Sabtu, 27 Maret 2021

Ruang Hati: Catatan Perjalanan Part 3

 

Saya pernah membaca sebuah buku, kemudian teringat sebuah kutipan singkat namun sangat berkesan “yang terucap akan lenyap, yang tercatat akan teringat”. Maka dari itu saya menulis untuk menyuarakan apa yang tidak bisa saya ungkapkan melalui lisan. Ada banyak peristiwa dalam hidup yang telah saya alami, walau tidak bisa semua kisah saya sampaikan di sini. Biarlah peristiwa-peristiwa itu tersimpan di ruang hati saya sendiri. Namun, di sini saya hanya ingin sedikit berbagi.

Pernahkah kamu merasa ingin menyerah dari segala beban hidup yang selama ini dijalani? Merasa stuck pada satu titik itu saja tanpa bisa berkembang lebih jauh lagi? Mungkin hampir setiap orang pernah berada dalam posisi tersebut.

Satu hal yang menarik untuk dibahas kali ini adalah tentang perjalanan kehidupan. Yah, harus kita sadari bahwa setiap orang punya jalan hidup masing-masing yang harus kita hargai. Kita tidak bisa menyamakan hidup orang lain dengan hidup kita karena tidak akan pernah sama adanya. Hidupmu adalah hidupmu. Hidup mereka adalah hidup mereka. Jadi, perjalanannya pasti akan berbeda.

Dalam menempuh perjalanan tersebut, seringkali kita dihadapkan pada jalan terjal dan berliku. Antara yang satu dengan yang lain pastinya berbeda-beda. Begitupun jalan penyelesaian dari setiap perjalanan tersebut. Kalau kita cermati, ada orang-orang yang dalam pandangan kita yang terlihat begitu menakjubkan, entah kita melihat dari sisi kepribadian, karier, maupun kehidupan secara umum yang dijalaninya. Ia tampak begitu tangguh dan sempurna. Tapi, pernahkah kita berpikir bagaimana sesungguhnya ia menjalani kehidupannya tersebut hingga meraih sebuah pencapaian yang luar biasa? Terkadang, yang bisa kita nilai adalah apa yang tampak dari luar, tanpa kita pernah tahu jika kita menyelam ke dalamnya ternyata betapa berat ujian kehidupan yang harus ia alami kemudian berhasil untuk ditakhlukkan.

Setiap orang tumbuh dengan caranya masing-masing. Seiring dengan pengalaman dan kedewasaannya, cara pandang dalam hidup pun berubah. Sebuah pengalaman buruk di masa lalu bisa berperan besar dalam membentuk karakter seseorang di masa mendatang. Segala hal yang pernah terlewati ternyata bisa menjadi sebuah pembelajaran kehidupan. Ya, masa lalu. Setiap orang pasti punya masa lalu, entah itu pahit maupun manis. Masa lalu, baik yang getir maupun yang membahagiakan pantasnya dikenang untuk dijadikan perenungan dalam menjalani kehidupan.

Tuhan Maha baik. Dia memberi ruang bagi setiap manusia untuk bertumbuh melalui fase-fase berat yang dirasakan agar manusia itu sendiri bisa terus belajar dan menempa mental serta iman untuk tidak mudah menyerah. Lalu Dia memberi kita kesempatan untuk mendekatkan diri, kembali pada-Nya, dan percaya bahwa tak ada tempat lain lagi untuk berkeluh kesah, bahkan pada manusia-manusia lain di dunia. Sebab, terkadang manusia itu hanya memenuhi sifat “kemanusiaannya” untuk mau tahu apa yang sesungguhnya terjadi, bukan dia yang benar-benar peduli dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Namun, di situlah Tuhan juga memberi kita pencerahan tentang siapa yang benar-benar peduli: dia yang tak akan pernah meninggalkan dan tetap bertahan di samping kita saat terjatuh, bahkan di fase paling kelam, dia yang akan selalu memberi dukungan serta menguatkan. Di situlah kita disadarkan siapa yang sesungguhnya “teman” dan siapa yang selama ini “berpura-pura teman”.

Harus diakui, bahwa semakin lama circle pergaulan hidup ini berubah. Dia semakin mengecil seiring berjalannya waktu. Pasti akan ada fase di mana dulu teman-teman yang selalu bersama kita, kini semakin disibukkan dengan urusannya masing-masing, dan ini lambat laun pasti akan terjadi. Itulah hidup dan kehidupan. Meskipun demikian, teman yang benar-benar teman akan selalu meluangkan waktu walau hanya sekadar mendengarkan. Setidaknya, ia memberi kita ruang berbagi yang selama ini tersimpan di hati.

