Berdamai dengan Luka, Pulih dalam Asa : Catatan
Perjalanan 7
Hidup adalah perjalanan nan panjang.
Setiap orang memiliki cerita, pengalaman, dan sudut pandang masing-masing.
Namun, beda hati, beda pula cara memahami segala bentuk persoalan. Perbedaan
cara pandang bukan semata dilihat berdasarkan usia. Berapapun usianya, nyatanya
tak lantas menjadikan itu tolok ukur dalam menyelesaikan permasalahan
kehidupan.
Setiap pribadi di dunia ini terlahir
dengan takdirnya sendiri-sendiri. Ada yang sukses dalam karier, ada yang punya
pendidikan tinggi hingga memperoleh berbagai macam gelar, ada yang sukses membina
keluarga bahagia, ada pula yang sukses beristikamah di jalan Tuhan. Orang lain
seringkali menilai sebuah kesuksesan berdasarkan hasil yang tampak oleh mata.
Mereka lupa bahwa di balik kata “sukses” itu ada harga mahal yang harus dibayar
atau dikorbankan. Sukses yang besar seringkali dibarengi dengan proses nan panjang
dan itulah yang terkadang tak terlihat di mata manusia.
Dalam hidup ini, ada hal-hal yang dapat
kita kendalikan, ada pula hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun,
seringkali manusia lupa akan hal tersebut, terlebih ketika kita berekspektasi
terhadap sesuatu. Kita lupa akan kontrol hidup yang sesungguhnya bukanlah diri
kita. Sebagai contoh, kita tidak bisa mengendalikan orang lain seperti apa yang
kita mau. Mereka punya sudut pandang sendiri-sendiri dalam hidup dan kita tak
bisa menjadi kendali atas kehidupannya. Yang bisa kita kendalikan dalam hidup
adalah pikiran dan diri kita sendiri. Selebihnya, manusia hidup atas kendalinya
masing-masing. Ketika kita berekspektasi terlalu tinggi terhadap orang lain,
yang muncul hanyalah rasa kecewa. Sebab, harapan manusia sudah sepantasnya
diserahkan pada Tuhan sang pemegang kendali atas segalanya.
Ada kalanya, mental kita diuji dalam
hidup. Tuhan menguji kita melalui berbagai cara: kehilangan yang menyakitkan,
kepercayaan yang diruntuhkan, harapan yang tak sesuai dengan apa yang
dipikirkan, dan masih banyak lainnya. Kemudian, muncullah pertanyaan, “Kenapa
harus aku, Tuhan?” Yang terjadi selanjutnya, kita terbawa pada perasaan luka
mendalam yang sulit untuk dikendalikan.
Luka muncul dari sebuah keterikatan dengan
sesuatu yang selama ini kita yakini benar atau pasti terjadi. Padahal, kalau
ditelisik lebih dalam, itu merupakan luapan emosi yang berlebihan. Emosi-emosi
inilah yang kemudian tidak dapat kita kendalikan, membentuk sebuah ekspektasi
yang cukup tinggi dari apa yang diharapkan. Ketika apa yang terjadi kemudian
tak sesuai dengan ekspektasi tersebut, kita menjadi tidak punya kontrol diri.
Akibatnya, kita larut dan terpuruk pada suatu keadaan tertentu, menyalahkan
Tuhan, atau marah dengan kenyataan yang terjadi.
Manusia dengan segala egonya memang
terkadang menjadi satu bagian yang sulit dipisahkan. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan ego manusia mendominasi hal-hal yang sebenarnya bisa dikendalikan. Pertama,
luka masa kecil (innerchild). Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga
yang penuh kasih sayang secara utuh dari kedua orang tuanya, tidak akan kekurangan
cinta untuk dirinya. Ia terbiasa mendapatkan perhatian atau cinta kasih dari
kedua orang tuanya dengan lengkap sehingga ketika dewasa kondisi jiwanya lebih
stabil. Berbeda halnya dengan anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang mana
peran kedua orang tua tidak seimbang. Ketika dewasa, kondisi jiwanya lebih
menjadi lebih labil. Kedua, kehilangan yang menyakitkan. Tidak ada
manusia di dunia ini yang bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang terdekat
sebagai support system dalam hidupnya. Orang terdekat seperti orang tua
atau pasangan menjadi kekuatan yang melebur dalam satu kesatuan jiwa. Ketika
pada akhirnya kekuatan itu pergi atau dipaksa pergi, ia telah kehilangan
separuh kekuatan tersebut. Ketiga, trauma masa lalu. Trauma ini bisa
dipicu oleh beberapa hal seperti kekerasan fisik yang pernah didapatkan,
pelecehan, perundungan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, masih banyak faktor
yang lain, baik internal maupun eksternal. Namun, bahasan kali ini terfokus
pada ketiga faktor di atas terlebih dahulu.
