Minggu, 03 Mei 2020

Cerpen "Lelakiku di Ujung Sembilu"


Senja. Apakah yang tengah engkau cari? Kumpulan kata yang mencipta teduh, kota yang semakin riuh, ataukah kita yang kian rapuh?
Pasir putih itu membentang begitu panjang. Debur ombak yang baku hantam tidak dapat membuatnya berantakan. Bahkan, ketika sabit muncul di permukaan, biasnya tetap memantul dari butiran pasir basah sehabis bermandikan air asin. Dalam gulita malam yang tak sepantasnya membuat seorang wanita terduduk sendirian, ada gurat sendu yang meneriakkan penantian dari bibirnya yang seolah bisu.
Sehelai selendang bermotif bunga-bunga yang mulai lapuk dimakan usia dengan setia memeluk tubuh yang berbetah diri menatap ke ujung lautan tanpa takut ditelan karang. Ia berdiam saja, membiarkan udara malam mengecup mesra permukaan kulitnya meskipun tidak ada yang tahu bahwa pergolakan batin sedang menggerogoti sukmanya.
Kita berdiri di atas tebing curam nan menikam dengan begitu tajam. Ketika azan berkumandang, kita saling memandang. Antara azan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang, antara kiblat yang menentukan arahku pulang dan altar yang membuatmu tenang, kita mengucap doa yang sama dengan Amin yang berbeda. Aku mencintaimu, meski tasbih di jemariku berbeda dengan salib di lehermu.

***

Ingatan adalah satu-satunya harta yang kupunya. Sebab itu, kusampaikan ini kepadamu sebelum manusia-manusia itu merampasnya dariku, seperti dulu keadaan merampasmu dariku.
Tidak akan ada yang mengerti tentang ini. Barangkali cuma jendela dan hujan yang mengerti. Dan Fransisco, tentu saja. Lelakiku satu itu memang teramat tampan. Gadis mana yang tak akan jatuh hati melihat keelokan parasnya?
Aku senang memberitahukannya segala sesuatu yang sederhana. Ya, seperti hujan di pagi ini. Pikirannya sudah amat rumit oleh banyak hal. Makanya, aku mengajaknya melihat hujan, menyentuh angin yang melewati sela-sela jemarinya yang dingin, dan menghirup udara yang kuyakini tak akan berumur panjang.
“Umur panjang untuk hidup yang begini-begini saja pastilah amat membosankan.” Itu kata Frans dulu, saat aku duduk di sampingnya sembari menikmati rinai hujan. Kutengadahkan tangan, lalu kuseka perlahan-lahan wajahnya dengan air nan dingin itu. Wajah flamboyan nan begitu rupawan itulah yang menjadi salah satu hal penting dari dirinya dan akan selalu aku rindukan saat jauh bersamanya.
“Berapa lama aku harus menunggu?”
Dagunya sedikit terangkat saat dia melontarkan pertanyaan untukku. Pertanyaan yang membuatku semakin sayang meski ada sedikit rasa bersalah. Lelaki ini tidak pernah mau membebaniku dengan perasaan bahwa aku yang pergi dan dia adalah orang yang pantas dikasihani karena ditinggalkan.
Dia menempatkan dirinya sebagai laki-laki yang memang sudah semestinya tak memaksakan apa yang dikehendakinya. Hanya menanyakan seberapa lama waktu yang dia perlukan untuk menjalani tugas menunggunya itu. Beginilah dia.
   “Tidak akan lama, Frans.”
   Kutatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkan kekasihku. Meski di balik itu, aku tidak yakin dengan perkataanku sendiri. Seharusnya Frans tahu itu.

***

Hujan hari ini memang tidak ada capai-capainya. Jatuh terus sejak pagi. Tapi ini apa ya, siang atau sore? Atau masih pagi? Langitnya sama saja, hitam dan menakutkan. Bulu-bulu lenganku sampai tidak kelihatan kalau aku tidak mendekatkan diri ke jendela. Saking gelapnya, kalau hujan seperti ini hampir tidak ada orang berkeliaran. Cuma mobil-mobil yang berderet panjang di jalan besar sana. Tidak tahu sepanjang apa. Tapi, sejak tadi aku melihatnya hanya bergerak maju sedikit saja. Bahkan, kau tak akan tahu mobil itu sudah bergerak maju kalau tidak memperhatikannya dengan saksama dan dalam tempo yang lama.
Bumi mungkin sudah terlalu sesak. Orang-orang terlalu cepat melahirkan anak-anak. Apa yang bisa mereka perbuat? Cuma teriak-teriak. Tidak jelas. Bahasanya saja aneh-aneh. Maka jangan salahkan aku kalau sejak tadi ada dua bocah di ruangan ini yang hanya diam karena telah kumarahi. Kerjaannya tertawa dan ngomong keras-keras tanpa faedah. Membuyarkan pikiranku yang tengah serius mengerjakan tugas dari dosen saja.
Kedua bocah laki-laki ini, berbadan gempal. Salah satunya baik, suka tersenyum. Meski kadang aneh. Kalau aku sedang rindu dengan lelakiku, dia akan memperlihatkan benda yang ada orang bergerak di dalamnya.
Aku menyeruput cangkir kopiku untuk ke sekian kali. Lalu kuletakkan di atas meja, di samping laptop kecilku. Cuma ini penghilang penatku di rumah. Duduk menghadap jendela sambil memperhatikan manusia-manusia kecil itu berkejar-kejaran, seolah siap bersaing dengan dunia. Jendela kayu yang menghadap ke gang depan rumah mampu membuat mataku menatap jauh hingga ke jalan besar sana.
Ayah membangun rumah ini semakin besar, padat, dan mengkilap. Tiangnya yang dulu dibangun kokoh oleh kakek, diganti dengan beton. Di sana-sini dindingnya yang tebal, kaku, dan dingin telah diwarnai. Jendela samping inilah yang bersikeras kupertahankan. Tidak boleh diganti dengan besi ataupun ditambahkan kaca. Katanya aneh, jendela ini terlihat kecil untuk rumah yang semakin megah.

