Sabtu, 01 Agustus 2020

Puisi "Senandung Sepertiga Malam"

Ingin keberlari sekuat tenaga dari masa lalu

Namun aku tak mampu

Ingin kumelupakan segenap bayang yang membelenggu

Namun tubuhku kelu, lidahku kaku

 

Terkungkung pada seutas harapan

Nan tiada pernah menjadi kenyataan

Terkoyak luka berbalut kesedihan

Semata semacam pengkhianatan

 

Dalam sepi hancur hati

Luka terbujur sakitnya panjang terulur

Ingatan berpagu dalam drama hari lalu

Kepala tersandar di pundak nan kaku

 

Pukul tiga lewat tujuh

Embun turun menitik ke ubun-ubun

Membangunkan mata nan terpejam

Membuyarkan mimpi-mimpi nan tertanam

 

Pada seutas sajadah

Aku mendesah

Berkeluh kesah

Dalam resah

 

Mengurai baris demi baris peristiwa

Hingga utuh menjadi kesatuan cerita

Menyisakan sebuah tanya

Mana kala kan kutemui jawabnya

 

Hingga fajar tiba di balik jendela

Jatuhkan pelita terangi semesta

Kudapati keteduhan jiwa

Hadiah terindah dari Sang Pencipta


Minggu, 05 Juli 2020

Puisi Doa Cinta

Ada yang hilang dari pandang

Meski enggan menjadi kenang

Memberi warna berbeda

Menghadirkan indahnya nuansa

 

Tuhanku,

Aku mencintainya karena-Mu

Jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku

Sebab aku telah jatuh di kedalaman hati

seorang hamba-Mu

 

Sentuh hatiku untuk rasakan indahnya cinta

Nan menggelora tanpa harus kemenutup mata

Jadikan kami pasangan yang Engkau ridai

Lantunkan syair surga terangi hati kami

 

Tuhan,

Dalam beratnya masa perjuangan

Kepada-Mu lah muara ini aku labuhkan

Hatiku dan hatinya Engkau satukan

Jalan bagi kami menyempurnakan iman


Jumat, 26 Juni 2020

Belajar Sabar dan Syukur: Sebuah Proses Panjang yang tidak Mudah


Dulu, ketika masih awal kuliah, sekitar tahun 2009, dalam sebuah kelas diskusi, seorang dosen pernah bertanya,” Nak, apa yang hendak kamu cari dengan menuntut ilmu?” Lalu saya pun menjawab,” Tentu saja prestise, Bu.” Kemudian ibu dosen itu berkata lagi,” Nak, kalau kamu menuntut ilmu hanya demi prestise, tiadalah guna ilmu yang kau dapatkan itu. Tuntutlah ilmu dengan mulai menghargai setiap proses menuntut ilmu itu sendiri. Perkuat juga niat dan keyakinanmu, meskipun jalan itu terjal dan berliku. Niscaya engkau pun akan tahu hakikat sesungguhnya ilmu itu.” Saya pun merenungkan betul apa yang dosen saya katakan tersebut.

Suatu hari, saya membaca sebuah buku yang saya pinjam di perpustakaan untuk dipergunakan dalam salah satu mata kuliah sastra. Saya menemukan sebuah tulisan menarik yang intinya demikian: “Ketika masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itu pun kupersempit. Lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya hasrat itu pun tiada hasilnya. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangat yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Celakanya, mereka tak mau diubah. Sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari, andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu aku bisa mengubah dunia.”

Tulisan yang saya baca tersebut rupanya masih cukup relevan dengan apa yang dikatakan dosen saya sebelumnya. Kembali, saya pun merenung. Waktu itu saya masih seorang mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Pengalaman yang saya dapatkan pun masih minim. Yang saya tahu dari kuliah itu sendiri adalah datang, melakukan presensi, kemudian menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Seiring berjalannya waktu, seiring pula dengan pergaulan saya dengan teman-teman yang semakin meluas, cara pandang saya pun perlahan mulai berubah. Saya mengambil waktu di mana saya melakukan refleksi diri terhadap apa yang sesungguhnya saya cari.

