satu penulis novel ternama, kualitas dari tulisan menjadi poin penting yang tak pernah luput dari perhatian. Itulah sebabnya, novel-novel yang dihasilkannya selalu menjadi best seller dan banyak diburu orang. Ia pun telah meraih berbagai penghargaan dan mendapat tempat tersendiri di sebuah kantor penerbitan ternama di kotanya yang banyak menerbitkan buku-buku populer dengan pengarang-pengarang yang tentunya tak kalah populer.
Hari ini, usai menerima naskah dari editornya, Alea pun bergegas memperbaiki agar tak butuh waktu lama novel terbarunya bisa kembali diterbitkan. Ia menargetkan akhir tahun ini novelnya sudah bisa dinikmati para pembaca di toko-toko buku yang tersebar di penjuru kota.
“Jangan terlalu serius, Al!” Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar pun cukup membuat Alea tersentak.
“Abi, sejak kapan kamu ada di sini?” tanya Alea keheranan.
“Perlu secangkir kopi?”
“Ah, ya, terima kasih, Bi!” Alea pun tersenyum seraya menyeruput kopi yang diam-diam telah dipersiapkan Abi.
“Masih banyak yang perlu direvisi?” Abi pun duduk di samping Alea. Ia mengamati sejenak layar laptop pujaan hatinya tersebut.
“Hmm, lumayanlah!”
Senja di Batas Kota. Sebuah judul yang menarik.”
Alea menghentikan aktivitasnya. Judul dalam tulisannya itu membuat matanya memejam sejenak, teringat akan sesuatu. Sebuah memori usang kembali terngiang. Ada sosok yang amat ia rindukan meski kini tiada lagi hadirnya di sisi. Hatinya seolah meronta memanggil namanya. Seutas senyuman membayang, menghadirkan keteduhan tiap kali mata memandang. Setiap waktu dalam hidupnya yang telah berlalu, ia berjuang keras tanpa mengenal lelah. Satu-satunya harta berharga yang Alea miliki di dunia usai kepergian kedua orang tuanya. Dialah sang kakak, sosok yang selalu ada di sampingnya, menjaga laksana malaikat yang telah dipersiapkan Tuhan untuknya.