***

Hari selanjutnya, usai seharian hujan turun dengan derasnya, matahari bersinar walau masih tampak malu-malu. Namun, setidaknya seharian ini aku dapat menghabiskan waktu bersama Frans untuk mengatasi segala kepenatan usai seminggu belakangan kami dihajar oleh soal-soal ujian semester.
“Mau ke mana kita?” tanyaku pada Frans tatkala kami sampai di parkiran kampus.
“Hmmm...”
Aku menjadi kesal dengan jawabannya. Namun, ia justru tertawa geli dengan kekesalanku. Aku menjadi semakin kesal.
Lima belas menit kemudian kami sampai di sebuah mall tak jauh dari kampus. Frans menggenggam tanganku. Kami berjalan menuju lantai atas, memesan tiket untuk menonton film yang tengah diputar hari ini. Dan, dua buah tiket pun berhasil kami dapatkan. Frans menyuruhku duduk. Lalu ia memesan popcorn dan minuman sebelum kami menuju pintu teater yang telah dibuka.
“Gimana, masih kesal?” tanyanya padaku usai kami duduk di sesuai nomor kursi. Aku tersenyum sembari mencubit lengannya gemas. Dan kami pun larut dengan cerita dalam film itu hingga selesai diputar.

***

Frans adalah salah satu mahasiswa yang cerdas di kampus. Ia juga dikenal sangat aktif dalam berbagai organisasi di lingkungan kampus. Bahkan, ia berhasil menjadi ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Seni. Posisi yang tentunya menjadi incaran tiap orang, dengan kepiawaiannya mudah saja ia dapatkan.
Sejak menjadi ketua HMJ, intensitas pertemuannya denganku pun semakin jarang. Ia menjadi semakin sibuk dengan kegiatannya yang baru. Pesan dan panggilan yang datang dariku pun seringkali dinomorsekiankan. Aku mengerti, bukan porsiku untuk menghalanginya berkegiatan. Selama itu hal yang positif, apapun yang dilakukannya tentulah kudukung sepenuhnya.
Seiring berjalannya waktu, kesetiaan menjadi sebuah ujian. Masih teringat jelas di benakku. Memasuki tahun ketiga, di penghujung bulan Januari, di mana hujan turun sehari-hari. Tatkala dua manusia memadu kasih dengan begitu indahnya, di saat itu pula badai pun mulai menerjang. Bak armada yang mulai terseok-seok di tengah lautan. Menunggu datangnya mukzizat sebelum ia karam.
Suatu sore nan mendung. Mungkin semendung hati yang tak bisa teringkari ketika kekasih yang begitu engkau cintai menggores luka nan menganga dengan membagi hati. Lantas, apakah engkau masih bisa percaya? Masihkah pintu maaf itu terbuka? Namun, bisakah hati kecilmu membiarkan ia melewati luka seorang sendiri tatkala berada di titik terendah dalam hidupnya? Jawabannya tentu tidak. Entah. Berapa pun besarnya luka yang tertoreh di relung hati, nyatanya cinta mampu membuka ruang-ruang maaf yang seolah tertutup rapat tiada bercelah.
Tahun itu menjadi tahun terberat yang mesti kulalui bersama Frans. Aku memutuskan untuk menerima Frans kembali dan mencoba melupakan segenap kesalahan yang telah ia lakukan. Di sisi lain,  aku juga semakin menyadari banyak hal bahwa semakin tinggi jam terbang, semakin banyak pula yang memberinya sanjungan, walau tak sedikit pula yang memberi ujaran mengandung kebencian.
Pencapaian gemilang yang berhasil ditorehkan Frans selama berkarier di organisasi kampus pun dengan berat hati harus ia relakan tatkala beberapa oknum berusaha menjatuhkan. Bahkan, hujatan-hujatan tajam pun bermunculan, menggiring opini miring sehingga orang-orang yang tak tahu-menahu banyak yang termakan omong kosong itu. Wajar, bila pada akhirnya ia merasa berada di titik terendah hidupnya saat itu. Begitulah hidup dan kehidupan.
“Tenang, kita akan melaluinya bersama.” Begitu kataku menguatkan.
“Terima kasih ya, kamu hadir untuk memberi dukungan dan kekuatan!” Demikian kata Frans kala itu. Ia menggenggam tanganku erat, seolah berkata tak ingin melepaskan.

