Suatu malam di bulan September,
penghujung tahun 2008. Jarum jam telah menunjukkan pukul 00.00 lebih. Namun,
mata ini seolah tiada mau memejam. Saya terdiam di sudut kamar ditemani rintik
hujan yang perlahan membasahi bumi. Tetesan demi tetesan yang jatuh pun seolah
memahami apa yang tengah saya rasakan saat itu. Saya kembali memutar memori.
Satu per satu peristiwa yang tengah saya alami bermunculan, mengoyak keteguhan
hati.
Berselimut malam nan
dingin, diri ini hanya bisa bergumam lirih. Pikiran saya kacau, sedang
benar-benar kacau. Untuk mampu berdiri tegak saja saya tak bisa. Makan dan
minum pun tak selera. Yang terhempas dan yang putus; frasa yang mampu
menggambarkan bagaimana suasana hati saya. Pikiran saya masih belum mampu
mencerna peristiwa yang terjadi begitu cepat.
Positif. Sebuah hasil tespack yang cukup mengejutkan bagi saya
yang kala itu baru saja menginjak 17 tahun. Orang mengatakan sweet seventeen merupakan masa termanis
dalam perjalanan hidup. Namun, itu tampaknya tak berlaku bagi saya. Tujuh belas
tahun justru menjadi awal perjalanan yang berat dalam menapaki roda-roda
kehidupan. Tak terbayang dalam benak saya, bagaimana saya bisa melalui
hari-hari berat, dimulai dari malam itu juga.
Usia 17
Lilin
kecil
Sinarmu
pancarkan harapan
Jangan
kau hilang
Jangan
kau pergi
Temani
aku yang sedih dan sepi
Air
mata jatuh basahi pelangi
Pupus
warnamu di masa yang indah
Menepilah
cinta
Saat
tak ingin kudekati
Takkan
teringkari
Masa
ini kan kulalui
Takkan
pernah sesal ini
Menghentikan
langkah-langkahku
Menghentikan
langkah-langkahku lagi
Entah kenapa lirik lagu
yang dibawakan oleh Nuri Shaden dan Ariel Peterpan ini tiba-tiba terngiang di
telinga, seolah mengisyaratkan apa yang tengah terjadi dalam hidup saya. Ada
satu part di penggalan lirik lagu
tersebut yang cukup menyedot perhatian saya ‘pupus warnamu di masa yang indah’. Sama seperti part tersebut, begitulah kiranya diri
saya, bak bunga yang telah layu sebelum berkembang.
Pikiran dan hati ini
pun enggan menyatu. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
bergejolak hebat di dalam dada, walau tak satu pun saya temukan jawabnya. Tubuh
saya menggigil hebat, lidah pun terasa kelu. Seketika dunia yang indah itu
telah runtuh dalam waktu sekejap. Saya tak kuasa membayangkan apa saja yang
akan dikatakan orang-orang, entah esok, lusa, maupun masa yang akan datang. Tak
kuasa pula saya membayangkan amarah dan rasa malu yang terpampang di wajah kedua
orang tua saya.
Dalam keadaan lemah tak
berdaya saya hanya bisa berbisik lirih pada Tuhan. “Tuhan, apakah gerangan yang terjadi pada saya kini? Tolonglah saya,
Tuhan, jangan biarkan saya menghadapi ini seorang diri.”
Cobaan
Berat itu Datang
Apa yang saya
khawatirkan terbukti benar. Secepat angin yang berembus, kabar ini pun sampai
ke telinga orang-orang. Mereka mulai memandang negatif dengan apa yang terjadi
dalam diri saya. Hinaan, cacian, bully-an,
menjadi suatu hal yang mulai akrab di telinga saya. Satu per satu kawan pun
pergi meninggalkan saya. Di situ saya merasa benar-benar frustrasi, bahkan
nyaris membuat saya ingin menyerah dan mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Untunglah, kedua orang tua masih berpihak pada saya, sekalipun saya telah
melakukan kesalahan besar dan mencoreng nama baik mereka di mata semua orang.
Saya mulai menjalani
kehidupan seperti biasa, tak peduli dengan apa yang dikatakan orang pada saya.
Lama-lama saya menjadi terbiasa, walau tak jarang, sebagai manusia biasa, saya
tetap saja merasa lemah dan tak berdaya melawan dunia yang seolah tengah
menertawakan saya. Di sekolah, teman-teman mengucilkan diri saya. Saya hanya
mampu menyendiri, menepi dari hingar bingar kehidupan yang telah melarutkan
saya hingga jauh. Di titik ini saya tersadar akan satu hal: betapa selama ini
saya telah jauh dari jalan Tuhan.
Pada Suatu Masa
Tuhanku,
Dalam
hening kusebut nama-Mu
Mengingat
suatu masa
Di
mana aku terkungkung di dalamnya
Penuh
dengan kubangan dosa
Aku
terus berjalan
Jatuh
bangun tanpa pegangan
Menapaki
liku-liku kehidupan
Hingga
tibalah pada titik tujuan
Pada
satu waktu aku merenung
Aku
telah jauh melangkah
Berhamburan
tak tentu arah
Hingga
keyakinan mulai goyah
Ketika
aku berjalan kian jauh
Engkau
seakan penguat di kala rapuh
Hingga
aku pun duduk bersimpuh
Mengingat-Mu
dengan segala peluh
Oh
Tuhan,
Lirih
kulantunkan asma-Mu
Jangan
biarkan kusendiri
Jalani
hari dalam sunyi
Ada satu hal yang masih
saya syukuri; saya masih diizinkan sekolah dan menyelesaikannya hingga ujian
akhir tiba. Setidaknya ini adalah sebuah kesempatan luar biasa yang saya
terima.