***

Matahari mulai beranjak menuju peraduan. Burung-burung gereja pun berarak pulang ke sarang. Cahaya meredup, berganti pias lampu kota yang tak pernah sunyi. Yogyakarta memang selalu menjadi magnet yang mampu menarik hati siapa pun untuk menakhlukkannya. Kota budaya dengan segala kompleksitasnya bagaikan dua mata pisau yang siap sedia melukai ataupun melindungi.
Senja itu, sama dengan senja-senja biasanya. Tak ada yang istimewa bagi dua orang kakak-beradik yang tengah mengais rezeki di sepanjang Jalan Malioboro. Recehan demi recehan mereka kumpulkan dari hasil menyemir sepatu selama seharian penuh. Bekerja mulai dari matahari terbit hingga terbenam lagi nyatanya tak menjadi jaminan pundi-pundi yang mereka kumpulkan menumpuk. Hujan, panas, debu, dan peluh pun terurai menjadi satu. Semua menjadi makanan sehari-hari yang harus dinikmati. Tak jarang, kakak-beradik itu pulang dengan tangan hampa, sebab tak sepeser pun uang mereka dapatkan. Sebuah ironi hidup yang mau tak mau harus dijalani.
Masih dalam suasana senja, kakak-beradik yang bernama Ditra dan Naya itu pun segera mengakhiri kegiatan mereka, kembali ke rumah petak yang walaupun hanya beralaskan kardus seadanya tetap terasa istimewa.
“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa kembali ke rumah. Aku capai sekali, Kak, rasanya,” ucap Naya seraya mengusap peluh di dahinya.
“Ya sudah, kamu langsung istirahat saja,” sahut sang kakak, Ditra.
“Kak, hasil yang aku dapatkan hari ini sedikit sekali!” Ia pun tampak sedih.
“Tidak apa-apa, Nay, berapa pun hasil yang kita dapatkan harus tetap disyukuri. Hari ini kita makan nasi dan ikan asin pemberian ibu-ibu tadi pagi ya!”
“Yah, tiap hari makan nasi dan ikan asin terus. Aku bosan, Kak! Sekali-sekali tak bisakah kita makan nasi dan ayam goreng?”
“Naya, nanti ya kalau uang yang terkumpul sudah mencukupi. Kamu tahu sendiri kan kita tak punya banyak uang.”
“Ya sudah, Kak, mau bagaimana lagi.”
Ditra hanya bisa tersenyum getir. Betapa pun perih dan nestapa yang harus dirasakan, ia tak ingin menyerah. Secercah asa terus ia genggam, berharap suatu ketika ia kan menemukan jalan. Nuraninya terus bergejolak menyaksikan adik semata wayangnya hidup dalam kesusahan. Ia tak ingin adiknya menderita. Namun apa daya, jalan hidup menakdirkannya demikian. Kalau tak bekerja, bagaimana bisa makan? Bekerja seharian penuh saja terkadang hanya bisa untuk makan sekali.
Malam nan temaram. Seberkas sinar rembulan menjadi penerang sebuah gubuk reot yang terletak di bawah jembatan. Gubuk itu hanya dihuni Ditra dan adiknya. Di dalam, Naya sudah tertidur lelap, menyisakan Ditra yang masih terjaga dan meratap. Ia duduk di luar, memandang jauh ke arah bintang-bintang nan menghiasi angkasa. Bintang itu seolah menjadi pelengkap langit yang gelap. Pikirannya pun mengawang jauh, membayangkan seandainya ayah dan ibunya masih ada, ia dan adiknya tak akan hidup terlunta-lunta.
Tepat setahun yang lalu, menjadi hari yang tak akan pernah terlupa dalam hidup Ditra. Pagi itu berjalan seperti biasa. Ayah dan ibunya yang merupakan penjual nasi uduk di emperan kaki lima dekat Stasiun Tugu, Jogja, bersiap menjemput rezeki. Sang adik yang masih terlelap tidur pun mulai menggeliat dari peraduannya. Bocah berusia tujuh tahun itu segera bangkit dan bersiap ke sekolah bersama sang kakak. Keduanya pun akhirnya berjalan dengan penuh semangat menuju sekolah. Pintu gerbang menyambut kehadiran mereka. Lalu mereka menuju kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran setelah bel masuk dibunyikan. Tak lama berselang, kabar tak mengenakkan pun datang. Seorang guru memberi kabar kepada Ditra bahwa ayah dan ibunya mengalami kecelakaan. Sebuah bus kota yang melaju dengan kencangnya menghantam gerobak dagangan ayah dan ibunya hingga gerobak itu pun hancur tak beraturan. Tak sampai di situ, ayah dan ibu Ditra juga harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi mereka kritis. Laksana terhunus pedang nan tajam, sakit di relung kalbu pun menghujam.
Air mata dan peluh bercucuran. Tubuh Ditra kelu menyaksikan dua orang yang amat dicintainya terbaring tak berdaya. Dingin. Kedua tubuh itu pada akhirnya dingin, membiru, dan kaku. Pergi. Mereka akhirnya pergi untuk selamanya, meninggalkan Ditra dan Naya yang kala itu tak tahu apa yang tengah terjadi. Ditra hanya bisa menangis sembari mendekap adiknya erat.
Perih adalah kenyataan yang harus ia telan. Bersama Naya, ia pun mulai berjuang untuk melanjutkan kehidupan. Jalan di depan menukik dengan begitu tajam. Rumah yang selama ini dihuni, nyatanya terhempas begitu saja tatkala sang pemilik rumah lebih memilih mengontrakkannya kepada penghuni yang baru. Alhasil, ia pun terusir dari rumah kenangan itu.
Sudah beberapa bulan terakhir ini Ditra dan Naya bekerja menjadi penyemir sepatu. Mereka berkeliling menjajakan jasanya di kompleks Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, berharap para karyawan yang berlalu lalang di situ berkenan menggunakan jasa yang ditawarkan. Kejamnya  kehidupan membuatnya memutar otak dengan begitu keras. Naya. Ya, sang adiklah satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan dan terus berjalan menapaki lika-liku kehidupan.
Oh Tuhan, sampai kapankah semua ini mampu kutanggung sendirian? Berilah aku kekuatan, Ya Tuhan. Aku hanya ingin bangkit, menghancurkan segala rintangan, meraih ketegaran agar kelak mampu menggapai impian dan mengukir seutas senyuman untuk ayah serta ibu di surga karena melihatku di sini telah bahagia. Izinkan aku, oh Tuhan!
Ditra mengeluarkan sebuah catatan kecil. Lalu ia pun menggores baris demi baris buku tersebut dengan pena kecil dalam genggaman. Ia mencurahkan segenap yang dirasakannya melalui sebuah puisi.