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah program studi yang telah saya pilih dengan kemantapan hati, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Mengapa demikian? Sastra adalah bidang yang memang saya minati, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Keinginan saya mendalami sastra semakin besar manakala saya duduk di bangku kelas 2 SMP. Kebetulan saya diajar oleh seorang guru Bahasa Indonesia yang begitu menarik perhatian saya. Masih saya ingat, beliau tidak hanya fasih dalam mengajar, tetapi juga menulis. Bersama sang suami, sudah banyak tulisan bergenre sastra yang dihasilkan oleh beliau. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan menjadi buku. Lalu terbersitlah dalam pikiran saya, suatu hari nanti, saya juga harus bisa menulis. Tidak sekadar menikmati sastra dengan membaca, tapi saya juga harus bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa dinikmati pula oleh orang lain. Siapa tahu, satu di antara tulisan-tulisan saya itu dapat pula menjadi inspirasi untuk orang lain. Itulah mimpi saya waktu itu.

Kembali ke masa perkuliahan saya tadi. Setelah berhasil masuk prodi bahasa dan sastra, saya pun bertekad meraih mimpi, meskipun ada harga mahal yang harus saya bayar: pengorbanan dan kerja keras. Saya menyadari bahwa saya tidak seperti teman-teman saya yang lain. Keterbatasan kedua orang tua saya yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik, tak menyurutkan langkah saya, meski harus tertatih-tatih, saya tidak boleh berhenti di tengah jalan.

Masuk semester tiga, saya mengambil keputusan untuk bekerja paruh waktu demi meringankan biaya yang harus dikeluarkan orang tua saya. Maka, pagi hari pun saya kuliah, sore hingga malam hari saya bekerja. Semua saya lakukan, walau kadang ingin sekali rasanya saya menangis dalam hati. Namun ketika ingat wajah kedua orang tua saya, semangat ini pun kembali membara. Ketika liburan semester tiba, saatnya saya bekerja full time, menyasar pertokoan-pertokoan di sepanjang Malioboro, bersama seorang teman yang kini sudah menjadi dosen pula di kampus yang sama, kami bekerja mengisi liburan semester yang cukup panjang. Hal itu tak berhenti saya lakukan hingga suatu hari jalan Tuhan menuntun saya mendapatkan beasiswa. Sejak itulah saya bisa sedikit bernapas lega karena terbantu dengan beasiswa tersebut hingga lulus kuliah dan meraih gelar sarjana.

Menunggu wisuda kala itu, sekitar tahun 2013, saya banyak mengisi waktu dengan menulis, mulai dari cerpen dan puisi. Terkadang, tulisan-tulisan itu saya ikutkan ke dalam lomba-lomba yang saya temukan. Terkadang pula coba saya masukkan ke redaksi surat-surat kabar. Saya juga mulai membuka platform tulisan di Hipwee dan menjadi kontributor di dalamnya. Pada tahun 2015, saya aktif menulis di Hipwee. Saya pun tidak pernah menyangka bahwa hasil tulisan saya di Hipwee bisa di-review oleh puluhan ribu orang kala itu. Terima kasih, Hipwee, telah mengajari saya bagaimana menjadi seorang penulis yang sesungguhnya, meskipun kini platform tersebut sudah jarang saya buka dan beralih ke platform blog pribadi saya.

Kini saya telah mengajar di salah satu SMP negeri yang ada di Yogyakarta. Sembari mengajar, saya masih tetap aktif menulis. Bagi saya, menulis ibarat seorang teman yang bersedia diajak mencurahkan segala keluh kesah yang saya rasakan. Bagaimana menjadi seorang penulis yang hebat? Saya tidak pernah mempunyai mimpi sebagai seorang penulis yang hebat, cukup menulis apapun yang sedang dipikirkan, kemudian membagikannya kepada para pembaca. Tak perlu menjadi seorang yang hebat dalam hal apapun, tapi lakukan apapun yang bisa dilakukan dengan cara konsisten, cukup itu.