Menjalani hari dengan
kondisi yang tengah saya alami bukanlah hal yang mudah. Di beberapa kegiatan
yang mengharuskan aktivitas fisik yang berat, olahraga misalnya, saya tak bisa
mengikutinya. Alhasil, saya pun diwajibkan menggantinya dengan tugas lain yang
tidak menggunakan aktivitas fisik. Melihat teman-teman seusia saya yang begitu
menikmati masa remajanya di sekolah dengan ceria terkadang membuat saya merasa
sedih. Saya hanya mampu duduk dan memandang mereka dari kejauhan. Itu sudah
cukup bagi saya.
Jika ditanya siapa
orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada saya, saya tidak
akan banyak menjelaskannya. Diam adalah satu kata yang tepat dan akan saya
pilih. Ini lebih kepada komitmen yang telah disepakati bersama. Saya lebih
memilih berkonsentrasi pada ujian sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi di
depan mata.
Hari pun silih
berganti. Hingga tiba saat Ujian Nasional (UN) itu. Enam hari dengan enam mata
pelajaran: Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Biologi, Kimia, dan
Fisika. Karena saya mengambil jurusan IPA, maka itulah mata pelajaran yang
diujikan per harinya. Saya sudah bertekad untuk tidak boleh gagal. Saya harus
menunjukkan bahwa di antara manusia-manusia yang bersalah sekalipun, selalu ada
sebuah kesempatan untuk berkembang dan melakukan perubahan. Dan itu, akan saya
mulai dengan sukses di UN ini. Akhirnya ujian pun selesai. Tinggal menanti
datangnya masa di mana pengumuman kelulusan itu tiba.
Satu pagi di bulan Mei
menjadi hari yang paling dinanti bagi para pejuang ujian, sama halnya dengan
saya. Saat itulah pengumuman kelulusan tiba. Beberapa hari sebelumnya sudah
banyak yang melakukan persiapan seperti membeli pilox atau spidol warna-warni
untuk merayakan kelulusan. Semua tampak bersuka cita, meski debaran demi
debaran tak terbendung di dalam dada. Namun, itu tidak berlaku dalam diri saya.
Pagi itu, saya tengah berjuangan di sebuah ruangan bersama seorang dokter dan
perawat lainnya. Saya hanya bisa berucap di dalam hati, “Tuhan, tolong!”
Seorang malaikat kecil
telah dihadirkan Tuhan untuk mengisi dunia saya. Usai sembilan bulan berjuang
mati-matian deminya, kini saya dapat menggenggam tangan mungil itu. Tak terasa
air mata ini jatuh bercucuran. Saya tak kuasa mengungkapkan apapun dalam hati. Namun
satu hal yang saya rasa, saya dapat tersenyum bahagia melihatnya.
Masih dalam suasana
larut dengan hari saya yang baru ketika ayah datang dan memberi tahu bahwa saya berhasil meraih juara pertama nilai UN terbaik di sekolah. Saya tak percaya,
tapi ayah menunjukkan hasilnya pada saya. “Terima
kasih, Tuhan.” Satu hari di bulan Mei telah berhasil kulewati dengan sebuah
pembuktian bahwa siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Juga kasih
Tuhan itu nyata. Dia selalu memberi kesempatan kepada setiap orang yang memang
mau berusaha memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat,
seberapa besar pun itu.
Sepuluh tahun telah
berlalu dari hari itu. Malaikat kecil saya nan lucu kian tumbuh dan menjadi
seorang anak laki-laki yang hebat. Dia adalah penyemangat saya, menjadi lentera
dalam kegelapan hidup saya. Saya juga telah menyelesaikan study sampai jenjang S-2. Kini, saya mengabdikan diri menjadi
seorang pengajar di salah satu kampus negeri ternama di kota saya. Berbagi ilmu
dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai penjuru kota di seluruh Indonesia
memberi warna tersendiri dalam hari-hari saya. Saya pun menyadari betul peran saya. Pengalaman
hidup yang kurang menguntungkan di masa muda menjadi pembelajaran tersendiri
bagi saya. Namun, itu tak menyurutkan langkah saya. Saya selalu percaya bahwa seburuk apapun
masa lalu, masa depan adalah sebuah kesucian yang bisa didapatkan dengan tekad kuat
serta doa yang tak pernah pupus. Meskipun dalam perjalanannya banyak kerikil
tajam yang siap menghadang, selama keyakinan tak tergoyahkan, impian kan ada
dalam genggaman.
Wah, daebak! Motivasi banget buat yang lagi putus harapan dan ingin berjuang tapi tak tahu arah. Macam saya ini, wkwkwk
BalasHapusTerima kasih, tetap semangat ya!!!
Hapus