Purnama

Malam teduh
Dinaungi sinar rembulan nan utuh
Dua jiwa kian rapuh
Matamu menatap cakrawala
Mengukir segenap cinta
Berteman purnama
Berdua...
Kita membayangkan suatu masa
Di mana tawa diukir semesta
Namun sirna sekejap mata
Mata indah itu pun memejam
Beristirahat dalam damai
Meninggalkan dunia nan ramai
Kita berpelukan
Segala debar tak beraturan
Segenap luka tak terperikan

Ada banyak hal yang ingin sekali Ditra ungkapkan. Namun, ia hanya dapat mencurahkan pada malam yang kian temaram, berteman cahaya rembulan nan menyusup di antara tumpukan kardus bekas tempatnya bernaung kini. Ia kembali tersenyum. Perih. Tak terasa bulir-bulir air mata pun jatuh membasahi pipi. Ia membiarkannya begitu saja hingga angin malam terasa kian menusuk kulit. Ditra pun beranjak menuju tempat di mana adiknya telah terlelap tidur, mengamati sejenak wajah nan lugu dan tak berdaya itu, menyeka sisa-sisa air mata, lalu terbaring di sampingnya.
Andai aku bisa menulis sepucuk surat, kan kutulis sepenggal rinduku pada ayah dan ibu. Mungkin mereka sudah bahagia di sana.”
Begitulah yang ada dalam pikirannya. Bersama doa yang terus terlantun dari bibirnya,  Ditra pun memejamkan mata.