Dari sekian proses yang terjadi dan saya alami sampai detik ini, saya belajar banyak hal, yaitu tentang bagaimana kita bersabar menghadapi keadaan yang tidak mudah dan selalu bersyukur terhadap apapun yang masih bisa kita nikmati. Maka, tiada satu pun nikmat Tuhan yang bisa kita ingkari.

Seringkali kita merasa bahwa sudah berdoa sedemikian rupa, tapi mengapa Tuhan belum juga menjawab-jawab doa-doa tersebut? Tunggu dulu, jangan lantas menyalahkan Tuhan, bisa jadi kita yang kurang bersabar. Tapi, bisa jadi pula Tuhan tidak mengabulkan doa yang kita pinta lalu menggantinya dengan sesuatu yang lain, yang tentunya jauh lebih baik. Tugas kita sebagai seorang hamba hanya berusaha dan percaya bahwa suatu hari nanti, Tuhan akan menjawab apa yang kita pinta.

Semakin dewasa usia, kini saya belajar menerima dengan penerimaan yang terkadang juga tidak mudah untuk saya lakukan. Bahkan ketika apa yang saya minta tak kunjung tiba, saya percaya bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang baik untuk saya, mungkin di saat saya tidak mengiranya. Seperti rencana baik Tuhan di pertengahan tahun ini untuk saya, setelah serentetan peristiwa kurang mengenakkan yang saya alami sepanjang tahun, Tuhan menghadiahi saya beasiswa untuk melanjutkan pendidikan profesi saya. Hal ini datang tanpa saya menduganya. Masyaallah, maha besar kuasa Tuhan. Saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik perencana. Dari sini saya belajar apa hakikat ilmu itu yang sesungguhnya, ialah ketika kita mau terus belajar dalam penerimaan terbaik yang Tuhan gariskan dan menjalani prosesnya dengan sabar dan bersyukur setelahnya. Saya baru memahami apa yang dimaksud oleh dosen saya di awal tadi. Bahwa ilmu bukanlah untuk sebuah prestise seperti yang saya kemukakan dulu, melainkan sebuah proses panjang yang tidak mudah, tapi dijalani dengan penuh rasa sabar. Maka kita pun akan bersyukur terhadap apapun yang Tuhan berikan hari kemarin, hari ini, maupun hari-hari yang akan datang. Kita masih punya pengharapan besar yang sudah Tuhan sediakan asalkan tetap bersabar dan terus bertekun dalam doa, serta bersyukur untuk kemuliaan dan penyertaan Tuhan.


Senin, 22 Juni 2020

YANG LEPAS YANG TERHEMPAS: Catatan Perjalanan


Sebuah Review Catatan Awal Tahun 2020

 

Suatu sore di penghujung hari nan hujan, saya iseng membaca sebuah buku bertajuk “Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012” buah pena salah satu band yang saya favoritkan sejak duduk di bangku kelas dua SMP hingga kini saya sudah beranjak dewasa dan mengajar pula di kelas dua SMP. Satu kebetulan yang tak terkira.

Saya masih ingat betul bagaimana dulu pertama mengidolakan band beranggotakan enam personil yang bernama “Peterpan” ini. Sepanjang perjalanan study tour ke Bandung, sekitar tahun 2004-2005, lagu-lagu grup band ini mengalun dengan indah di telinga saya dan kawan-kawan, menghilangkan segala kepenatan yang melanda. Awalnya, saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu Peterpan. Namun, setelah lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan lancar oleh kawan-kawan, saya baru mulai tertarik dengan Peterpan. Bus pun melaju dari Jogja ke Bandung dengan penuh suka cita. Masih terngiang dengan jelas lagu-lagu dengan judul “Ada Apa Denganmu”, “Mimpi yang Sempurna”, “Kukatakan dengan Indah”, “Sahabat”, “Aku dan Bintang”, “Topeng”, “Semua tentang Kita” serta masih banyak lagi lagu-lagu lainnya. Semua larut menyanyikan lagu-lagu tersebut. Saya sendiri heran bagaimana kawan-kawan saya begitu lancarnya menghafal lirik dalam lagu-lagu tersebut, seolah liriknya begitu familiar di telinga. Karena termasuk orang yang tidak percaya diri dalam bernyanyi, saya memilih diam sembari menikmati lagu-lagu tersebut.