Kembali ke bahasan pertama tadi, tentang perjalanan kehidupan. Pernahkah terpikir sebuah tanya di benak kita kepada Tuhan “Tuhan, kenapa hidupku ini begitu berat sedangkan dia tidak” atau mungkin “Tuhan, kenapa hal tidak mengenakkan ini terjadi padaku bertubi-tubi” bisa juga “di mana letak salahku, Tuhan”? Nah, itulah pertanyaan yang sebenarnya bisa menjadi sebuah alasan bagi kita untuk melakukan introspeksi diri. Semua yang terjadi pasti ada sebab musababnya. Coba, mari kita renungkan!

Sekira tahun 2015 saya juga pernah berada di titik terendah hidup setelah sebuah peristiwa besar terjadi dalam hidup saya. Peristiwa besar yang bahkan kala itu mengguncang hati saya dengan sangat dalam, menghidupkan trauma yang baru berangsur pulih seiring berjalannya waktu. Butuh bertahun-tahun lamanya bagi saya sampai akhirnya bisa kembali menatap kehidupan lagi seperti sekarang. Peristiwa besar yang tak bisa dengan detail saya gambarkan, selama ini hanya bisa saya bagi dengan Tuhan, ibu, dan sahabat-sahabat setia yang selalu mengerti, mereka yang sedari dulu tak pernah meninggalkan saya dalam kegetiran yang mendera. Namun, kini setelah bangkit ada sebuah pembelajaran besar yang bisa saya ambil di dalamnya. Ia yang menjadikan saya kuat hingga detik ini, bahkan mungkin orang-orang banyak yang tidak mengetahuinya bahwa “pernah” ada hal besar terjadi yang kemudian mengubah cara pandang hidup saya hingga detik ini. Saya pun menemukan sebuah part dalam buku yang pernah saya baca. Apa yang tertulis benar-benar menggambarkan sesuatu yang telah saya alami kala itu. Kutipannya demikian:

 

Terkadang ketenangan malam membawa kesedihan,

aku lebih memilih tidur seandainya bisa.

Tapi, kepala ini tidak pernah mengizinkan, khayalanku menari-nari

tidak bisa diam.

Seakan-akan kejadian kehidupan terus meminta untuk dikaji,

dan masa lalu yang tak termaafkan memohon untuk

dipertimbangkan selalu.

 

Kepalaku penuh, aku ingin tidur tapi tidak bisa.

Aku hanya bisa tertidur, bila kusudah lelah berpikir.

Aku akan tidur bila tertidur.

Bila kusudah lelah berpikir.

 

Saat saya merasa sangat lelah dengan apa yang harus saya hadapi, malam-malam yang harus saya lalui kala itu pun hanya saya habiskan untuk membentangkan sajadah. Berdoa apapun yang bisa saya sampaikan pada Tuhan dan memohon agar sudilah kiranya saya diberi kekuatan. Saya memang bukan pendoa yang baik. Saya berdoa sebisa yang saya ucapkan. Dalam kekalutan hati yang mendalam dan kesunyian malam, ketika apa yang bergejolak di hati saya tumpahkan di hadapan Tuhan, di situlah saya menemui ketenangan.

Salah satu hikmah yang bisa saya ambil di sini adalah ketika Tuhan sudah menghendaki itu maka terjadilah. Dan begitulah adanya dengan apa yang saya rasa. Ketika hari-hari setelah “peristiwa besar” itu saya lewati, ada ketenangan jiwa yang saya dapati. Lalu ketika pada waktu-waktu tertentu saya kembali menemui hal-hal yang kurang mengenakkan terjadi dalam kehidupan saya, maka saya akan diingatkan kembali dengan apa yang sudah berhasil saya lalui, bahkan di fase yang sangat tidak mudah sekalipun. Maka di situlah cara pandang hidup saya berubah. Saya percaya, Tuhan tidak akan pernah mengambil sesuatu yang berharga dari kita tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Dan ini memang benar terjadi pada diri saya sendiri, hingga akhirnya berhasil saya syukuri bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan seperti apapun itu.