***

Maafkan aku, Frans. Aku tak bisa menepati janjiku untuk terus bersamamu menjaga hati dalam hubungan nan pelik ini. Meski luka di relung hati tak bisa dipungkiri. Namun, tetap bertahan bukanlah sebuah pilihan. Kita adalah dua jiwa yang perih, tak kuasa melawan keadaan. Pada akhirnya, kita pun menyerah. Makanya, kita lebih memilih diam dan membiarkan semua terjadi dengan semestinya.
Ini adalah perjalanan yang berat. Aku akan membiarkannya pergi, melanjutkan kehidupan kami masing-masing. Perpustakaan kampus, di sinilah pertama kali aku bertemu dengan Frans, sosok yang perlahan menjelma menjadi kekasihku. Di sini pulalah terdapat sebuah taman, juga bangku kayu tempat kami sering menikmati hujan. Namun, di tempat ini pulalah yang akan menjadi tempat penuh kenangan.
Frans terus memandang wajahku dan pada akhirnya mengerti. Ia membiarkanku pergi menemui jalanku sendiri. Kita mungkin telah sampai di persimpangan jalan yang menukik dengan begitu tajam. Walau kutahu, jalan yang diambil ini sangat berat.
Aku tersenyum, tapi hatiku pedih, pedih sekali. Air mata pun tak kuasa kutahan. Kuusap jemari tangan Frans yang lembut. Untuk terakhir kali, aku tak sanggup menatap matanya. Aku yakin ia tak akan menangis saat ini. Lelaki flamboyan yang paling kucintai itu tidak pandai memperlihatkan kesedihannya.
“Mungkin aku tidak tahu rasanya ditinggalkan. Tapi, meninggalkanmu adalah sakit yang tak akan bisa kugambarkan dengan apapun di dunia ini.”


***

Aku terjebak di sebuah toko buku dan belum bisa pulang karena hujan belum juga reda. Tak jauh dari situ, ada sebuah kedai kopi yang memang tak asing lagi. Aku sering menghabiskan waktu di sini dulu, bertahun-tahun yang lalu. Jika pergi membuat kehilangan, maka pulang seharusnya menjadi penawar. Seharusnya. Ah, sudahlah, entah apa yang tiba-tiba merasuki pikiranku hingga dihujani bayang-bayang masa silam.
Sebuah meja kosong di ujung kedai pun kupilih untuk sejenak melepas lelah. Sembari menunggu moccacino panas, kubuka lembar demi lembar buku yang telah kubeli. Sungguh, tak ada yang mampu menandingi nikmatnya secangkir kopi ditemani sebuah buku tatkala hujan tiba. Tak berselang lama, sebuah pesan masuk di layar ponsel. Dari seorang kawan yang akan kuberikan undangan. Aku menunggunya di kedai itu sembari larut dengan frasa demi frasa yang membuat mata ini menari ke kanan dan ke kiri untuk menikmatinya.
“Permisi, Mbak, boleh saya duduk di sini?” tanya seseorang padaku.
“Oh, silakan saja, Mas!” jawabku sekenanya tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Yang kutahu, kedai ini semakin ramai. Maka tak ada salahnya berbagi meja dengan yang lainnya. Barangkali dia tak mendapat tempat duduk, begitu pikirku dalam hati. Sunyi, hingga akhirnya lelaki di mejaku itu kembali bersuara. Suara yang tak asing kedengarannya bagiku. Kuhentikan membacaku lalu menoleh ke arahnya. “Frans! Ya Tuhan, dia Frans. Benarkah demikian?”
Frans tersenyum ramah. Tangannya terjulur kepadaku. Aku menyambut uluran tangannya yang dingin di atas meja. Delapan tahun telah berlalu sejak kepergianku waktu itu. Namun, lelaki itu masih sama seperti dulu. Masih gagah dan menawan. Kami berbicara banyak hal selama tak bertemu hingga tiba di detik ini. Meski kami tidak bisa menikah, aku tetap mencintainya. Dia menyuruhku punya anak. Dia ingin melihat anak kecil hadir dalam hidupku. Tapi dengannya, tidak bisa. Mustahil katanya.
Tubuhku bergetar. Aku tak lagi menghiraukan kelanjutan perkataannya. Aku hanya memandang ke arah jendela, menyaksikan gerimis yang masih turun membasahi bumi. Frans ulurkan kembali tangannya untuk menyentuh pipiku yang kini basah oleh air mata yang tak lagi bisa tertahan.
Aku semakin terisak dalam dekapnya. Dan benar, saat matahari hendak terbenam, gerimis semakin deras, berubah menjadi hujan. Dan Frans, duduk menatapku sembari menguatkanku, mengulang kenangan lama, duduk di tepi jendela sembari menikmati hujan.
Frans memang tidak pernah pergi. Dia selalu menungguku. Menemaniku menikmati hujan bertahun-tahun berikutnya hingga tak mampu kuhitung lagi berada di tahun ke berapa kami sekarang ini? Tidak tahu. Tapi manusia-manusia semakin aneh. Aku menarik napas berat menatap jendela yang tertutup sebelum mobil benar-benar melaju.
Ingatanku masih utuh. Tak ada yang kulupakan sedikit pun. Tapi aku diam saja. Bagaimana pun aku tidak akan membiarkan seseorang mengganggu ingatanku yang sempurna ini. Semesta mempertemukan kita hanya untuk saling belajar, bukan saling bersandar.

