Minggu, 26 April 2020

Cerpen "Satu Hari di Bulan Mei"


Suatu malam di bulan September, penghujung tahun 2008. Jarum jam telah menunjukkan pukul 00.00 lebih. Namun, mata ini seolah tiada mau memejam. Saya terdiam di sudut kamar ditemani rintik hujan yang perlahan membasahi bumi. Tetesan demi tetesan yang jatuh pun seolah memahami apa yang tengah saya rasakan saat itu. Saya kembali memutar memori. Satu per satu peristiwa yang tengah saya alami bermunculan, mengoyak keteguhan hati.
Berselimut malam nan dingin, diri ini hanya bisa bergumam lirih. Pikiran saya kacau, sedang benar-benar kacau. Untuk mampu berdiri tegak saja saya tak bisa. Makan dan minum pun tak selera. Yang terhempas dan yang putus; frasa yang mampu menggambarkan bagaimana suasana hati saya. Pikiran saya masih belum mampu mencerna peristiwa yang terjadi begitu cepat.
Positif. Sebuah hasil tespack yang cukup mengejutkan bagi saya yang kala itu baru saja menginjak 17 tahun. Orang mengatakan sweet seventeen merupakan masa termanis dalam perjalanan hidup. Namun, itu tampaknya tak berlaku bagi saya. Tujuh belas tahun justru menjadi awal perjalanan yang berat dalam menapaki roda-roda kehidupan. Tak terbayang dalam benak saya, bagaimana saya bisa melalui hari-hari berat, dimulai dari malam itu juga.

Usia 17

Lilin kecil
Sinarmu pancarkan harapan

Jangan kau hilang
Jangan kau pergi
Temani aku yang sedih dan sepi

Air mata jatuh basahi pelangi
Pupus warnamu di masa yang indah
Menepilah cinta
Saat tak ingin kudekati
Takkan teringkari
Masa ini kan kulalui
Takkan pernah sesal ini
Menghentikan langkah-langkahku
Menghentikan langkah-langkahku lagi

Entah kenapa lirik lagu yang dibawakan oleh Nuri Shaden dan Ariel Peterpan ini tiba-tiba terngiang di telinga, seolah mengisyaratkan apa yang tengah terjadi dalam hidup saya. Ada satu part di penggalan lirik lagu tersebut yang cukup menyedot perhatian saya ‘pupus warnamu di masa yang indah’. Sama seperti part tersebut, begitulah kiranya diri saya, bak bunga yang telah layu sebelum berkembang.
Pikiran dan hati ini pun enggan menyatu. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergejolak hebat di dalam dada, walau tak satu pun saya temukan jawabnya. Tubuh saya menggigil hebat, lidah pun terasa kelu. Seketika dunia yang indah itu telah runtuh dalam waktu sekejap. Saya tak kuasa membayangkan apa saja yang akan dikatakan orang-orang, entah esok, lusa, maupun masa yang akan datang. Tak kuasa pula saya membayangkan amarah dan rasa malu yang terpampang di wajah kedua orang tua saya.
Dalam keadaan lemah tak berdaya saya hanya bisa berbisik lirih pada Tuhan. “Tuhan, apakah gerangan yang terjadi pada saya kini? Tolonglah saya, Tuhan, jangan biarkan saya menghadapi ini seorang diri.”

Cobaan Berat itu Datang

Apa yang saya khawatirkan terbukti benar. Secepat angin yang berembus, kabar ini pun sampai ke telinga orang-orang. Mereka mulai memandang negatif dengan apa yang terjadi dalam diri saya. Hinaan, cacian, bully-an, menjadi suatu hal yang mulai akrab di telinga saya. Satu per satu kawan pun pergi meninggalkan saya. Di situ saya merasa benar-benar frustrasi, bahkan nyaris membuat saya ingin menyerah dan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Untunglah, kedua orang tua masih berpihak pada saya, sekalipun saya telah melakukan kesalahan besar dan mencoreng nama baik mereka di mata semua orang.
Saya mulai menjalani kehidupan seperti biasa, tak peduli dengan apa yang dikatakan orang pada saya. Lama-lama saya menjadi terbiasa, walau tak jarang, sebagai manusia biasa, saya tetap saja merasa lemah dan tak berdaya melawan dunia yang seolah tengah menertawakan saya. Di sekolah, teman-teman mengucilkan diri saya. Saya hanya mampu menyendiri, menepi dari hingar bingar kehidupan yang telah melarutkan saya hingga jauh. Di titik ini saya tersadar akan satu hal: betapa selama ini saya telah jauh dari jalan Tuhan.