Kini, ada banyak pembelajaran yang bisa saya ambil. Hikmah yang Tuhan berikan melalui apa yang terjadi pada diri saya adalah sebuah anugerah yang tidak bisa setiap orang dapatkan. Segala kesempatan yang Tuhan berikan dalam hidup saya ini tidak boleh saya sia-siakan lagi karena saya tahu bahwa Tuhan sayang pada saya. Dia ingin saya mendapatkan yang terbaik dari apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan. Pada akhirnya, saya berterima kasih pada-Nya atas segala nikmat luar biasa yang diberikan pada saya. Juga saya akhirnya menyadari kasih ibu dan teman-teman luar biasa yang tidak pernah meninggalkan saya. Terima kasih adanya.

Ada satu part lagi dari buku yang saya baca yang ternyata related sekali dengan apa yang saya alami, hingga pada akhirnya saya syukuri berhasil melaluinya. Semua menjadi pembelajaran berarti dalam perjalanan hidup saya ini.

 

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati

Itu adalah pasangan hidupmu

Itu adalah takdirmu

Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau

dilahirkan

Itu adalah pelengkap hidupmu

Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

 

Penilaian Tuhan tidak dimulai saat kau menerimanya

Karena semua orang akan menerimanya, tanpa terkecuali

Selayaknya seperti orang-orang sebelummu

 

Jangan pernah berusaha menolak kesalahanmu

Terimalah itu sebagai bekalmu, untuk perjalanan panjangmu

Justru kesalahanmu dimulai ketika kau menolak menerima

kesalahanmu

Sedangkan kau menyadarinya

 

Lapangkanlah dadamu, sehingga luas, tempat untuk ilmu yang

berguna

Penilaian Tuhan dimulai saat kau memperbaikinya

 

Ringkasnya, siapapun kamu saat ini dan apapun yang tengah terjadi padamu sekarang, selalu ingat akan Tuhan. Karena satu-satunya yang akan selalu berada di sisimu hanya Dia semata. Dia yang selalu memberi arahan untuk hidup yang lebih baik. Jangan menyerah menjalani hal terberat sekalipun dalam hidup. Tangan-tangan Tuhan akan selalu menuntun ke arah perubahan. Jika saat ini engkau sedang stuck di permasalahan tertentu, ingatlah saat terberat yang pernah berhasil dilalui. Lalu, kembali yakin bahwa kau pun pasti bisa kembali melewatinya lagi.

 

 

 

NB:

Beberapa kutipan buku yang saya baca bersumber dari sini.

Irham, Nasril dkk. 2012. Kisah Lainnya. Jakarta: Gramedia.

Jumat, 12 Maret 2021

Puisi "Senja Hari Ini"

 Senja hari ini

tertutup mendung nan kelabu

perlahan kuyup oleh hujan

yang mulai berjatuhan

                         

Pada saat seperti itu

yang selalu kuingat wajah dan matamu

saat menatapku

teduh dan akan selalu kurindu

 

Saat kau mulai tak di sisiku

ketika jarak kian dekat menyapa

lalu perlahan kau menghilang

bersama laju kereta yang beranjak pergi

 

Jarak adalah ujian nyata

menjauhkan raga

mendekatkan rasa

yang kita ukir bersama

dalam naungan rindu paling diam

Kamis, 04 Februari 2021

Puisi "Kereta Jakarta-Jogja"

 

Seperti langit di penghujung Januari

mendung dan murung

seiring derap-derap kereta

yang bergerak dari Jakarta

menuju Jogja

 

Sudut gerbong dekat jendela

tempat di mana ia mengeja

kata demi kata

pada sebuah buku yang dibaca

meski tak jua kutangkap maknanya

 

Pagi tadi

kau letakkan daun akasia

di tengah buku cerita

tentang kita

di atas kereta yang mulai

meninggalkan kota

 

Kereta tiba di stasiun kota

membawa langkahmu menujuku

dengan seutas senyum mengembang di bibirmu

berjuta syahdu memeluk

merobek rindu

berbincang hari nan panjang

meski jarak sebentar lagi membayang

Kamis, 31 Desember 2020

Jiwa Baru: Catatan Perjalanan Part 2

Pagi pertama di 2021. Memulai hari baru di tahun yang baru, sama seperti mendapat baju yang baru. Ketika seseorang mendapatkan baju baru, ia akan melepaskan baju yang lama. Demikian juga dengan jiwa. Ketika menerima tubuh baru, maka ia akan melepaskan tubuhnya yang lama. Agaknya ini memang benar, kecenderungan banyak orang akan melakukan hal demikian. Namun, seringkali manusia lupa hakikat perjalanan sesungguhnya dalam rangka mendapatkan jiwa yang baru tersebut.