Sabtu, 02 Mei 2020

Cerpen "Pulang"


Memilih jalan hidup sebagai seorang perantau memang tak semudah yang dibayangkan. Kesendirian adalah hal yang paling sering kurasakan. Jauh dari orang tua, sanak saudara, dan orang-orang yang dicinta merupakan sebuah keputusan hidup yang harus dijalani dengan gagah berani. Ratusan kilometer jarak yang membentang, mencipta kerinduan yang semakin hari semakin mendebarkan.
Kala datang waktu berkumpul  keluarga, di situlah kebahagiaan sejati itu tiba. Aku tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu ketika pulang, aroma masakan ibu begitu menggoda, memanjakan lidah, tak bisa kutemui dalam keseharianku di tanah rantau ini. Sungguh, masakan paling istimewa. Aku juga ingat betul betapa bahagianya ia menyambutku datang dan begitu beratnya melepasku pergi. Laksana seekor induk merpati yang melepas anaknya terbang, mengudara bebas ke angkasa nan luas.
Anganku melayang ke awang-awang. Aku hanya bisa membayangkan, tapi tak berani merasakan. Bagaimana tidak, lebaran yang selalu identik dengan pulang, terasa amat jauh di angan setelah tempo hari perusahaan memutuskan bahwa aku tetap tinggal selama musim lebaran. Aku baru saja ingin merasakan euforia perjalanan menuju kampung halaman di detik-detik terakhir bulan ramadan. Namun, seketika semua itu terhempas sekejap mata. Apa daya, aku pun harus takhluk dibuatnya.
Lusa adalah malam lebaran. Sudah berhari-hari ini ponselku terus berdering. Suara yang tak asing lagi bagiku di seberang sambungan. Menanti kabar, kapankah aku kembali? Apa boleh buat, aku pun dengan berat hati mengatakan. Daripada aku memberi harapan yang tak pasti ujungnya lagi.
"Huuuhhhh," lenguhan panjang nafasku usai aku memberesi beberapa berkas di meja kerjaku.
"Sepertinya mukamu kusut sekali, kenapa?" tanya seorang teman.
"Ah, tidak. Hanya lelah saja," jawabku sekenanya.
"Kau bohong kan?"
"Aku ingin pulang, tapi apa daya. Ya sudahlah, terima saja." Seuntai senyum kecut tertoreh di bibirku. Ia menepuk-nepuk pundakku.
Keesokan harinya, kepala staf divisi memanggilku ke ruangannya. Ia mengecek sejauh mana pekerjaan yang telah kulakukan, mengingat jelang hari raya banyak perusahaan yang memberlakukan kinerja ekstra bagi para karyawannya.
Sebuah amplop cokelat diserahkan pagi itu padaku. Aku membukanya perlahan. Sebuah tiket perjalanan.
"Bersiaplah! Sore ini, kamu akan berangkat menuju kampung halaman," kata Kepala Staf Divisi seraya tersenyum padaku.
"Apa, Pak? Saya tidak salah?"
"Awalnya saya ingin memberlakukan lembur. Namun, berhubung kinerjamu baik dan memuaskan, saya rasa tak ada salahnya memberi kesempatan padamu untuk sejenak pulang. Toh itu kan yang kamu nantikan sedari kemarin?"
"Alhamdulillah! Terima kasih, Pak."
Aku menyalaminya dan undur diri. Sungguh tak mampu kulukiskan rasa di hatiku saat ini. Sesuatu yang kunantikan akan segera tiba. Rasanya tak sabar menyongsong esok hari bersama orang-orang yang kukasihi.
Jarak dan perjalanan yang ditempuh memang memberi cerita tersendiri. Tetapi, berbahagialah mereka yang saat ini berada jauh di tanah rantau. Semakin jauh dari orang tercinta, justru hati semakin dekat. Malam lebaran pun datang. Aku pulang.