***

Pagi menjelang. Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Sayup-sayup suara azan pun menggema di telinga. Suhu udara cukup dingin, membuat siapa pun enggan beranjak ke mana-mana. Namun, tidak bagi Ditra. Segera ia bergegas mengambil air wudu dan menunaikan kewajiban utamanya sebagai seorang muslim.
“Nay, ayo lekas ambil air wudu!” seru Ditra seraya membelai lembut rambut Naya.
“Kak...”
“Ayo, Nay, jangan bermalas-malasan, nanti kita kehilangan waktu!”
Naya pun bangkit dan mengambil air wudu. Lalu mereka salat berjamaah. Dalam hening mereka berserah, melangitkan doa-doa, dan berharap semesta pun turut mengaminkannya.
Sebelum berangkat menyemir sepatu, Ditra menuju sebuah warung makan tak jauh dari gubuknya. Ada sedikit pekerjaan yang bisa ia lakukan, mencuci piring-piring kotor, lalu ia akan mendapatkan dua bungkus nasi plus lauk sebagai upah. Lumayan, ia dan adiknya bisa mengisi perut sebelum memulai aktivitasnya hingga senja tiba.
Kota mulai menggeliat. Di sana-sini orang-orang berlalu lalang menuju kesibukannya masing-masing. Keadaan ini cukup menguntungkan bagi Ditra karena satu atau dua orang akan mampir dan menyemirkan sepatunya. Mereka yang tak punya cukup waktu walau sekadar menyemir sepatu tentunya akan merasa terbantu. Ditra tak mematok harga khusus untuk jasanya ini. Berapa pun uang yang pelanggan berikan, akan ia terima dengan lapang dada.
Keberuntungan rupanya sedang memihak Ditra dan Naya. Selembar lima puluh ribuan diterimanya dari tangan seorang wanita cantik berusia sekitar 28 tahun yang menyemirkan sepatunya. Jarang-jarang Ditra mendapatkan uang sebanyak ini. Beberapa orang yang menyemirkan sepatunya pun terkadang tak sampai dua puluh ribu jika dihitung-hitung. Wanita itu juga memberikan bungkusan berisi makanan yang tadi dibelinya sebelum masuk kantor. Katanya, ia sering melihat Ditra dan Naya di sekitar kantor tempatnya bekerja.
 Matahari semakin memecut kulit. Kakak-beradik itu pun beristirahat sejenak, mencari tempat untuk berteduh. Cacing-cacing mulai menari-nari, pertanda mereka harus segera mengisi perut. Dibukalah bungkusan yang sedari tadi dalam genggaman. Nasi dengan ayam goreng lengkap dengan sayur-mayurnya pun siap menggoyang lidah. Aromanya semakin membangkitkan selera. Seutas senyum tampak mengembang di bibir Ditra menyaksikan Naya begitu riang karena apa yang selama ini diinginkannya terpenuhi, ayam goreng. Maka, segeralah disantap makanan itu dengan begitu lahapnya.
Ditra dan Naya berlari-lari kecil, kemudian duduk di pinggiran rel kereta dekat Stasiun Tugu Jogja sembari menghitung jumlah uang yang mereka dapatkan.
“Alhamdulillah, Nay, hari ini kita dapat enam puluh ribu rupiah,” ucap Ditra dengan penuh syukur. Jumlah yang cukup banyak dibandingkan hari biasa. Sebagian uang itu disimpannya. Lalu ia merapikan peralatan menyemirnya dan menggandeng tangan Naya menuju sebuah surau kecil tak jauh dari pinggiran rel kereta. Ia memasukkan selembar uang sepuluh ribuan ke sebuah kotak kecil di surau itu.
“Lho, Kak, kenapa Kakak malah memasukkannya ke situ?” tanya Naya keheranan. Ditra tersenyum.
“Naya, kita ada uang lebih. Ada sebagian yang masih bisa kita simpan. Jadi, tak ada salahnya kan kita memasukkannya ke kotak amal walau tak seberapa?”
Naya pun mengangguk. Lalu keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Pulang. Tak terasa, senja pun menjelang. Senja kali ini terasa lebih istimewa. Entah. Namun yang pasti, ada kedamaian yang menelusup relung hati dua bocah yang tengah berjalan di batas kota, menuju sebuah gubuk kecil di mana mereka bernaung.