Tahun yang telah berlalu memberikan banyak pembelajaran. Ada banyak kebahagiaan yang tercipta, begitu juga air mata kesedihan. Tentu kita semua tidak akan lupa tahun 2020 yang penuh dengan perjuangan. Masih masuk hitungan awal tahun, tiba-tiba keadaan berubah seketika, mengguncang dunia. Bahkan, ketika tulisan ini dibuat, kita masih terkungkung di dalamnya. Akankah kita berhasil keluar sebagai pemenang, atau justru semakin terperosok pada lubang yang kian dalam?

Kita menjalani kehidupan laksana menyelami sungai. Tidak penting sungai bagian mana yang engkau selami. Namun, yang paling penting adalah bahwa kau bisa menyelam. Hanya ada satu dedikasi dari bakti jiwa bahwa dengan menyerahkan kehidupan kepada Yang Maha Kuasa, manusia harus meneruskan pengabdiannya untuk Tuhan agar Dia bisa menjaga kebaikan dalam hidup. Dan, saya percaya akan hal tersebut. Ketika kita berserah seutuhnya dalam hidup atas segala upaya yang telah dilakukan, maka tangan-tangan Tuhan sendirilah yang akan menjaga dari segala kemungkinan buruk yang akan menimpa.

Tahun lalu saya banyak belajar. Hidup memang bukanlah sebuah perkara yang mudah. Beberapa orang mungkin terlihat mudah mencapai apa yang menjadi tujuan dalam hidup. Beberapa di antaranya mungkin tak seberuntung itu. Dia masih harus jatuh, bangun, kemudian jatuh lagi, lalu bangkit lagi. Begitu seterusnya. Apakah ini yang dinamakan keadilan? Ataukah ini takdir yang kelam?

Pada dasarnya tak ada takdir yang kelam. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia menerima takdir itu dengan hati yang ikhlas. Masalahnya adalah, tidak semua orang bisa melakukan itu dengan mudah. Terkadang, pengalaman hidup yang luar biasa sulit dan berhasil dilewati itulah yang membuatnya menerima takdir dengan lebih mudah. Hanya, tidak setiap orang mampu mencapai itu. Dia yang salah dalam melangkah, ujungnya akan jauh dari kebenaran itu sendiri.

Memang, tidak semua yang diutarakan di sini dapat dengan mudah dimengerti semua orang. Mereka yang telah berhasil mencapai renungannya dengan belajar dari pengalaman hidup itulah yang akan mendapat jiwa-jiwa baru dengan jalan di kehidupannya yang baru.

 

 

Yogyakarta, 1 Januari 2020 

Sabtu, 01 Agustus 2020

Puisi "Senandung Sepertiga Malam"

Ingin keberlari sekuat tenaga dari masa lalu

Namun aku tak mampu

Ingin kumelupakan segenap bayang yang membelenggu

Namun tubuhku kelu, lidahku kaku

 

Terkungkung pada seutas harapan

Nan tiada pernah menjadi kenyataan

Terkoyak luka berbalut kesedihan

Semata semacam pengkhianatan

 

Dalam sepi hancur hati

Luka terbujur sakitnya panjang terulur

Ingatan berpagu dalam drama hari lalu

Kepala tersandar di pundak nan kaku

 

Pukul tiga lewat tujuh

Embun turun menitik ke ubun-ubun

Membangunkan mata nan terpejam

Membuyarkan mimpi-mimpi nan tertanam

 

Pada seutas sajadah

Aku mendesah

Berkeluh kesah

Dalam resah

 

Mengurai baris demi baris peristiwa

Hingga utuh menjadi kesatuan cerita

Menyisakan sebuah tanya

Mana kala kan kutemui jawabnya

 

Hingga fajar tiba di balik jendela

Jatuhkan pelita terangi semesta

Kudapati keteduhan jiwa

Hadiah terindah dari Sang Pencipta


Minggu, 05 Juli 2020

Puisi Doa Cinta

Ada yang hilang dari pandang

Meski enggan menjadi kenang

Memberi warna berbeda

Menghadirkan indahnya nuansa

 

Tuhanku,

Aku mencintainya karena-Mu

Jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku

Sebab aku telah jatuh di kedalaman hati

seorang hamba-Mu

 