Puisi "Pada Suatu Senja"

Telah kutitipkan rindu
Pada langit senja seteduh matamu
Satu hal yang tak engkau tahu
Selalu kusimpan namamu di sudut terdalam relung hatiku

Kita pernah tertawa bahagia
Berdua merajut indahnya asa
Membenamkan luka
Hingga lelah membuat kita lupa

Cinta pernah menyatukan
Ia pula yang mencipta kegetiran
Tatkala rasa tak lagi satu tujuan
Ada rasa mengalir larut pada keresahan

Pada jarak yang membelenggu
Engkau menjelma masa lalu
Biar sejenak menari dalam ingatanku
Sebelum terkubur bersama waktu

Puisi "Aku dan Secangkir Kopi"


Aroma kopi hitam
Tersaji di bawah naungan rembulan
Menerangi malam nan temaram

Pekat warnamu
Serupa bola mata yang telah menenggelamkanku
Jauh ke dasar hati itu

Pahit tersaji di lidah penikmat kopi
Tak sepahit janji yang pernah diucapkan
Namun tak pernah terwujudkan

Malam kian larut
Kopi hitam kian surut
Fajar pun bersambut

Semua yang terkenang
Terurai dalam air mata yang berlinang
Hingga fajar berganti siang

Menyisakan seteguk kopi
Kuseduh dalam kerapuhan sepi
Mengaduk murung di antara wajah berseri

Memberi pelajaran untuk dimengerti
Menjadikan pengalaman untuk dinikmati
Meloloskan perjalanan untuk disyukuri