Pada Suatu Masa

Tuhanku,
Dalam hening kusebut nama-Mu
Mengingat suatu masa
Di mana aku terkungkung di dalamnya
Penuh dengan kubangan dosa

Aku terus berjalan
Jatuh bangun tanpa pegangan
Menapaki liku-liku kehidupan
Hingga tibalah pada titik tujuan

Pada satu waktu aku merenung
Aku telah jauh melangkah
Berhamburan tak tentu arah
Hingga keyakinan mulai goyah

Ketika aku berjalan kian jauh
Engkau seakan penguat di kala rapuh
Hingga aku pun duduk bersimpuh
Mengingat-Mu dengan segala peluh

Oh Tuhan,
Lirih kulantunkan asma-Mu
Jangan biarkan kusendiri
Jalani hari dalam sunyi

Ada satu hal yang masih saya syukuri; saya masih diizinkan sekolah dan menyelesaikannya hingga ujian akhir tiba. Setidaknya ini adalah sebuah kesempatan luar biasa yang saya terima.
Menjalani hari dengan kondisi yang tengah saya alami bukanlah hal yang mudah. Di beberapa kegiatan yang mengharuskan aktivitas fisik yang berat, olahraga misalnya, saya tak bisa mengikutinya. Alhasil, saya pun diwajibkan menggantinya dengan tugas lain yang tidak menggunakan aktivitas fisik. Melihat teman-teman seusia saya yang begitu menikmati masa remajanya di sekolah dengan ceria terkadang membuat saya merasa sedih. Saya hanya mampu duduk dan memandang mereka dari kejauhan. Itu sudah cukup bagi saya.
Jika ditanya siapa orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada saya, saya tidak akan banyak menjelaskannya. Diam adalah satu kata yang tepat dan akan saya pilih. Ini lebih kepada komitmen yang telah disepakati bersama. Saya lebih memilih berkonsentrasi pada ujian sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi di depan mata.
Hari pun silih berganti. Hingga tiba saat Ujian Nasional (UN) itu. Enam hari dengan enam mata pelajaran: Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Biologi, Kimia, dan Fisika. Karena saya mengambil jurusan IPA, maka itulah mata pelajaran yang diujikan per harinya. Saya sudah bertekad untuk tidak boleh gagal. Saya harus menunjukkan bahwa di antara manusia-manusia yang bersalah sekalipun, selalu ada sebuah kesempatan untuk berkembang dan melakukan perubahan. Dan itu, akan saya mulai dengan sukses di UN ini. Akhirnya ujian pun selesai. Tinggal menanti datangnya masa di mana pengumuman kelulusan itu tiba.
Satu pagi di bulan Mei menjadi hari yang paling dinanti bagi para pejuang ujian, sama halnya dengan saya. Saat itulah pengumuman kelulusan tiba. Beberapa hari sebelumnya sudah banyak yang melakukan persiapan seperti membeli pilox atau spidol warna-warni untuk merayakan kelulusan. Semua tampak bersuka cita, meski debaran demi debaran tak terbendung di dalam dada. Namun, itu tidak berlaku dalam diri saya. Pagi itu, saya tengah berjuangan di sebuah ruangan bersama seorang dokter dan perawat lainnya. Saya hanya bisa berucap di dalam hati, “Tuhan, tolong!
Seorang malaikat kecil telah dihadirkan Tuhan untuk mengisi dunia saya. Usai sembilan bulan berjuang mati-matian deminya, kini saya dapat menggenggam tangan mungil itu. Tak terasa air mata ini jatuh bercucuran. Saya tak kuasa mengungkapkan apapun dalam hati. Namun satu hal yang saya rasa, saya dapat tersenyum bahagia melihatnya.
Masih dalam suasana larut dengan hari saya yang baru ketika ayah datang dan memberi tahu bahwa saya berhasil meraih juara pertama nilai UN terbaik di sekolah. Saya tak percaya, tapi ayah menunjukkan hasilnya pada saya. “Terima kasih, Tuhan.” Satu hari di bulan Mei telah berhasil kulewati dengan sebuah pembuktian bahwa siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Juga kasih Tuhan itu nyata. Dia selalu memberi kesempatan kepada setiap orang yang memang mau berusaha memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, seberapa besar pun itu.
Sepuluh tahun telah berlalu dari hari itu. Malaikat kecil saya nan lucu kian tumbuh dan menjadi seorang anak laki-laki yang hebat. Dia adalah penyemangat saya, menjadi lentera dalam kegelapan hidup saya. Saya juga telah menyelesaikan study sampai jenjang S-2. Kini, saya mengabdikan diri menjadi seorang pengajar di salah satu kampus negeri ternama di kota saya. Berbagi ilmu dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai penjuru kota di seluruh Indonesia memberi warna tersendiri dalam hari-hari saya. Saya pun menyadari betul peran saya. Pengalaman hidup yang kurang menguntungkan di masa muda menjadi pembelajaran tersendiri bagi saya. Namun, itu tak menyurutkan langkah saya. Saya selalu percaya bahwa seburuk apapun masa lalu, masa depan adalah sebuah kesucian yang bisa didapatkan dengan tekad kuat serta doa yang tak pernah pupus. Meskipun dalam perjalanannya banyak kerikil tajam yang siap menghadang, selama keyakinan tak tergoyahkan, impian kan ada dalam genggaman.

2 komentar:

  1. Wah, daebak! Motivasi banget buat yang lagi putus harapan dan ingin berjuang tapi tak tahu arah. Macam saya ini, wkwkwk

    BalasHapus