Sentuh hatiku untuk rasakan indahnya cinta

Nan menggelora tanpa harus kemenutup mata

Jadikan kami pasangan yang Engkau ridai

Lantunkan syair surga terangi hati kami

 

Tuhan,

Dalam beratnya masa perjuangan

Kepada-Mu lah muara ini aku labuhkan

Hatiku dan hatinya Engkau satukan

Jalan bagi kami menyempurnakan iman


Jumat, 26 Juni 2020

Belajar Sabar dan Syukur: Sebuah Proses Panjang yang tidak Mudah


Dulu, ketika masih awal kuliah, sekitar tahun 2009, dalam sebuah kelas diskusi, seorang dosen pernah bertanya,” Nak, apa yang hendak kamu cari dengan menuntut ilmu?” Lalu saya pun menjawab,” Tentu saja prestise, Bu.” Kemudian ibu dosen itu berkata lagi,” Nak, kalau kamu menuntut ilmu hanya demi prestise, tiadalah guna ilmu yang kau dapatkan itu. Tuntutlah ilmu dengan mulai menghargai setiap proses menuntut ilmu itu sendiri. Perkuat juga niat dan keyakinanmu, meskipun jalan itu terjal dan berliku. Niscaya engkau pun akan tahu hakikat sesungguhnya ilmu itu.” Saya pun merenungkan betul apa yang dosen saya katakan tersebut.

Suatu hari, saya membaca sebuah buku yang saya pinjam di perpustakaan untuk dipergunakan dalam salah satu mata kuliah sastra. Saya menemukan sebuah tulisan menarik yang intinya demikian: “Ketika masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itu pun kupersempit. Lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya hasrat itu pun tiada hasilnya. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangat yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Celakanya, mereka tak mau diubah. Sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari, andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu aku bisa mengubah dunia.”

Tulisan yang saya baca tersebut rupanya masih cukup relevan dengan apa yang dikatakan dosen saya sebelumnya. Kembali, saya pun merenung. Waktu itu saya masih seorang mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Pengalaman yang saya dapatkan pun masih minim. Yang saya tahu dari kuliah itu sendiri adalah datang, melakukan presensi, kemudian menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Seiring berjalannya waktu, seiring pula dengan pergaulan saya dengan teman-teman yang semakin meluas, cara pandang saya pun perlahan mulai berubah. Saya mengambil waktu di mana saya melakukan refleksi diri terhadap apa yang sesungguhnya saya cari.

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah program studi yang telah saya pilih dengan kemantapan hati, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Mengapa demikian? Sastra adalah bidang yang memang saya minati, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Keinginan saya mendalami sastra semakin besar manakala saya duduk di bangku kelas 2 SMP. Kebetulan saya diajar oleh seorang guru Bahasa Indonesia yang begitu menarik perhatian saya. Masih saya ingat, beliau tidak hanya fasih dalam mengajar, tetapi juga menulis. Bersama sang suami, sudah banyak tulisan bergenre sastra yang dihasilkan oleh beliau. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan menjadi buku. Lalu terbersitlah dalam pikiran saya, suatu hari nanti, saya juga harus bisa menulis. Tidak sekadar menikmati sastra dengan membaca, tapi saya juga harus bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa dinikmati pula oleh orang lain. Siapa tahu, satu di antara tulisan-tulisan saya itu dapat pula menjadi inspirasi untuk orang lain. Itulah mimpi saya waktu itu.

Kembali ke masa perkuliahan saya tadi. Setelah berhasil masuk prodi bahasa dan sastra, saya pun bertekad meraih mimpi, meskipun ada harga mahal yang harus saya bayar: pengorbanan dan kerja keras. Saya menyadari bahwa saya tidak seperti teman-teman saya yang lain. Keterbatasan kedua orang tua saya yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik, tak menyurutkan langkah saya, meski harus tertatih-tatih, saya tidak boleh berhenti di tengah jalan.

Masuk semester tiga, saya mengambil keputusan untuk bekerja paruh waktu demi meringankan biaya yang harus dikeluarkan orang tua saya. Maka, pagi hari pun saya kuliah, sore hingga malam hari saya bekerja. Semua saya lakukan, walau kadang ingin sekali rasanya saya menangis dalam hati. Namun ketika ingat wajah kedua orang tua saya, semangat ini pun kembali membara. Ketika liburan semester tiba, saatnya saya bekerja full time, menyasar pertokoan-pertokoan di sepanjang Malioboro, bersama seorang teman yang kini sudah menjadi dosen pula di kampus yang sama, kami bekerja mengisi liburan semester yang cukup panjang. Hal itu tak berhenti saya lakukan hingga suatu hari jalan Tuhan menuntun saya mendapatkan beasiswa. Sejak itulah saya bisa sedikit bernapas lega karena terbantu dengan beasiswa tersebut hingga lulus kuliah dan meraih gelar sarjana.

