Selasa, 07 Oktober 2025

CATATAN PERJALANAN

 

Berdamai dengan Luka, Pulih dalam Asa : Catatan Perjalanan 7

 

Hidup adalah perjalanan nan panjang. Setiap orang memiliki cerita, pengalaman, dan sudut pandang masing-masing. Namun, beda hati, beda pula cara memahami segala bentuk persoalan. Perbedaan cara pandang bukan semata dilihat berdasarkan usia. Berapapun usianya, nyatanya tak lantas menjadikan itu tolok ukur dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan.

Setiap pribadi di dunia ini terlahir dengan takdirnya sendiri-sendiri. Ada yang sukses dalam karier, ada yang punya pendidikan tinggi hingga memperoleh berbagai macam gelar, ada yang sukses membina keluarga bahagia, ada pula yang sukses beristikamah di jalan Tuhan. Orang lain seringkali menilai sebuah kesuksesan berdasarkan hasil yang tampak oleh mata. Mereka lupa bahwa di balik kata “sukses” itu ada harga mahal yang harus dibayar atau dikorbankan. Sukses yang besar seringkali dibarengi dengan proses nan panjang dan itulah yang terkadang tak terlihat di mata manusia.

Dalam hidup ini, ada hal-hal yang dapat kita kendalikan, ada pula hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun, seringkali manusia lupa akan hal tersebut, terlebih ketika kita berekspektasi terhadap sesuatu. Kita lupa akan kontrol hidup yang sesungguhnya bukanlah diri kita. Sebagai contoh, kita tidak bisa mengendalikan orang lain seperti apa yang kita mau. Mereka punya sudut pandang sendiri-sendiri dalam hidup dan kita tak bisa menjadi kendali atas kehidupannya. Yang bisa kita kendalikan dalam hidup adalah pikiran dan diri kita sendiri. Selebihnya, manusia hidup atas kendalinya masing-masing. Ketika kita berekspektasi terlalu tinggi terhadap orang lain, yang muncul hanyalah rasa kecewa. Sebab, harapan manusia sudah sepantasnya diserahkan pada Tuhan sang pemegang kendali atas segalanya.  

Ada kalanya, mental kita diuji dalam hidup. Tuhan menguji kita melalui berbagai cara: kehilangan yang menyakitkan, kepercayaan yang diruntuhkan, harapan yang tak sesuai dengan apa yang dipikirkan, dan masih banyak lainnya. Kemudian, muncullah pertanyaan, “Kenapa harus aku, Tuhan?” Yang terjadi selanjutnya, kita terbawa pada perasaan luka mendalam yang sulit untuk dikendalikan.

Luka muncul dari sebuah keterikatan dengan sesuatu yang selama ini kita yakini benar atau pasti terjadi. Padahal, kalau ditelisik lebih dalam, itu merupakan luapan emosi yang berlebihan. Emosi-emosi inilah yang kemudian tidak dapat kita kendalikan, membentuk sebuah ekspektasi yang cukup tinggi dari apa yang diharapkan. Ketika apa yang terjadi kemudian tak sesuai dengan ekspektasi tersebut, kita menjadi tidak punya kontrol diri. Akibatnya, kita larut dan terpuruk pada suatu keadaan tertentu, menyalahkan Tuhan, atau marah dengan kenyataan yang terjadi.

Manusia dengan segala egonya memang terkadang menjadi satu bagian yang sulit dipisahkan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ego manusia mendominasi hal-hal yang sebenarnya bisa dikendalikan. Pertama, luka masa kecil (innerchild). Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang secara utuh dari kedua orang tuanya, tidak akan kekurangan cinta untuk dirinya. Ia terbiasa mendapatkan perhatian atau cinta kasih dari kedua orang tuanya dengan lengkap sehingga ketika dewasa kondisi jiwanya lebih stabil. Berbeda halnya dengan anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang mana peran kedua orang tua tidak seimbang. Ketika dewasa, kondisi jiwanya lebih menjadi lebih labil. Kedua, kehilangan yang menyakitkan. Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang terdekat sebagai support system dalam hidupnya. Orang terdekat seperti orang tua atau pasangan menjadi kekuatan yang melebur dalam satu kesatuan jiwa. Ketika pada akhirnya kekuatan itu pergi atau dipaksa pergi, ia telah kehilangan separuh kekuatan tersebut. Ketiga, trauma masa lalu. Trauma ini bisa dipicu oleh beberapa hal seperti kekerasan fisik yang pernah didapatkan, pelecehan, perundungan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, masih banyak faktor yang lain, baik internal maupun eksternal. Namun, bahasan kali ini terfokus pada ketiga faktor di atas terlebih dahulu.