Minggu, 26 April 2020

Belajar dengan Sistem Daring


Seperti kata pepatah, akan ada pelangi selepas hujan. Mungkin keadaan itulah yang tepat menggambarkan situasi negeri, bahkan bumi kita saat ini. Wabah tengah datang melanda, bisa mengenai siapa saja tanpa pandang usia maupun status sosial yang ada. kita harus menyadari, semua tengah berada di masa yang sulit. Kalau saja diberi pilihan, tentulah kita semua memilih keadaan normal, meski harus bekerja pagi dan petang, siang maupun malam. Namun sekali lagi, manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang mentukan segalanya.
Corona atau dikenal dengan istilah Covid-19 tengah merebak di berbagai belahan dunia. Virus yang semula berasal dari daratan Cina ini telah sampai di Indonesia. Bahkan, semakin hari terjadi lonjakan pasien yang terjangkit dengan cukup signifikan. Para garda terdepan yang siap berperang dengannya pun tak luput dari sasaran, bahkan sudah cukup banyak yang gugur ketika berperang. Ratusan ribu nyawa telah melayang. Hampir tiap negara pun terserang.
Kini setiap negara beramai-ramai untuk menyerukan langkah pencegahan sebelum pandemi ini kian merebak tak terkendali. Banyak hal yang telah diupayakan, tak terkecuali negeri kita tercinta ini. Pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak, bahu-membahu memberantas virus yang kian merajalela, mulai dari meliburkan sekolah-sekolah, membatasi perkumpulan/kerumunan, melakukan upaya pencegahan diri, dan masih banyak lagi.
Efektifkah upaya yang dilakukan pemerintah sejauh ini? Jawabannya ‘belum seutuhnya’. Sebab, masih banyak masyarakat yang tak mematuhi apa yang telah dianjurkan pemerintah seperti tetap berdiam diri di rumah, melakukan cuci tangan setelah melakukan aktivitas, menghindari kerumunan/keramaian, dan sebagainya. Dapat kita lihat, di sudut-sudut kota meskipun mulai lengang, masih saja aja masyarakat yang tak dapat menahan diri untuk tetap di rumah. Memang, tak dapat setiap orang dipaksakan demikian. Sebab, dari beberapa bagian kecil itu, ada kelompok masyarakat yang mesti mengais rezeki setiap hari. Mereka dari golongan ekonomi ke bawah yang apabila tak ke luar rumah tak mendapatkan uang sekadar untuk makan ataupun memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Apakah mereka bisa disalahkan? Tentu saja tidak. Sebab, tak semua orang memiliki nasib yang sama.
Itulah beberapa yang bisa kita amati belakangan ini. Lantas, apa kabar dengan Jogja kita tercinta? Ternyata ia sama dengan kota-kota lain di Indonesia yang telah terjangkit. Kini Jogja mulai lengang, tak seramai biasa. Jantung Kota Jogja seperti Malioboro yang biasanya mampu menarik ribuan wisatawan tiap harinya pun perlahan sepi. Namun masih bisa kita lihat di beberapa sudut, ada pedagang yang masih membuka lapaknya, meski ia harus menanggung risiko berupa kerugian atau menantang bahaya sekalipun. Kita harus mengerti, mungkin mereka termasuk golongan orang-orang yang tak punya pilihan, yang terpaksa berjuang demi sesuap nasi yang tersaji.
Apa kabar sekolahku? Yang jelas, diliburkan untuk jangka waktu yang cukup lama. Bukan libur, lebih tepatnya belajar di rumah. Siswa belajar dan guru saling belajar dan membelajarkan dengan sistem daring. Bagi kalangan guru, dikenal dengan istilah Work from Home (WFH). Guru-guru membuat kelas belajar secara online, kemudian memposting tugas-tugas yang dikerjakan siswa di situ. Bagi guru-guru yang menguasai IT mungkin tidak akan mengalami kendala. Namun, untuk guru-guru yang belum menguasai IT, hal ini menjadi suatu kendala yang tidak bisa dianggap remeh.
Penggunaan IT bagi kalangan siswa juga sebenarnya perlu diperhatikan. Sebab, tak semua siswa mampu mengoperasikan IT dengan baik. Kendala lain datang dari siswa yang tidak mempunyai sarana belajar melalui IT, seperti handphone atau laptop di rumah. Ketika semua sistem belajar terintegrasi dengan IT, siswa yang tak mempunyai fasilitas tentu tak dapat mengaksesnya. Faktor lain yang juga menjadi kendala adalah ketersediaan kuota data. Sebab, selama proses pembelajaran, siswa akan mengunduh tugas-tugas secara online sehingga memerlukan kuota yang tidak sedikit.
Bagaimana dari sudut pandang siswa sendiri? Beberapa siswa ada yang mengeluhkan bahwa tugas-tugas yang dikerjakan secara online ternyata cukup merepotkan karena mereka harus menyediakan kuota yang mencukupi. Jika tidak punya kuota, tentunya siswa tidak dapat mengunduh tugas-tugas yang harus dikerjakan kemudian meng-upload-nya ke kelas online yang disediakan. Apabila hal itu terjadi, tentunya siswa akan ketinggalan materi maupun tugas-tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, banyak siswa yang berpendapat bahwa belajar lebih nyaman dilakukan di kelas reguler daripada online. Selain materi lebih mudah dipahami, tugas pun tidak perlu diselesaikan secara online.
Sisi lain dampak dari wabah Covid-19 ini adalah ditiadakannya Ujian Nasional yang sekiranya diselenggarakan bulan April. Melihat segala dampak yang ditimbulkan, Kemendikbud pun mengambil kebijakan demikian. Padahal, menilik ke belakang, persiapan jelang UN pun sudah dilakukan semaksimal mungkin. Bahkan sebagai penggantinya, Penilaian Akhir Tahun (PAT) pun kemungkinan besar akan dilaksanakan secara online. PAT ini nantinya akan digunakan sebagai nilai pengganti UN, di samping nilai rapor selama lima semester belakangan.
Beberapa kebijakan, tidak hanya dalam bidang pendidikan tentunya telah disiapkan pemerintah untuk mengatasi pandemi ini. Apa pun itu, selama itu baik, sudah seharusnya kita mendukung kinerja pemerintah. Doa dan harapan baik harus senantiasa kita panjatkan.
Kini, kita kembalikan lagi apa yang telah terjadi kepada kuasa Tuhan. Setiap kejadian, akan selalu tersimpan hikmah di dalamnya. Kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kejadian ini, di antaranya menjadi lebih dekat dengan keluarga. Jika selama ini kita terlalu disibukkan dengan rutinitas harian yang hampir menguras sebagian besar waktu dan pikiran, kini sebagian besar waktu dan pikiran kita hanya di rumah, untuk keluarga. Selain itu, kita juga menjadi lebih peduli dengan kesehatan dengan cara rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan badan dan pakaian, serta lebih menghargai hakikat kebersamaan yang sesungguhnya.
Untuk yang terjadi hari ini: syukuri, hadapi, dan pahami. Sebab esok atau nanti, kita baru akan mengerti alasan Tuhan memilihkan kita jalan cerita ini.

Puisi "Penantian"


Ada tangis dalam derai tawa
Tatkala bersama mengeja bahagia
Di antara kabut menghalau pandangan mata
Desau rindu bergemuruh dalam jiwa

Kotamu, kotaku, kota kita
Bagai jantung kehilangan detaknya
Sunyi, sepi, semuanya sirna
Sejak hadirnya virus corona

Tiada keramaian di sudut-sudut kota
Para pedagang telah menggulung lapaknya
Masih tersisa rakyat jelata
Menggantungkan hidup menantang bahaya

Manusia hanya bisa berupaya
Tuhan-lah yang tentukan segalanya
Garda terdepan perjuangan bangsa
Semoga sehat senantiasa

Berusahalah melakukan yang terbaik
Di saat masa sulit
Di mana semua serba terbatas
Sebab hanya kepedulianmu
Yang dipedulikan Tuhan

Jangan pernah mengabaikan
Apa yang harus kita perhatikan

Cerpen "Satu Hari di Bulan Mei"