Menunggu wisuda kala itu, sekitar tahun 2013, saya banyak mengisi waktu dengan menulis, mulai dari cerpen dan puisi. Terkadang, tulisan-tulisan itu saya ikutkan ke dalam lomba-lomba yang saya temukan. Terkadang pula coba saya masukkan ke redaksi surat-surat kabar. Saya juga mulai membuka platform tulisan di Hipwee dan menjadi kontributor di dalamnya. Pada tahun 2015, saya aktif menulis di Hipwee. Saya pun tidak pernah menyangka bahwa hasil tulisan saya di Hipwee bisa di-review oleh puluhan ribu orang kala itu. Terima kasih, Hipwee, telah mengajari saya bagaimana menjadi seorang penulis yang sesungguhnya, meskipun kini platform tersebut sudah jarang saya buka dan beralih ke platform blog pribadi saya.

Kini saya telah mengajar di salah satu SMP negeri yang ada di Yogyakarta. Sembari mengajar, saya masih tetap aktif menulis. Bagi saya, menulis ibarat seorang teman yang bersedia diajak mencurahkan segala keluh kesah yang saya rasakan. Bagaimana menjadi seorang penulis yang hebat? Saya tidak pernah mempunyai mimpi sebagai seorang penulis yang hebat, cukup menulis apapun yang sedang dipikirkan, kemudian membagikannya kepada para pembaca. Tak perlu menjadi seorang yang hebat dalam hal apapun, tapi lakukan apapun yang bisa dilakukan dengan cara konsisten, cukup itu.

Dari sekian proses yang terjadi dan saya alami sampai detik ini, saya belajar banyak hal, yaitu tentang bagaimana kita bersabar menghadapi keadaan yang tidak mudah dan selalu bersyukur terhadap apapun yang masih bisa kita nikmati. Maka, tiada satu pun nikmat Tuhan yang bisa kita ingkari.

Seringkali kita merasa bahwa sudah berdoa sedemikian rupa, tapi mengapa Tuhan belum juga menjawab-jawab doa-doa tersebut? Tunggu dulu, jangan lantas menyalahkan Tuhan, bisa jadi kita yang kurang bersabar. Tapi, bisa jadi pula Tuhan tidak mengabulkan doa yang kita pinta lalu menggantinya dengan sesuatu yang lain, yang tentunya jauh lebih baik. Tugas kita sebagai seorang hamba hanya berusaha dan percaya bahwa suatu hari nanti, Tuhan akan menjawab apa yang kita pinta.

Semakin dewasa usia, kini saya belajar menerima dengan penerimaan yang terkadang juga tidak mudah untuk saya lakukan. Bahkan ketika apa yang saya minta tak kunjung tiba, saya percaya bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang baik untuk saya, mungkin di saat saya tidak mengiranya. Seperti rencana baik Tuhan di pertengahan tahun ini untuk saya, setelah serentetan peristiwa kurang mengenakkan yang saya alami sepanjang tahun, Tuhan menghadiahi saya beasiswa untuk melanjutkan pendidikan profesi saya. Hal ini datang tanpa saya menduganya. Masyaallah, maha besar kuasa Tuhan. Saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik perencana. Dari sini saya belajar apa hakikat ilmu itu yang sesungguhnya, ialah ketika kita mau terus belajar dalam penerimaan terbaik yang Tuhan gariskan dan menjalani prosesnya dengan sabar dan bersyukur setelahnya. Saya baru memahami apa yang dimaksud oleh dosen saya di awal tadi. Bahwa ilmu bukanlah untuk sebuah prestise seperti yang saya kemukakan dulu, melainkan sebuah proses panjang yang tidak mudah, tapi dijalani dengan penuh rasa sabar. Maka kita pun akan bersyukur terhadap apapun yang Tuhan berikan hari kemarin, hari ini, maupun hari-hari yang akan datang. Kita masih punya pengharapan besar yang sudah Tuhan sediakan asalkan tetap bersabar dan terus bertekun dalam doa, serta bersyukur untuk kemuliaan dan penyertaan Tuhan.