Sepulang dari study tour, saya pergi ke sebuah pasar tradisional. Lalu menelusuri satu per satu toko kaset untuk menemukan apa yang saya cari, lagu-lagu dari band Peterpan. Dan ketemulah apa yang saya cari. Saya pulang dan menyalakannya. Sejak saat itu pun saya menjadi tertarik dengan band yang beranggotakan enam orang pemuda dari Kota Bandung tersebut.

Perjalanan memang tidak selalu seiring dan setujuan. Begitu pula dengan band favorit saya. Lika-liku perjalanan dan pasang-surut performa band bernama Peterpan (sebelum berganti nama menjadi Noah) tersebut cukup menarik dan senantiasa saya ikuti. Hingga suatu ketika, mereka meluncurkan sebuah buku. Buku ini adalah kumpulan catatan perjalanan masing-masing personilnya dari awal band terbentuk hingga masih eksis berdiri hingga kini.

Pada salah satu halaman buku tersebut, saya menemukan sebuah kata-kata motivasi yang menyentuh batin saya. Bunyinya demikian:

Pada saat masalah menghampirimu, janganlah berkecil hati

Itu adalah pasangan hidupmu

Itu adalah takdirmu

Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau dilahirkan

Itu adalah pelengkap hidupmu

Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

 

Penilaian Tuhan tidak dimulai saat kau menerimanya

Karena semua orang akan menerimanya, tanpa terkecuali

Selayaknya seperti orang-orang sebelummu

 

Jangan pernah berusaha menolak kesalahanmu

Terimalah itu sebagai bekalmu, untuk perjalanan panjangmu

Justru kesalahanmu dimulai ketika kau menolak menerima kesalahanmu

Sedangkan kau menyadarinya

 

Lapangkanlah dadamu

 

Ada banyak motivasi yang bisa saya ambil dari buku tersebut, tentang bagaimana kita memaknai berbagai permasalahan yang mendera dalam hidup dan bagaimana kita bersikap untuk kemudian bangkit dari permasalahan tersebut. Sangat menginspirasi.

 Hidup adalah tentang sebuah penerimaan. Karena hakikatnya, tak ada yang benar-benar sempurna. Ketika yang dicari dalam hidup hanyalah sebuah kesempurnaan, maka saat kau merasa bahwa kau telah mendapatkan satu kesempurnaan, kau pun akan terus memburu kesempurnaan-kesempurnaan yang lain. Dan itu tidak akan pernah berhenti. Kau pun tak akan pernah merasa cukup. Lain halnya ketika yang kau cari dalam hidup adalah sebuah penerimaan, entah itu baik atau buruk, kemudian kau belajar dari itu dan memahami hakikat baik dan buruk tersebut, maka sesungguhnya kaulah kesempurnaan itu.

Kita harus menyadari, bahwa tak ada yang baik nyata-nyata adalah baik. Pun begitu dengan buruk, tak ada yang nyata-nyata buruk. Baik dan buruk itu hanya tentang nilai rasa. Sebab, apa yang dipandang baik, belum tentu sesungguhnya adalah baik. Begitu pula sebaliknya, apa yang dipandang buruk, belum tentu sesungguhnya adalah buruk.

Kualitas dalam diri kita ditunjukkan dengan cara belajar dan bekerja keras. Seperti apapun masa lalu, bahkan ketika kau dipandang sebagai sesuatu yang sangat buruk di mata orang lain, tapi kau mau belajar dan ikhlas, kemudian bangkit dan bekerja keras, maka bisa jadi suatu hari nanti kau adalah pribadi yang sangat mengagumkan. Pembalasan diri terbaik adalah ketika kau bisa menunjukkan kepada mereka, bahkan kepada dunia bahwa kau tumbuh dengan hebat karena apa yang telah terjadi dan bagaimana kau melalui lalu bangkit menjadi versi yang berbeda dengan dirimu sebelumnya. Kau telah melampaui apa yang bahkan sebelumnya tak pernah ada dalam bayanganmu, juga bayangan semua orang.

Semua orang pernah diuji, bahkan dengan hal paling pahit sekalipun dalam hidup. Kadang, di luar sana, kau dapat melihat orang-orang yang sangat mengagumkan dan memiliki karya-karya yang luar biasa. Kemudian mereka dipuji banyak orang karena ‘karya emas’ tersebut. Tapi tahukah kau bahwa di balik itu semua, merekalah orang-orang yang pernah sakit sesakit-sakitnya, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya? Lalu, mengapa hari ini mereka tumbuh dengan begitu hebat? Itu karena mereka menjadikan pengalaman di masa lalu sebagai sebuah cambuk untuk bangkit dan melakukan perubahan, hingga yang kau lihat hari ini adalah mereka orang-orang hebat yang tampil dengan begitu menakjubkannya.

Apapun permasalahan yang pernah menderamu, entah itu dulu atau yang kau temui hari ini, percayalah bahwa kau bisa melalui semua ini. Kau hanya butuh untuk menerima dan mengikhlaskannya. Lalu tumbuhlah seperti orang-orang tersebut. Jadikan apapun masalah dalam dirimu sebagai sebuah dorongan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Guru terbaik adalah masa lalu. Dan pengalaman terhebat adalah proses yang bisa kau lalui untuk bangkit dan berdiri hingga saat ini. Lalu kau pun akan menemui versi terbaik dari dirimu suatu hari nanti.


Cerpen "Penghujung Senja"

Kilau emas sang surya yang belum bangun dari tidurnya membuat gradasi biru dan jingga yang membias cakrawala. Venus, si bintang fajar, masih terlihat di ufuk timur dengan begitu jelas. Beberapa bintang masih berkedip-kedip mengeluarkan cahaya putih nan memukau. Namun, semua itu lenyap seketika, terhempas oleh sinar mentari yang mulai beranjak menuju singgasana. Maka usailah pemandangan yang memukau tersebut.

Pagi hari, tatkala libur tiba seperti ini, aku dan teman-teman biasanya sudah pergi bermain ke tanah lapang, memainkan permainan tradisional seperti ular naga, engklek, egrang, lompat tali, petak umpet, dan lain-lain. Tapi sepekan terakhir ini aku dan teman-teman sudah tak bisa melakukan hal seperti itu lagi. Semua telah berakhir. Sama halnya dengan pemandangan langit yang hilang diterpa sinar matahari. Tempat bermain kami sudah berubah menjadi susunan batu bata yang keras dan tinggi. Ladang-ladang kami juga sudah hancur diporak-porandakan alat-alat berat. Entah pagi, siang, senja, maupun malam, kampungku terus dibisingkan oleh suara isak tangis warga yang kehilangan lahan perkebunan sekaligus mata pencahariannya.

Sebulan lalu, datanglah seorang pria tegap, pendek, berkemeja putih bersih sembari membawa kertas-kertas berisi dokumen penting yang dijaga ketat oleh dua orang berkacamata hitam, bertubuh kekar, dan tinggi. Mereka datang ke kantor kepala desa. Rupanya, mereka adalah kontraktor yang akan menangani proyek pembangunan perumahan-perumahan elite di kawasan ini. Maka para warga harus rela direlokasi ke tempat yang telah disediakan demi kelancaran pembangunan yang telah ditetapkan. Mereka hanya memberi waktu tiga minggu bagi kami untuk pindah.