  Ketika manusia tumbuh dalam luka, ada beberapa hal yang dirasakan, seperti merasa hidupnya gagal, tidak berharga, sedih berkepanjangan, cemas yang berlebihan, serangan panik, kelelahan mental, bahkan sampai tidak punya lagi tujuan hidup. Kondisi ini apabila dibiarkan terus-menerus akan memengaruhi berbagai hal, salah satunya berdampak pada kesehatan fisik. Sakit fisik yang dirasakan banyak dipengaruhi oleh kondisi mental seseorang. Ketika seseorang dengan kondisi mental terganggu, ia bisa merasakan sakit fisik seperti sakit punggung, nyeri di ulu hati, asam lambung, bahkan sakit fisik yang cukup serius seperti kanker pun dipengaruhi oleh pikiran. Lantas, apakah penderita gangguan mental bisa pulih seperti sedia kala? Jawabannya tentu bisa, bergantung dari bagaimana penderita tersebut mengolah pikirannya agar tidak terus terdistraksi pada hal-hal yang memengaruhi pikiran. Namun, tidak setiap orang mudah untuk mengalihkan pikiran, terutama setiap kali trigger itu datang.

Untuk menguasai kembali keadaan, setiap orang juga memiliki kemampuan sendiri-sendiri. Ada yang cepat, ada pula yang lambat. Yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang berpendapat bahwa kondisi mental seseorang disebabkan kurangnya kedekatan dengan Tuhan. Harus kita sadari, kondisi jiwa setiap orang tidaklah sama. Ada yang mengalami hal kecil saja bisa langsung panik. Namun, ada pula yang mangalami hal sama, ia tetap baik-baik saja. Artinya, semua bergantung dari kondisi masing-masing, tidak bisa disamakan. Bukan pula tugas kita untuk menilai seseorang berdasarkan kondisi mental yang dialaminya.

Apakah kita harus menyerah begitu saja dengan kondisi mental yang dialami? Semua bisa diupayakan, bergantung dari kesadaran diri masing-masing terlebih dahulu. Lantas, bagaimana cara kita untuk memulihkan keadaan seperti semula? Yang pertama, sadari bahwa kita memiliki luka yang perlu dipulihkan. Identifikasi luka apa saja yang kita alami tersebut. Dengan demikian, kita bisa mulai mencari langkah pertolongan lanjutan seperti bercerita kepada orang-orang yang dipercaya atau mendatangi profesional seperti psikolog dan psikiater agar lebih terarah dalam merilis segala bentuk emosi dalam diri. Tak perlu sungkan untuk menjelaskan bagaimana kondisi kita yang sesungguhnya karena dengan mendatangi profesional, perlahan kita menemukan solusi. Salah satu hal yang bisa digunakan untuk merilis emosi adalah melalui journaling. Journaling membantu kita menuangkan pikiran, perasaan, atau pengalaman pribadi sebagai bentuk refeksi diri. Setelah kesadaran didapatkan dan segala emosi dalam diri bisa dirilis perlahan, kita akan mulai mendapat penerimaan diri bahwa manusia pasti memiliki permasalahan hidup masing-masing. Penerimaan diri ini tentunya tak terlepas dari praktik spiritual yang bisa kita lakukan, seperti doa, afirmasi positif,  dan meditasi.

Setiap manusia pada hakikatnya memiliki kekuatan dalam dirinya, kekuatan yang bisa terus diasah secara perlahan hingga pada akhirnya nanti, ia bisa memerangi segala macam badai dalam dirinya sendiri. Kita belajar dari sebuah pohon yang semakin bertumbuh tinggi semakin besar pula badai yang dihadapi. Manusia pun begitu, semakin bertambahnya usia, permasalahan yang dihadapi semakin kompleks. Jika dulu ketika masih kanak-kanak yang kita tahu hanya bermain dan belajar, sekarang kita bisa dihadapkan pada diri sendiri, keluarga, teman dekat, pasangan, karier, kehidupan bermasyarakat, dan sebagainya. Kuncinya adalah yakin bahwa setiap hal di dunia ini telah Tuhan rancang sedemikian rupa, lengkap dengan berbagai macam penyelesaiannya. Tinggal bagaimana pada akhirnya kita bersikap terhadap hal tersebut. Luka tidak seharusnya membuat kita terpuruk semakin dalam. Namun, kita perlu memiliki kesadaran diri untuk kemudian menerima bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan tercapai begitu saja. Ada jalan-jalan yang tidak mudah untuk ditempuh terlebih dahulu sebelum apa yang kita inginkan tersebut dapat kita capai. Kalau kita berani menyandarkan segala harapan pada Tuhan Yang Mahakuasa dengan penuh keyakinan, niscaya jalan-jalan kebaikan akan terbuka dengan sebaik-baiknya. Jadi, saatnya mengubah luka menjadi asa. Jika bukan diri kita yang melakukannya, siapa lagi?