Ketika manusia tumbuh dalam luka, ada beberapa
hal yang dirasakan, seperti merasa hidupnya gagal, tidak berharga, sedih
berkepanjangan, cemas yang berlebihan, serangan panik, kelelahan mental, bahkan
sampai tidak punya lagi tujuan hidup. Kondisi ini apabila dibiarkan
terus-menerus akan memengaruhi berbagai hal, salah satunya berdampak pada kesehatan
fisik. Sakit fisik yang dirasakan banyak dipengaruhi oleh kondisi mental
seseorang. Ketika seseorang dengan kondisi mental terganggu, ia bisa merasakan
sakit fisik seperti sakit punggung, nyeri di ulu hati, asam lambung, bahkan
sakit fisik yang cukup serius seperti kanker pun dipengaruhi oleh pikiran. Lantas,
apakah penderita gangguan mental bisa pulih seperti sedia kala? Jawabannya tentu
bisa, bergantung dari bagaimana penderita tersebut mengolah pikirannya agar
tidak terus terdistraksi pada hal-hal yang memengaruhi pikiran. Namun, tidak setiap
orang mudah untuk mengalihkan pikiran, terutama setiap kali trigger itu
datang.
Untuk menguasai kembali keadaan, setiap
orang juga memiliki kemampuan sendiri-sendiri. Ada yang cepat, ada pula yang
lambat. Yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang berpendapat
bahwa kondisi mental seseorang disebabkan kurangnya kedekatan dengan Tuhan. Harus
kita sadari, kondisi jiwa setiap orang tidaklah sama. Ada yang mengalami hal
kecil saja bisa langsung panik. Namun, ada pula yang mangalami hal sama, ia
tetap baik-baik saja. Artinya, semua bergantung dari kondisi masing-masing,
tidak bisa disamakan. Bukan pula tugas kita untuk menilai seseorang berdasarkan
kondisi mental yang dialaminya.
Apakah kita harus menyerah begitu saja dengan
kondisi mental yang dialami? Semua bisa diupayakan, bergantung dari kesadaran
diri masing-masing terlebih dahulu. Lantas, bagaimana cara kita untuk memulihkan
keadaan seperti semula? Yang pertama, sadari bahwa kita memiliki luka yang perlu
dipulihkan. Identifikasi luka apa saja yang kita alami tersebut. Dengan
demikian, kita bisa mulai mencari langkah pertolongan lanjutan seperti bercerita
kepada orang-orang yang dipercaya atau mendatangi profesional seperti psikolog dan
psikiater agar lebih terarah dalam merilis segala bentuk emosi dalam diri. Tak perlu
sungkan untuk menjelaskan bagaimana kondisi kita yang sesungguhnya karena
dengan mendatangi profesional, perlahan kita menemukan solusi. Salah satu hal
yang bisa digunakan untuk merilis emosi adalah melalui journaling. Journaling
membantu kita menuangkan pikiran, perasaan, atau pengalaman pribadi sebagai
bentuk refeksi diri. Setelah kesadaran didapatkan dan segala emosi dalam diri
bisa dirilis perlahan, kita akan mulai mendapat penerimaan diri bahwa manusia
pasti memiliki permasalahan hidup masing-masing. Penerimaan diri ini tentunya
tak terlepas dari praktik spiritual yang bisa kita lakukan, seperti doa,
afirmasi positif, dan meditasi.
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki kekuatan
dalam dirinya, kekuatan yang bisa terus diasah secara perlahan hingga pada akhirnya
nanti, ia bisa memerangi segala macam badai dalam dirinya sendiri. Kita belajar
dari sebuah pohon yang semakin bertumbuh tinggi semakin besar pula badai yang
dihadapi. Manusia pun begitu, semakin bertambahnya usia, permasalahan yang
dihadapi semakin kompleks. Jika dulu ketika masih kanak-kanak yang kita tahu
hanya bermain dan belajar, sekarang kita bisa dihadapkan pada diri sendiri,
keluarga, teman dekat, pasangan, karier, kehidupan bermasyarakat, dan sebagainya.
Kuncinya adalah yakin bahwa setiap hal di dunia ini telah Tuhan rancang sedemikian
rupa, lengkap dengan berbagai macam penyelesaiannya. Tinggal bagaimana pada
akhirnya kita bersikap terhadap hal tersebut. Luka tidak seharusnya membuat kita
terpuruk semakin dalam. Namun, kita perlu memiliki kesadaran diri untuk kemudian
menerima bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan tercapai begitu
saja. Ada jalan-jalan yang tidak mudah untuk ditempuh terlebih dahulu sebelum
apa yang kita inginkan tersebut dapat kita capai. Kalau kita berani menyandarkan
segala harapan pada Tuhan Yang Mahakuasa dengan penuh keyakinan, niscaya jalan-jalan
kebaikan akan terbuka dengan sebaik-baiknya. Jadi, saatnya mengubah luka
menjadi asa. Jika bukan diri kita yang melakukannya, siapa lagi?