***

Sudah beberapa hari Naya menyemir sepatu seorang diri. Kakaknya, Ditra, sedang tidak enak badan. Ia batuk-batuk sebulan belakangan ini, bahkan disertai bercak-bercak darah. Tubuhnya pun semakin hari semakin kurus dan lemah. Tak tega melihat kakaknya dalam kondisi seperti itu, ia tentu tak membiarkan Ditra bekerja seperti biasa. Maka, kini  giliran Naya yang menopang kebutuhan hidup mereka berdua.
Musim penghujan telah tiba. Tak ada lagi senja seperti yang sering menyambut mereka di penghujung hari usai lelah seharian bekerja. Gubuk kecil dari kardus bekas itu pun tak kuasa lagi menopang air yang terus mengguyur. Mau tak mau, mereka pun harus mencari tempat berteduh yang baru. Namun, tak ada pilihan lain kecuali hanya emperan pertokoan yang telah ditutup oleh pemiliknya ketika malam telah tiba. Tinggal di bawah jembatan pun tak memungkinkan karena hujan yang terus mengguyur mengakibatkan debit air terus meningkat sehingga terjadi banjir.
Malam nan dingin, di bawah guyuran hujan mereka berpegangan tangan saling menguatkan. Hanya dengan beginilah mereka dapat bertahan. Hingga batuk Ditra semakin parah. Wajahnya terlihat amat pucat dan tubuhnya menggigil.
“Kak, Kakak bertahan ya! Aku akan mencari obat untuk Kakak. Tunggu sebentar, Kak!” ucap Naya dengan penuh kekhawatiran. Belum sempat beranjak, Ditra telah menggapai tangan Naya. Ia menggeleng, mencegah Naya pergi.
“Kak, tapi kondisi Kakak semakin memburuk. Aku takut, Kak!”
Air mata di pelupuk pun tak kuasa ia tahan melihat kondisi sang kakak yang kian melemah. Namun, Ditra hanya tersenyum. Ia menggenggam tangan mungil adik yang amat dicintainya itu erat. Perlahan, mata Ditra memejam. Tangannya semakin dingin dan genggaman itu pada akhirnya terlepas dari tangan Naya.
Hujan turun kian deras membasahi bumi, sederas air mata Naya yang turun membasahi pipi. Hujan di akhir bulan Desember itu pun seolah mengerti derita batin yang Naya alami. Ia menjadi saksi bagaimana sembilu telah mengoyak perihnya relung hati. Malam itu pula, rinai hujan menjadi saksi kepergian Ditra nan abadi.
  
***

Sejak kepergian sang kakak, kehidupan Naya pun jauh berbeda. Tak ada lagi tempat bersandar di mana ia selalu mencurahkan apapun yang dirasakan. Kehilangan orang-orang tercinta satu per satu membuat jiwanya goyah. Di saat anak-anak seusianya dihujani cinta dari sebuah keluarga, Naya justru harus menerima takdir hidup bahwa kini ia sebatang kara di usia yang masih belia. Ia yang dulunya periang berubah menjadi pemurung.
Hari demi hari, awan mendung masih menghiasi wajah ayu yang kini semakin sayu. Bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang, senyum manis yang terukir dulu pun menghilang. Sampai pada suatu ketika, ia menemukan sebuah buku kecil milik Ditra. Dibacalah goresan-goresan pena dari sang kakak selama ini. Dari situlah ia menyadari salah satu keahlian yang dimiliki kakaknya. Sayang sekali, Tuhan belum mengizinkan Ditra untuk melangkah lebih jauh lagi. Hal itulah yang pada akhirnya menyadarkan Naya untuk bangkit dari keterpurukan. Ia bertekad untuk melanjutkan apapun yang bisa ia torehkan melalui goresan pena seperti halnya sang kakak.
Tahun demi tahun berganti, ketekunannya pun mulai membuahkan hasil yang pasti. Berawal dari ia sering mengirimkan surat ke redaksi sebuah koran lokal yang terkenal di kota Jogja ini, tulisannya pun berhasil dimuat. Semangatnya pun kian membuncah karena selain bisa menyalurkan kemampuan, ia juga bisa mendapatkan honor dari tulisan yang berhasil dimuat pada koran tersebut. Tulisannya pun mulai menghiasi surat-surat kabar. Di mana ada kesempatan, di situlah tak ia sia-siakan.
Lima belas tahun berlalu dari peristiwa itu, Naya telah tumbuh menjadi seorang gadis berparas ayu dan berhasil menjadi salah seorang novelis hebat yang dikenal dengan nama pena “Alea”. Tulisan-tulisannya pun sedikit banyaknya bersumber dari pahit getirnya kehidupan yang selama ini ia jalani seorang diri. Melalui novel-novel itu, ia ingin membagi apapun yang ia rasakan kepada pembaca setianya. Ia berharap, cerita-cerita yang ia bagikan mampu menginspirasi banyak orang, utamanya memberi pelajaran bahwa akan ada pelangi selepas hujan.