Hari semakin siang. Aku masih terbaring di atas ranjang. Sedih rasanya memikirkan nasib kampungku ini yang sebentar akan disulap menjadi bangunan-bangunan mewah dengan fasilitas penunjang yang serba modern. Aku melihat atap-atap rumah kecilku yang telah dipenuhi lumut-lumut kering. Apakah mereka tega merenggut harta kecil yang kupunya ini? Tiba-tiba kudengar suara teman-teman yang menghampiriku. Aku pun keluar meninggalkan kamar. Kubuka pintu rumah. Sinar mentari begitu terik, menyengat kulit.

“Ada apa teman-teman?”

“Ayo ikut kami!” sahut salah seorang temanku.

“Untuk apa?”

“Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri.”

Aku pun berjalan gontai mengikuti mereka. Setapak demi setapak jalan kutelusuri.

“Lihatlah truk-truk itu! Sawah ladang kita sudah dipenuhi bahan bangunan,” teriak salah satu temanku kemudian.

Mataku melirik ke arah yang ditunjuknya. Kulihat pondasi-pondasi bangunan mulai dikerjakan. Di beberapa bagian, batu bata bahkan sudah tersusun dengan rapi di atas pondasi tersebut. Rupanya pembangunan proyek perumahan mewah itu benar-benar dimulai. Tak ada lagi pohon-pohon yang tersisa. Semua dibabat habis oleh pemborong yang membangun lahan itu. Udara terasa gerah dan panas. Air sungai yang mengalir di sekitar sawah ladang kami telah berubah dari yang semula jernih dan bersih menjadi kotor dan tercemar sehingga ikan-ikan kecil penghuninya pun mati. Alat-alat berat ada di mana-mana, membantu proses mereka mengubah desa kami yang semula sejuk menjadi gersang.

Kukira, kami telah salah dalam memilih pemimpin. Mana janji-janji mereka saat berkampanye dulu? Mana bukti dari kata-kata yang akan menyejahterakan rakyat? Semua itu ternyata hanya ilusi semata. Tiada satu pun ucapan mereka yang menjadi nyata. Hasrat negeri ini untuk merdeka seutuhnya tak akan bisa tercapai selama rakyat kecil masih tertindas oleh kepentingan orang-orang yang lebih berkuasa.

Aku dan teman-teman tak bisa menemukan tempat bermain kami lagi. Sepanjang jalan yang kulintasi, aku bahkan terus meneteskan air mata. Memori masa kecil di mana tempat kami bergurau, bermain-main, dan saling berbagi kebersamaan sudah dipendam oleh proyek-proyek raksasa yang telah disetujui pemerintah. Angin menderu, menyapu debu-debu yang beterbangan. Hanya satu kenangan yang masih tersisa, papan ayunan kayu yang terbelah menjadi dua, tertimpa besi-besi besar. Air mata pun kian deras membanjiri pipi. Teman-teman memeluk diriku. Kami menangisi kenangan yang telah mati satu per satu. Kemarin, mimpi kami untuk bersekolah di sekolah-sekolah favorit telah pupus oleh peraturan sistem zonasi yang ditetapkan pemerintah. Lantas, esok apa lagi yang akan kembali pupus di hadapan kami? Andai aku adalah orang yang berkuasa, akan kubuat anak-anak bisa menikmati masa kecilnya dengan bahagia hingga tiada lagi tetesan air mata.

Tiba-tiba, datang sekumpulan warga kampung sembari membawa alat-alat seadanya, tapi berukuran cukup besar. Bapak-bapak, ibu-ibu yang membawa anak-anaknya, bahkan orang-orang yang telah lanjut usia pun bergabung menjadi satu. Mereka datang dengan menuntut keadilan, tak terima jika tanahnya harus digusur demi pembangunan. Spanduk-spanduk besar berisi tulisan “Kembalikan tanah kami” terpampang di mana-mana. Air mata kami terus bercucuran. Walau bagaimanapun, tanah ini telah dihuni kami selama puluhan tahun. Apakah orang-orang yang berkuasa itu tak bisa luluh hatinya melihat dan mendengar tangisan kami?

“Kembalikan tanah kami!” ucap salah satu warga dengan berapi-api.

“Jangan hancurkan rumah kami!” ucap salah seorang nenek pada si pria pendek yang turut menyaksikan aksi kami.

“Kami sudah mengganti seluruh kerugian dengan menyediakan rumah susun bagi kalian!” ujar si pria pendek kemudian.

“Itu tak akan cukup bagi kami. Bagaimana kami bisa bekerja tanpa sawah dan ladang kami?” tanya salah seorang warga yang lain.

“Kalian akan mendapatkan pelatihan yang mumpuni untuk dapat bekerja maupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. Pembangunan rusun juga akan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Kalian mau meninggalkan lahan ini dengan sukarela ataupun terpaksa, kami tetap akan merelokasi dan membangun tempat ini. Sudah menjadi keputusan pemerintah pula hal ini!” ucap si pria berbadan pendek sembari menunjukkan surat keterangan dari pemerintah terkait relokasi warga di daerah ini.

Kami pun tak punya pilihan lain. Apa daya, rakyat kecil selalu saja tersingkirkan oleh kepentingan penguasa. Maka kami menghentikan aksi ini dan kembali ke rumah sembari mengemasi barang-barang kami, meninggalkan kampung kecil ini, dan beranjak ke rumah-rumah susun, meski fasilitas di rusun tak seindah yang dijanjikan.

Senja kembali menguasai cakrawala. Hari akan segera berakhir. Semua harapan kami juga telah mati seiring berakhirnya hari. Para warga termasuk keluargaku pun meninggalkan kampung kami yang sangat berharga. Ini harta kami satu-satunya. Biarlah kami relakan ini semua demi pembangunan dan kepentingan penguasa. Satu pintaku, semoga ke depannya tak ada lagi orang-orang yang mengalami nasib serupa, cukup kami saja.

 

---Selesai---


Puisi "Aku dan Masa Depan"

Kakiku terus melangkah

Walau jalanku tak tentu arah

Jejak-jejak kelam di masa silam

Terus terngiang dan menghantam

 

Ada kerikil dan batu besar

Ada kebimbangan yang harus kutakhlukkan

Namun kuberlari

Mencoba terus melepaskan diri

 

Asaku membawa pada satu titik pencerahan

Menuju jembatan-jembatan kedamaian

Menghadapi retorika kehidupan

Masa depan ada dalam genggaman

 

Hujan tak menghentikan langkahku

Peluh terus mengucurkan semangatku

Doa sebagai pelita di hatiku

Keberhasilan menjadi impianku

 

Takdir sudah dituliskan

Berjuang walau berat dilakukan

Keyakinan dipupuk perlahan

Menggapai masa depan dengan penuh harapan


Puisi "Perempuan Tangguh"

Kerutan di pelipis wajah menandakan tak muda lagi usiamu

Keringat yang bercucuran di tubuh menandakan betapa keras perjuangan dalam hidupmu

Langkah gontai yang menyertai menandakan sungguh besar pengorbananmu

 

Tangan lembut itu yang selalu menyentuhku

Menyambutku dengan segenap kasih sayang

Engkau berikan sandaran di tengah ketidakberdayaanku menghadapi kerasnya dunia

 

Waktu terus berlalu

Engkau terus berdiri di belakangku

Membimbingku menjadi wanita tangguh yang tak mudah runtuh

 

Cinta yang kau berikan memberi aku kekuatan

Ketulusan yang kau curahkan menjadi pegangan

Dekapan eratmu menjadi tumpuan tempatku bertahan

 

Tatkala kaki ini lelah dalam melangkah

Engkau bangkitkan kembali kepercayaan diriku

Walau kutahu, kau pun sesungguhnya lebih lelah dariku

 

Namaku yang selalu kau panjatkan di hadapan Sang Pencipta

Menggema hingga ke angkasa raya

Memantik pengharapan baru demi kesuksesan dalam hidupku

 

Dalam doaku kau menjelma menjadi pelita

Yang selalu menyinariku dengan cahaya kasih sayang yang tercurah

Aku akan selalu mencintaimu wahai perempuan tangguh yang kusebut ibu