Suatu malam di bulan September, penghujung tahun 2008. Jarum jam telah menunjukkan pukul 00.00 lebih. Namun, mata ini seolah tiada mau memejam. Saya terdiam di sudut kamar ditemani rintik hujan yang perlahan membasahi bumi. Tetesan demi tetesan yang jatuh pun seolah memahami apa yang tengah saya rasakan saat itu. Saya kembali memutar memori. Satu per satu peristiwa yang tengah saya alami bermunculan, mengoyak keteguhan hati.
Berselimut malam nan dingin, diri ini hanya bisa bergumam lirih. Pikiran saya kacau, sedang benar-benar kacau. Untuk mampu berdiri tegak saja saya tak bisa. Makan dan minum pun tak selera. Yang terhempas dan yang putus; frasa yang mampu menggambarkan bagaimana suasana hati saya. Pikiran saya masih belum mampu mencerna peristiwa yang terjadi begitu cepat.
Positif. Sebuah hasil tespack yang cukup mengejutkan bagi saya yang kala itu baru saja menginjak 17 tahun. Orang mengatakan sweet seventeen merupakan masa termanis dalam perjalanan hidup. Namun, itu tampaknya tak berlaku bagi saya. Tujuh belas tahun justru menjadi awal perjalanan yang berat dalam menapaki roda-roda kehidupan. Tak terbayang dalam benak saya, bagaimana saya bisa melalui hari-hari berat, dimulai dari malam itu juga.

Usia 17

Lilin kecil
Sinarmu pancarkan harapan

Jangan kau hilang
Jangan kau pergi
Temani aku yang sedih dan sepi

Air mata jatuh basahi pelangi
Pupus warnamu di masa yang indah
Menepilah cinta
Saat tak ingin kudekati
Takkan teringkari
Masa ini kan kulalui
Takkan pernah sesal ini
Menghentikan langkah-langkahku
Menghentikan langkah-langkahku lagi

Entah kenapa lirik lagu yang dibawakan oleh Nuri Shaden dan Ariel Peterpan ini tiba-tiba terngiang di telinga, seolah mengisyaratkan apa yang tengah terjadi dalam hidup saya. Ada satu part di penggalan lirik lagu tersebut yang cukup menyedot perhatian saya ‘pupus warnamu di masa yang indah’. Sama seperti part tersebut, begitulah kiranya diri saya, bak bunga yang telah layu sebelum berkembang.
Pikiran dan hati ini pun enggan menyatu. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergejolak hebat di dalam dada, walau tak satu pun saya temukan jawabnya. Tubuh saya menggigil hebat, lidah pun terasa kelu. Seketika dunia yang indah itu telah runtuh dalam waktu sekejap. Saya tak kuasa membayangkan apa saja yang akan dikatakan orang-orang, entah esok, lusa, maupun masa yang akan datang. Tak kuasa pula saya membayangkan amarah dan rasa malu yang terpampang di wajah kedua orang tua saya.
Dalam keadaan lemah tak berdaya saya hanya bisa berbisik lirih pada Tuhan. “Tuhan, apakah gerangan yang terjadi pada saya kini? Tolonglah saya, Tuhan, jangan biarkan saya menghadapi ini seorang diri.”

Cobaan Berat itu Datang

Apa yang saya khawatirkan terbukti benar. Secepat angin yang berembus, kabar ini pun sampai ke telinga orang-orang. Mereka mulai memandang negatif dengan apa yang terjadi dalam diri saya. Hinaan, cacian, bully-an, menjadi suatu hal yang mulai akrab di telinga saya. Satu per satu kawan pun pergi meninggalkan saya. Di situ saya merasa benar-benar frustrasi, bahkan nyaris membuat saya ingin menyerah dan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Untunglah, kedua orang tua masih berpihak pada saya, sekalipun saya telah melakukan kesalahan besar dan mencoreng nama baik mereka di mata semua orang.
Saya mulai menjalani kehidupan seperti biasa, tak peduli dengan apa yang dikatakan orang pada saya. Lama-lama saya menjadi terbiasa, walau tak jarang, sebagai manusia biasa, saya tetap saja merasa lemah dan tak berdaya melawan dunia yang seolah tengah menertawakan saya. Di sekolah, teman-teman mengucilkan diri saya. Saya hanya mampu menyendiri, menepi dari hingar bingar kehidupan yang telah melarutkan saya hingga jauh. Di titik ini saya tersadar akan satu hal: betapa selama ini saya telah jauh dari jalan Tuhan.

Pada Suatu Masa

Tuhanku,
Dalam hening kusebut nama-Mu
Mengingat suatu masa
Di mana aku terkungkung di dalamnya
Penuh dengan kubangan dosa

Aku terus berjalan
Jatuh bangun tanpa pegangan
Menapaki liku-liku kehidupan
Hingga tibalah pada titik tujuan

Pada satu waktu aku merenung
Aku telah jauh melangkah
Berhamburan tak tentu arah
Hingga keyakinan mulai goyah

Ketika aku berjalan kian jauh
Engkau seakan penguat di kala rapuh
Hingga aku pun duduk bersimpuh
Mengingat-Mu dengan segala peluh

Oh Tuhan,
Lirih kulantunkan asma-Mu
Jangan biarkan kusendiri
Jalani hari dalam sunyi

Ada satu hal yang masih saya syukuri; saya masih diizinkan sekolah dan menyelesaikannya hingga ujian akhir tiba. Setidaknya ini adalah sebuah kesempatan luar biasa yang saya terima.
Menjalani hari dengan kondisi yang tengah saya alami bukanlah hal yang mudah. Di beberapa kegiatan yang mengharuskan aktivitas fisik yang berat, olahraga misalnya, saya tak bisa mengikutinya. Alhasil, saya pun diwajibkan menggantinya dengan tugas lain yang tidak menggunakan aktivitas fisik. Melihat teman-teman seusia saya yang begitu menikmati masa remajanya di sekolah dengan ceria terkadang membuat saya merasa sedih. Saya hanya mampu duduk dan memandang mereka dari kejauhan. Itu sudah cukup bagi saya.
Jika ditanya siapa orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada saya, saya tidak akan banyak menjelaskannya. Diam adalah satu kata yang tepat dan akan saya pilih. Ini lebih kepada komitmen yang telah disepakati bersama. Saya lebih memilih berkonsentrasi pada ujian sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi di depan mata.
Hari pun silih berganti. Hingga tiba saat Ujian Nasional (UN) itu. Enam hari dengan enam mata pelajaran: Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Biologi, Kimia, dan Fisika. Karena saya mengambil jurusan IPA, maka itulah mata pelajaran yang diujikan per harinya. Saya sudah bertekad untuk tidak boleh gagal. Saya harus menunjukkan bahwa di antara manusia-manusia yang bersalah sekalipun, selalu ada sebuah kesempatan untuk berkembang dan melakukan perubahan. Dan itu, akan saya mulai dengan sukses di UN ini. Akhirnya ujian pun selesai. Tinggal menanti datangnya masa di mana pengumuman kelulusan itu tiba.
Satu pagi di bulan Mei menjadi hari yang paling dinanti bagi para pejuang ujian, sama halnya dengan saya. Saat itulah pengumuman kelulusan tiba. Beberapa hari sebelumnya sudah banyak yang melakukan persiapan seperti membeli pilox atau spidol warna-warni untuk merayakan kelulusan. Semua tampak bersuka cita, meski debaran demi debaran tak terbendung di dalam dada. Namun, itu tidak berlaku dalam diri saya. Pagi itu, saya tengah berjuangan di sebuah ruangan bersama seorang dokter dan perawat lainnya. Saya hanya bisa berucap di dalam hati, “Tuhan, tolong!”
Seorang malaikat kecil telah dihadirkan Tuhan untuk mengisi dunia saya. Usai sembilan bulan berjuang mati-matian deminya, kini saya dapat menggenggam tangan mungil itu. Tak terasa air mata ini jatuh bercucuran. Saya tak kuasa mengungkapkan apapun dalam hati. Namun satu hal yang saya rasa, saya dapat tersenyum bahagia melihatnya.
Masih dalam suasana larut dengan hari saya yang baru ketika ayah datang dan memberi tahu bahwa saya berhasil meraih juara pertama nilai UN terbaik di sekolah. Saya tak percaya, tapi ayah menunjukkan hasilnya pada saya. “Terima kasih, Tuhan.” Satu hari di bulan Mei telah berhasil kulewati dengan sebuah pembuktian bahwa siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Juga kasih Tuhan itu nyata. Dia selalu memberi kesempatan kepada setiap orang yang memang mau berusaha memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, seberapa besar pun itu.
Sepuluh tahun telah berlalu dari hari itu. Malaikat kecil saya nan lucu kian tumbuh dan menjadi seorang anak laki-laki yang hebat. Dia adalah penyemangat saya, menjadi lentera dalam kegelapan hidup saya. Saya juga telah menyelesaikan study sampai jenjang S-2. Kini, saya mengabdikan diri menjadi seorang pengajar di salah satu kampus negeri ternama di kota saya. Berbagi ilmu dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai penjuru kota di seluruh Indonesia memberi warna tersendiri dalam hari-hari saya. Saya pun menyadari betul peran saya. Pengalaman hidup yang kurang menguntungkan di masa muda menjadi pembelajaran tersendiri bagi saya. Namun, itu tak menyurutkan langkah saya. Saya selalu percaya bahwa seburuk apapun masa lalu, masa depan adalah sebuah kesucian yang bisa didapatkan dengan tekad kuat serta doa yang tak pernah pupus. Meskipun dalam perjalanannya banyak kerikil tajam yang siap menghadang, selama keyakinan tak tergoyahkan, impian kan ada dalam genggaman.