***

Desember di penghujung tahun 2019 menjadi hari yang paling ditunggu bagi Alea. Bulan ini, novel terbarunya akan segera launching ke pasaran. Sebuah novel berjudul “Senja di Batas Kota” menjadi salah satu cerita inspiratif dari Alea yang mengisahkan di sebuah pinggiran kota terdapat kehidupan dua anak manusia yang tengah memperjuangkan asa.
“Selamat ya, Al! Akhirnya tulisan terbarumu berhasil rilis juga!”
“Terima kasih ya, Bi, untuk semuanya. Kamu selalu hadir memberi dukungan dan menguatkan. Bahkan di masa-masa sulit sekalipun,” balas Alea dengan tatapan penuh haru. Abi mengangguk. Direngkuhnya wanita yang amat dicintainya itu ke dalam pelukan.
“Sudah, tak perlu sungkan. Memang sudah seharusnya kan kita saling melengkapi? Mungkin aku tidak akan bisa menjadi tempat sandaran ternyaman yang kamu inginkan. Namun, selama Tuhan mengizinkan, aku akan selalu menjadi rumah tempatmu singgah.”
Alea tersenyum. Ia eratkan genggaman yang melingkupi tubuh lelakinya tersebut. Lalu ia menggandeng tangannya, mengajaknya ke sebuah tempat paling istimewa baginya.
Sore itu, Abi dan Alea menyusuri jalanan kota yang padat merayap, terlebih memasuki musim liburan akhir tahun seperti ini. Yogyakarta yang merupakan salah satu destinasi wisata menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mengunjunginya. Keelokan budaya, ramah-tamah penduduk, serta berbagai spot wisata terbaik akan ditemukan di kota ini. Maka tak heran jika kota ini tak pernah sepi.
Tak lama berselang, mobil yang dikemudikan Abi pun memasuki sebuah kawasan pemakaman. Kawasan ini sudah banyak pemugaran sehingga lebih tertata dibandingkan bertahun-tahun sebelumnya. Lalu mereka melangkahkan kaki hingga terhenti di sebuah pusara bertuliskan “Aditra Elvan Narendra”.

Kakak, bagaimanakah kabarmu di sana? Apakah kau merindukanku seperti aku yang selalu merindukanmu?
Kakak, banyak hal yang ingin kuceritakan. Banyak kesedihan yang ingin kubagikan. Andai kau masih di sisi, pastilah kau serahkan bahumu sebagai tempat bersandar ternyaman bagiku. Jika kakak tahu keadaanku, apakah kau sedih melihatku seperti ini?
Masih teringat di benakku saat kau pergi meninggalkanku. Kupanggil namamu, tapi kau terus diam membisu. Aku terus mencium dan memeluk tubuhmu yang kaku, berharap keajaiban akan datang. Namun, semua sirna tatkala kau dimasukkan ke pembaringanmu nan abadi.
Aku ingin menjadi kuat seperti yang selalu engkau pinta. Namun apalah daya, tersenyum pun aku tak kuasa.
Tuhan, aku tak pintar berkata-kata. Aku hanya bisa mendoa untuk kakak yang tercinta. Tersenyumlah di sana, bersama ayah dan ibu di surga. Kan kulanjutkan hidup dengan secercah asa hingga aku menjadi perempuan tangguh laksana baja.

Air mata Alea pun jatuh tak tertahankan memandang pusara bertuliskan nama sang kakak. Sekuat apapun meraih ketegaran, masih membayang jelas di benaknya bagaimana cinta dan kasih sayang yang telah Ditra curahkan pada dirinya. Cinta itu tak pernah padam dicurahkan, sekalipun ia tengah dalam keadaan kesakitan, demi janjinya pada ayah dan ibu untuk terus mengukir senyuman di bibir mungil adik semata wayangnya itu.
Senja terakhir di penghujung bulan Desember pun tiba. Langit senja nan merona menciptakan pemandangan yang luar biasa indah di baris cakrawala. Sungguh, anugerah Tuhan yang tiada tara. Sama halnya dengan senja, Tuhan pun telah menciptakan seorang malaikat yang telah menghiasi masa kecilnya dengan amat berharga. Malaikat yang akan tetap hidup dalam hatinya meski kini ia telah terbaring untuk selama-lamanya.

~selesai~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar